Seikat Peduli, Serempak Beraksi

Tak seperti biasanya, rute menuju kantor dilalui dengan jalan berbeda. Dengan membawa tiga kantong beras seperti jumat-jumat sebelumnya, beat bergerak menuju lhong raya, melalui soetta belok kiri menyusuri Mohd. Hasan. Berjalan pelan, mata  mendelik ke kanan dan kiri, berharap bertemu sahabat iman yang mustad’afiin untuk menjadi penerima sedekah beras yang dititipkan seorang dermawan.

Pertama terlihat seorang bapak tua disamping motor usang, mungkin honda 70an. Wajahnya lesu, tatapannya kosong. Sapa yang disampaikan tidak terbalas sempurna. Langsung saja diserahkan satu bungkusan beras kepadanya dan mohon izin melaju kembali. Tatapannya tetap kosong memapah beras sambil matanya menyampaikan “terima kasih” haru. Bisa jadi ini takdirnya hari ini. Takdir pengharapan yang bertemu dengan takdir kedermawanan seorang sahabat nusantara.

Melaju kembali di lajur Mohd. Hasan, hanya seratus meter berjalan, pada arus berbeda seorang kakek renta. Umurnya mungkin lebih dari 70 tahun, mendorong sepeda tua yang kanan kirinya terisi karung beras berisi plastik, kardus dan kaleng-kaleng minuman. Honda sengaja berputar persis di depan terminal batoh untuk menyapa sang pejuang keluarga.

“Pak,” sapa yang menghentikan langkah sang kakek

Sebelum dijawab langsung meluncur kalimat ”ini ada titipan beras buat bapak,”

”ouw iya, alhamdulillah,” jawabnya singkat karena beat langsung bergerak seraya memohon izin berlalu. Ada dingin di jiwa. Meresap layak embun pagi menyentuh dahaga syukur yang lama tak terisi.

Apa kabar hati? Masih kah rasa syukur itu terjewantahkan dalam aksi nyata. Atau hanya sekedar lisan yang merasa puas saja?

Apa kabar jiwa? Nampaknya sudah sangat lama kurang asupan gizi. Kering, ciut, berkarat. Berbagi itu latihan nurani. Masih adakah sebongkah jiwa peduli sesama.

Sungguh banyak hutang kita pada dhuafa. Mereka yang berjuang tanpa lelah, tanpa keluh, tanpa pisuh.

Seandainya dhuafa itu berdoa serentak untuk memindahkan kenikmatan kita yang berpunya, insya Allah mustajab doa itu. Tapi, mereka memilih jalan surga. Jalan yang aku, kita semua, pasti sulit menjalaninya. Sungguh kita berhutang rasa dari mereka.

Lalu hatiku berujar lirih. Semoga anak-anak dhuafa di Aceh tersentuh Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah disalurkan 1.2 triliun lebih. Atau Bantuan Pokok Non Tunai yang telah menyentuh 430 ribu keluarga yang dibayarkan tiap bulannya. Ataupun Bansos Tunai yang telah melingkupi 212 ribu keluarga periode April-Oktober tahun ini. Semoga tangan-tangan negara sampai pada mereka. Semoga kepedulian infiradhi semakin menyempurnakan kepedulian ijtima’i (melalui negara) yang telah menyalurkan anggaran untuk menolong mereka yang terdampak pandemi. Infiradhi dan ijtima’i itu akan saling mengisi dan menyempurnakan. Hingga, tak ada lagi tangisan dhuafa karena kelaparan atau terhenti pendidikan.

Mungkin kita hanya memiliki seikat peduli, namun di pulau seribu masjid, ada juga yang memiliki seikat kepedulian lainnya. Juga di borneo, jakarta, bumi lancang kuning, kota angin mamiri hingga papua, seikat peduli yang serempak beraksi. Jangan berhenti peduli!

Karena sejatinya takdir…
Tentang setiap jejak…
Mendekati kematian!
Sudahkah setiap diri mempersiapkan?

 

BIODATA PENULIS

Nama               :           Fajar Sidik

Unit                 :           Relawan Sahabat Kemenkeu Aceh dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov.Aceh

 

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardjo I Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

   

 

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search

Kantor Wilayah Provinsi, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) 

(Daftar Kantor Vertikal DJPb Selengkapnya ..)