Ketika tulisan ini dibuat, hampir satu setengah tahun perjalanan pengabdian sebagai punggawa Keuangan Negara terlalui. Bumi cendrawasih dengan hangatnya menyambut minggu-minggu pertama kedatangan kami dengan kurang kondusifnya keamanan yang terjadi di beberapa kota. Beruntung, Timika sebagai rumah pertama perjalanan pengabdian ini dengan ramahnya membersamai. Tidak ada kontak fisik langsung, tidak ada korban jiwa, yang ada hanyalah pecahan-pecahan kaca kantor bekas lemparan massa demonstrasi yang kemudian menjadi penyambut sekaligus pengingat bahwa perjalan pengabdian ini baru saja dimulai. Mungkin mengkhawatirkan, tapi dari situlah kemudian kehangatan hadir. Setelah serangkaian peristiwa itu, seluruh pegawai tanpa terkecuali rutin berjaga malam bersama untuk memastikan kondisi keamanan sekitar kantor dan rumah dinas. Situasi ini menjadi hikmah untuk kami semua, karena dengan ini suasana kekeluargaan semakin menguat dan tentunya sangat positif bagi kami pegawai baru yang sedang menjalani fase adaptasi.
Suasana kekeluargaan kemudian terpelihara dengan baik dan dari sanalah lingkungan sosial kami terbentuk. Kami menjadi terbiasa dan nyaman untuk bergaul hanya dengan lingkungan kantor, selebihnya mungkin dengan rekan satuan kerja lain atau rekan sesama Kementerian yang sesekali bertemu untuk sekedar berbincang, olahraga bersama, ataupun dipertemukan melalui even rutin instansi. Kondisi itu juga ditengarahi oleh berbagai stigma terkait kondisi lingkungan sekitar yang kurang kondusif, ditambah lagi pengalaman awal kurang mengenakan yang tentunya berdampak pada kondisi psikologis kami ketika ingin mencoba bersosialisasi keluar. Beberapa bulan kemudian kondisi itu perlahan mulai berubah dengan adanya siswa magang di kantor kami yang salah satu siswanya merupakan masyarakat lokal. Stigma yang ada seolah patah ketika melihat siswa lokal ini sebagai sosok yang sederhana, ulet, dan tanggung jawab. Pandangan kami semakin terbuka setelah sebelumnya kami juga sempat berkunjung ke beberapa lokasi dan berkesempatan untuk berjumpa dengan penduduk lokal. Kesantunan siswa magang di kantor dan keramahan penduduk lokal yang kami temui membatalkan pandangan kami sebelumnya yang sempat bersikap mengeneralisir bahwasanya masyarakat lokal kurang terbuka terhadap pendatang.
Sedikit demi sedikit sebagian dari kami mulai berbaur dengan masyarakat, pun juga dengan saya. Sejak tahun lalu saya mulai aktif mencari berbagai komunitas sosial, karena sejak kuliah hingga pasca kampus saya cukup dekat dengan berbagai aktifitas sosial kemasyarakatan. Minat untuk terjun ke masyarakat sempat terbatasi dengan kondisi sebelumnya yang kurang terbuka dalam memandang lingkungan sekitar, ditambah lagi fase adaptasi di penempatan pertama dengan rutinitas sebatas kerja-pulang-kerja yang pada akhirnya membentuk zona nyaman, terlebih ketika memasuki masa pandemi yang praktis membatasi aktifitas di luar rumah . Hingga pada akhirnya upaya menembus zona nyamanpun berhasil ketika saya mulai bergabung dengan salah satu komunitas sosial di Timika. Komunitas itu bernama Grup Timika, bisa dibilang komunitas ini sangat heterogen karena terdiri dari berbagai anggota dengan latar belakang yang beragam. Kesempatan berkumpul pun datang, dengan pertimbangan pembatasan sosial berskala besar akibat pandemi covid-19 telah dicabut dan mulai bertransisi ke masa new normal, saya kemudian berani memutuskan untuk menghadiri acara perkumpulan komunitas tersebut. Singkatnya, acara perkumpulan itu selesai dan berjalan lancar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Acara perkumpulan kali ini diadakan untuk membahas perihal perayaan ulang tahun komunitas yang direncanakan akan diagendakan dengan kegiatan bakti sosial. Pada perbincangan malam itu diputuskan untuk membagikan sebagian donasi yang telah terkumpul kepada masyarakat pesisir pada esok hari, hal itu diputuskan karena adanya donasi berlebih dalam bentuk susu kemasan yang akan lebih baik apabila didistribusikan lebih awal.
