Multi Peran Para Puan

Para puan ini bisa jadi berbeda jabatan dan keadaan. Namun, mereka sedang menjadi lakon yang sama, memainkan figur yang multi peran sebagai bagian dari insan perbendaharaan. Membagi pikiran sekuat tenaga untuk memenuhi tuntutan pekerjaan, sekaligus menjadi ibu dan istri dalam waktu yang bersamaan. Multitasking perempuan seolah bertambah seperti deret ukur dalam tujuh bulan terakhir ini.

Pandemi pagebluk corona mengubah rutinitas pagi Laila, seorang Pelaksana pada KPPN yang terletak di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Biasanya, setelah subuh, ia dikejar waktu untuk menggarap pekerjaan rumah tangga dan bersiap pergi ke kantor. Namun, kini ia tak perlu rapi sejak pagi. Yang penting, pada pukul 7.30 pagi ia sudah mengisi presensi, sedia gawai pintar dan laptop untuk amunisi. Betul, Laila sedang melaksanakan kerja dari rumah, work from home (WFH)  istilah kekiniannya.

Laila mulai bekerja dari rumah sejak Kementerian Keuangan mengeluarkan kebijakan tindak lanjut terkait pencegahan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pada medio Maret lalu. Untuk mencegah dan melindungi pegawai, kantor Laila menerapkan sistem WFH bagi sebagian besar pegawainya. Memasuki tatanan normal baru, kebijakan WFH masih diterapkan secara bergantian mengikuti beleid yang berlaku.

Bekerja dari rumah membuat Laila merasa quality time dengan anaknya yang baru genap satu tahun semakin bertambah. Tapi, nyatanya tidak sesantai yang dipikirkan. Memang, pagi hari sebelum jam kerja ia tidak harus terburu-buru memandikan anaknya sebelum ngantor. Ia memiliki waktu lebih longgar untuk mengurus buah hatinya.

Dengan lembut ia membalurkan minyak telon ke perut mungil anaknya, bercengkerama, serta menyuapi menu bubur buah andalan untuk sarapan buah hatinya. Momen akrab ibu-anak ini seketika terpecah saat telepon pintar Laila berdering. Di ujung telepon, rekan kerjanya meminta Laila untuk segera join zoom meeting bersama Kanwil. “La, diminta join zoom sama Kanwil segera ya” ujar kawannya.

Tidak kurang dari sepuluh kali anak Laila merengek sambil memanggil “Mama” sepanjang rapat daring berlangsung. Tini, si mbak yang biasa membantu mengasuh anaknya berhalangan datang hari ini. Ditambah, sudah hampir dua tahun Laila menjadi pejuang Long Distance Marriage (LDM) dengan suaminya yang bekerja di Jawa. Sebelum pandemi, biasanya suaminya rutin pulang atau ada sanak keluarga dari Jawa bertolak ke Kalimantan untuk diminta bantuan. Tapi tidak untuk saat ini, dan entah akan sampai berapa lama lagi.

Laila kerap didera perasaan bersalah ketika ia dituntut untuk selalu tampil prima di layar daring dan mempertahankan identitas profesionalnya tapi di sisi lain ia memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu. Namun, Laila memilih berdaya dengan sukarela sepenuh hatinya untuk mejalani lakon multi perannya.

Ia percaya tugasnya sebagai abdi negara dan menjadi seorang ibu bukanlah hal yang saling menegasi. Walau prakteknya tidak mudah tapi pilihannya bukanlah hal yang harus dibeda-bedakan, menjadi kerap menyalahkan dan membuat ragu dengan keputusan yang diambil. Ia percaya perempuan yang piawai di rumah akan memiliki dedikasi yang sama saat menjadi pekerja di kantor.

Masih di provinsi yang sama, Sri juga agak dibuat panik saat Covid-19 mulai merebak. Ia yang harus mengabdi ditempatkan di salah satu kabupaten yang khas dengan transportasi ketinting-nya itu dihantui rasa cemas karena tinggal berjauhan dengan suami dan anak-anaknya yang tinggal di Kota Pahlawan.

Ketakutan bahwa suami maupun anak-anaknya akan tertular virus corona pada awalnya mendorong Sri untuk memborong masker, berbagai produk disinfektan serta berbagai suplemen yang disebut berkhasiat menjaga daya tahan tubuh untuk dikirim ke keluarganya. Ia menjadi lebih bawel kepada suaminya yang tinggal bersama anak-anaknya.

Ia terus mewanti-wanti suaminya agar langsung mandi, berganti baju setelah pulang kerja, sering cuci tangan dan mengingatkan anak-anaknya untuk rajin minum suplemen. Pandemi ini membuat Sri yang tinggal berjauhan dengan sanak-familinya seolah menjadi semakin berjarak. Biasanya, ia bisa pulang setiap bulan untuk melepas rindu tapi kini komunikasi virtual menjadi andalan penawar rindu.

Rasa cemas dan stres bisa jadi merupakan sikap yang wajar di situasi tidak normal seperti ini. Ketakutan Sri perlahan mereda setelah ia meliburkan diri membaca berita tentang corona, belajar menerima kondisi dan meningkatkan produktivitas diri di tengah pingitan pagebluk corona yang mematikan.

Menurutnya, perempuan itu selalu multi peran dan berhadapan dengan berbagai tuntutan. Keputusan Sri untuk sementara tinggal jauh dari keluarga bukan hanya sebatas karena mata pencaharian tapi untuk menjadi teladan melaksanakan tugas sebagai garda terdepan pengawal APBN. Bukan hal yang mudah memang bagi perempuan karena tekanan kerap keluar bukan hanya dari lingkungan sekitar tapi dari keraguan diri sendiri, “Sudahkah saya menjadi Ibu yang baik?”.

Perempuan yang bekerja tetaplah menjadi seorang Ibu sepanjang waktu. Bekerja dan menjadi seorang Ibu yang baik merupakan dua peran yang sejalan bukan harus dibeda-bedakan. Pesan untuk para perempuan insan perbendaharaan, yang mengambil sekaligus peran sebagai Ibu, istri, atasan maupun bawahan, tenang kalian tidak sendirian. Kalian ditemani oleh yang lain, parempuan lainnya. Mari bergandengan tangan bukan saling menjatuhkan. Tapi saling bertukar pikiran, memupuk keberanian, membuang keraguan dan saling menguatkan. Menjadi lakon multi peran sekaligus insan perbendaharaan yang senantiasa memupuk diri untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

 

 

IDENTITAS DIRI

Nama Lengkap            : Dwi Listiana

Nama Kantor              : Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur

Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi

 

“Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi”

 

 

 

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardjo I Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

   

 

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search

Kantor Wilayah Provinsi, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) 

(Daftar Kantor Vertikal DJPb Selengkapnya ..)