- Regional
- Dilihat: 2824
Pesan Pak Dhe Karwo Kepada Kepala Daerah se-Jatim: “Diperlukan Strategi Khusus Untuk Menyongsong Pencatan dan Pelaporan Keuangan Berbasis Akrual Tahun 2015”
Liputan Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) APBD TA 2014 Lingkup Provinsi Jawa Timur
Surabaya, djpbn.kemenkeu.go.id,- Hari Selasa tanggal 17 Desember 2013 merupakan hari yang menjadi tonggak penanda bahwa para pengelola keuangan negara di wilayah Provinsi Jawa Timur akan memulai siklus pelaksanaan anggaran. Pada hari itu, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar acara “Penyerahan DIPA APBN dan DPA APBD Tahun 2014”, sebagai langkah akhir dari siklus perencanaan kegiatan dan anggaran Tahun 2014. Acara yang dihadiri oleh Forum Pimpinan Daerah Provinsi Jawa Timur serta segenap kepala satuan kerja unit instansi vertikal k/l dan kepala satuan kerja perangkat daerah, dilaksanakan di Aula Gedung Grahadi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Dalam pembukaan acara tersebut, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur, Pardiharto, menyampaikan bahwa jumlah alokasi dana APBN TA 2014 untuk Provinsi Jawa Timur sebesar Rp89,539 triliun. Jumlah tersebut meliputi Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp34,139 triliun yang dialokasikan kepada satuan kerja unit instansi vertikal k/l, serta Dana Transfer ke Daerah sebesar Rp55,4 triliun yang dialokasikan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkup Provinsi Jawa Timur.
Selanjutnya Pardiharto juga menyampaikan beberapa langkah inovasi yang disiapkan untuk mendorong percepatan penyerapan anggaran khususnya yang bersumber dari APBN TA 2014, yang diantaranya berupa proses penelaahan RKA yang dilaksanakan secara on-line dan juga penetapan DIPA TA 2014 tanpa blokir.
Penyerahan DIPA APBN dan DPA APBD TA 2014 lingkup wilayah Provinsi Jawa Timur dilakukan secara simbolis oleh Gubernur Jawa Timur yang didampingi oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur kepada Forum Pimpinan Daerah, para Kepala Daerah, serta para Kepala Dinas penerima DPA APBD.
Dalam sambutannya setelah menyerahkan DIPA dan DPA tahun 2014, Gubernur Provinsi Jawa Timur, Soerkarwo, atau biasa dipanggil Pak dhe Karwo, meneruskan pesan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa sistem pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan berbasis akrual ditargetkan mulai diimplementasikan tahun 2015, sehingga tahun 2014 merupakan jembatan menuju sistem yang baru (akrual-red) yang sebelumnya masih menerapkan sistem cash toward accrual.
“Terkait perubahan yang demikian (sistem akrual-red), maka setiap kepala daerah wajib menyusun strategi terutama yang menyangkut upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia” pesan Pak Dhe Karwo.
Sedangkan terkait dengan pelaksanaan anggaran tahun 2013 Pak dhe Karwo menyampaikan bahwa rendahnya penyerapan belanja modal TA 2013 untuk Provinsi Jawa Timur lebih dikarenakan perilaku rekanan yang rata-rata mengeluarkan tagihan di akhir tahun anggaran berjalan, karena lebih memprioritaskan penggunaan pinjaman dari bank daripada menggunakan dana APBD. Kemudian koordinasi antara SKPD juga menjadi faktor penghambat penyerapan Dana Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan, maupun Urusan Bersama di Provinsi Jawa Timur. Lebih lanjut, Gubernur juga menghimbau agar setiap pengelola keuangan meningkatkan kualitas belanja dengan melakukan prioritasi belanja di sektor produktif (non konsumtif).
Dipenghujung sambutannya, Pak dhe Karwo mengingatkan bahwa TA 2014 merupakan tahun politik dimana nilai ambang kepekaan menjadi lebih tinggi. Dan untuk itu diminta sinergi dari semua pihak agar tetap menjaga momentum kondisi makro ekonomi Jawa Timur dengan pertumbuhan ekonomi dikisaran 6,8%-6,9%, yang bahkan melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada akhirnya, melalui momen penyerahan DIPA dan DPA TA 2014 diharapkan pokok-pokok kebijakan belanja pemerintah yang dituangkan dalam APBN TA 2014 dapat benar-benar efektif sehingga pada gilirannya dapat memajukan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan cita-cita bangsa dan negara.
