Liputan Kegiatan Rakorwil Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DI Yogyakarta
Yogyakarta, djpbn.kemenkeu.go.id - Sejalan dengan arahan Menteri Keuangan M. Chatib Basri untuk terus meningkatkan kompetensi SDM Ditjen Perbendaharaan pada Rapimnas Ditjen Perbendaharaan tanggal 2 April 2014 berkaitan dengan visi baru Ditjen Perbendaharaan yaitu, “Menjadi Pengelola Perbendaharaan yang Unggul di Tingkat Dunia,”
Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi D.I. Yogyakarta melaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi dengan tema “Membangun Komitmen untuk Meningkatkan SDM yang Profesional dan Kompeten lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi D.I. Yogyakarta”. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11-13 April 2014 di Hotel Griya Persada Kaliurang, dengan peserta seluruh pejabat eselon III dan IV, serta para penyuluh perbendaharaan lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi D.I. Yogyakarta. Adapun maksud dan tujuan rakorwil kali ini adalah mempersiapkan kompetensi untuk semua pegawai, yang dimulai dari para pejabat, karena pejabat adalah leader dan pemimpin yang harus menjadi contoh bagi pegawai di tingkat pelaksana.
Dalam sambutannyam, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DI Yogyakarta, Alfiah menyampaikan bahwa tahun 2014, merupakan tahun yang berat. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2014 ini merupakan tahun politik yang sekaligus tahun dimana terdapat tantangan-tantangan yang berat seperti kebijakan penurunan lifting minyak, upaya pemerintah untuk menstabilkan kurs dolar, juga realisasi penerimaan triwulan I yang masih belum sesuai harapan. Di sinilah tantangan berat sebenarnya, yaitu implikasi terhadap pengelolaan kas yang menjadi tugas dan tanggung jawab Ditjen Perbendaharaan. Saat itu, Ditjen Perbendaharaan dituntut untuk dapat mengelola kas dengan baik dan melaksanakan anggaran secara tepat waktu dan akuntabel. Dalam kondisi seperti inilah dibutuhkan kompetensi SDM Ditjen Perbendaharaan yang profesional dan kompeten.
Alfiah juga menyatakan, ke depan, Treasury Dealing Room (TDR) akan mengoperasionalkan uang yang ada di Kas Umum Negara (KUN), dimana uang tersebut akan dikelola secara optimal. Perencanaan kas yang baik sangat diperlukan agar dapat diprediksi kebutuhan uang satu bulan ke depan, sehingga ketersediaan kas dapat dipersiapkan oleh KUN, dan sisanya dapat di lempar ke pasar bebas disamping juga dapat memprediksi kekurangan uang yang diperlukan.
“Oleh sebab itu rekan-rekan satuan kerja diwajibkan untuk membuat perencanaan kas yang baik, untuk dapat dilakukan identifikasi berapakah kebutuhan satker setiap minggu, setiap bulan, supaya dapat diprediksi uang yang ada di KUN untuk kebutuhan satu bulan ke depan,” ungkap Alfiah. Saat ini uang yang ada di KUN adalah sebesar Rp. 136 triliun, yang berasal dari hutang dan penerimaan negara. Dengan posisi uang di Bank Indonesia tersebut kita hanya memperoleh 65% dari suku bunga BI, sehingga uang tersebut menjadi tidak optimal.
Proses pelaporan juga menjadi tantangan bagi Ditjen Perbendaharaan agar laporan menjadi akuntabel dan saat ini sebagai Bendahara Umum Negara (BUN) masih mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk BA BUN. Tahun 2015 juga akan memasuki accrual basis, tentunya dibutuhkan perubahan mindset dan peningkatan kompetensi untuk mempersiapkannya, yaitu dengan penyelenggaraan PPAKP yang mulai tahun 2014 akan ditangani oleh BPPK dan dilaksanakan di daerah-daerah, baik di KPPN maupun di Balai Diklat Keuangan.
Program SPAN telah berjalan di seluruh KPPN lingkup Kanwil DJPBN Provinsi DI Yogyakarta, walaupun masih ditemui banyak kendala. Alfiah mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh Kepala KPPN beserta jajarannya atas kesungguhannya dalam melaksanakan program SPAN dengan baik, dan dapat menyelesaikan kendala-kendala yang ada dengan senantiasa berkoordinasi dengan helpdesk Direktorat Transformasi Perbendaharaan. Alfiah juga menegaskan bahwa program SPAN harus berjalan terus dan tidak boleh mundur, karena SPAN akan memberikan dampak perubahan yang revolusioner.
