- Regional
- Dilihat: 2379
Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat Gandeng LPDP Gelar Sosialisasi Pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan
Liputan Sosialisasi Pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional di Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat.
Padang, djpbn.kemenkeu.go.id - “SDM merupakan modal dasar untuk menjawab tantangan dan tuntutan ke depan. SDM yang berkualitas --yang memiliki ketrampilan dan pendidikan yang tinggi— adalah sesuatu yang mutlak,“ demikian ditegaskan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat, Wiwin Istanti, pada saat memberikan sambutan pada acara Sosialisasi Pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional Kepada Satuan Kerja Lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat, Kamis (17/04).
Wiwin melanjutkan, bila kita melihat kondisi SDM Indonesia, misalnya jumlah penduduk yang berpendidikan S3, maka kita akan temui suatu kondisi yang memperihatinkan. Jumlah S3 per 1 juta penduduk Indonesia masih relatif sedikit, yakni baru mencapai jumlah 143 orang. Masih berada di bawah negara tetangga kita Malaysia yang telah mencapai 509 orang atau India yang telah mencapai 1.410 orang. Bahkan kita sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara Jepang yang mencapai jumlah 6.438 orang atau USA yang mencapai 9.850 orang per 1 juta penduduk. Dari sisi Komposisi Pendidikan Angkatan Kerja Tahun 2010, angkatan kerja kita didominasi oleh angkatan kerja yang berpendidikan dasar (SD, SMP) yaitu mencapai 70,4%, jauh lebih besar dibanding Malaysia yang hanya sebesar 24,3%. Beberapa hal inilah yang mendorong dibentuknya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang bertujuan memberikan kesempatan mendapatkan beasiswa magister dan doktor, pendanaan riset dan rehabilitasi fasilitas pendidikan.
Acara yang berlangsung di Aula KPPN Padang ini, digelar atas kerjasama antara Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat dengan LPDP sebagai tindak lanjut hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Ditjen Perbendaharaan yang dilaksanakan pada tanggal 2 s.d. 5 April yang lalu di Jakarta. Acara ini dihadiri oleh para pejabat eselon III dan pegawai lingkup Perwakilan Kementerian Keuangan, instansi vertikal dan perguruan tinggi dan menghadirkan narasumber Direktur Keuangan dan Umum LPDP, Syahrul Elly Mahyudin dan Kepala Divisi Pengembangan Dana Kelolaan, Agung Sudaryono.
“Pada kesempatan yang bahagia ini, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat atas inisiatifnya untuk menggelar acara ini. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat adalah yang pertama mengadakan kerja sama dengan LPDP dalam rangka menindaklanjuti hasil Rapimnas Ditjen Perbendaharaan”, ungkap Direktur Keuangan dan Umum LPDP.
Mengawali paparannya Syahrul Elly Mahyudin menegaskan bahwa LPDP sebagai BLU yang berada di bawah Kementerian Keuangan –sebagai pengelola dana pendidikan—merupakan salah satu jalan alternatif untuk mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi melalui program beasiswa, baik program beasiswa magister maupun doktor. Kesempatan ini terbuka seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia dan telah didukung oleh pendanaan yang cukup besar. Pada akhir tahun 2013, nilai pokok dana kelolaan LPDP mencapai Rp15,617 trilyun dan telah memberikan kesempatan bagi 1.555 putera-puteri terbaik bangsa untuk melanjutkan studi di lebih dari 130 universitas yang tersebar di lebih dari 20 negara di seluruh dunia.
Dalam rangka mewujudkan visi Menjadi lembaga pengelola dana yang terbaik di tingkat regional untuk menyiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan, LPDP memiliki misi mempersiapkan pemimpin dan profesional masa depan Indonesia melalui pembiayaan pendidikan, mendorong riset strategis dan/atau inovatif yang implementatif dan menciptakan nilai tambah melalui pendanaan riset, menjamin keberlangsungan pendanaan pendidikan bagi generasi berikutnya melalui pengelolaan Dana Abadi Pendidikan yang optimal dan mendukung rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam melalui pengelolaan Dana Cadangan Pendidikan.
Pada kesempatan yang sama Syahrul Elly Mahyudin berharap setelah pelaksanaan sosialisasi ini diharapkan akan lebih banyak pendaftar beasiswa melalui LPDP dari Sumatera Barat yang kelak akan memjadi pemimpin dan profesional masa depan yang dapat menjadi kebanggan bangsa.
Narasumber kedua, Agung Sudaryono, memberikan penjelasan seputar program-program LPDP, diantaranya Program Beasiswa yang meliputi Beasiswa Magister-Doktor, Beasiswa Tesis-Disertasi, Beasiswa Afirmasi, Presidential Scholarship, Program Pendanaan Riset dan Rehabilitasi beserta persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi.
