O P I N I

Disclaimer: “Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan instansi/organisasi manapun.

Integrasi Kecerdasan Buatan Menuju Indonesia Berkelanjutan

Oleh: Wisnhu Chrisnur Cahya, pelaksana tugas belajar

 

Sore itu hujan turun di Stasiun Lempuyangan. Aku berdiri di peron keberangkatan, sesekali tempias air hujan menerpa wajahku. Tepat pukul 15.10 kereta tiba di peron 1. Seperti halnya kereta yang berjalan di atas rel, begitulah kehadiran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Ia berjalan di jalur yang manusia ciptakan, mempercepat perubahan di berbagai aspek kehidupan. Rel yang terarah mencerminkan bahwa meskipun AI perlahan mengubah setiap aspek kehidupan, ia tetap bergantung pada kendali manusia. Namun, seperti hujan yang bisa menghambat perjalanan, AI pun membawa tantangan yang menawarkan peluang besar, terutama dalam upaya global menuju Net Zero Emission. Sedangkan kita, seperti penumpang yang menunggu di peron, berharap AI membawa kita ke masa depan yang lebih baik, tanpa kehilangan arah.

Pentingnya Integrasi Kecerdasan Buatan dalam Perekonomian Hijau 

AI adalah sebuah sistem yang ditanamkan pada mesin sehingga secara mandiri mampu belajar dan berkembang sesuai algoritma yang sudah didefinisikan. Pada awal perkembangannya, AI difokuskan untuk mengatasi kendala menggunakan matematika dan logika formal. Namun, seiring kemajuan teknologi, AI dapat memecahkan masalah yang lebih kompleks dan menghasilkan prediksi dan keputusan yang akurat. Layaknya kecerdasan manusia, AI memungkinkan sistem untuk belajar dari data dan meningkatkan kinerjanya seiring waktu. 

Peningkatan signifikansi kesangkilan dalam pengelolaan sumber daya alam dengan penggunaan AI secara gamblang sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian. Hal tersebut menjadi kabar baik bagi kemajuan perekonomian hijau dalam menghadapi tantangan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini. Menurut laporan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), organisasi negara-negara ekonomi maju yang berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan sosial, dan menggalakkan perdagangan dunia, AI dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Implementasi AI dalam pengelolaan energi dapat membantu menghemat konsumsi energi dan mampu mengurangi emisi karbon. Di Indonesia, para pakar menyatakan bahwa peningkatan efisiensi hingga 30% dapat dicapai dengan mengadopsi teknologi AI dalam sektor energi terbarukan. Penggunaan predictive analytics merupakan salah satu penerapan AI dalam perekonomian hijau, untuk membantu mengurangi emisi gas buang terutama karbon di sektor transportasi dengan menganalisis pola lalu lintas. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Zhang, Y., & Zhao, J. mencatat bahwa dengan menggunakan algoritma tertentu, AI mampu menghasilkan analisis pola lalu lintas dan memberikan rekomendasi untuk rute yang lebih hemat waktu dan hemat energi sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pada 2022 jumlah mobil di Indonesia mencapai 17,2 juta unit, mengalami penambahan sekitar 65% dibanding sepuluh tahun sebelumnya. Jika teknologi tersebut diterapkan di Indonesia maka dapat membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara di kota-kota besar seperti Jakarta. 

Selain itu, kombinasi machine learning, deep learning dan ketersediaan data yang besar dapat digunakan untuk memantau dan mengelola sumber daya air secara lebih efisien. Penerapan sistem pemantauan berbasis AI dapat mendeteksi kebocoran dalam jaringan distribusi air, sehingga mengurangi pemborosan dan memastikan pasokan air yang lebih berkesinambungan. Hasil yang berpedoman pada Survei Sosial Ekonomi Nasional 2022 menyatakan saat ini akses air minum layak di Indonesia masih mencapai 91,08% dan akses air minum aman hanya di level 11,08%, sedangkan akses air perpipaan dilaporkan baru mencapai 19,47%. Optimalisasi penggunaan AI sangat relevan untuk menjawab tantangan agar tercapai akses air minum berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. Pada bidang ekonomi berkelanjutan pemanfaatan AI mampu mengelola limbah yang lebih baik. Buku Konsep Dasar Pemanfaatan AI dalam Dunia Keteknikan: Mengubah Wajah Pendidikan dan Industri untuk Masa Depan mengemukakan bahwa penggunaan AI dalam pengelolaan limbah dapat membantu dalam proses daur ulang dengan mengidentifikasi jenis material yang dapat didaur ulang secara otomatis. AI tidak hanya membantu mengurangi limbah tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Merujuk pada laporan World Economic Forum tahun 2022, investasi dalam teknologi AI untuk keberlanjutan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan dalam meningkatkan reputasi di mata konsumen yang makin peduli terhadap masalah lingkungan. Integrasi AI dalam perekonomian hijau merupakan sebuah keharusan untuk mencapai komitmen global dalam upaya menyejahterakan masyarakat melalui pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Peran Pemerintah Dukung Perekonomian Hijau Berbasis AI

Sektor pertanian, energi, dan transportasi merupakan sektor kunci dalam upaya mencapai pembangunan berkelanjutan. Pemerintah berupaya mengakselerasi hal tersebut melalui kebijakan penggunaan teknologi dalam mendukung perekonomian hijau. Pemerintah Indonesia memberikan insentif fiskal bagi perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan pendapat Alberto Pasqualetto dalam risetnya yang bertajuk “Artificial Intelligence Approaches for Energy Efficiency: A Review”. Di dalamnya ditekankan bahwa peran AI dalam industri dapat meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi limbah. 

Pemberian insentif merupakan langkah inovatif untuk mendorong transformasi digital sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing industri nasional di pasar global. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta adalah bahan bakar untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan AI untuk kepentingan ekonomi yang berkelanjutan. AI yang menjanjikan dalam pengelolaan sumber daya air adalah sistem manajemen irigasi cerdas. Melalui penggunaan algoritma prediktif, sistem ini dapat meramalkan kebutuhan air tanaman berdasarkan kondisi cuaca dan jenis tanaman. Sebuah studi oleh World Bank menunjukkan bahwa penerapan sistem irigasi cerdas di beberapa daerah di Indonesia berhasil meningkatkan hasil pertanian hingga 20% sambil mengurangi penggunaan air. Ini merupakan contoh konkret bagaimana AI dapat digunakan untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Kolaborasi antara akademisi dan pemerintah dapat memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan berbasis pada data dan penelitian yang valid.

Pemerintah juga perlu merumuskan regulasi yang mendukung penggunaan AI dalam konteks keberlanjutan. Regulasi yang jelas dan mendukung akan menciptakan kepastian bagi investor dan perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi hijau. Menurut laporan dari United Nation Environment Programme tahun 2023, kebijakan yang mendukung penggunaan AI dalam sektor energi dapat menghasilkan pengurangan emisi karbon yang signifikan. Di Indonesia, regulasi yang mengatur penggunaan teknologi ramah lingkungan di sektor energi terbarukan dapat mendorong lebih banyak investasi. Sehingga, pendidikan dan pelatihan menjadi aspek penting dalam mendukung integrasi AI untuk ekonomi berkelanjutan. 

Pemerintah harus memastikan bahwa tenaga kerja memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengoperasikan dan mengembangkan teknologi AI. Program pendidikan yang berfokus pada AI dan keberlanjutan dapat membantu menciptakan generasi profesional yang siap menghadapi tantangan pada masa depan. Pemerintah dapat memainkan peran kunci dalam mendorong adopsi AI yang berkelanjutan dan mendukung tujuan ekonomi hijau di Indonesia dan di seluruh dunia.

Mengatasi Tantangan dan Kekhawatiran

Integrasi AI ke dalam berbagai sektor ekonomi menawarkan potensi yang luar biasa untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. Namun, tantangan dan kekhawatiran yang muncul seputar penggunaan AI tidak dapat diabaikan. Salah satu tantangan utama adalah risiko kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Menurut laporan Organisation for Economic Co-operation and Development, sekitar 14% pekerjaan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Jerman, Prancis, dan Korea Selatan berisiko tinggi untuk diotomatisasi, yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi bagi banyak pekerja. Di Indonesia, BPS mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2024 mencapai 4,82%. Penambahan lebih banyak pekerjaan yang hilang akibat AI dapat memperburuk situasi ini.

Selain itu, ada kekhawatiran terkait etika dan privasi data. Penggunaan AI dalam pengumpulan dan analisis data berpotensi menimbulkan pelanggaran privasi. Makin banyak data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh sistem AI, risiko kebocoran data juga meningkat. Bălăcescu dalam penelitiannya tahun 2020 yang berjudul The Impact of Artificial Intelligence on the Financial Sector mencatat bahwa serangan siber terhadap lembaga keuangan telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan penggunaan AI dapat membuat lembaga lebih rentan terhadap serangan tersebut. Misalnya, jika sebuah bank menggunakan AI untuk menganalisis perilaku transaksi pelanggan, data sensitif seperti informasi rekening dan riwayat transaksi dapat menjadi target utama bagi peretas.

Survei GreenBiz menunjukkan bahwa 48% konsumen khawatir data pribadi mereka digunakan oleh perusahaan, yang menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat dalam penggunaan AI. Tantangan lain yang dihadapi adalah ketidakpastian dalam regulasi dan kebijakan. Di banyak negara, termasuk Indonesia, kerangka hukum untuk mengatur penggunaan AI masih dalam tahap pengembangan. Tanpa adanya kebijakan yang jelas, inovasi dalam teknologi AI dapat terhambat, dan potensi pemanfaatannya untuk ekonomi berkelanjutan tidak akan terwujud. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk segera merumuskan kebijakan yang mendukung pengembangan dan penerapan AI secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, penyediaan infrastruktur teknologi yang memadai dalam pemanfaatan AI juga perlu diperhatikan. Di Indonesia, banyak daerah masih tertinggal dalam hal akses internet dan teknologi informasi. Menurut data dari World Bank hanya sekitar 60% populasi Indonesia yang memiliki akses internet, sehingga menjadi hambatan bagi penerapan AI secara luas. Investasi dalam infrastruktur teknologi, seperti jaringan internet dan pusat data, sangat penting untuk mendukung penerapan AI yang berkelanjutan.

Terakhir, tantangan yang tidak kalah penting adalah kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Peningkatan penggunaan AI memerlukan para pekerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru. Tanpa investasi dalam pendidikan dan pelatihan, Indonesia berisiko kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan potensi AI dalam mendukung ekonomi berkelanjutan. Dalam mengatasi tantangan dan kekhawatiran ini, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil sangat diperlukan. Hanya dengan pendekatan menyeluruh dan terbuka, kita dapat memastikan bahwa integrasi AI tidak hanya membawa manfaat ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

Integrasikan AI dalam Strategi Pembangunan Berkelanjutan

AI dalam strategi menuju ekonomi berkelanjutan menjadi sangat penting di era modern ini. Penggunaan teknologi AI di Indonesia, terutama dalam sektor transportasi dan energi, menunjukkan potensi signifikan dalam mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi. Misalnya, predictive analytics dapat mengurangi emisi karbon hingga 25% dengan optimasi rute, sementara AI dalam pengelolaan sumber daya alam meningkatkan efisiensi energi industri hingga 30%. Sektor energi dan transportasi adalah penyumbang utama emisi karbon Indonesia hingga sebesar 1,9 miliar ton pada 2022, dan penerapan AI sangat diperlukan untuk mencapai target pengurangan emisi. Selain itu, AI dalam energi terbarukan dapat meningkatkan efisiensi hingga 40%, dan inovasi AI dalam pengelolaan limbah mampu meningkatkan tingkat daur ulang hingga 50%, yang krusial untuk mengatasi produksi limbah tahunan Indonesia sebesar 67 juta ton.

Pemerintah Indonesia juga berperan penting dalam mendorong inovasi kecerdasan buatan untuk ekonomi hijau. Kebijakan yang mendukung penelitian dan pengembangan teknologi AI dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inovasi. Insentif fiskal dan dukungan infrastruktur menjadi kunci dalam pengembangan teknologi berkelanjutan. Melalui dukungan ini, diharapkan lebih banyak perusahaan akan berinvestasi dalam solusi berbasis AI yang ramah lingkungan. Di ranah global, laporan dari OECD menggarisbawahi bahwa negara-negara yang berhasil mengintegrasikan AI dalam strategi pembangunan berkelanjutan akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar internasional. Maka, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi menjadi sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi dan keberlanjutan. Integrasi kecerdasan buatan diharapkan mampu menjadi pendorong utama dalam mewujudkan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan di masa depan.

Setiba di Stasiun Jebres, hujan masih turun perlahan, menyisakan rintik-rintik di jendela kereta. Aku melangkah keluar, merasakan udara segar yang bercampur aroma hujan. Kota ini, seperti kota-kota lain, perlahan berubah mengikuti arus modernisasi yang dipacu oleh AI. Seperti kereta yang terus bergerak tanpa henti, teknologi AI mengantarkan kita menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan dan efisien. AI tidak hanya mengubah cara kita hidup dan bekerja, tetapi juga membangun ekonomi hijau yang makin menyatu, menciptakan harapan baru di setiap persinggahan kehidupan.

 

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi.

 

 

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardjo I Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

   

 

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search

Kantor Wilayah Provinsi, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) 

(Daftar Kantor Vertikal DJPb Selengkapnya ..)