O P I N I

Disclaimer: “Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan instansi/organisasi manapun.

Lean Staffing Model: Strategi Jepang Mengatasi Keterbatasan SDM

Oleh: Muhammad Fahmi Trisnadi - Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH)

Akhir-akhir ini cuaca tak menentu. Siang hari panas terik, menjelang sore mendung mulai bergelayut. Menciptakan ketidakpastian, seperti halnya beban pekerjaan yang terus bertambah. Di kantor, para pegawai sibuk menyelesaikan tugas demi tugas, meski sumber daya manusia (SDM) makin terbatas. Setiap pegawai harus beradaptasi dan bekerja lebih efisien di tengah tuntutan yang semakin tinggi. Seolah-olah, setiap pegawai harus menemukan cara baru untuk menjaga roda organisasi tetap berputar. Dalam menghadapi tantangan seperti ini, Jepang telah mengembangkan pendekatan Lean Staffing Model. Model ini sudah diterapkan Jepang di berbagai sektor untuk mengatasi keterbatasan SDM tanpa mengorbankan produktivitas sehingga organisasi dapat memanfaatkan setiap pegawai secara maksimal, mengurangi pemborosan, dan memastikan efisiensi tetap terjaga.

Apa itu Lean Staffing Model?

Lean Staffing Model merupakan sebuah pendekatan strategis yang memungkinkan organisasi untuk tetap beroperasi secara efektif meskipun dengan jumlah pegawai yang minimal. Filosofi ini berakar dari Toyota Production System (TPS) yang berfokus pada pengurangan pemborosan, pengoptimalan alur kerja, dan peningkatan efisiensi. Dalam manajemen sumber daya manusia, Lean Staffing mengutamakan prinsip "doing more with less", yakni memaksimalkan peran setiap pegawai melalui pengembangan keterampilan lintas-fungsi (cross-functional skills development) dan otomatisasi proses.

Implementasi model ini tidak hanya terbatas pada sektor manufaktur, tetapi juga diterapkan di sektor publik di Jepang. Salah satu contohnya adalah bagaimana pemerintah Jepang mampu merampingkan struktur pelayanan publik dengan memanfaatkan teknologi. Proses-proses administratif yang sebelumnya memerlukan banyak tenaga manusia kini dapat dilakukan secara lebih efisien melalui otomatisasi. 

Salah satunya, sistem Integrated Financial Management yang dilakukan oleh pemerintah Jepang memungkinkan untuk mengelola pengajuan, persetujuan, dan pengeluaran anggaran secara otomatis. Mirip dengan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) yang dimiliki oleh DJPb, tetapi di Jepang prosesnya sangat terotomatisasi, sehingga meminimalkan keterlibatan manual dan mempercepat proses. Pemerintah Jepang memfokuskan pegawai pada analisis dan pengawasan. Sementara itu, proses administratif yang berulang, seperti pengajuan anggaran dan verifikasi dokumen, dikelola oleh sistem otomatis.

Selain itu, dalam model Lean Staffing, pegawai juga dilatih untuk memiliki keterampilan lintas-fungsi, memungkinkan mereka menangani berbagai jenis pekerjaan, sehingga beban kerja dapat lebih terdistribusi secara merata. Prinsip ini membantu organisasi di Jepang mempertahankan kualitas pelayanan meskipun dengan jumlah pegawai yang lebih sedikit.

Di sektor swasta, Lean Staffing telah lama menjadi bagian penting dari strategi operasional perusahaan-perusahaan besar seperti Toyota. Dalam sistem produksi mereka, setiap pegawai mampu melakukan lebih dari satu pekerjaan, tidak hanya membantu mengurangi pemborosan waktu dan tenaga, tetapi juga meningkatkan fleksibilitas dalam alur kerja. Pegawai yang fleksibel ini memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan produksi tanpa harus menambah jumlah pegawai secara signifikan. Efisiensi menjadi kunci, dan hal ini dicapai dengan cara merampingkan proses kerja dan mengurangi pemborosan, baik dalam hal waktu, sumber daya, maupun tenaga.

 

Mengapa Lean Staffing Efektif di Jepang?

