Liputan Seminar Peningkatan Efektivitas, Efisiensi dan Akuntabilitas Pelaksanaan Anggaran Tahun 2014 Kanwil Ditjen PBN Prov. Kepulauan Riau
Tanjungpinang-Batam, djpbn.kemenkeu.go.id, - Untuk lebih meningkatkan peran APBN guna mendorong percepatan kesejahteraan rakyat dan pembangunan daerah di Provinsi Kepulauan Riau, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau menyelenggarakan acara Seminar dan Lokakarya Strategi Peningkatan Efektivitas, Efisiensi dan Akuntabilitas Pelaksanaan Anggaran tahun 2014. Seminar dilakukan dua kali, di Tanjungpinang pada Selasa, (11/02) dan di Batam pada Kamis, 13 Februari 2014.
Seminar dan lokakarya dikemas berbeda, dengan menggabungkan konsep seminar dengan sosialisasi. Seminar dengan pleno level kebijakan pusat dan daerah di Provinsi Kep. Riau, melibatkan unsur Ditjen Perbendaharaan, unsur kementerian/kembaga dan unsur pemerintah daerah. Sedangkan sosialisasi difokuskan pada pemaparan teknis pengelolaan keuangan seperti revisi DIPA, perencanaan penarikan dana, dan peningkatan kualitas LKPP.
Pada acara di Tanjungpinang, diikuti oleh 329 peserta dari para kepala satuan kerja (satker) dan pengelola keuangan di wilayah kerja KPPN Tanjungpinang. Acara seminar di Tanjungpinang melibatkan Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM, Kepala kanwil Kementerian Agama, dan Kepala Satker Listrik Pedesaan, serta Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan acara seminar di Batam, diikuti 120 peserta mitra kerja KPPN Batam, dan melibatkan Karorena Polda Kep. Riau, Kepala Perwakilan BPKP Prov. Kep. Riau, Kepala Bappeda Kota Batam dan Kepala Biro Keuangan BP Batam.
Kepala kanwil DJPBN Prov. Kep. Riau, Didyk Choiroel, dalam kesempatannya mempaparkan bahwa alokasi APBN di Prov. Kepulauan Riau sebesar Rp3,377 Triliun, yang tersebar pada 379 satker. Penggunaan belanja untuk mendukung operasional pemerintahan dan pembangunan tercermin dari alokasi pada komposisi alokasi Belanja Barang sebesar 35,58% dan Belanja Modal sebesar 32,64%. Alokasi belanja modal diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur perhubungan dan energi, yaitu pembangunan jalan provinsi, pembangunan bandara dan pelabuhan serta pembangunan jaringan listrik pedesaan. Sedangkan penggunaan belanja barang sebagian bersar digunakan untuk operasional TNI-AL, Bea Cukai dan imigrasi perbatasan. Hal ini sesuai dengan kondisi geopolitik Provinsi Kep. Riau yang menjadi daerah terdepan NKRI. Namun demikian sekitar 23% dana masih diblokir.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Prov. Kepri memaparkan bahwa anggaran yang dimillikinya adalah sebesar Rp215,56 Miliar yang dilaksanakan oleh 73 satker. Program strategis Kemenag antara lain, penyelengaran MTQ Nasional 2014 di Batam, penyelenggaraan haji, dan peningkatan kualitas pendidikan keagamaan. Permasalahan yang dihadapi antara lain, lokasi satker yang tersebar di pulau-pulau, revisi yang cukup sering, dan keterbatasan sumber daya.
Dikesempatan yang sama Kakanwil Kemenkum HAM Prov. Kepri menyampaikan bahwa anggaran yang dikelolanya adalah sebesar Rp 147,153 miliar yang dilaksanakan oleh 4 divisi dan 19 satuan kerja, diantaranya 9 Kantor Imigrasi dan 7 Lapas/Rutan. Program strategis yang dilaksanakan antara lain mengembangkan program unggulan di divisi imigrasi dan lembaga pemasyarakatan dan menyusun target penyerapan anggaran. Masalah yang dihadapi adalah masalah revisi DIPA dan pengelolaan PNBP.
Sedangkan Kepala Satker Listrik Pedesaan Kepulauan Riau memaparkan mengenai program strategis yang dilaksanakannya diantaranya adalah untuk meningkatkan rasio elektrifikasi yang saat ini hanya 82%, serta rasio desa berlistrik. Program tersebut didukung anggaran sebesar 49,23 miliar untuk pembangunan gardu distribusi 2,4 MVA, pembangunan jaringan TM dan TB 181 KMS, dan pembangunan instalasi rumah sederhana 2.360 PLG. Masalah yang dihadapi adalah ketergantungan PLTD pada BBM bersubsidi, hambatan geografis, dan permasalahan pengadaan barang/jasa.
