September 2018, kujejakkan kaki di Balige, kota kecil yang dikelilingi Danau Toba, sebab harus mengabdi di tengah masyarakat Batak, mewujudkan tekad pelayanan yang terpatri dalam hati sanubari.
Berbagai informasi tentang sejumlah Mushola dan Masjid di Kabupaten yang terletak di pinggiran danauToba ini, berusaha kami gali. Sebagai langkah awal menjalin silaturahmi, bersama warga muslim yang tergolong minoritas di bumi bona pasogit ini. Silaturahim dan perkenalan dengan para pengurus Badan Kenadziran Masjid (BKM) sekitar Kabupaten pun kami rekat melalui pendistribusian sandal wakaf.
Sandal dimaksud, diperoleh melalui penggalangan donasi dari sejumlah warga yang kami kenal di luar kota. Terutama beberapa rekan dan saudara yang berdomisili di Jakarta. Alhamdulillah, program tersebut menarik bagi para donator. Pemesanan sandal pun dilakukan, untuk seterusnya dibagikan kepada sejumlah masjid dan mushola di sekitar kota Balige. Patut disyukuri, karena pendistribusian sandal dimaksud, bahkan sampai ke pelosok daerah kabupaten tetangga di Humbang Hasundutan. Berkisar 250 pasang sandal terdistribusi bagi 20 masjid dan mushola, sebagai kiprah awal kami.
Kenyamanan suasana rumah kontrakan yang kami tempati di Kampung Tampubolon, berjarak tiga kilometer dari Balige ibukota Kabupaten Toba, terasa sangat menyejukkan. Apalagi, tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan kami, berdiri sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS ). Saat pertama kami datang, sekolah ini sedang membangun lokal kelas, karena mereka memerlukan ruangan tambahan akibat peningkatan jumlah murid. Tak pelak lagi, mushola yang seharusnya digunakan untuk tempat sholat, dengan sangat terpaksa mereka gunakan sebagai ruangan kelas untuk belajar. Kami mencoba membantu dengan menawarkan donasi kepada teman-teman di seluruh Indonesia. Alhamdulillah donasi yang kami galang berjumlah Rp 25 juta. Jumlah yang tergolong tidak seberapa, jika dibanding total kebutuhan dana pembangunan lokal kelas.
Perkenalan dengan pihak MIS pun terus berlanjut. Di bawah Yayasan Sahabat Qur’an (SaQu) yang kami bawa dari Depok, mulai lah membuka pembelajaran membaca Al Qur’an. Dari MIS inilah, kemudian kami menawarkan kelas belajar tahsin Al Qur’an. Kepada pihak sekolah disampaikan, bahwa sasaran kelas ini adalah orang tua murid yang mualaf. Meski awalnya hanya untuk para mualaf dan wali murid MIS, namun sambutan masyarakat di Kampung Tampubolon, sangat luar biasa. Mereka berbondong bondong mendaftarkan diri belajar mengaji. Hampir setiap rumah muslim di Kampung Tampubolon, minimal salah satu anggota keluarganya ikut mengaji. Dari anak usia TK sampai opung-opung (kakek-nenek), ikut bergabung.
Setelah Kampung Tampubolon, kelas tahsin merambah ke tempat lain, termasuk ke sejumlah sekolah, para dosen, anggota tentara di asrama Kompi Senapan Si Mbisa. Di samping itu, mayarakat di Pintu Pohan, karyawan Hotel Marsaringar dan Greens Cafe, bahkan sampai ke Dolok Sanggul di Kabupaten Humbang Hasundutan, yang berjarak sekitar 50 km dari Balige. Hingga saat ini, total murid mencapai 400 orang. Karena murid terus bertambah, dan tempat belajar tidak kondusif, kami pun menyewa dua rumah. Satu untuk tempat tinggal dan satu rumah digunakan untuk belajar, atau yang sering kami sebut Rumah SaQu. Kegembiraan dan rasa bahagia kami dilengkapi, dengan adanya murid mualaf yang berkembang secara cepat. Awalnya, mereka adalah murid yang tidak kenal huruf hijaiyah. Dengan penuh kesabaran, murid-murid mualaf tersebut kami perkenalkan huruf demi huruf, bab demi bab seperti yang ada dalam panduan buku Iqro rasm Utsmany, hingga mereka bisa dan mampu membaca Al Qur’an. Tidak hanya itu, ada seorang mualaf yang kemudian mendampingi kami mengajarkan murid yang sudah terlahir beragama Islam. Kami sangat berharap, kelak mereka akan meneruskan perjuangan dan cita-cita yang semula kami rintis, manakala SK mutasi menjemput kami.