Lean Staffing Model berakar kuat pada budaya kerja Jepang yang menghargai efisiensi dan ketekunan. Di Jepang, bekerja dengan efisiensi tinggi bukan hanya tuntutan manajemen, tetapi juga bagian dari etos kerja masyarakat. Konsep "Kaizen" atau perbaikan berkelanjutan menjadi salah satu faktor kunci dalam penerapan Lean Staffing. Pegawai di Jepang selalu didorong untuk mencari cara agar pekerjaan mereka dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih cepat, tanpa harus menambah beban yang tidak perlu pada organisasi.

Teknologi memegang peran penting dalam keberhasilan Lean Staffing di Jepang. Penerapan otomatisasi dalam berbagai proses, mulai dari administrasi hingga manufaktur, memungkinkan banyak tugas rutin dan berulang dilakukan secara lebih cepat dan efisien sehingga pegawai dapat fokus pada tugas-tugas yang memerlukan pemikiran strategis atau inovasi. Hal ini pada akhirnya meningkatkan produktivitas organisasi secara keseluruhan.

Selain itu, pengembangan keterampilan lintas-fungsi menjadi salah satu ciri khas dari Lean Staffing. Di Jepang, pegawai tidak hanya dilatih untuk menguasai satu tugas saja, tetapi juga dilatih untuk memahami dan menangani berbagai jenis pekerjaan. Misalnya, dalam sebuah pabrik, seorang pegawai tidak hanya bertanggung jawab pada satu lini produksi, tetapi juga dapat mengoperasikan mesin di lini lainnya jika diperlukan. Hal ini membuat perusahaan lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan kebutuhan produksi atau ketika terjadi kekurangan pegawai di satu bagian tertentu.

 

Tantangan dalam Implementasi Lean Staffing

Meskipun terbukti efektif, Lean Staffing Model juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu masalah terbesar yang sering muncul adalah risiko kelelahan kerja (burnout). Ketika jumlah pegawai dikurangi, beban kerja bagi pegawai yang tersisa secara alami akan meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan stres berlebih, yang menurunkan produktivitas dalam jangka panjang. Kelelahan kerja ini juga dapat memperburuk keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental pegawai.

Selain itu, otomatisasi dan teknologi memang membantu menggantikan beberapa pekerjaan rutin, tetapi tidak semua pekerjaan dapat digantikan oleh mesin. Dalam sektor-sektor tertentu seperti kesehatan atau pendidikan, interaksi manusia masih sangat diperlukan dan tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, organisasi yang menerapkan Lean Staffing harus berhati-hati dalam menjaga keseimbangan antara efisiensi teknologi dan kebutuhan interaksi personal yang penting dalam beberapa jenis pekerjaan.

Tantangan lainnya adalah adaptasi budaya kerja. Lean Staffing membutuhkan pegawai yang tidak hanya terampil dalam berbagai jenis pekerjaan, tetapi juga memiliki mentalitas fleksibel untuk berpindah dari satu tugas ke tugas lain dengan cepat. Hal ini membutuhkan pelatihan yang berkelanjutan serta perubahan budaya kerja di beberapa organisasi, terutama di sektor publik yang cenderung lebih birokratis. Pegawai perlu didorong untuk terbuka terhadap perubahan dan perbaikan, serta selalu mencari cara untuk meningkatkan efisiensi kerja.

 

Peluang Implementasi Lean Staffing pada Sektor Publik

Pengalaman Jepang dalam menerapkan Lean Staffing Model memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan di sektor publik yang kerap dihadapkan pada keterbatasan anggaran dan kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi layanan. Kementerian Keuangan yang saat ini menerapkan kebijakan minus growth dapat mempelajari bagaimana Jepang berhasil mengatasi tantangan ini melalui Lean Staffing.

Otomatisasi dan penggunaan teknologi memang sudah mulai diterapkan, tetapi belum merata. Lean Staffing bisa menjadi langkah selanjutnya dalam merampingkan birokrasi dan meningkatkan efisiensi, terutama di tengah tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang cepat dan berkualitas. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip Lean Staffing, instansi pemerintah dapat mengurangi ketergantungan pada jumlah pegawai yang besar dan lebih fokus pada pengembangan keterampilan serta otomatisasi tugas-tugas rutin.