Sedangkan dari paparan Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Riau, diketahui bahwa Provinsi Kepulauan Riau memiliki karakteristik khusus, karena terdiri dari 2.042 pulau, diantaranya 52 pulau terdepan yang berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Secara administratif, terdiri dari 7 kabupaten/kota, dan 96 % dari luas wilayah 251,81 ribu terdiri dari lautan. APBD Provinsi tahun 2014 mencapai Rp 3,495 Triliun, dengan APBD Kabupatan/Kota berkisar antara Rp 700 Miliar s.d Rp 1,2 Triliun, dengan terbesar Kab, Natuna dan terkecil Kab. Lingga. Dengan kondisi tersebut, pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau diarahkan pada isu konektivitas, yaitu pembangunan dermaga/pelabuhan yang reprensentatif, perluasan bandara perintis dan peningkatan infrastruktur dasar di kepulauan. Permasalahan utama yang dihadapi adalah keterbatasan anggaran, kebijakan pusat yang sulit diimplementasikan di daerah, dan keterbatasan infrastruktur energi dan transportasi.
Sementara itu, dua hari berikutnya seminar yang sama diselenggarakan di Batam. Acara di Batam menghadirkan Karorena Polda Kep. Riau, Kepala Perwakilan BPKP Prov. Kep. Riau, Kepala Bappeda Kota Batam dan Kepala Biro Keuangan BP Batam.
Berdasarkan paparan Karorena, Polda Kep. Riau memiliki program strategis untuk memberikan jaminan keamanan dalam rangka mendorong investasi dan ketertiban wilayah. Belanja pegawai yang sangat besar (Rp 339 Miliar) didominasi Belanja Pegawai, menunjukkan besarnya kebutuhan aparat kepolisian untuk memelihara kemanan dan ketertiban.
Dari paparan Kepala BPKP Perwakilan Provinsi Kep. Riau, akuntabilitas pengelolaan keuangan harus berjalan seimbang dengan percepatan penyerapan anggaran. Sistem pengendalian internal yang memadai dan kepathan atas peraturan pengelolaan keuangan merupakan prasyarat akuntabilitas pengelolaan keuangan.
Sedangkan Kepala Bappeda Kota Batam menyajikan kondisi ekonomi daerah Batam yang terus tumbuh pesat dari waktu ke waktu. Ekonomi tumbuh di atas 7% per tahun dan penduduk tumbuh 9-10 % per tahun. Sementara itu terdapat 5.582 perusahaan di Batam yang menyerap 353,436 ribu tenaga kerja. Sedangkan wisatawan asing yang berkunjung ke Batam sekitar 1,2 juta jiwa per tahun. Dengan kondisi tersebut masalah yang dihadapi oleh Kota batam adalah kesenjangan yang tinggi, dengan gini rasio sebesar 0,3590, keterbatasan infrastruktur dasar dan layanan dasar seperti air minum, permukiman dan jalan raya, kelembagaan yang mendorong iklim investasi yang kondusif, dan kesiapan kapasitas ekonomi dan SDM dalam menyongsong penerapan masyarakat ekonomi ASEAN Tahun 2015.
Pada sesi terakhir, Kepala Biro Keuangan BP Batam memaparkan program strategis BP Batam. Dengan anggaran sekitar Rp 1,1 Triliun, diantaranya Rp 800 Miliar merupakan PNBP yang dikelola secara pengelolaan keuangan BLU, BP Batam terus berupaya mewujudkan visinya menjadi pengelola kawasan tujuan investasi terkemuka di Asia Pasifik. Namun demikian, BP Batam memiliki konstrain kelembagaan yang tergantung pada Dewan Kawasan yang dipimpin oleh Gubernur dan keterkaitan dengan kementerian teknis dalam pengelolaan bandara dan pelabuhan, serta belum adanya pemisahan regulator dan operator; Pada sisi pengelolaan keuangan, BP Batam masih berjuang untuk meningkatkan kualitas Laporan Keuangan yang masih menyandang opini Disclaimer pada tahun 2013.
Pada kedua acara seminar, setelah sesi pleno pertama, selalu diikuti pleno kedua, yaitu Sosialisasi Tata Cara Revisi DIPA, Tata Cara Perencanaan Penarikan Dana dan Kas, serta Peningkatan Kualitas LKPP. Sesi sosialisasi menghadirkan narasumber dari kanwil dan KPPN di Provinsi Kepulauan Riau . Sosialisasi diakhiri dengan diskusi teknis dengan para satuan kerja peserta seminar.
Konsep acara seminar dan lokakarya tersebut ternyata memberikan manfaat yang besar bagi Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau yang baru beroperasi di awal tahun 2014 ini. Manfaat secara internal adalah: Kanwil dapat lebih cepat mengetahui situasi, kondisi/permasalahan, dan data ekonomi dan keuangan baik di lingkungan K/L maupun pemda setempat. Hal ini sangat berguna untuk melakukan review pelaksanaan anggaran dan kajian fiskal regional. Sedangkan manfaat eksternal: Kanwil dapat memperkenalkan diri kepada para stakeholders, sehingga jajaran pimpinan K/L dan pemerintah daerah dapat mengetahui posisi strategis Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kep. Riau. Dari pelaksanaan seminar tersebut, pihak stakeholders memberikan sambutan dan apresiasi yang baik terhadap keberadaan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau.
Oleh: Kontributor Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Kepulauan Riau