- Nasional
- Dilihat: 6026
Komposisi, Kompetensi, Dan VItalitas Pengelolaan SDM
Liputan Workshop Pengelolaan Sumber Daya Manusia Ditjen Perbendaharaan
Jakarta, perbendaharaan.go.id "SDM itu adalah aset, dimana aset itu akan berharga bila kita bisa mengelolanya dengan baik..." Demikian salah satu poin sambutan Direktur Transformasi Perbendaharaan, Paruli Lubis, mewakili Dirjen Perbendaharaan yang berhalangan hadir pada acara pembukaan Workshop Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) Ditjen Perbendaharaan, Selasa (2/2), bertempat Gedung Pridjadi Prapto Suhardjo II, Jakarta.
Workshop tersebut dapat terselenggara dengan kerjasama antara Ditjen Perbendaharaan bersama Bank Dunia, serta beberapa konsultan profesional di bidang pengelolaan SDM. Perwakilan Bank Dunia, Mr. Theo David Thomas, selaku Task Team Leader PFM MDTF Bank Dunia, turut serta memberi sambutan pembukaan di awal acara. Peserta Workshop yang hadir merupakan para pejabat eselon II, III, dan IV dari lingkup Kementerian Keuangan.
Acara dibagi menjadi dua sesi, berlangsung sejak pagi hingga petang hari. Pembicara Pertama, Sekretaris Ditjen Perbendaharaan (DJPBN), K.A. Badaruddin memberikan pemaparan mengenai masalah pengelolaan dan pengembangan SDM DJPBN saat ini. Sebagai salah satu unit eselon I terbesar pada lingkup Kementerian Keuangan, yang memiliki 1 Kantor Pusat, 30 Kantor Wilayah, dan 178 KPPN, dengan sebanyak 9.687 pegawai tersebar di seluruh Indonesia, sudah barang tentu menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaannya. Terlebih dalam menyongsong lahirnya Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN), DJPBN akan menghadapi kelebihan pegawai dari sisi kuantitas. Keadaan ini pada akhirnya akan menuntut pengelolaan SDM yang benar-benar tepat, guna kesuksesan transformasi DJPBN.
Pembicara kedua, Direktur Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA) Ditjen Pajak, Bambang Basuki, memberikan gambaran sekaligus pengalaman strategi pengelolaan SDM dalam Reformasi Birokrasi Ditjen Pajak. Persepsi negatif yang sudah terlanjur melekat di tengah masyarakat terhadap aparatur pajak berusaha dikikis melalui program Reformasi Moral dan Etika, Revisi Kode Etik, serta Penetapan Nilai-nilai Organisasi PASTI.
Direktur Sesdilu, Kementerian Luar Negeri, Eko Hartono sebagai pembicara ketiga, menjelaskan pengalaman peningkatan pengelolaan SDM pada Kementerian Luar Negeri RI melalui skema reformasi rekrutmen, edukasi dan training, remunerasi, serta reward dan punishment.
Direktur Daya Dimensi Indonesia, Vina Pendit, konsultan yang bergerak pada bidang SDM sebagai pembicara terakhir pada sesi pertama menjelaskan penerapan assesment untuk mendefinisikan kemampuan pegawai serta metode pengembangan kapasitasnya. Penjelasan tersebut menambah khasanah keilmuan bidang pengelolaan SDM bagi para peserta, untuk selanjutnya dapat diimplementasikan dalam organisasi
Setelah istirahat dan makan siang, acara memasuki sesi kedua. Pembicara kelima, Henry Hanafiah, sebagai HCG Practice Leader Tower Watson, memberi penjelasan penerapan talent management di Indonesia dan kemungkinan penerapannya pada DJPBN.
Penerapan redudancy management di Indonesia dan kemungkinan penerapannya untuk DJPBN dijelaskan dihadapan para peserta oleh General Manager Hay Group, Sylvano Damanik. Kemudian dilanjutkan dengan materi penerapan peningkatan kualitas SDM dan pengolahannya oleh Human Capital Management Advisor PT Bank OCBC NISP Tbk, Bapak Purnomo Nursalim.
Pembicara terakhir pada acara tersebut, Managing Partner TASS Consulting, Marina Tusin memberikan materi kerangka dan penerapan perubahan untuk mendukung transformasi SDM.
Seluruh peserta cukup antusias dengan materi yang disuguhkan, karena keterbatasan waktu, sesi diskusi tidak dapat menampung seluruh pertanyaan. Acara berakhir pada pukul 17.45 WIB yang ditutup oleh Direktur Transformasi Perbendaharaan, Paruli Lubis.
Workshop tersebut diharapkan membuat pengelolaan SDM lebih efektif dalam mendukung tujuan organisasi, menciptakan komposisi ideal berdasarkan kompetensi.
Oleh : Novri - Bagian Pengembangan Pegawai.








Gubernur Provinsi Banten mengharapkan seluruh satker penerima DIPA harus secepatnya mencairkan dana APBN agar semua program yang telah ditetapkan dalam DIPA segera dilaksanakan. Dengan terserapnya DIPA, diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan menimbulkan dampak yang positif bagi masyarakat Banten khususnya dan Indonesia umumnya.