Namun, penerapan Lean Staffing perlu disertai dengan perhatian khusus pada kesejahteraan pegawai. Di Jepang yang dikenal dengan produktivitas tinggi dan budaya kerja keras, berbagai upaya telah dilakukan untuk memperhatikan kesejahteraan pegawai dalam kerangka Lean Staffing. Misalnya, pengurangan jam kerja lembur yang berlebihan. Hal ini menjadi perhatian khusus dengan menerapkan kebijakan yang membatasi jam lembur, seperti Hatarakikata Kaikaku (Reformasi Gaya Kerja). Tujuannya adalah untuk mengurangi lama jam kerja dan mendorong pegawai memiliki waktu istirahat yang cukup di luar pekerjaan.

Model ini hanya akan berhasil jika didukung oleh pelatihan yang berkelanjutan, penggunaan teknologi yang tepat, dan budaya kerja yang mendorong perbaikan terus-menerus. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi pegawai tetap terjaga, agar tidak mengalami burnout yang bisa berdampak negatif pada kinerja jangka panjang.

 

Peluang Penerapan Lean Staffing Model di DJPb

Penerapan Lean Staffing Model di Kementerian Keuangan, terutama di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), menawarkan peluang yang signifikan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan kepada masyarakat mengingat kantor layanan DJPb tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Pertama, model ini memungkinkan optimalisasi kinerja pegawai dengan fokus pada kualitas pekerjaan. Melalui Lean Staffing, pegawai DJPb dapat lebih difokuskan pada tugas-tugas yang memberikan nilai tambah bagi layanan publik. Setiap individu diharapkan dapat memaksimalkan kontribusinya melalui peningkatan kualitas kerja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepuasan stakeholders. Selain itu, pengembangan keterampilan menjadi aspek penting dalam model ini. Pegawai akan dilatih untuk menangani berbagai jenis pekerjaan, memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tugas dan kebutuhan organisasi.

Kedua, Lean Staffing juga mendorong efisiensi proses yang signifikan. Dengan proses yang lebih ramping dan efisien, pegawai akan menghabiskan lebih sedikit waktu pada tugas administratif yang tidak perlu. Hal ini memungkinkan pegawai untuk fokus pada tugas yang lebih strategis dan memberikan dampak yang lebih besar. Selain itu, pemanfaatan teknologi untuk otomatisasi dan peningkatan proses dapat membantu pegawai menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan akurat. Melalui pengurangan beban kerja akibat proses yang lebih efisien, pegawai dapat lebih produktif dan memberikan hasil kerja yang lebih baik. 

Sebagai contoh, Giro Zaimu Soko yang dimiliki Jepang adalah sebuah sistem yang menangani semua transaksi pembayaran pemerintah secara elektronik. Sistem ini mengintegrasikan berbagai pembayaran dari kementerian dan lembaga pemerintah, serta memastikan pembayaran tepat waktu dan transparan tanpa perlu penanganan manual. Sebelumnya, pembayaran pemerintah memerlukan staf administrasi yang memverifikasi dokumen dan transfer manual. Mengadopsi sistem ini, DJPb dapat memperluas penggunaan Cash Management System (CMS) dan sistem pembayaran elektronik untuk mengintegrasikan pembayaran dana transfer ke daerah atau proyek infrastruktur secara otomatis, sehingga mampu mengurangi kesalahan manual dan mempercepat pencairan. 

Ketiga, budaya kerja yang kolaboratif menjadi salah satu ciri khas Lean Staffing. Pegawai akan bekerja dalam tim lintas-fungsi, yang meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antarbagian. Lingkungan kerja yang lebih harmonis dapat tercipta berkat hubungan antarpegawai yang lebih kuat. Transparansi dalam pengambilan keputusan dan pembagian tugas juga akan meningkatkan rasa memiliki pegawai terhadap pekerjaan mereka, menciptakan rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap hasil kerja. Namun, di sisi lain, penerapan model ini harus memperhatikan kesejahteraan pegawai. Potensi kelelahan akibat beban kerja yang meningkat menjadi perhatian utama, sehingga manajemen perlu memberikan dukungan yang memadai, seperti pelatihan dalam manajemen waktu dan menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi.

Penerapan Lean Staffing di DJPb juga membuka peluang untuk inovasi. Model ini dapat memicu kreativitas jika pegawai diberikan kebebasan untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi pada perbaikan proses. Pegawai merasa lebih diberdayakan untuk mengusulkan ide-ide baru yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan. 

