- Nasional
- Dilihat: 4972
Penyuluhan Sai Tahun 2012, Menggapai WTP Menyongsong Akuntansi Berbasis Akrual -
Liputan PENYULUHAN SAI TAHUN 2012
Jakarta, perbendaharaan.go.id - Kegiatan Penyuluhan Sistem Akuntansi Instansi Tahun 2012 kembali digelar oleh Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan - Ditjen Perbendaharaan, di Hotel Swiss-Bell Jakarta. Kegiatan ini mengundang 178 operator dan staf yang yang menangani sistem akuntansi instansi pada tingkat kementerian negara/ lembaga dan tingkat eselon I.
Kegiatan berlangsung selama empat, dimulai pada tanggal 13 s.d. 16 Maret 2012. Menurut panitia penyelenggara, kegiatan ini bertujuan agar peserta dapat memahami peraturan akuntansi pemerintahan yang terkini dan menguasai sistem akuntansi tahun 2012. Dengan demikian, para peserta dapat menjadi sumber pengetahuan dan dapat menjadi trainer bagi satuan kerja yang berada di bawah masing-masing kementerian negara/ lembaga.
Kasubdit Bimbingan Akuntansi Instansi Agung Kurniawan Purbohadi, dalam arahannya menjelaskan bahwa bentuk pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan negara di masing-masing kementerian negara/lembaga adalah adanya Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL). Tahun ini merupakan tahun yang penting karena semua kementerian negara/lembaga menargetkan untuk dapat mencapai opini terbaik Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk Laporan Keuangan Tahun 2011.
Selain itu, Agung Kurniawan Purbohadi mengingatkan peserta bahwa berdasarkan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah diamanatkan untuk melaksanakan akuntansi berbasis akrual selambat-lambatnya untuk pelaporan keuangan tahun 2015. Pemerintah Pusat berencana untuk melaksanakan lebih dini dengan penerapan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) tahun 2013. Sehingga, aplikasi SAI tahun 2012 ini mungkin merupakan yang terakhir sebelum kita melangkah menuju akrual dengan aplikasi baru yang terintegrasi, yaitu Sistem Akuntansi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) yang akan terintegrasi dengan SPAN. Implementasi akuntansi akrual dengan SAKTI dan SPAN menuntut adanya perubahan baik infrastruktur maupun kesiapan SDM.
&ldquoSaya akui perubahan kadangkala tidak menyenangkan. Namun, kalau perubahan itu membawa kebaikan untuk meningkatkan pelayanan dan pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat, kita harus berfikir positif mengimplementasikan akuntansi akrual melalui SAKTI dan SPAN mulai tahun 2013,&rdquo pungkas Agung.
Oleh: Moch. Ramdani dan Novri H.S. Tanjung &ndash Bagian Pengembangan Pegawai








Paparan dan diskusi dengan peserta merupakan agenda yang dilakukan oleh masing - masing Kepala Bagian Sekretaris Ditjen PBN. Paparan Juga disampaikan oleh Kasubdit  dari Direktorat Sistem Perbendaharaan, dan Kasubdit dari Direktorat Transformasi Perbendaharaan, hal ini diselenggarakan sebagai wujud bahwa  KPPN Percontohan didukung oleh tekhnologi informasi yang lebih reliable yang disesuaikan dengan agenda piloting  implementasi SPAN sehingga dapat memberikan nilai tambah sebagai kantor pelayanan yang modern.
Setiap tahapan proses penerusan pinjaman diintegrasikan melalui database system. Secara otomatis, aplikasi SPAN menghilangkan proses penatausahaan penerusan pinjaman yang masih bersifat manual.
Dari sisi lain, pembentukan KPPN Percontohan Tahap VI s.d. VIII juga dilakukan untuk mendukung implementasi SPAN secara komprehensif. Implementasi tersebut meliputi sisi bisnis proses, teknologi informasi, dan change management and communication (CMC).
Billing systempenerimaan pajak merupakan tahap pertama implementasi MPN G2. PT. Pos Indonesia dan Bank Mandiri telah ditunjuk sebagai peserta ujicoba billing system penerimaan pajak. Wajib pajak peserta ujicoba ditetapkan di beberapa wilayah Kanwil DJP Bandung.
Dalam perjalanannya, kendala dan permasalahan muncul sehingga mempengaruhi aspek pelayanan terhadap para wajib pajak, wajib bayar, dan wajib setor. Untuk mencapai tujuan penatausahaan penerimaan negara yang lebih mudah, aman, cepat, akurat, dan efisien dalam rangka menghasilkan laporan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut terhadap MPN.
Senada dengan Sekjen Kementerian Keuangan, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Teknologi Informasi Bobby A.A. Nazief mengharapkan komitmen yang Kuat dari semua lini. &ldquoSolusi teknologi tidak melulu yang utama dalam sebuah sistem. Kuncinya justru bukan dari teknologi informasi, melainkan kolaborasi semua pihak.&rdquo ujar Bobby.
Menindaklanjuti amanat Presiden RI dalam Pidato Penyerahan DIPA Tahun 2012, pemerintah diminta untuk segera melakukan evaluasi hambatan regulasi dalam proses belanja barang dan modal. Untuk itu Ditjen Perbendaharaan berinisiatif melakukan usulan penyempurnaan Perpres 54 Tahun 2010.

