Tetap Mengabdi Untuk Negeri di Tengah Pandemi

“Jangan pernah putus asa mencintai negeri ini.” – Sri Mulyani

28 Agustus 2020, hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh saya, dan mungkin hampir semua teman-teman seperjuangan di lingkup Direktorat Jenderal Perbendaharan. Benar, hari itu terasa begitu mengharu biru dan penuh dengan air mata, entah bahagia, kecewa, ataupun nelangsa. Ada bahagia karena bisa pulang dan bertemu dengan sanak keluarga, ada pula yang menahan air mata karena harus kembali berpisah dengan orang yang dicinta. Namun hal itu tetap tidak menggoyahkan hati saya dan  kami semua untuk tetap pergi mengabdi kepada negeri di tanah pertiwi.

Tidak ada kata jauh maupun dekat ketika kaki-kaki kami masih menginjak tanah milik negeri sendiri. Bahkan pandemi  yang tengah melanda seluruh negeri tidak menghentikan langkah kami. Ratusan kilometer kami arungi untuk mencapai tempat baru dimana satya dan bakti kami diuji. Kami akan segera bertempat dan menyesuaikan diri di tanah yang sama sekali belum pernah kami jajaki. Tetapi dengan semangat dan keteguhan hati, kami melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Perjalanan dan pengabdian kami baru saja dimulai, di sini.

Setelah berjalan di udara dengan pesawat yang satu dan yang lainnya, Sabtu siang itu penuh debaran yang tidak bisa kami jelaskan. Dibawa lagi kami berjalan di aspal karena belum, kami belum sampai di tujuan. Pohon-pohon dan pemandangan di sekeliling berlari meninggalkan kami, hingga roda yang membawa kami akhirnya berhenti. Kota ini, tempat ini, kantor ini, akan menjadi saksi akan hari-hari kami menunaikan bakti sebagai insan Perbendaharaan untuk bumi peritiwi.

Hari pertama yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kami berjalan dengan berdebar namun ada juga perasaan lega yang menyelimuti. Berbagai pertanyaan seperti, “Bagaimana suasana di kantor nanti?”, “Bagaimana dengan pegawai-pegawai disana?”, “Bagaimana pula Satker yang akan kami hadapi nanti?”. Semua seketika terjawab ketika kami membuka pintu dan disambut dengan atap yang sudah bertebaran di lantai. Tenang, kalian tidak salah baca, betul-betul atap. Tetapi semuanya sudah berhasil ditangani dan tinggal menunggu renovasi.

Secara mengejutkan, hal itu justru membuat perasaan kami menghangat. Kami tidak disambut dengan tempat yang besar dan mewah, hanya tempat sederhana dan senyum dari orang-orang yang sederhana pula. Kerendahan hati dan kekeluargaan terpancar dari sorot mata mereka yang begitu membumi. Tempat ini tidak seburuk pikiran liar yang melintasi kepala kami sesaat sebelum kami menginjakkan kaki di sini. Ternyata benar, di belahan manapun selama masih di negeri sendiri, akan terasa seperti di rumah kita sendiri.

Bercerita tentang mengabdi rasanya terlalu berat untuk kami yang masih seumur jagung ini, tetapi kami sudah berani meninggalkan ketiak Ibu kami, bagi kami ini adalah salah satu alasan mengapa mengabdi itu berat dijalankan. Namun perasaan itu berhasil kami singkirkan dengan menyadari bahwa kami adalah ujung tombak negeri. Bahwa peran kami tidaklah remeh dan semua orang mengandalkan kami.

Peran kami yang sangat krusial di setiap sendi-sendi instansi dan pemerintahan tentunya tidak membuat api semangat kami meredup di manapun dan dalam situasi apapun. Berbicara mengenai situasi, saat ini negara tercinta kita tengah dilanda pandemi. Hal ini memaksa kami untuk tetap berani dan tidak takut meski harus terus berada di belakang meja dan melayani dengan prima, tentu saja dengan tetap menjalankan protokol yang ada. Flexible Working Space juga telah berhasil dijalankan, beberapa ada yang tetap tinggal di rumah, beberapa harus berada di kantor, demi memutus rantai penyebaran virus.

Meskipun masih terbilang baru di tempat yang sekarang, namun kami berhasil menjalin sinergi dan kerjasama dengan pegawai yang lain untuk membutikan bahwa bekerja dari rumah sendiri tidak mengurangi kualitas pelayanan kami. Seluruh Dana Alokasi Khusus dan Dana Desa berhasil kami salurkan tanpa kendala. Tidak ada SP2D yang terlambat diterbitkan. Dan akhirnya semua orang senang.

Mau jadi apa Indonesia kalau tidak ada insan Perbendaharaan? Gaji enggak cair, semuanya enggak makan. BLT enggak turun, semuanya jadi murung. Mari kita songsong Indonesia maju bersama Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Are you proud of being the part of Treasury?

 

“The best way to not feel hopeless is to get up and do something. Don’t wait for good things happen to you. If you go out and make some good things happen, you will fill the world with hope, you will fill yourself with hope.”—Barack Obama

 

 

Nama               : Silvi Ariyanti Taruna

Nama Kantor  : KPPN Raha

 

 

“Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan pribadi.”

 

 

 

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardjo I Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

   

 

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search

Kantor Wilayah Provinsi, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) 

(Daftar Kantor Vertikal DJPb Selengkapnya ..)