Fresh Graduated, itulah sebutan yang pas bagiku pasca wisuda PKN STAN tahun 2019. Saat itu pula aku menapak status “anak bawang” dalam dunia kerja. Usia beliaku 18 tahun saat lulus Diploma I, tentu sebenarnya merupakan usia “nyaman” dalam mengeksplorasi dunia remaja. Namun ini merupakan konsekuensi ketika aku memilih kuliah dan jurusan di kampus pendidikan ini. Aku harus siap mengemban tanggungjawab dan komitmen atas pilihanku untuk bekerja di Kementerian Keuangan.
Hingga hari itu tiba. Tanggal 28 Agustus 2020, saat Kep-29/PB/UP.9/2020 terbit. Tercantum nama dan kantor di mana aku harus memulai pengabdian pertamaku. Iya, guys, ada namaku di situ. Tsaniya Fauziyyah Bunga Faiha di KPPN Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Hal pertama yang aku lakukan adalah sujud syukur. Aku berterima kasih pada Allah yang memberikan takdir terbaik berupa penempatan sesuai dengan salah satu dari lima pilihanku. Lalu? Ya… langsung menelepon orangtua untuk memberikan kabar, meskipun ayah dan ibuku sudah tahu duluan sih, hehe.
Antara wow, takjub, galau, bingung, bersyukur, senang, sedih bercampur menjadi satu. Nano nano gitu deh rasanya, ehh… mirip permen. Bersamaku, ada enam remaja milenial lainnya yang mungkin mengalami gejolak rasa yang tidak jauh berbeda, karena Allah takdirkan untuk memulai langkah di tempat yang sama, KPPN Tanjung Pinang. Jadilah kami “tujuh sekawan” yang terbang lintas pulau, merajut asa di bumi “gurindam duabelas” Tanjung Pinang.
Di manakah Tanjung Pinang? Wow, ternyata ada di rentetan kepulauan yang indah. Tanjung Pinang adalah Ibukota Provinsi Kepulauan Riau dan terkenal dengan “gurindam duabelas.” Pernah dengar “gurindam duabelas” nggak? Puisi melayu lama hasil karya Raja Ali Haji, seorang sastrawan dan pahlawan nasional dari Kepulauan Riau. Puisi yang berisi tentang duabelas nasehat kehidupan. Tanjung Pinang terletak di Pulau Bintan, berdampingan dengan Pulau Dompak, Pulau Penyengat dan beberapa pulau kecil lainnya. Hmmm, jadi ingat lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Lagu yang benar-benar menggambarkan Indonesia. Seperti halnya daerah kepulauan, Tanjung Pinang kaya akan wisata pantainya dan sudah tentu kaya dengan sajian kuliner seafood-nya. Termasuk minuman teh obengnya. Hah? Obeng jadi teh? Bukan guys, ternyata teh obeng adalah sebutan untuk es teh manis. Unik ya…
Beragam wisata ada di Tanjung Pinang. Wisata alam, budaya, maupun religi. Wah, Tanjung Pinang seperti permata di Selat Malaka. Tanjung Pinang tenang, sederhana, dan alami. Pulau Dompak menjadi pusat pemerintahan, dan… itu artinya KPPN Tanjung Pinang pun berada di Pulau Dompak yang terkenal dengan jembatan sepanjang 1,2 kilometer yang menghubungkan Pulau Bintan dan Pulau Dompak. Masya Allah, keren guys, ternyata “tujuh sekawan” akan bertugas di tempat yang indah. Yuk, semangat yuk. Yuk, bisa yuk.
Melihat Tanjung Pinang sebagai tempat yang menyenangkan merupakan sugesti positif terhadap diri sendiri agar bisa menerima dengan lapang dada jalan takdir yang sudah Allah siapkan. Jika boleh memilih, maka bekerja dekat dengan keluarga dan bertempat di kampung halaman adalah pilihan paling ideal dan menyenangkan. Pilihan yang diinginkan hampir setiap orang, tapi hidup bukan selalu tentang mendapatkan apa yang diinginkan melainkan tentang bagaimana kita menyikapi kondisi yang belum berjalan seiring dengan rasa syukur dan harapan, kemudian berupaya menaklukkan ketidaknyamanan dan menjadikan kita manusia tangguh di manapun berada.
Tidak sepanjang siang kita pandangi matahari dan tidak sepanjang malam kita pandangi bulan. Dalam setiap hal, ada masanya. Akan selalu indah dan bermanfaat jika kita melihatnya penuh kebersyukuran. Sepakat, guys?
