Oleh: Abd. Gafur, Kasi PPA IIA Kanwil DJPb Provinsi Maluku Utara
Krisis kerap menjadi titik balik lahirnya kebijakan yang progresif. Dalam situasi sulit, kita dipaksa untuk jujur menilai kembali arah kebijakan, termasuk bagaimana uang negara dikelola. Bad time makes a good policy rasanya kembali relevan di tengah tantangan ekonomi dan fiskal ke depan. Pandemi Covid-19, ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global akibat perang dagang yang tak berkesudahan, hingga konflik militer di banyak kawasan, membuat banyak negara termasuk Indonesia harus mengelola fiskal dengan lebih disiplin dan terukur.
Kini, ketika pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai bekerja, tekanan ekonomi global kian nyata. Ruang fiskal makin sempit, sementara tekanan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi justru meningkat. Dalam kondisi ini, belanja pemerintah menjadi instrumen penting, penopang 54 persen PDB dari konsumsi masyarakat. Kita tidak bisa hanya bertumpu pada investasi sektor swasta atau ekspor untuk menggerakkan ekonomi. Pemerintah harus hadir.