Aura pembelajaran tahsin begitu melekat di hati para murid. Semangat membaca Al Qur’an sudah menyebar kepada mereka, terbukti dengan kondisi panas dan hujan, namun insan-insan yang haus ilmu agama itu senantiasa menyempatkan diri untuk hadir di Rumah Sahabat Qur’an. Kendala lain, seperti putusnya aliran listrik dan halangan karena sakit, tidak mengendorkan semangat mereka untuk tetap belajar Al Qur’an. Sangat lah disayangkan, di tengah menggebunya mereka berinteraksi dengan Al Qur’an, kemunculan pandemi covid-19 tidak bisa terhindarkan.
Ketika Romadhon datang dan covid melanda, para murid merasa sedih, sebab tidak bisa melakukan tadarus di rumah SaQu atau pun ke Masjid. Menangkap aspirasi para murid Saqu untuk bertadarus, kami mencoba memikirkan sebuah solusi. Setelah dipertimbangkan dengan masak, akhirnya muncul satu ide, tadarus online. Tanggapan tak terduga, begitu kami umumkan kelas tadarus online, banyak peserta yang mendaftar. Sebanyak 80 murid SaQu mendaftar untuk mengikuti tadarus online, dengan komposisi 20 Pria dan 60 orang lainnya wanita. Melihat peserta yang cukup banyak, dibuatlah kelompok dengan masing-masing anggota 10 orang. Terbentuklah delapan kelompok tadarus online guna memanfaatkan waktu dan keberkahan Ramadhan. Melakukan tadarus online bukan tanpa hambatan. Ada opung-opung yang bersemangat mengikutinya, meski tanpa memiliki HP yang memadai. Tadarus online dilakukan menggunakan aplikasi Skype. Hambatan sinyal karena kondisi geografis, terbatasnya kuota, serta belum familiar dengan aplikasi, tidak mengurangi motivasi mereka.
Selain aktivitas pembelajaran, kami juga ingin berbuat lebih banyak, dengan manfaat yang lebih nyata di tengah masyarakat terutama saat pandemi. Sebagai upaya membantu tempat layanan sosial, seperti sekolah dan masjid dalam mencegah covid, SaQu bekerja sama dengan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Sumut. Kerja sama dilakukan dengan menggalang dana bantuan untuk masjid dan sekolah, yang dipergunakan untuk pembelian desinfektan. Akhirnya, terkumpul dana Rp 6 juta. Sebesar Rp3 juta diberikan untuk bantuan APD bagi tenaga kesehatan BSMI, sedangkan sisanya 3 juta didistrusikan untuk pengadaan desinfektan di tiga masjid dan tiga sekolah.
Pandemi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga merambah ke sektor ekonomi. Tidak terkecuali beberapa murid SaQu yang terdampak dari sisi ekonomi. Di antara mereka ada yang berprofesi sebagai penjual makanan di sekolah, antar jemput anak sekolah, penjual jamu, penjual bakso bakar dan lain sebagainya. Kebijakan pembatasan jarak dan protokol kesehatan, menyebabkan mereka terhalang menjalankan aktivitasnya mencari penghasilan. Melihat hal tersebut, kembali kami menggalang donasi untuk membantu para murid yang kesulitan. Alhamdulillah, sejumlah dana dapat terkumpul dan didistribusikan kepada para murid terdampak covid yang berjumlah sekitar 135 orang. Wilayah pendistribusian meliputi Kota Balige, Kampung Tampubolon, Kota Dolok Sanggul dan Kampung Pintu Pohan Meranti.
Kegiatan yang kami lakukan di Balige, baik yang berhubungan dengan Al Qur’an maupun dengan masyarakat sekitar, diketahui oleh Bapak Wakil Gubernur Sumatera Utara, Drs. H. Musa Rajekshah, M. Hum, kerap dipanggil Pak Ijeck. Sosok Pak Ijeck adalah orang yang ramah dan peduli terhadap warganya. Di sela-sela kunjungan kerja di Balige, dipagi hari, beliau menyempatkan diri mengikuti sholat subuh berjamaah di Masjid Muhajirin Kampung Tampubolon. Usai Sholat subuh berjamaah, dalam suasana sangat familiar, Pak Ijeck membangun komunikasi dengan berbincang bersama para jamaah.
Ketika beliau harus melanjutkan perjalanan kembali menuju Medan, Panti Asuhan Tambunan tak luput dari kunjungannya. Sesaat sebelum kunjungan, Aspri Pak Ijeck menghubungi kami via telepon, menyampaikan keinginan beliau untuk bertemu dan berbicang. Apresiasi disampaikan Wagub, dengan memberikan bantuan operasional, sembari berpesan untuk memanfaatkan bantuan dimaksud. "Tolong manfaatkan dengan sebaik-baiknya", pesan Pak Wagub. Kami hanya bisa menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan, dan akan kami jadikan sebagai motivasi untuk terus berkiprah positif di tengah masyarakat.
Kami bertekad, akan memberikan manfaat seluas-luasnya di tanah Batak, tempat kami ditugaskan oleh instansi Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan.
Nama : Arif Hermanu
Kantor/Unit Kerja : KPPN Balige
“Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi”.