Keesokan paginya saya memutuskan untuk ikut bergabung dalam penyaluran donasi. Saya dan beberapa anggota yang ikut selanjutnya bergegas menuju Pelabuhan Paumako. Sesampainya di sana, kami kemudian menyewa kapal kecil untuk menyeberang ke beberapa titik kelompok penduduk di sekitaran pelabuhan. Penyaluran donasi ini diupayakan untuk tidak menciptakan kerumunan, sehingga kami sendiri yang kemudian mendatangi satu per satu kelompok penduduk di sana. Para penduduk yang kami datangi ini merupakan bagian dari Suku Kamoro yang merupakan salah satu suku terbesar di Timika. Suku Kamoro yang beberapa penduduknya bermukim di sekitaran pelabuhan ini identik dengan keramahan dan keterbukaannya terhadap pendatang. Benar saja, pada lokasi pendistribusian pertama, penduduk terutama anak-anak begitu riuh menyambut ketika kami membawakan mereka beberapa karton susu dan masker, kami pun kemudian menyampaikan sedikit sosialisasi terkait protokol kesehatan sembari membagikan masker. Kondisi yang sama pun ditemui pada lokasi-lokasi selanjutnya. Namun, ada kejadian unik di salah satu kelompok penduduk, salah satu masyarakat menanyakan terkait pembagian sembako dengan nada yang kurang mengenakan. Mereka mengira kami dari instansi pemerintahan, ketua komunitas pun kemudian menjelaskan secara baik-baik dan penduduk tesebut akhirnya bisa menerima.
Perjalanan ke pesisir kali ini banyak memberikan kesan, himpunan rumah panggung yang tersusun dari papan dan beratapkan lembaran seng yang sudah berkarat menyambut mata yang sedang liar memandang, sekelilingnya tidak terlihat kabel ataupun tiang-tiang utilitas yang menandakan ketiadaan aliran listrik di sana, pada bagian lain yang terlihat hanyalah perahu kecil tak bermesin yang bersandar di tepian halaman rumah-rumah mereka. Melihat semua ini rasanya menjadi wajar ketika sebagian mereka menanyakan tentang sembako dan semacamnya, tanpa adanya pandemi mereka pun layak untuk mendapatkannya. Sebagai masyarakat subsisten (bergantung pada alam), kehidupan mereka sedikit banyak mulai termodernisasi. Sudah menjadi fenomena umum ketika sebagian dari mereka mulai hijrah ke kota untuk mencari penghidupan dengan mengikuti arus modernisasi. Namun, tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa ikut serta dalam modernisasi karena keterbatasan kapasitas dan pada akhirnya menjadi mudah terjebak dalam penyimpangan sosial yang dibawa oleh arus modernisasi itu sendiri.
Fenomena-fenomena yang terekam hari itu menjadi penguat efek candu untuk bisa kembali lagi menemui mereka, tentunya dengan bekal yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi, ada sesuatu yang terus terfikirkan sepulangnya kegiatan di pesisir hari itu. Melihat beberapa masyarakat lokal di sana yang menjajakan ikan di sekitar pelabuhan, ataupun mama-mama yang mengumpulkan kayu merah untuk kemudian dipasarkan, seketika potret fenomena itu terhubung dengan program pembiayaan ultra mikro (UMi). Sesuai dengan amanat PMK Nomor 95 tahun 2018, mitra penyalur program pembiayaan UMi diharuskan untuk memberikan pendampingan kepada para debiturnya. Program-program pendampingan seperti pola pendampingan yang dijalankan oleh Grameen Bank di Bangladesh mungkin sedikit banyaknya bisa diadaptasi oleh para mitra penyalur. Sependek informasi yang diketahui, penyalur yang mengadopsi pola pendampingan Grameen Bank saat ini hanya PT. Permodalan Nasional Madani dengan programnya yang bernama Mekaar (Membina Keluarga Sejahtera). Program pembiayaan sekaligus pendampingan yang ramah terhadap debitur yang belum masuk kategori bankworthy bisa menjadi salah satu solusi untuk mengakselerasi usaha ultra mikro Mace-Pace di sini. Penguatan kapasitas yang secara tidak langsung juga berdampak pada pendidikan sosial mereka harapannya akan memberikan dampak positif untuk mengantarkan mereka sebagai subyek dari perubahan sosial di wilayahnya. Sudah saatnya program-program semacam pembiayaan UMi ini hadir untuk mereka, memberdayakan usaha-usaha ultra mikro lokal dan menjadikan mereka sebagai simbol kemajuan di tanahnya sendiri.
Nama : Yoga Sulistya Winata
Unit Kerja : KPPN Timika
“Diclaimer : Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi”