Terkait upaya meningkatkan penyerapan DIPA TA 2010, mulai tahun ini Pemerintah Banten akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan dan melakukan koordinasi dengan satuan kerja dan dan Kanwil Provinsi Banten. Gubernur Provinsi Banten juga berharap agar pelaksanaan DIPA 2010 oleh seluruh satker penerima dilakukan secara akuntabel, profesional, transparan, dan proporsional.
DIPA yang diserahkan berjumlah 396 (tiga ratus Sembilan puluh enam) buah, dengan jumlah pagu Rp. 4.899.120.894.000,- (empat triliun delapan ratus sembilan puluh sembilan milyar seratus dua puluh juta delapan ratus sembilan puluh empat ribu rupiah) meliputi :
Melalui penyerahan DIPA tahun anggaran 2010, seluruh komponen bangsa berharap rakyat dapat mengetahui secara terbuka bahwa anggaran dan program-program pembangunan tahun 2010 telah siap untuk dilaksanakan. Semua jajaran pemerintah saat ini dituntut untuk segera melaksanakan semua program pemerintah dan tidak menunda pelaksanaan anggaran.
Dalam sambutannya, Gubernur Gorontalo Ir. H. Gusnar Ismail, MM, meminta kepada seluruh Satker untuk segera melakukan realisasi anggaran atas DIPA TA 2010. Hal ini penting, lanjutnya, agar roda perekonomian di wilayah Gorontalo dapat segera berjalan. Harapan ini sesuai dengan komitmen beliau yang fokus untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi angka kemiskinan di daerah yang dipimpinnya.
Kegiatan ini dibuka tepat pukul 08.30 WIB oleh Kepala Bidang Akuntansi dan Pelaporan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah R. Wiwin Istanti, SE.Ak, M.Laws. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa materi sosialisasi ini merupakan bagian dari pembenahan prosedur yang erat kaitannya dengan reformasi birokrasi di bidang keuangan negara terutama dalam siklus keuangan negara yaitu proses perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban. Karenanya, lanjut beliau, seluruh peserta harus mempergunakan kegiatan ini sebaik-baiknya dengan melakukan diskusi dua arah dengan para nara sumber. Tidak hanya itu, peserta juga diminta untuk mengimplementasikan konsep tersebut di unit kerja masing-masing.
Sementara itu, Kepala KPPN Purworejo Agung Yulianta, SE, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa meskipun ketentuan perencanaan kas masih dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan, namun satuan kerja harus sudah mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk menyusun perencanaan kas sesuai PMK 192/PMK.05/2009. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah dengan menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan yang termuat dalam POK (Petunjuk Operasional Kegiatan) masing-masing, agar jika petunjuk teknis peraturan tersebut keluar, seluruh satker sudah siap mengimplementasikannya.
Materi Tata Cara Penyajian Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual pada Laporan Keuangan disampaikan oleh Kepala Bidang Akuntansi dan Pelaporan Kanwil IX Pangkalpinang, Heny Muriyantini (Bussinesse Process), beliau menyampaikan konsep dasar dari akrual dan jenis-jenis informasi akrual, yang terdiri dari informasi pendapatan akrual meliputi pendapatan diterima dimuka dan pendapatan yang masih harus diterima. Informasi belanja akrual meliputi belanja dibayar dimuka dan balanja yang masih harus dibayar. Beliau memberikan kiat-kiat bagaimana menganalisa suatu transaksi dapat dikategorikan kepada salah satu dari empat macam informasi akrual tersebut. Latihan dan contoh simulasi diberikan untuk lebih memantapkan pemahaman peserta sosialisasi. Implementasi Informasi Akrual pada Aplikasi SAI juga diberikan kepada peserta sosialisasi, yang dipandu oleh Kepala Seksi PDA, Esanov Putra didampingi satu orang staf Seksi PDA Zulkifli.
Pada acara ini juga disampaikan materi penyegaran tentang bagaimana membuat dan menyajikan laporan keuangan satuan kerja yang baik dan benar sebagaimana yang telah diatur dalam Perdirjen No. 51/PB/2008 tanggal 20 November 2008 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. Materi ini disampaikan oleh Kepala Seksi Pelaporan Keuangan. Khairul Amri dan Kepala Seksi BIMTEK dan Penyuluhan SAP, Said Fauzi. Beliau mengharapkan kepada satuan kerja untuk betul-betul memperhatikan tata cara penulisan dan isi laporan yang disampaikan dan sekaligus mengingatkan untuk tidak hanya melakukan "copy paste" dari contoh format laporan keuangan yang tercantum dalam lampiran perdirjen No.51/PB/2008, sebab pada tahun 2009 telah dilakukan evaluasi terhadap laporan keuangan satuan kerja wilayah, masih banyak ditemui hal-hal yang belum sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Acara sosialisasi ditanggapi dengan antusias yang tinggi oleh peserta, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan oleh peserta. Namun demikian mayoritas peserta yang berasal dari Kepulauan Belitung tidak bisa hadir dikarenakan cuaca yang tidak baik sehingga transportasi yang akan mengantarkan mereka menghadiri sosialisasi (kapal laut) tidak bisa diberangkatkan.