Oleh : kontributor Kanwil DJPB Provinsi Jawa Timur








Penyerahan DIPA TA 2014 KPPN Bojonegoro kali ini mendapatkan dukungan dari pihak Pemerintah Daerah Kab. Bojonegoro dan berlokasi di Ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Jalan P. Mas Tumapel nomor 1, Bojonegoro (23/12).
Tidak lupa pula Setyo Hartono menekankan pentingnya faktor kehati-hatian, ketelitian dan kecermatan. Setiap permasalahan atau hambatan hendaknya dikomunikasikan untuk dicarikan solusinya bersama-sama.
Sebagai penutup, Suyoto menyampaikan bahwa para pengelola keuangan khususnya pemegang DIPA harus merasa bersyukur telah mendapatkan amanah dan kepercayaan dari negara. Sudah sepatutnya kepercayaan itu dijaga demi kohormatan diri, bangsa dan negara dengan wujud nyata yaitu pelaksanaan pengelolaan keuangan negara yang transparan, efektif, efisien, akuntabel demi sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat.
Penyerahan DIPA dilakukan secara simbolis kepada satker yang mewakili unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Sumatera Utara dan beberapa satker berdasarkan pengguna dana DIPA. Berjajar menerima DIPA secara simbolis diantaranya Wakapolda Sumatera Utara, Danlantamal I Belawan, Pangkosek Hanudnas III, Dan Lanud, Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM, Kakanwil Kementerian Agama, Kepala Kejaksaan Tinggi ,Kepala Pengadilan Tinggi, Kepala Bappeda Provinsi, Ketua BPKP Provinsi, Rektor Unimed, Kepala KPPN Medan I dan Kepala KPPN Medan II.
Pertama, meningkatkan kapasitas para pengelola keuangan pada satker dalam menyusun rencana penarikan dana (disburshment plan) dan pelaksanaan seta pelaporan anggaran. Kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi bimbingan teknis kepada Satker di daerah dan pendampingan yang akan dilakukan oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara di daerah. Kedua, menyempurnakan regulasi, khususnya terkait tata cara revisi anggaran tahun 2014 yang memberi kewenangan lebih besar kepada Kuasa Pengguna Anggaran dalam menyelesaikan revisi. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan oleh masing-masing Satker dan penyerapan anggaran pada tahun 2014 diharapkan dapat berjalan lebih baik dan merata.
“Pemanfaatan dana dalam DIPA tahun 2014 menjadi tanggungjawab sepenuhnya dari saudara-saudara sebagai pengguna anggaran. Oleh karena itu, saya minta saudara-saudara untuk memanfaatkan secara maksimal anggaran negara melalui program-program pembangunan yang saudara laksanakan, baik untuk pembangunan Infrastuktur; ketahanan pangan dan energi; transportasi publik; program perlindungan sosial, seperti Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Siswa Miskin, Program Keluarga Harapan, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, Kredit Usaha Rakyat, dan Sistem Jaminan Sosial Nasional bidang kesehatan; maupun dalam menjaga pelaksanaan Pemilu tahun 2014 agar berjalan demokratis, lancar, aman, jujur, dan adil” lanjut beliau.
Pada tanggal 13 November 2013, bertempat di aula KPPN Balige telah dilaksanakan pembahasan dan penandatangan Memorandum Of Understanding (MOU) antara KPPN Balige dengan mitra kerja tentang “Loket Layanan Terpadu”.
Tepat pada tanggal 28 November 2013, BRI Balige telah memulai layanan ini dengan menempatkan petugas BRI pada loket layanan terpadu KPPN Balige. Sedangkan untuk jadwal layanan terpadu tahun 2013, khususnya pada bulan November dan Desember 2013 telah disusun sesuai kesepakatan KPPN Balige dengan mitra kerja.
