Kutacane. Suatu daerah yang sebenarnya lebih dekat dengan Medan, ya sekitar 210 Km, dengan jalan yang cukup membuat mual bagi yang belum terbiasa, namun sangat berjarak dari Banda Aceh. Suatu daerah yang cukup terpencil di ujung negeri serambi. Mengabdi untuk negeri sebagai insan Treasury, hingga kini tak pernah ku sesali. KPPN Kutacane membangkitkan semangatku untuk senantiasa berkontribusi. Untuk mereka yang hidup di lereng-lereng Leuser.
Jauh sebelum wabah pandemi datang, yaitu lima tahun yang lalu, Ku saksikan masih banyak orang-orang kekurangan. Bukan hanya kebutuhan sandang, lebih dari itu pemahaman agama yang jauh dari sempurna. Anak-anak lebih senang bermain gadget, nongkrong diwarnet asyik games online 24 jam, maupun hal-hal kurang bermanfaat lainnya. Padahal kelak ilmu agama dan negara ini akan kita titipkan pada mereka. Hal itulah yang kemudian memaksa aku untuk memberi manfaat walaupun tidak besar, karena kami juga masih kekurangan ilmu juga.
”Fer, nanti cobalah dirikan rumah tahfidz. Agar kami (orang tua, red) mendapatkan pahala yang terus mengalir,” pungkas emak. Itulah wasiat yang menjadi pengokoh aku berjuang mendirikan rumah tahfidz bagi dhuafa. Bukan dari kutacane, tapi kami mengawalinya dari Medan. Kami mendirikan Ma’had Tahfizh Yatim Dhuafa Kitabina. Berkat dukungan dari rekan-rekan, saudara, dan tetangga, qadarallah Ma’had tersebut dapat dikelola dengan baik dan aku tetap bisa berkinerja optimal sebagai pelaksana di Subbagian Umum KPPN Kutacane.
Datangnya wabah pandemi Covid-19 pada Maret 2020 lalu mengubah pola kerja dan segala aktivitas yang kita lakukan. KPPN Kutacane sebagai salah satu instansi vertikal Kanwil DJPb Provinsi Aceh, menjalankan himbauan untuk menerapkan protokol kesehatan dalam rangka mengurangi wabah pandemic, sekaligus memastikan pencairan APBN di wilayah Kutacane tetap berjalan lancar.
Protokol kesehatan diterapkan dengan disiplin oleh seluruh pegawai KPPN Kutacane. menggunakan masker sepanjang beraktivitas di kantor, sering mencuci tangan, dan menjaga jarak, tidak membuat layanan KPPN menurun. Bahkan layanan yang diberikan KPPN semakin intensif karena stakeholders dapat berkonsultasi maupun berkoordinasi melalui smartphone. Efeknya, seluruh kendala layanan dapat diselesaikan dengan baik meskipun stakeholders tidak melakukan tatap muka ke KPPN.
Penerapan protokol kesehatan sama sekali tidak membuat pekerjaan menjadi sulit. Aku yang sering berurusan dengan layanan Tata Usaha Rumah Tangga di kantor, tetap bisa melakukan pengadaan barang dan jasa kepada para rekanan menggunakan media komunikasi online tanpa tatap muka. Barang yang sudah saya terima pun saya pastikan keamanannya dengan menyemprot desinfektan agar tidak membahayakan kesehatan pegawai-pegawai saat digunakan nanti bahkan surat masuk pernah kami oven terlebih dahulu.
Melihat penerapan protokol kesehatan tersebut berjalan dengan cukup efektif di kantor, menginspirasiku untuk menerapkan protokol kesehatan di Ma’had Tahfizh Kitabina yang menjadi tanggung jawab saya. Dengan jumlah santri yang terus bertambah hingga lebih dari 65 santriwati dan mulai berkembang di 3 lokasi yakni Medan, Tembung, dan Kwala Begumit, hal tersebut menjadikan Aku wajib memastikan kesehatan santri agar tetap kondusif untuk belajar di Ma’had.
Selanjutnya, Aku menyusun SOP aktivitas santri khusus di masa pandemi. Diantaranya para santri tidak kami perkenankan untuk keluar lokasi Ma’had, kecuali pengajar dengan alasan darurat, misalnya belanja dapur atau kegiatan yang betul mendesak, Kemudian orang tua santri juga untuk sementara tidak diperbolehkan masuk ke lingkungan pesantren. Untuk melaporkan perkembangan anaknya, kami kembangkan aplikasi laporan pencapaian hafalan santri sebagai media informasi bagi orang tua santri. Upaya-upaya tersebut Aku lakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk menjaga iman, meningkatkan imun dan membuat rasa aman di ma’had yang ku bina. Dengan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin, maka kegiatan ibadah dapat terus dilaksanakan. Dan iman yang terus terjaga memberikan rasa tenang di dalam jiwa dan insya Allah akan menyelamatkan santri dari corona.
Iman dan aman menjadi ikhtiar terbaik untuk menjaga imun. Didukung dengan olahraga, pola makan yang teratur dan sehat, maka iman, aman, dan imun akan bersinergi saling melengkapi. Semoga segala ikhtiar tersebut berdampak dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dari Kutacane, kami tresurer terus mengabdi, terus peduli.
Identitas penulis:
Nama Lengkap : Ferhad Akbar
Nama Kantor : KPPN Kutacane
NIP : 19831107 200212 1 001
Nomor Telepon pribadi/WA : 081366115453
Alamat Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi










