- Nasional
- Dilihat: 4955
Penganugerahan KPPN Kupang Award 2009
Enam dari 324 Satuan Kerja (Satker) dalam wilayah kerja Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kupang meraih KPPN Kupang Award 2009.  Penganugerahan KPPN Award itu berlangsung di Auditorium Gedung Keuangan Negara Kupang Jalan El Tari II Kupang yang merupakan rangkaian dari kegiatan Rapat Koordinasi dan Evaluasi atas Pelaksanaan Rekonsiliasi Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2008.
Keenam Satker yang berhasil meraih trofi dan piagam KPPN Kupang Award 2009 tersebut adalah : Kantor Search And Resque (SAR) Kupang sebagai Pelaksana Rekonsiliasi Laporan Keuangan Terbaik Pertama TA. 2008.  Terbaik Kedua diraih Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Kalabahi, satu-satunya Satker di luar kota Kupang dan satu-satunya perwakilan Departemen Keuangan yang berhasil meraih KPPN Award.  Terbaik ketiga diraih Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang,  terbaik keempat diraih Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur, terbaik kelima diraih Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kupang  dan terbaik keenam diraih Stasiun Meteorologi El Tari Kupang.
Parameter penilaian terdiri atas 7 (tujuh) komponen, yaitu : Akurasi Data dengan bobot 50%,  Kelengkapan Data dengan bobot 10%,  Ketepatan Waktu Pelaksanaan Rekonsiliasi dengan bobot 10%,  Beban Kerja Satker dengan bobot 5%, Letak Geografis dengan bobot 5%,  Tingkat Partisipasi dengan bobot 15%, Penggunaan Aplikasi SIMAK-BMN dengan bobot 5%.
Terkait dengan penganugerahan KPPN Kupang Award 2009 tersebut, Kepala KPPN Kupang, Drs. Joko Pratiknyo, MM mengatakan  berdasarkan Undang Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Satuan Kerja/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) mempunyai kewajiban membuat Laporan Keuangan, yang harus dicocokkan dengan data pada KPPN, melalui proses pencocokan data (rekonsiliasi), agar data yang dilaporkan tersebut akurat.Menurut dia, selama ini rekonsiliasi laporan keuangan antara KPPN Kupang selaku Kuasa BUN di daerah dengan Satker satker selaku KPA pada umumnya telah berjalan baik.
Prosentase rekonsiliasi laporan keuangan selama tahun 2008 trendnya meningkat dengan prosentase rekonsiliasi bulan Januari 2008 sebesar 63,46%,   menjadi 88,30%  pada rekonsiliasi bulan Desember 2008.
Semakin cepat dan akurat pelaksanaan rekonsiliasi laporan keuangan, maka salah satu komponen percepatan penyerapan dana APBN untuk pembangunan di Provinsi NTT terpenuhi dan semakin besar pula kontribusi terhadap kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat kepada DPR RI.
Ia berharap di masa yang akan datang, Instansi/Kantor/Satuan Kerja dapat lebih meningkatkan lagi pemenuhan kewajiban rekonsiliasi laporan keuangannya dengan KPPN.  Pengalaman selama ini, katanya, terkadang dana baru terserap menjelang akhir tahun anggaran.  Kondisi ini harus diperbaiki sehingga ke depan, dana yang terserap untuk pembangunan dapat lebih maksimal.
Sementara itu, Pemangkujabatan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, S. Bambang Suroso, SH, M.Soc,Sc  menyambut baik kinerja berbagai satker yang telah ditunjukkan selama ini.
Ia berharap tingkat partisipasi semua satker terus ditingkatkan lagi di masa mendatang.  Sebab secara nasional, Menteri Keuangan juga perlu melaporkan pemanfaatan keuangan itu kepada Presiden.  &rdquoKami minta agar satker merencanakan dengan sebaik-baiknya pemanfaatan keuangan dan membuat laporan sebaik mungkin.  Laporan itu akan disampaikan secara berjenjang hingga ke tingkat pusat,&rdquo  ujar Suroso yang juga merangkap sebagai Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaaan Provinsi Jawa Timur tersebut.
(Sumber :  Harian Umum Pos Kupang, edisi Jumat, 17 April 2009  dan Harian Umum Timor Express edisi Jumat, 17 April 2009).








Pak Paruli memberikan gambaran kepada para pegawai lingkup Kanwil XX Ditjen Perbendaharaan Denpasar bahwa keniscayaan dari sebuah transformasi tidak dapat dielakan, seiring perubahan yang mengalir di sekitar kita. Pantang lelah untuk berubah menuju organisasi yang lebih baik sangat ditekankan. Beliau berharap Grand Design transformasi Ditjen Perbendaharaan dapat dipahami oleh seluruh pegawai dalam rangka soliditas internal organisasi. Komponen transformasi tersebut meliputi aspek Bussiness Process, Information Technology, dan Change Management.
