- Regional
- Dilihat: 2221
Sinergi Membangun Kalteng yang Lebih Baik
Liputan Seminar Kebijakan Publik
Palangkaraya, djpbn.kemenkeu.go.id - Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalteng bekerja sama dengan Badan Kebijakan Fiskal mengadakan seminar kebijakan publik yang bertemakan “Strategi Penguatan Ekonomi Provinsi Kalimantan Tengah yang Berdaya Saing serta Berbasis Ekonomi Kerakyatan” (10/6). Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh Pemerintah Daerah yang ada di Kalimantan Tengah yaitu sekitar 100 peserta yang terdiri dari Bappeda dan DPPKAD se-Kalimantan Tengah, instansi vertikal pusat, kalangan perbankan dan akademisi di Kota Palangkaraya, KPPN dan juga pegawai Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Tengah.
Latarbelakang diselenggarakannya seminar adalah adanya peran baru Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagai representasi Menteri Keuangan di daerah, yang menuntut Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk berperan secara aktif membina hubungan dengan Pemerintah Daerah, dengan berlandaskan pada prinsip kemitraan, kesetaraan dan saling menguntungkan. Disamping itu, seminar juga bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terkait pelaksanaan kebijakan pembangunan di Provinsi Kalimantan Tengah.
“Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagai representasi dari Menteri Keuangan di daerah harus senantiasa membina hubungan yang baik dengan Pemerintah Daerah” pesan Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, Drs. Haryana, M.Soc,Sc . Hal tersebut sangat penting dilakukan, mengingat, banyak tugas-tugas baru yang diemban oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan, berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan daerah. Disamping itu, Haryana juga menyampaikan kondisi terkini dari keuangan negara, dimana pemerintah, karena berbagai sebab, sedang melakukan kebijakan penghematan anggaran. Hal tersebut haruslah diketahui dan dipahami oleh seluruh pegawai Ditjen Perbendaharaan, sehingga diharapkan dapat menyampaikan informasi yang benar kepada seluruh stakeholder di daerah.
Acara dilanjutkan dengan pelaksanaan seminar secara panel. Panel ini menghadirkan 3 Narasumber yaitu Kindy Rinaldy Syahrir dari BKF, Esthi Budilestari dari DJPK, dan Langen Budiharjo dari Bappeda Provinsi Kalteng. Pembahas dalam seminar ini adalah Harin Tiawon selaku Regional Economist Provinsi Kalteng dan dimoderatori oleh Siska Siska Indirawati dari BKF.
Materi pertama dipaparkan oleh Kindy Rinaldi Syahrir, B.Eng, M.Com, Ph.D, Kepala Bidang Pemantauan Dini Ekonomi Makro BKF. Dalam materi ini dipaparkan mengenai kondisi perekonomian global yang mempengaruhi Indonesia. Kondisi perekonomian global tahun 2014 diperkirakan masih lemah dan memungkinkan munculnya gejolak likuiditas global dan gejolak harga komoditas pasar global. Juga dipaparkan mengenai revisi outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 dimana semula pertumbuhan ditargetkan 6% direvisi menjadi 5,5%.
Materi kedua dipaparkan oleh Esthi Budilestari, SE, MM, Kepala Subdirektorat Pelaksanaan Transfer II DJPK. Dalam materi ini dijelaskan mengenai arah kebijakan transfer tahun 2014. Arah kebijakan transfer tahun 2014 diantaranya adalah meningkatkan kapasitas fiskal daerah serta mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah, serta antar daerah dan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan ketepatan waktu pengalokasian dan penyaluran anggaran transfer ke daerah.
Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Langen Budiharjo, Kepala Bidang Perekonomian Bappeda Provinsi Kalteng. Dalam paparan ini, Langen Budiharjo menjelaskan mengenai program-program unggulan Pemprov Kalteng yaitu: Program Mamangun Tuntang Mahaga Lewu (PM2L) yang membangun infrastruktur hingga pedesaan, Kalteng Harati yang bertujuan mencerdaskan masyarakat Kalteng, Kalteng Barigas yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Kalteng, Gerakan Bersama Memanfaatkan Lahan Terlantar (GeBer MLT) yang bertujuan agar lahan terlantar dapat dioptimalkan manfaatnya bagi masyarakat Kalteng, Kalteng Besuh yang bertujuan untuk menjamin ketahanan pangan masyarakat Kalteng, serta Kalteng Tarang yang bertujuan agar listrik dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kalteng.