Sesi selanjutnya adalah pemaparan oleh Kepala Bidang Pembinaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Azwar. Dalam paparannya Azwar menyampaikan bahwa pemerintah daerah (pemda) tidak perlu lagi mencari-cari atau juga membayar konsultan untuk menyusun LKPD karena sekarang sudah ada Kanwil Ditjen Perbendaharaan yang siap membantu pemda terkait laporan keuangan tanpa dipungut bayaran alias free. Untuk itu perlu peningkatan koordinasi dan komunikasi antar pemangku jabatan agar tujuan tersebut tercapai. Selanjutnya dipaparkan juga bahwa perlu dilakukan pertukaran data guna menunjang GFS yaitu data LKPD baik semesteran maupun tahunan. Disamping itu kanwil DJPBN juga memberikan data pagu dan realisasi dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang ada di Prov/kab/kota. Sesi ini diakhiri dengan tanya jawab terhadap kendala yang dihadapi Pemda serta temuan oleh BPK terhadap LKPD. Masing-masing pemda memberikan pertanyaan sehubungan dengan adanya temuan BPK yang rata-rata adalah terkait dengan aset yang pencatatannya belum wajar. Masih terdapat aset yang bernilai nol atau belum di nilai ataupun masih terdapat aset yang belum jelas akibat pelimpahan dari pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Disamping itu hampir sebagian besar pemda mengharapkan adanya petunjuk teknis terkait dengan pengelolaan dan pelaporan keuangan Badan Layanan Umum Daerah mengingat banyak pemda yang akan menjadikan RSUD yang ada didaerahnya menjadi BLUD. Selain itu, pemerintah daerah mengharapkan diadakannya sosialisasi laporan keuangan berbasis akrual terkait dengan implementasi laporan keuangan berbasis akrual yang akan laksanakan secara penuh pada tahun 2015.
Pada kesempatan ini kepala KPPN Garut juga menyampaikan beberapa permasalahan permasalahan yang harus disikapi bersama-sama menjelang akhir tahun anggaran 2013 antara lain :
“Hanya ikan mati yang hanyut terbawa arus,” ungkapan yang disampaikan Supriyanto di awal acara. Ya ikan mati menjadi sesuatu yang tidak menarik. Bahkan tidak memberikan pengaruh baik bagi yang lainnya. Beliau pun mereview ulang pengalamannya dahulu. Ketika integritas menjadi barang langka saat itu. “Saya memang bukan orang bersih, tapi akan kah selamanya menjadi orang kotor ?” sebuah argument yang pernah dilontarkannya pada saat menolak gratifikasi atas perintah atasannya.
Acara yang digelar mulai pagi hari Sabtu tanpa terasa jarum jam telah menyentuh angka 15.00 WITA. Mulai dari Kepala Kantor sampai SATPAM kantor dari KPPN Sumbawa Besar dan KPPN Bima ikut dalam kegiatan ini. Ada sekitar 18 orang peserta dari KPPN Sumbawa Besar dan 20 orang peserta dari KPPN Bima. Kelelahan telah terbayar dengan pesan-pesan moral dan motivasi dari trainer. Kesan dan pesan para peserta dituangkan dalam selembar karton panitia. Biarlah kesan acara dibawa panitia. Tapi pesan-pesan selama acara semoga memperbaiki alam bawah sadar para peserta.
Dikesempatan yang sama, Sudarso juga menyampaikan beberapa temuan BPK terkait pengelolaan PNBP pada kementerian/lembaga antara lain: PNBP yang tidak disetor tepat waktu, PNBP yang digunakan langsung di luar mekanisme APBN, PNBP yang kurang/belum dipungut dan PNBP yang belum didukung dengan dasar hukum yang memadai.
Pada sesi berikutnya, Kepala Bidang PPA I, Pratanto, berkesempatan untuk memaparkan mengenai hasil kuisioner yang dibagikan pada saat monitoring dan evaluasi (monev) PNBP (18-22 November 2013) kepada 37 satker pengelola PNBP. Dijelaskan pula bahwa dalam kuisioner yang diedarkan tersebut terdiri dari 18 pertanyaan terbuka, untuk digunakan sebagai data mining, dan informasi tentang pengelolaan PNBP serta permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing satker.
Selanjutnya diakhir acara diperoleh beberapa rekomendasi antara lain agar satker meningkatkan tata kelola perencanaan dan penganggaran PNBP, kemudian melakukan peninjauan kembali terkait besaran tarif PNBP, upaya untuk ekstensifikasi layanan PNBP yang belum ditentukan tarifnya, serta melakukan perbaikan teknis penyetoran untuk setoran yang kecil dibanding biaya yang harus dikeluarkan dengan cara mengajukan dispensasi penyetoran secara berkala sesuai PMK nomor 3/PMK.02/2013 tentang Tatacara Penyetoran PNBP oleh Bendahara Penerima.

