Liputan Gugus Kendalai Mutu SPAN di KPPN Batam
Batam, djpbn.kemenkeu.go.id - “Perubahan adalah sebuah keniscayaan, semua pasti berubah yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri.” Itulah kata pembuka Fauzi Syamsuri selaku Kepala KPPN Batam yang baru pada saat memberikan arahan pada sosialisasi SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara) melalui Gugus Kendali Mutu yang diadakan di sore yang cerah yang dilaksanakan pada KPPN Batam. Beliau melanjutkan pemaparannya, bahwa SPAN adalah bagian dari reformasi dibidang pengelolaan keuangan negara khususnya yang terkait dengan Perbendaharaan dan Penganggaran yang tidak lahir begitu saja tetapi sudah melalui sebuah perdebatan, kajian dan proses yang panjang, sehingga pimpinan Kementerian Keuangan memutuskan program SPAN sebagai program Nasional yang harus diimplementasikan.
Hanya ada dua pilihan papar beliau yang bisa diambil oleh pegawai KPPN Batam dalam mensikapi keberadaan program SPAN. Pertama, bersikap tidak peduli, acuh, apatis , mencela dan tidak mau tahu dengan program SPAN karena dengan bersikap seperti tersebut dianggap belum tentu akan diperhatikan dan tetap menerima gaji dan TKPKN (Tunjangan Khusus Pengelola Keuangan Negara). Kedua, bersikap antusias, pro aktif dalam mencari informasi SPAN, berfikiran terbuka dan siap berubah,
mau meningkatkan kemampuan dan belajar terus menerus tetapi tetap tidak meninggalkan sikap kritis dan konstruktif. Menurutnya, sebaik apapun sebuah sistem itu dirancang pasti ada kelemahan dan kadang-kadang berbeda antara apa yang dipikirkan sewaktu diperancangan dengan kondisi ril dilapangan. Oleh karena itu perlu untuk selalu memberi masukan atau feed back agar program yang dicanangkan dapat berjalan secara optimal.
Fauzi melanjutkan, jika pilihan pertama yang dipilih, maka secara “Sunnatullah” siap siap saja untuk terpinggirkan. Jika kehadiran kita dalam sebuah organisasi seperti Direktorat Jenderal Perbendaharaan tidak memberi kemanfaatan maka bukan tidak mungkin kedepannya organisasi akan mendepak kita. Bukankah sama kita sadari bahwa basis penganggaran kita adalah berdasarkan performance termasuk dalam hal ini performace pegawai itu sendiri. Jikapun tidak seekstrim tersebut, yang paling mungkin adalah bahwa pegawai yang bersangkutan akan memperoleh grade sesuai dengan kontribusinya dan mungkin akan menjadi parasit di dalam organisasi.
Jika pilihan kedua yang diambil, Fauzi berpendapat, ketika SPAN diterapkan maka tidak akan kaget lagi dan sudah pasti akan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Sudah tentu akan menikmati kemudahan-kemudahan dari pekerjaan yang saat ini besifat manual dan tidak terintegrasi. Yang juga tidak bisa dilupakan adalah bahwa pegawi yang bersangkutan pasti lebih kompetitif atau selangkah lebih maju. Jika pun pensiun – bagi pegawai yang sudah menjelang pensiun- akan mempunyai kebanggaan tentang perubahan yang dicapai di institusi dimana mereka pernah berkarya. Hampir tidak mungkin bahwa niat dasar pimpinan untuk mengimplementasikan SPAN adalah untuk membuat susah pegawai.
Kepala KPPN Batam, dalam penutup pengarahan mengaharapkan agar seluruh pegawai pada KPPN Batam menjadi yang terdepan dalam perubahan ini. Meminjam salah satu semboyan produsen alat olah raga terkemuka “Just Do It”, beliau mengharapkan agar seluruh KPPN Batam dapat memakai semboyan tersebut dalam menghadapi perubahan termasuk pengimplementasian SPAN, dengan tidak melupakan sikap kritis yang konstruktif dalam rangka continues improvement dalam operasional atau penerapannya.
Oleh: Kontributor KPPN Batam
- Regional
- Dilihat: 3233