Yang lebih menarik dalah pembahasan materi oleh Regional Economist Kalteng, Dr. Harin Tiawon, SE, MP. Dalam pembahasan ini, diuraikan bahwa perekonomian Kalimantan Tengah juga bergantung pada kondisi global. Agar perekonomian Kalimantan Tengah membaik, dibutuhkan berbagai program pembangunan yang kuat dan menyertakan seluruh lapisan masyarakat. Sebagian hasil pembangunan masih dinikmati beberapa kalangan tertentu yang ditunjukkan dengan meningkatnya koefisien gini, dengan demikian diharapkan kedepannya hasil pembangunan itu dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Program unggulan yang disiapkan oleh Pemprov Kalteng seperti Kalteng Harati dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas SDM penduduk Kalteng sehingga dapat meningkatkan daya saing penduduk Kalteng pada saat dimulainya era pasar bebas dimana diperkirakan banyak tenaga asing yang mencari kerja di Indonesia terutama di Kalteng.
Sesi terakhir diisi dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi ini diberikan kesempatan untuk bertanya atas materi yang disampaikan. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah saat ini banyak sekali kebijakan publik yang telah dirumuskan namun pada kenyataannya tidak dapat meyelesaikan persoalan utama seperti kemiskinan dan korupsi. Atas pertanyaan tersebut, narasumber menerangkan bahwa untuk menerapkan kebijakan harus diidentifikasi terlebih dahulu permasalahan yang terjadi. Bila masalah tersebut telah diketahui, langkah berikutnya adalah merumuskan metode pencegahan atau penanggulangan masalah tersebut. Sebagai contoh adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Apabila kemiskinan disebabkan karena orang yang miskin tersebut menganggur, maka kebijakan yang dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan kerja dengan melatih wira usaha, member modal kerja dan lain sebagainya. Saat ini pemerintah juga telah berusaha agar perbankan dapat memberikan kredit ke seluruh lapisan masyarakat yang dikenal dengan sebutan financial inklusion. Selain itu, harus juga ada komitmen bersama antara pemerintah selaku administrator dan katalisator pembangunan dengan kalangan dunia usaha dan masyarakat sehingga hasil pembangunan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Kearifan lokal dapat dimasukkan sebagai salah satu unsur penguat daya saing perekonomian. Komitmen juga diperlukan agar tidak ada program pembangunan yang dikorupsi.
Pelaksanaan seminar kebijakan publik ini berjalan dengan lancar dan baik. Hal ini tercermin dari antusias para peserta dalam diskusi yang dilaksanakan setelah pemaparan. Kedepannya diharapkan seminar ini dapat dilakukan lebih baik lagi sehingga sinergi antara Kementerian Keuangan yang diwakili oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Tengah dengan Pemerintah Daerah se-Kalimantan Tengah dapat terbina semakin erat.
Oleh: Kontributor Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Tengah








Sosialisasi Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum ini dilaksanakan sebagai implementasi pelaksanaan tugas Dit PPK-BLU dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagai pembina keuangan satker BLU/BLUD“ kata Mattaro Nurdin Arta, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Maluku dalam key note speech-nya pada pembukaan FGD tersebut. “selain itu, Sosialisasi ini dilaksanakan sebagai ajang silaturahmi dengan para satker/SKPD dan dengan intens berupaya untuk menggali sebanyak mungkin informasi tentang kendala pembentukan Satker/SKPD yang menerapkan pengelolaan keuangan BLU dan bersama-sama menemukan alternatif terbaik sebagai jawaban atas hambatan tersebut sehingga dapat pada akhirnya akan terbentuk satker/SKPD yang menerapkan pengelolaan keuangan BLU di Provinsi Maluku.
Beberapa hal yang mengemuka dan mencuri perhatian dari sosialisasi ini adalah bahwa sebagian satker/SKPD saat ini tengah berada dalam tahapan untuk penetapan menjadi BLUD dan namun mengalami kendala yang bersumber dari internal yaitu kendala institusional.
Kepala KPPN Raha, Haryono Efendi, pada sambutannya mengatakan bahwa Sistem MPN G-2 akan memberikan kemudahan dalam penyetoran Penerimaan Negara (dalam bentuk Pajak, Cukai, Kepabeanan, maupun PNBP). Nantinya, pembayaran setoran dapat dilakukan melalui ATM (Anjungan Tunai Mandiri), Internet Banking, mesin EDC (Electronic Data Capture), SMS Banking, dan juga tentunya OTC (Over the Counter).
