Menkeu: APBN Berperan Strategis Menjaga Daya Beli Masyarakat

Jakarta, Selasa (07/07/2026) – APBN 2026 bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mendukung agenda prioritas pembangunan nasional dengan tetap menjaga tata kelola keuangan yang sehat, kredibel, dan akuntabel. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan Laporan Pelaksanaan APBN Semester I dan Prognosis Semester II Tahun Anggaran 2026 dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (07/07). 

Sesuai dengan amanat konstitusi dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pemerintah menyusun Laporan Realisasi Semester I APBN dan prognosis untuk 6 bulan berikutnya yang disampaikan kepada DPR selambat-lambatnya pada akhir Juli tahun anggaran yang bersangkutan untuk dibahas bersama-sama.Menkeu menyebutkan bahwa belanja negara ditujukan untuk mendukung program prioritas pembangunan, menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat, serta mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah, pemerintahan daerah, penanggulangan bencana, dan tambahan otsus. 

“Realisasi APBN 2026 Semester I tahun 2026 diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pencapaian agenda nasional. Pendapatan Negara mencapai Rp1.459,4 triliun (46,3% dari target APBN) dan tumbuh 21,4% yoy. Kinerja pendapatan dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas ekonomi, peningkatan pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan Kementerian/Lembaga dan BLU. Belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656,0 triliun (43,1% dari pagu APBN), tumbuh 17,8% yoy. Kinerja belanja ditujukan untuk mendorong perekonomian lebih tinggi serta mendukung agenda pembangunan dan program prioritas nasional,” ungkap Menkeu.

Adapun defisit APBN Semester I 2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun (0,76% terhadap Produk Domestik Bruto - PDB). Kondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali. 

“Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian global, peran APBN sangat strategis sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas perekonomian dan menjaga daya beli masyarakat dan kebijakan counter cyclical dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan merata,” jelas Menkeu.

Kemudian dalam paparannya untuk Outlook APBN 2026, Menkeu menegaskan bahwa APBN terus diarahkan untuk mendorong kinerja perekonomian dan mendukung prioritas pembangunan nasional. Pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7% dari target, sedangkan belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu. Dengan demikian, outlook defisit APBN diperkirakan sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB.

“APBN konsisten mendukung agenda prioritas pembangunan nasional, terutama makanan bergizi gratis, revitalisasi sekolah, cek kesehatan gratis, sekolah rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih agar berjalan secara efisien dan efektif. APBN 2026 dijaga tetap sehat dan berkesinambungan dengan pembiayaan anggaran yang efisien. Sinergi dan harmonisasi belanja pusat dan daerah terus ditingkatkan guna memperbaiki kualitas pengelolaan anggaran dan efektivitas belanja agar dampak APBN makin nyata dalam mewujudkan kemampuan seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Menkeu. [LRN]

 

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardjo I Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

   

 

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search

Kantor Wilayah Provinsi, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) 

(Daftar Kantor Vertikal DJPb Selengkapnya ..)