Liputan Rapat Koordinasi PK-BLU lingkup Provinsi Gorontalo
Gorontalo, djpbn.kemenkeu.go.id – Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo menggelar acara bertajuk Rapat Koordinasi PK-BLU (Pengelola Keuangan-Badan Layanan Umum) lingkup Provinsi Gorontalo, Senin (30/9).
Dalam acara tersebut hadir seluruh stakeholder pengelolaan BLU dan BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) di Provinsi Gorontalo, yaitu pimpinan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang merupakan BLU Pusat; para Direktur dan Pejabat Pengelola Keuangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kabupaten/kota baik yang sudah menjadi Sarker BLUD maupun yang belum, Pimpinan Taksi Mina Bahari yang merupakan Satker BLUD pemerintah Provinsi Gorontalo yang memberikan jasa layanan di bidang kelautan dan perikanan, pimpinan Badan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo dan Dinas Pendapatan, Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) kabupaten/Kota se Provinsi Gorontalo yang merupakan pembina keuangan BLUD, pimpinan SKPD Dinas Kesehatan serta Dinas Perikanan dan Kelautan sebagai pembina teknis BLUD.
Acara dibuka oleh Plt. Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Gorontalo, Sudarso. Selanjutnya Sudarso menyampaikan paparannya yang berjudul “Peran Strategis BLU dalam rangka Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Publik”. Dalam paparannya, ia, menyampaikan bahwa latar belakang implementasi BLU diawali pada era New Public Management dengan salah satu bentuknya berupa agencification pada tahun 1980-an dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memperoleh barang/jasa publik dengan kualitas yang baik dan biaya yang wajar. BLU merupakan model agencification yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, dan yang menjadi tujuan utama adalah untuk meningkatkan kualitas layanan yang diberikan. Ia juga memaparkan mengenai peran strategis BLU karena sebagian besar memberikan layanan yang berhubungan denganhajat hidup orang banyak, yaitu bidang kesehatan dan pendidikan, yang sangat terkait dengan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) dan capaian Millenium Development Goals (MDGs). Implementasi BLU telah berhasil meningkatnan kualitas layanan yang diberikan dan meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan kemampuan dalam pembiayaan. Namun demikian, di samping keberhasilan tersebut, saat ini diakui masih terdapat beberapa kendala dalam regulasi, perubahan mindset pengelola BLU, dan kurangnya komitment kementerian/lembaga. Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh Badan Pengelola Jaminan Sosial bidang kesehatan yang secara bertahap mulai dilaksanakan tahun 2014 akan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi BLU Rumah Sakit. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi untuk menyambut implementasi JKN dimaksud.
Sesi berikutnya dilanjutkan dengan sharing session oleh salah satu BLU Pusat dan yang bertindak sebagai narasumber adalah dr. Nina Susana Dewi, SpPK(K), M.Kes, Direktur Keuangan RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Latar belakang menghadirkan pejabat pengelola dari RSHS Bandung sebagai nara sumber adalah karena sebagian besar BLUD di Provinsi Gorontalo adalah RSUD, implementasi JKN mulai tahun 2014, dan karena RSHS Bandung merupakan salah satu RS BLU Pusat yang mempunyai kinerja baik.
Dalam paparannya, yang berjudul “Implementasi Pengelolaaan Keuangan BLU di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung”, ia memaparkan bahwa sejak impelementasi BLU pada tahun 2006 telah banyak keberhasilan yang dicapai, antara lain: peningkatan jumlah kunjungan pasien rawat inap/jalan, peningkatan sarana/instalasi/alat kesehatan, satu-satunya pusat unggulan nasional kedokteran nuklir, Instalasi Pelayanan Terpadu Pasien Jamkesmas/Jamkesda yang representatif, peningkatan PNBP dari Rp.214 Miliar tahun 2008 menjadi Rp.498 Miliar tahun 2012, serta meningkatkan cost recovery PNBP terhadap total pembiayaan.
Di samping keberhasilan tersebut tersebut di atas, saat ini masih terdapat kendala yang dihadapi yaitu terkait dengan fleksibilitas yang memerlukan kejelasan dalam regulasi dalam bidang utang jangka panjang dan penghapusan piutang yang berasal dari layanan kepada pasien miskin yang tidak ter-cover Jamkesmas/Jamkesda.
Terakhir, dirinya menyampaikan mengenai perkembangan kebijakan tarif Indonesia Case-Based Group (INA-CBG) dalam implementasi JKN beserta peluang dan tantangannya.
Acara diakhiri dengan tanya jawab dengan peserta. Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran I Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo, Pratanto, yang memandu acara rakor ini mampu menghidupkan suasana di antara seluruh peserta acara sehingga peserta rakor banyak bertanya terkait pelaksanaan pengelolaan keuangan BLU/BLUD di unit kerjanya masing-masing.
Dari pelaksanaan rakor ini, terdapat beberapa hal yang berhasil dicapai, yaitu adanya kesamaan persepsi bahwa tujuan BLU adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan bukan semata penggunaan langsung PNBP/PAD yang diterima, selama good governance dapat dijaga maka implementasi BLU tidak perlu dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas opini LKPD yang telah berhasil dicapai, implementasi BLU pada RSUD dan langkah antisipasinya merupakan salah satu upaya untuk menangkap peluang dari impelementasi JKN tahun 2014, dalam konteks BLUD maka kendala regulasi dapat lebih mudah diatasi karena semuanya merupakan kewenangan kepala daerah.
Acara ini merupakan tindak lanjut dari Forum Komunikasi Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo yang dibentuk pada tanggal 09 September 2013 yang lalu. Acara serupa dengan tema yang berbeda direncanakan akan diadakan secara periodik, sehingga diharapkan terjalin hubungan kerja formal dan informal yang semakin baik dan pada gilirannya pengelolaan keuangan BLU/BLUD khususnya dan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya akan makin berkualitas.
Oleh : Kontributor Tim PPA Kanwil DJPBN Provinsi Gorontalo