Tidak semua hal ideal dalam hidup ini bisa kita genggam. Namun , kita bisa mendekati sisi ideal itu dengan cara mengubah kacamata pandang kita menjadi kacamata positif, menghadirkan pikiran positif yang pada akhirnya akan menghasilkan aura positif yang menjadikan kita tetap bersyukur dan bahagia. Kita bisa mengolah rasa, tidak lagi seperti permen nano-nano, tapi sudah beralih menjadi rujak cingur yang endul. Galau sudah berubah jadi sayuran, sedih sudah berubah jadi sambal petis, takjub dan senang telah berubah menjadi tahu tempe, dan syukur telah bermanifestasi menjadi cingurnya. Perpaduan yang mak nyuss ya, guys... lezat untuk dinikmati, menyehatkan penuh nutrisi.
Membangun pikiran positif pun bisa beragam cara. Salah banyaknya ini nih, guys…
Dalam semboyan hidup atau filosofi hidup orang jawa, terdapat ungkapan mangan ora mangan sing penting ngumpul. Ini bisa diartikan bahwa berkumpul dengan keluarga adalah perkara yang membahagiakan bagi siapapun. Ini benar, dan untuk saat ini, ngumpul tidak lagi di lakukan hanya dengan kontak fisik. Ngumpul sudah bisa dan biasa dilakukan dengan virtual. Mengobati rasa kangen dan saling memberi semangat bersama orang-orang yang dikasihi tak lagi terhambat oleh jarak. Kita bisa bekerja dengan tenang karena masih bisa berkomunikasi dengan keluarga secara leluasa. Meskipun berjauhan, tetap bisa ngumpul dan makan bersama ya, guys. Jadi, tetap semangat untuk terbang ke bumi “gurindam duabelas.”
Menjadi salah satu squad Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan bukan di kampung halaman adalah salah satu tantangan hidup yang layak untuk diperjuangkan. Kita bisa mengenal Indonesia lebih baik lagi, bahwa Indonesia tidak hanya Pulau Jawa. Indonesia itu indah, Indonesia itu beragam. Kesempatan ini membantu kita untuk memperkaya wawasan dan rasa. Membantu kita belajar bagaimana bersikap dan bagaimana menyesuaikan diri terhadap hal-hal baru yang tidak kita temukan di kampung halaman, dan ini akan menjadi cerita serta pengalaman yang berharga, karena tidak semua orang bisa memperolehnya.
Mengenal Indonesia akan membuat kita semakin mencintai negeri ini. Sesuai pesan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Ibu Sri Mulyani Indrawati, agar jangan merasa lelah untuk mencintai Indonesia, maka sebuah keharusan bagi kita untuk memberikan cinta terbaik bagi Indonesia kita.
Mau tahu apa asa dan tekadku untuk mewujudkan cinta terhadap Indonesia? Simak ya...
Memberikan yang terbaik, ini mungkin ungkapan klise, tapi masih sangat relevan. Bahwa masing-masing dari kita memiliki versi terbaiknya, dan masing-masing dari kita berhak untuk menggunakan versi terbaik atas dirinya agar bermanfaat bagi keluarganya, lingkunganya, institusinya, dan siapapun.
Memberikan yang terbaik bisa dilakukan dengan cara memberikan pengabdian yang memadai, yakni pengabdian dengan kualitas premium, bukan kualitas “KW.” Pengabdian dengan cinta yang premium, rasa yang premium, dan perjuangan yang premium. Menjalankan tugas dengan ringan, senang, dan bahagia sebagai bagian dari Kementerian Keuangan untuk mengawal APBN di bumi “gurindam duabelas.” Menunaikan amanah di KPPN Tanjung Pinang dengan dua ratusan satker mitra kerja. Bekerja dengan penuh integritas, dengan profesional, bersinergi dengan seluruh mitra kerja, memberikan pelayanan terbaik dan terus menerus meningkatkan kemampuan untuk menuju kesempurnaan (kesempurnaan dalam ukuran manusia).
Ini asa dan kisahku dari bumi “gurindam duabelas.” Apa asa dan kisahmu?
Apapun asa dan kisahmu, mari bekerja, mari bersama, dan mari bekerja sama dalam mewujudkan cinta premium kita untuk Indonesia.
Salam cinta Indonesia dari bumi “gurindam duabelas.”
Nama lengkap : Tsaniya Fauziyyah Bunga Faiha
Nama kantor/unit kerja : KPPN Tanjung Pinang
“Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi”.