"Penerbitan SP2D dalam waktu 1 jam yang telah dilakukan KPPN Percontohan sesungguhnya belum berdaya maksimal bagi perekonomian Indonesia, jika proses pembuatan SPM di pihak Satker memakan waktu 1 bulan dari permintaan pembayaran Pihak Ketiga. Dengan demikian, proses penyerapan dana/anggaran pada masyarakat tetap saja lambat. Pemerintah juga yang rugi dengan keadaan tersebut," jelas Pak Paruli memberi contoh mengenai perlunya proses penyempunaan sistem yang tidak hanya pada wilayah internal saja.

 Dalam konteks itu, Menteri Keuangan menyebutkan beberapa tugas penting yang harus kita laksanakan, yaitu membaca dan memahami Paket tiga Undang-Undang di bidang Keuangan Negara dengan baik, memperbaiki Sistem Perbendaharaan, serta menyusun Laporan Keuangan Pemerintah (LKP) yang berkualitas. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena kualitas LKP mencerminkan kompetensi Menteri Keuangan yang sesungguhnya, tidak lagi sekedar perhitungan yang rutin dibuat. Kedua tugas itu adalah "pekerjaan rumah' Ditjen Perbendaharaan yang harus secepatnya diselesaikan dengan sungguh-sungguh agar berhasil baik.
Tiga belas pejabat eselon II Ditjen Perbendaharaan yang dilantik itu antara lain: Bambang Isnaeni Gunarto (menjabat sebagai Direktur Sistem Perbendaharaan), Paruli Lubis (Direktur Transformasi Perbendaharaan), Agus Santoso (Pj. Kepala Kanwil I DJPBN Banda Aceh), Zamhari (Kepala Kanwil III DJPBN Padang), Seto Utarko (Kepala Kanwil VI DJPBN Palembang), Tri Buwono Tunggal (Kepala Kanwil XI DJPBN Jakarta), Jean Albert Egon Rombot (Kepala Kanwil XII DJPBN Bandung), Iskandar (Kepala Kanwil XIV DJPBN Yogyakarta), S. Bambang Suroso (Kepala Kanwil XV DJPBN Surabaya), Elin Sumarlina (Kepala Kanwil XVIII DJPBN Banjarmasin), R Prajono (Kepala Kanwil XXIII DJPBN Makassar), Teddy Rukmantara (Kepala Kanwil XXV DJPBN Kendari), dan Abdullah Nanung (Pj. Kepala Kanwil XXX DJPBN Jayapura).
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Lampung, Bapak Her Basuki Soebari dalam sambutannya antara lain menyampaikan bahwa SOP Percontohan merupakan bagian dari komitmen Ditjen Perbendaharaan guna meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat dengan penyederhanaan bisnis proses, pemanfaatan teknologi informasi, penataan organisasi dan yang paling utama adalah perubahan pola pikir para pegawai yang memberikan pelayanan,
Pada kesempatan itu, Bapak Herry Purnomo menjelaskan tentang organisasi Ditjen Perbendaharaan terkait sejarah singkatnya, visi dan misi, fungsi, serta peranan strategis DJPBN. Selanjutnya, Beliau menyampaikan pesan kepada para pegawai baru agar memahami fungsi perbendaharaan dan pelayanan yang mengedepankan profesionalisme serta integritas dalam bekerja di lingkungan Departemen Keuangan, khususnya Ditjen Perbendaharaan.
Dalam pembekalan tersebut, para pegawai baru mendapat kesempatan berharga mendengar penjelasan dari Bapak Siswo Sujanto. Beliau membuka cakrawala berpikir para pegawai baru tentang perbedaan antara public sector dan private sector. Perbedaan ini mencakup tujuan pengelolaan keuangan negara, siklus dan implementasi pengelolaan keuangan negara, prinsip-prinsip yang mendasari keuangan negara, serta pemisahan kewenangan pengelola keuangan negara. Lebih lanjut, Beliau menyimpulkan dampak perbedaan kedua sektor tersebut yang tercermin dari organisasi DJPBN.
Usai kegiatan tersebut, para peserta diberikan outdoor activities di daerah sejuk Cipanas Jawa Barat. Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama dengan Pusdikmin POLRI. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan loyalitas terhadap organisasi, semangat kebersamaan, dan kemampuan menganalisa/menuntaskan masalah dalam waktu singkat. Malam hari sebelum melakukan kegiatan outbound, Bagian Pengembangan Pegawai yang diwakili oleh Bapak Saiful Islam memberikan gambaran tentang budaya organisasi (organizational culture) DJPBN. Keesokan harinya, Tim Pusdikmin POLRI menyuguhkan sejumlah game yang bertujuan untuk membangun kerjasama tim, kepemimpinan, strategi, kejujuran, dan tekad yang Kuat.
Dalam kesempatan bertukar pikiran dan menyampaikan masukan tentang pelaksanaan pembekalan selama 9 hari tersebut, para peserta mengungkapkan rasa terima kasihnya karena telah diberikan pengetahuan tentang pelaksanaan tupoksi di Ditjen Perbendaharaan sehingga mereka memiliki gambaran yang komprehensif tentang pekerjaan dan lingkungan kerja yang akan mereka hadapi. Di akhir kegiatan pembekalan, para pegawai baru merasakan esprit de corps DJPBN yang terwujud dalam kekompakan, keterbukaan, dan semangat kerja yang tinggi.

