Oleh:
Ismail, SST.Ak, M.Comm.
Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II
Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi bengkulu
Abstrak
Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Bengkulu merupakan sebuah inisiatif strategis pemerintah yang berpotensi mengubah wajah daerah, berlandaskan filosofi keadilan sosial Pancasila dan bertujuan melayani 90 juta jiwa pada tahun 2025. Di Bengkulu, program ini menunjukkan model collaborative governance yang kuat dan telah berhasil menjangkau 60.409 anak serta memberdayakan 88 pemasok lokal. Program ini diproyeksikan berdampak signifikan dengan membebaskan anak dari malnutrisi, mengurangi angka ketidakhadiran siswa, dan menjadi stimulus ekonomi lokal, yang diindikasikan oleh permintaan produk unggulan daerah seperti produk kelapa sawit dan perikanan. Namun, implementasi di lapangan menghadapi tantangan multidimensi, yaitu isu logistik dan kesenjangan infrastruktur, terutama di daerah 3T seperti Pulau Enggano, kendala administrasi keuangan, dan kerentanan terhadap disinformasi/hoaks publik. Keberlanjutan program menuntut perbaikan tata kelola, penguatan komunikasi pemerintah, investasi pada rantai pasok lokal, dan integrasi menyeluruh dengan edukasi gizi serta literasi digital. Kesuksesan MBG sebagai rujukan daerah lain sangat bergantung pada penyelesaian isu tata kelola ini.
BAB I PENDAHULUAN
1. Kebijakan “MBG” Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang
Penyediaan makan siang gratis bukanlah ide baru. Sudah lebih dari satu abad, program ini menjadi instrumen penting untuk pembangunan manusia di banyak negara. Pengalaman sejarah tersebut memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Swedia menjadi negara yang pertama kali mengadopsi program ini dalam skala luas pada awal abad ke-20. Dari Swedia, negara-negara lain mulai melakukan hal yang sama, seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.


Saat senja mulai turun di Kota Bengkulu, kawasan Belungguk Point perlahan bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup. Deretan lampu, aroma kuliner, dan riuh pengunjung menciptakan suasana khas yang kini menjadi ikon wisata baru kota ini. Di antara lebih dari seratus tenant UMKM yang memadati kawasan tersebut, sebuah lapak minuman segar tampak tak pernah sepi—Lapak Juice Buah PRJ. Lapak ini dikelola oleh Nando, seorang pelaku UMKM lokal yang telah menekuni usaha jus buah sejak bertahun-tahun lalu. Belungguk Point bukan sekadar lokasi berjualan baginya, melainkan ruang harapan dan peluang baru untuk bertumbuh.