Meskipun terdapat tantangan dalam perubahan mindset dan ketidakpastian yang mungkin muncul, dengan komunikasi yang jelas mengenai tujuan dan manfaat model ini, DJPb dapat mencapai hasil yang lebih baik dalam pengelolaan sumber daya manusia di sektor publik. Pelatihan yang tepat, budaya kerja yang kolaboratif, dan penggunaan teknologi yang efektif dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan publik secara signifikan.

 

Tantangan dan Solusi

Meski banyak peluang yang ditawarkan, penerapan Lean Staffing Model dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah risiko kelelahan pegawai akibat beban kerja yang meningkat. Oleh karena itu, penting untuk menyeimbangkan antara efisiensi operasional dan kesejahteraan pegawai. DJPb perlu menerapkan pendekatan yang mendorong keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi pegawai, agar mereka dapat tetap produktif dan terhindar dari burnout.

Selain itu, perlu ada dukungan dari organisasi untuk memastikan bahwa setiap pegawai merasa dihargai dan termotivasi dalam menjalankan tugas mereka. Perhatian terhadap kesejahteraan pegawai dan pengelolaan yang tepat akan membantu penerapan Lean Staffing Model memberikan dampak positif yang signifikan bagi DJPb dan masyarakat.

Menghadapi perubahan seperti keterbatasan sumber daya manusia dapat menjadi tantangan besar bagi seorang pegawai. Misalnya dalam mencegah burnout, penting untuk mengelola waktu secara efektif dengan menyusun prioritas tugas menggunakan alat manajemen waktu seperti to-do list. Memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikelola dapat mengurangi perasaan kewalahan. Selain itu, menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi sangat krusial. Pegawai harus menetapkan batasan untuk tidak membawa pekerjaan pulang dan meluangkan waktu untuk bersantai, berolahraga, atau berinteraksi dengan keluarga. Membangun hubungan yang kuat dengan rekan kerja juga dapat memberikan dukungan emosional yang penting. Terlibat dalam kegiatan tim dan berkomunikasi terbuka dengan atasan tentang beban kerja akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung.

Langkah lainnya adalah berinisiatif mengikuti pelatihan atau kursus pengembangan keterampilan, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kompetensi pegawai. Sebagai contoh, pelatihan otomatisasi proses perbendaharaan dengan Robotic Process Automation (RPA) seperti yang dilakukan di Jepang. Tujuannya, untuk meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan tugas-tugas administratif yang berulang dengan memanfaatkan teknologi RPA untuk otomatisasi, mengurangi kesalahan manusia, dan mempercepat proses.

Teknik mindfulness, seperti meditasi atau yoga, juga dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan konsentrasi. Meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak, seperti berjalan-jalan di luar ruangan, dapat memberikan jeda mental yang diperlukan untuk menghindari kelelahan. Komunikasi yang terbuka dengan atasan mengenai tantangan dan kebutuhan di tempat kerja akan membantu menciptakan solusi bersama. Penerapan langkah-langkah ini menjadikan pegawai lebih siap menghadapi perubahan di tempat kerja dan mengurangi risiko burnout, sambil tetap menjaga kinerja dan produktivitas yang tinggi.

Lean Staffing Model memberikan gambaran jelas tentang bagaimana sebuah organisasi dapat tetap produktif meskipun dengan SDM yang terbatas. Jepang telah membuktikan bahwa melalui efisiensi, pengembangan keterampilan lintas-fungsi, dan penggunaan teknologi, produktivitas bisa tetap tinggi tanpa harus selalu menambah jumlah pegawai. Meskipun model ini memiliki tantangan, seperti risiko kelelahan kerja dan kurangnya interaksi personal dalam beberapa sektor, dengan manajemen yang tepat dan perhatian pada kesejahteraan pegawai, Lean Staffing dapat menjadi solusi efektif bagi organisasi yang ingin tetap kompetitif dan efisien di tengah keterbatasan sumber daya.

 

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi.

 

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardjo I Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

   

 

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search

Kantor Wilayah Provinsi, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) 

(Daftar Kantor Vertikal DJPb Selengkapnya ..)