Kegiatan ini didukung oleh Badan Kebijakan Fiskal yang menugaskan beberapa tenaga penelitinya untuk menjadi narasumber, yaitu Hidayat Amir, PhD dan Adrianus Dwi Siswanto, SE, ME. Materi yang disampaikan yaitu Risiko Fiskal Daerah dan Metode Penelitian Analisis Kebijakan Fiskal Daerah. Selain itu, Regional Economist untuk wilayah Jawa Timur I, DR. Rudi Purwono turut memberikan tambahan pengetahuan kepada peserta mengenai peranan pemerintah dalam perekonomian daerah. Para peserta antusias mengikuti materi yang diberikan, dan cukup banyak yang berpartisipasi dalam berdiskusi terkait materi. Pada hari pertama kegiatan, seluruh peserta juga diajak mengikuti studi banding mengenai pelaksanaan e-government pada Pemerintah Kota Surabaya yang dianggap berhasil menerapkan e-government dan telah menjadi acuan bagi beberapa Pemerintah Daerah lainnya.
Selanjutnya, materi pertama disampaikan Saut Siahaan dan Rafles Purba yang memaparkan materi SILABI yaitu tatacara pembukuan bendahara, mulai dari buku kas umum sampai penerbitan LPJ Bendahara, serta mengingatkan satuan kerja untuk menyampaikan LPJ bendahara ke KPPN secara tertib dan tepat waktu. Kemudian pada Aplikasi SILABI dijelaskan mulai dari pencatatan semua transaksi yang dilakukan oleh bendahara sampai bisa menghasilkan LPJ bendahara dan meminta satuan kerja mempelajari aplikasi tersebut dan apabila menemui kendala segera menghubungi petugas KPPN.
Dalam acara yang juga diliput-tayangkan TVRI nasional ini, juga memberikan apresiasi berupa Piagam Penghargaan kepada 10 (sepuluh) UAPPA-W sebagai penyusun LKKL TA 2013 terbaik. Peringkat pertama pada kesempatan ini diraih oleh Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat. UAPPA-W Kemenag Prov. Sumbar layak memperoleh penghargaan karena dengan jumlah satker sebanyak 316 yang dikoordinirnya mampu menyusun laporan keuangan K/L tingkat UAPPA-W dengan berkualitas dan tepat waktu.
Pagi itu seluruh pegawai KPPN Tanjungbalai dan KPPN Rantauprapat dapat berkenalan dengan Mirza Efendi yang baru sekitar satu bulan memimpin Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Sumatera Utara, didampingi oleh Kepala Bagian Umum, Syahril Anwar. Dalam sambutannya Mirza meng-internalisasi Nilai-nilai Kementerian Keuangan, antara lain nilai integritas yang merupakan penjelmaan dari rasa kesetiaan yang merupakan modal utama dalam pelaksanaan tugas. Lebih lanjut, ia juga berpesan agar dalam bertugas setiap pegawai meningkatkan komunikasi dan koordinasi baik intern maupun eksternal termasuk kantor wilayah dan kantor pusat, di samping perencanaan yang baik dalam bekerja. Menutup sambutan sekaligus membuka secara resmi Kegiatan Capacity Building ia berpesan agar kegiatan ini memupuk sinergi sehingga pelayanan kepada stakeholder semakin baik, sesuai tema kegiatan yaitu “Meningkatkan Semangat Kebersamaan Meraih Prestasi”.
Ice breaking penuh tawa dan keceriaan dilanjutkan dengan berbagai permainan untuk memupuk kekompakan dan kerjasama kelompok dipandu oleh Tim Outbound berlangsung hingga jam 12.00 WIB. Enam kelompok saling berkompetisi melalui lima permainan yang disiapkan tanpa menghiraukan terik mentari dan keringat yang membasahi badan. Seluruh pegawai dan pejabat termasuk Kepala Kanwil berbaur dalam kesetaraan dan kekompakan. Rasa capek terbayar dengan kecerian dan pembagian hadiah kepada para pemenang. Semangat yang luar biasa dilanjutkan dalam sesi ramah tamah dan bernyanyi bersama. Masing-masing menunjukkan kebolehannya dalam membawakan lirik lagu beraneka genre musik.Lagu berjudul kemesraan dilanjutkan dengan deretan lagu bertemakan keakraban menutup kegiatan capacity building pada sore hari yang indah itu.
Setelah pemaparan materi oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau, Kepala Badan Keuangan dan Kekayaan daerah Provinsi Kepulauan Riau, dan Regional Economist Provinsi Kepulauan Riau, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Beberapa catatan penting dan kesimpulan dari sesi diskusi tersebut adalah: 

