Liputan Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi.
Surabaya, djpbn.kemenkeu.go.id - Menjawab tantangan Ekonomi Global dewasa ini Kementerian Keuangan menyelenggarakan Seminar “Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini” (15/04). Kegiatan seminar ini dibagi menjadi tiga sesi materi pembahasan yaitu “Perkembangan Perekonomian Indonesia Terkini” oleh Dr. Yoopi Abimanyu, M.A. Peneliti Madya, Badan Kebijakan Fiskal, “Pembagian Kewenangan dan Pendanaannya” oleh Rukijo, SE., M.M. Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dan “Perkembangan Ekonomi Daerah Provinsi Jawa Timur”, oleh Dr. Rudi Purwono, SE., M.Si., Ekonom pada Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Dr. Lukman Hakim, S.E., M.Si, Regional Economist Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur II menjadi moderator dalam acara tersebut.
Kegiatan seminar yang dihadiri oleh kurang lebih dua ratus peserta yang terdiri dari para pejabat perwakilan bank, satker K/L, pemerintah daerah dan akademisi ini diawali oleh sambutan Dr. Ir. Zainal Abidin, M.M. yaitu Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur. Kemudian dilanjutkan Keynote Speech yang sekaligus membuka acara oleh Pardiharto, S.H., selaku Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur.
Memasuki acara inti yaitu pembahasan materi, pada sesi pertama Yoopi Abimanyu, menyampaikan topik mengenai Perkembangan Perekonomian Indonesia Terkini 2014. Dalam paparannya, Yoopi Abimanyu menyoroti perkembangan perekonomian global dan domestik. Terkait dengan perekonomian global, terdapat tiga isu startegis yang disampaikan yaitu perbaikan pertumbuhan ekonomi di 2014; gejolak likuiditas global dan harga komoditas pasar global; serta respon kebijakan dari beberapa negara maju dan berkembang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, dari sisi perekonomian domestik, di tahun 2013 perekonomian Indonesia mengalami tekanan. Neraca perdagangan mengalami defisit yang berdampak langsung pada defisit neraca berjalan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan fiskal dan moneter serta melakukan reformasi struktural. Sedangkan di tahun 2014, perekonomian Indonesia berada pada posisi yang mulai membaik ditandai dengan surplus neraca perdagangan pada Januari-Februari sebesar US$341 Juta. Kedepan, bermodal potensi pertumbuhan ekonomi yang kuat, pemerintah optimis dengan perbaikan perekonomian meskipun pertumbuhan diprediksi akan sedikit melambat. Potensi yang kuat tersebut antara lain bonus demografi, pertumbuhan kelas menengah yang tinggi, sumber daya alam berlimpah, kinerja makro ekonomi yang stabil dan kuat serta pengelolaan fiskal yang prudent.
Pada sesi kedua Rukijo membahas topik mengenai Pembagian Kewenangan dan Pendanaanya. Pendelegasian wewenang dari pusat ke daerah harus berprinsip pada money follows function. Beliau menegaskan bahwa saat ini objek-objek pajak daerah masih belum tergali secara maksimal sehingga perlu adanya penguatan local taxing power melalui perluasan basis pungutan dan diskresi penetapan tarif. Hal ini penting dilakukan untuk mendorong upaya kemandirian daerah dalam rangka pemenuhan kebutuhan pendanaan daerah. Terkait kebijakan transfer ke daerah, secara nominal pulau Jawa masih menerima dana terbesar dibanding pulau-pulau lainnya sedangkan berdasarkan rasio dana transfer per kapita, pulau Jawa justru terendah. Oleh karena itu, perlu adanya reformulasi pengalokasian dana transfer ke daerah, apakah berdasarkan nominal atau mempertimbangkan keseimbangan jumlah penduduk dengan wilayah mengingat wilayah di luar Jawa seperti Papua memerlukan dana pembangunan yang tidak sedikit meskipun jumlah penduduknya tidak banyak.
Sesi ketiga mengenai Perkembangan Ekonomi Daerah Provinsi Jawa Timur disampaikan oleh Rudi Purwono. Beliau memaparkan perkembangan perekonomian Jawa Timur yang sebagian besar disumbang oleh sektor pengangkutan dan komunikasi; konstruksi; perdagangan, hotel dan restoran. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2013 adalah sebesar 6.55%, dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2013 sebanyak 38,36 juta jiwa. PDRB perkapita Jawa Timur atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 29,62 juta atau meningkat 12,74 persen dibandingkan tahun 2012. Dari sisi investasi, provinsi Jawa Timur adalah wilayah yang sangat potensial untuk invesatsi sehingga menarik para investor domestik dan asing. Beliau berharap agar pembangunan infrastruktur di Jawa Timur harus merata sebab investor cenderung lebih tertarik berinvestasi pada daerah yang memiliki infrastruktur yang lebih baik. Dengan demikian, diharapkan, pertumbuhan ekonomi Jawa timur dapat didukung oleh pemerataan pembangunan ekonomi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur.
Selanjutnya, kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi/tanya jawab yang disambut antusias oleh peserta seminar, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan dan saran-saran terkait pengambilan kebijakan fiskal di Kementerian Keuangan. Selanjutnya, acara ini ditutup oleh moderator dengan kesimpulan bahwa di tahun 2014 perekonomian Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan global dan domestik. Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan tersebut, perlu perbaikan kinerja perekonomian Indonesia melalui paket kebijakan fiskal yang lebih baik dan program pembangunan ekonomi daerah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi nasional..
Oleh : Kontributor Kanwil DJPBN Jatim