Acara sosialisasi yang dikemas secara interaktif ini cukup memancing rasa antusias para peserta. Rasa antusias ini ditandai dengan banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang diajukan. Setelah sesi tanya jawab, sosialisasi ditutup secara resmi oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat.
(Kontributor Kanwil DJPB Prov. Sumatera Barat)











Dalam welcome remark, Rina Robiati menyampaikan maksud dan tujuan dari acara seminar adalah untuk memberikan informasi mengenai perekonomian Indonesia maupun perekonomian global beserta kebijakan pemerintah; terciptanya komunikasi antara kementerian keuangan sebagai regulator dan perumus kebijakan dengan para akademisi dalam membahas isu-isu strategis; upaya strategis untuk mempertemukan rekan-rekan di daerah dengan pusat serta kalangan akademisi dalam rangka meningkatkan kemajuan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat; mengumpulkan masukan-masukan yang berpotensi untuk menyempurnakan kebijakan yang bertujuan untuk keseimbangan perekonomian antara pusat dan daerah. Rina Robiati juga menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah terkait dana transfer daerah, tingkat kemandirian pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota yang masih rendah, dan realisasi APBN dan APBD yang belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Penyaji I, Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan menyampaikan materi dengan tema “Perkembangan Terkini Makro Ekonomi Indonesia: Prospek dan Tantangan” yang isinya tentang keadaan perekonomian global dan Indonesia yang mengalami tekanan pada tahun 2013, keadaan perekonomian global yang masih mengalami pelemahan dan perekonomian Indonesia yang cenderung lebih stabil di tahun 2014 serta tantangan global dan domestik yang akan dihadapi pada masa yang akan datang.
Memasuki acara inti yaitu pembahasan materi, pada sesi pertama Yoopi Abimanyu, menyampaikan topik mengenai Perkembangan Perekonomian Indonesia Terkini 2014. Dalam paparannya, Yoopi Abimanyu menyoroti perkembangan perekonomian global dan domestik. Terkait dengan perekonomian global, terdapat tiga isu startegis yang disampaikan yaitu perbaikan pertumbuhan ekonomi di 2014; gejolak likuiditas global dan harga komoditas pasar global; serta respon kebijakan dari beberapa negara maju dan berkembang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, dari sisi perekonomian domestik, di tahun 2013 perekonomian Indonesia mengalami tekanan. Neraca perdagangan mengalami defisit yang berdampak langsung pada defisit neraca berjalan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan fiskal dan moneter serta melakukan reformasi struktural. Sedangkan di tahun 2014, perekonomian Indonesia berada pada posisi yang mulai membaik ditandai dengan surplus neraca perdagangan pada Januari-Februari sebesar US$341 Juta. Kedepan, bermodal potensi pertumbuhan ekonomi yang kuat, pemerintah optimis dengan perbaikan perekonomian meskipun pertumbuhan diprediksi akan sedikit melambat. Potensi yang kuat tersebut antara lain bonus demografi, pertumbuhan kelas menengah yang tinggi, sumber daya alam berlimpah, kinerja makro ekonomi yang stabil dan kuat serta pengelolaan fiskal yang prudent.
Pada sesi kedua Rukijo membahas topik mengenai Pembagian Kewenangan dan Pendanaanya. Pendelegasian wewenang dari pusat ke daerah harus berprinsip pada money follows function. Beliau menegaskan bahwa saat ini objek-objek pajak daerah masih belum tergali secara maksimal sehingga perlu adanya penguatan local taxing power melalui perluasan basis pungutan dan diskresi penetapan tarif. Hal ini penting dilakukan untuk mendorong upaya kemandirian daerah dalam rangka pemenuhan kebutuhan pendanaan daerah. Terkait kebijakan transfer ke daerah, secara nominal pulau Jawa masih menerima dana terbesar dibanding pulau-pulau lainnya sedangkan berdasarkan rasio dana transfer per kapita, pulau Jawa justru terendah. Oleh karena itu, perlu adanya reformulasi pengalokasian dana transfer ke daerah, apakah berdasarkan nominal atau mempertimbangkan keseimbangan jumlah penduduk dengan wilayah mengingat wilayah di luar Jawa seperti Papua memerlukan dana pembangunan yang tidak sedikit meskipun jumlah penduduknya tidak banyak.
Selanjutnya, Tiarta menjelaskan bahwa tahun 2014 juga merupakan tahun persiapan terakhir penerapan accrual accounting yang merupakan perwujudan dari accountable reporting. Perlu disadari bahwa proses accrual accounting bukanlah hal yang mudah, namun perlu tranformasi yang sangat besar, bukan hanya perubahan proses tetapi juga perubahan mindset. Disinilah diharapkan Ditjen Perbendaharaan sebagai lead sector harus dapat menjadi leading atas transformasi tersebut.