Beberapa waktu lalu, telah dilakukan launching MPN G2, yang harus dipelajari dan diketahui perubahan-perubahannya. Selain itu telah terdapat aplikasi baru terkait LPJ bendahara yang harus diinformasikan kepada satuan kerja, dimana semua itu akan dipelajari dengan mengundang narasumber langsung dari Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Alfiah meminta kepada seluruh peserta rakorwil untuk memanfaatkan paparan dari kantor pusat dan BPPK dengan sebaik-baiknya untuk berdiskusi tentang hal-hal yang masih menjadi kendala di lapangan sehingga kendala-kendala tersebut dapat diatasi.
Di akhir sambutannya, Alfiah mengajak seluruh peserta rakorwil untuk memajukan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DI Yogyakarta dengan mengukir prestasi yang menggembirakan, dengan bekerja keras, kerja cerdas, dan bekerja dengan niat semata-mata untuk ibadah, agar dapat mewujudkan dan memperoleh kinerja yang terbaik. Kegiatan rakorwil selanjutnya dibuka secara resmi oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DI Yogyakarta dengan pemukulan gong dan dilanjutkan dengan pemaparan materi.
Menyesuaikan dengan tema rakorwil kali ini, format acara sengaja disusun berbeda dengan kegiatan rakorwil-rakorwil sebelumnya. Apabila biasanya format rakorwil diisi dengan rapat-rapat komisi, untuk kali ini rakorwil diisi dengan paparan materi-materi peningkatan kompetensi. Kanwil DJPBN Provinsi DI Yogyakarta mengundang narasumber dari kantor pusat dan Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Untuk narasumber dari kantor pusat Ditjen Perbendaharaan terdiri atas narasumber dari Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (Direktorat APK), Direktorat Transformasi Perbendaharaan (Direktorat TP), dan Direktorat Pengelolaan Kas Negara (Direktorat PKN).
Pelaksanaan rakorwil hari kedua dimulai pukul 06.00 dengan kegiatan senam pagi bersama. Udara sejuk lereng Merapi menambah semangat peserta rakorwil untuk memulai hari mempersiapkan kompetensi dengan paparan materi yang pertama yaitu tentang Strategi Implementasi SPAN dan SAKTI yang disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat Transformasi Sistem Aplikasi, Achmad Reynaldi Hidayat. Pada materi ini, dijelaskan tentang tahapan-tahapan implementasi SPAN dan hasil evaluasi terhadap implementasi SPAN tersebut.
Paparan materi yang kedua adalah tentang Persiapan Pengelolaan Keuangan Negara Berbasis Akrual yang disampaikan oleh Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Yuniar Yanuar Rasyid. Pada materi ini dijelaskan tentang definisi akrual basis hingga contoh kasus penerapan akrual basis. Selanjutnya, pemaparan materi selanjutnya adalah tentang LPJ Bendahara dan MPN G-2 yang disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat PKN, Yuni Wibawa. Seluruh materi terkait MPN G-2 dan LPJ bendahara seperti aplikasi SILABI, penertiban rekening, tugas dan kewenangan bendahara, peran dan keunggulan MPN G-2, dikupas tuntas di sini.
Materi yang tak kalah menariknya adalah Tata Cara Presentasi (Presentasi Efektif) yang disampaikan oleh Widyaiswara BDK Yogyakarta, Budi. Pada sesi ini disampaikan materi terkait bagaimana menjalani presentasi dengan baik.
Begitulah, pada setiap sesi paparan, seluruh peserta sangat antusias sekali dan berperan aktif terbukti dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari peserta rakorwil. Beberapa pertanyaan bahkan harus ditampung untuk diteruskan kepada pimpinan pusat Ditjen Perbendaharaan dan pihak berwenang, seperti terkait Retur SP2D, dan permintaan tinjauan ulang untuk IKU perencanaan kas yang akurat terkait implementasi SPAN.
Rakorwil Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DI Yogyakarta ditutup oleh Kepala Kanwil DJPBN Provinsi DI Yogyakarta dengan acara ramah tamah serta pada pagi harinya dilaksanakan jalan sehat dan untuk lebih mengenal sifat, perilaku dan sejarah salah satu gunung teraktif di dunia yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta yaitu Gunung Merapi peserta rakorwil dengan dipandu oleh petugas menyusuri museum dan menyaksikan film pendek yang menjadi salah satu wahana yang terdapat di Museum Gunungapi Merapi.
Oleh: Kontributor Kanwil Ditjen PBN Prov. D.I. Yogyakarta, Erli Murti