Oleh: Wisnhu Chrisnur Cahya, Pegawai Tugas Belajar pada Universitas Gadjah Mada
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi,
Tapi udara penuh tanda tanya,
Di mana biru langit, di mana suara?”
Oleh: Wisnhu Chrisnur Cahya, Pegawai Tugas Belajar pada Universitas Gadjah Mada
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi,
Tapi udara penuh tanda tanya,
Di mana biru langit, di mana suara?”
Oleh: Joshua Harris Pardamean Samosir, pegawai pada Sekretariat DJPb
Peningkatan kualitas perekonomian nasional tidak terlepas dari peran pengeluaran pemerintah sebagai instrumen kebijakan fiskal dalam mendorong aktivitas ekonomi dan pembangunan. Melalui belanja negara, pemerintah mengalokasikan sumber daya untuk penyediaan infrastruktur, layanan publik, serta berbagai program yang secara langsung memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat.
Oleh: Dendi Andrian, Kepala Subbagian Umum KPPN Padang
Setiap menjelang Hari Raya, satu kata kembali menghangatkan ruang-ruang percakapan publik: mudik. Ia bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan ritual sosial yang menyatukan jutaan orang dalam satu tarikan rindu. Dari kota-kota besar hingga pelosok desa, arus manusia bergerak serempak satu tujuan mencari rumah, pelukan orang tua, dan meja makan yang penuh cerita. Di titik inilah negara diuji, seberapa siap memastikan perjalanan itu aman, terjangkau, dan manusiawi?
Oleh: Kurniawan Budi Irianto, Kepala Seksi Pembinaan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat, Kanwil DJPb Provinsi Jawa Tengah
Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan dua wajah sekaligus yaitu spiritual dan ekonomi. Di satu sisi, ia adalah bulan ibadah yang penuh kekhusyukan. Namun pada sisi lain, ia adalah momentum lonjakan aktivitas ekonomi yang signifikan. Konsumsi rumah tangga meningkat, mobilitas melonjak, dan perputaran uang menguat. Kabar tentang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi salah satu informasi yang paling dinantikan, tidak hanya oleh aparatur negara, tetapi juga oleh pelaku usaha yang menggantungkan penjualannya pada musim Lebaran.
Oleh: Mohamad Ziqri Sandy Arifanto, pelaksana pada KPPN Nunukan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sering dipahami sebagai dokumen negara yang sarat angka, istilah teknis, dan prosedur birokrasi. Ia dibahas dalam forum resmi, disajikan dalam bentuk grafik dan tabel, lalu disahkan sebagai dasar pelaksanaan kebijakan fiskal nasional. Dalam persepsi sebagian masyarakat, APBN kerap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, cara pandang tersebut akan berubah ketika APBN dilihat dari daerah, terutama dari wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan.
Oleh: Satriyo Budi Cahyono, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II, Kanwil DJPb Provinsi Papua Barat
Dalam beberapa dekade terakhir, paradigma pengelolaan keuangan publik di Indonesia telah bergeser dari sekadar input-based menuju outcome-based. Di tengah transformasi ini, Badan Layanan Umum (BLU) muncul sebagai instrumen fiskal yang paling dinamis. Bukan sekadar pengelola anggaran, BLU adalah pengejawantahan dari konsep Entrepreneurial Government—sebuah upaya negara untuk menghadirkan layanan publik dengan kualitas sektor swasta, sekaligus tetap berpegang teguh pada misi sosial. Sebagai perpanjangan tangan APBN, BLU memegang peran krusial dalam menjembatani kebijakan fiskal dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat secara langsung.
Oleh: Danis Ardiyanto, Kepala Seksi Pembinaan Pelaksanaan Anggaran IIB, Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, dunia bergerak ke arah di mana anggaran negara tak lagi boleh pasif. China, Jepang, hingga Jerman mulai meninggalkan pengetatan fiskal dan memilih belanja negara yang agresif untuk mendorong konsumsi, investasi, dan sektor riil. Dalam arus global inilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Indonesia diposisikan bukan sekadar sebagai dokumen yang berisi proyeksi penerimaan dan pendapatan, melainkan sebuah instrumen kebijakan yang diharapkan untuk menghidupkan kembali mesin perekonomian sekaligus stabilisator ketika terjadi guncangan ekonomi.
Oleh: Achmad Luthfi Tunggul Baroto, Kepala Seksi Pencairan Dana KPPN Tasikmalaya
Setiap tanggal 14 Januari, Insan Perbendaharaan di seluruh penjuru negeri memperingati Hari Bakti Perbendaharaan sebagai momentum reflektif atas perjalanan panjang pengelolaan keuangan negara. Hari Bakti Perbendaharaan bukan sekadar penanda historis lahirnya institusi Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), melainkan juga ruang kontemplasi kolektif untuk meneguhkan kembali peran strategis pengelolaan perbendaharaan negara dalam menjaga akuntabilitas fiskal serta memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Oleh: Muhammad Lutfi Aziz, Pegawai Pada Kanwil DJPb Provinsi NTB
Bayangkan Indonesia tanpa sekolah yang layak, tanpa guru yang sejahtera, tanpa mahasiswa yang mampu melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. Dalam situasi seperti itu, sulit membayangkan lahirnya tenaga kesehatan yang andal, insinyur yang membangun infrastruktur, pelaku usaha yang inovatif, maupun aparatur negara yang profesional dan berintegritas. Setiap sektor kehidupan, mulai dari energi, pangan, industri, hingga pariwisata pada akhirnya bertumpu pada kualitas pendidikan. Maka, jika dikatakan bahwa pendidikan adalah urat nadi pembangunan jangka panjang Indonesia, pernyataan tersebut sama sekali tidak berlebihan.