- Regional
- Dilihat: 3179
“ Perbaikan Tata Kelola PNBP Sebagai Upaya Meningkatkan Kontribusi Penerimaan Negara “
Liputan pelaksanaan Rakor dan Sosialisasi Pengelolaan PNBP
Gorontalo, djpbn.kemenkeu.go.id,- Sebagai wujud implementasi PMK nomor 169/PMK.01/2012 yang antara lain menyebutkan bahwa tugas dan fungsi Kanwil Ditjen Perbendaharaan adalah melakukan pembinaan pengelolaan penerimaan negara bukan pajak, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Gorontalo menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Pengelolaan PNBP di Meeting Room Borneo Hotel Maqna Gorontalo (5/12) dengan peserta adalah kuasa pengguna anggaran dan bendahara penerimaan satker dari 12 Bagian Anggaran satker pengelola PNBP yang ada di Provinsi Gorontalo, acara ini dihadiri pula oleh Kepala KPPN Gorontalo dan Kepala KPPN Marisa.
Pada rakor yang mengangkat tema “Perbaikan Tata Kelola PNBP Sebagai Upaya Meningkatkan Kontribusi Penerimaan Negara”, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo, Sudarso, dalam sambutannya menyampaikan bahwa rakor ini adalah langkah awal untuk menyamakan persepsi bahwa penerimaan negara harus pula ditopang melalui sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak disamping dari sektor penerimaan pajak lainnya.
Dikesempatan yang sama, Sudarso juga menyampaikan beberapa temuan BPK terkait pengelolaan PNBP pada kementerian/lembaga antara lain: PNBP yang tidak disetor tepat waktu, PNBP yang digunakan langsung di luar mekanisme APBN, PNBP yang kurang/belum dipungut dan PNBP yang belum didukung dengan dasar hukum yang memadai.
Sudarso, yang sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit Peraturan dan Standarisasi Teknis BLU, Direktorat PPK-BLU, juga menyampaikan secara rinci mengenai isu-isu terkini terkait pengelolaan PNBP yaitu mengenai tarif layanan yang dipungut dibandingkan dengan kemampuan daya beli masyarakat, kemudian optimalisasi potensi PNBP kelautan mengingat luas wilayah Indonesia dua pertiga-nya adalah lautan, mengenai pedoman pencairan PNBP sesuai dengan Maksimum Pencairan (MP) serta pengaruh pungutan PNBP terhadap peningkatan layanan kepada masyarakat.
Pada sesi berikutnya, Kepala Bidang PPA I, Pratanto, berkesempatan untuk memaparkan mengenai hasil kuisioner yang dibagikan pada saat monitoring dan evaluasi (monev) PNBP (18-22 November 2013) kepada 37 satker pengelola PNBP. Dijelaskan pula bahwa dalam kuisioner yang diedarkan tersebut terdiri dari 18 pertanyaan terbuka, untuk digunakan sebagai data mining, dan informasi tentang pengelolaan PNBP serta permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing satker.
Dari hasil kuisioner tersebut dapat diperoleh beberapa informasi antara lain belum semua kabupaten memiliki bank persepsi, setoran yang tidak dibukukan oleh bank persepsi pada hari yang sama, jaringan bank penerima setoran sering mengalami gangguan, jarak bank persepsi dengan lokasi satker yang relatif jauh dibanding jumlah setoran PNBP, jam layanan satker lebih lama daripada jam buka kas pada Bank Persepsi, penyetoran PNBP yang tidak sesuai dengan norma waktu yang telah ditetapkan, tarif pada peraturan pemerintah satuan kerja PNBP dinilai terlalu rendah, serta adanya PNBP yang belum mempunyai tarif.
Selanjutnya diakhir acara diperoleh beberapa rekomendasi antara lain agar satker meningkatkan tata kelola perencanaan dan penganggaran PNBP, kemudian melakukan peninjauan kembali terkait besaran tarif PNBP, upaya untuk ekstensifikasi layanan PNBP yang belum ditentukan tarifnya, serta melakukan perbaikan teknis penyetoran untuk setoran yang kecil dibanding biaya yang harus dikeluarkan dengan cara mengajukan dispensasi penyetoran secara berkala sesuai PMK nomor 3/PMK.02/2013 tentang Tatacara Penyetoran PNBP oleh Bendahara Penerima.









Sosialisasi Langkah-Langkah Dalam Menghadapi Akhir Tahun Anggaran 2013 diadakan pada tanggal 20 November 2013 dengan peserta adalah Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen satuan kerja, pegawai bank/pos di bidang persepsi dan pencairan dana, dengan rincian 60 orang petugas satker, 12 orang petugas bank/pos. Dalam kegiatan ini juga dihadiri oleh Bupati Kabupaten Bojonegoro, Kepala Bappeda Kab. Bojonegoro, unsur Muspida Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Lamongan serta pimpinan Bank/Pos juga turut menghadiri acara sosialisasi tersebut.
Acara sosialisasi LLAT 2013 terasa istimewa karena dihadiri langsung oleh Bupati Kabupaten Bojonegoro, Suyoto. Dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas acara yang diselengggarakan oleh KPPN Bojonegoro yang menghadirkan pihak-pihak yang berkepentingan terkait pengelolaan keuangan negara (Satker dan Bank/Pos) dan unsur Muspida Kabupaten Bojonegoro dan Lamongan. Pertemuan untuk menghasilkan sinergi seperti ini diperlukan untuk menciptakan tata kelola keuangan negara khususnya di daerah menjadi lebih baik. Selanjutnya beliau juga membahas tentang tata kelola keuangan yang diharapkan dapat tercipta di daerah seperti pencairan anggaran yang tertib dan tidak menumpuk di akhir tahun agar dapat tercipta stimulus fiskal dan ekonomi yang dapat meningkatkan taraf perekonomian daerah.
Kegiatan sosialisasi diadakan di aula Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Kalbar tanggal 4 Desember 2013 yang lalu. Peserta yang hadir berasal dari seluruh pimpinan/perwakilan Bank persepsi/Devisa Persepsi/Pos Persepsi, Bank Operasional I, II dan III PBB, para Kepala Seksi Bank KPPN lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Barat serta pegawai SKKI Kanwil. Acara dibuka oleh Marni Misnur dilanjutkan dengan pemaparan tentang hak dan kewajiban Perbankan. Usai paparan, acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan ke pihak bank/pos persepsi, sebagai bentuk perhatian dan apresiasi Kanwil terhadap kinerja Perbankan/Pos. Penghargaan mengusung 4 (empat) kriteria penilaian. Pertama, untuk kriteria bank/pos persepsi dengan setoran penerimaan terbesar diraih oleh Bank Mandiri Diponegoro Pontianak. Kriteri kedua, bank/pos persepsi dengan transaksi setoran terbanyak diraih Kantor Pos Pontianak. Ketiga, kriteria Bank persepsi swasta terbaik diraih Bank Central Asia Tbk dan kriteria terakhir bank/pos persepsi dengan inisiatif terbaik diraih oleh Bank Kalbar.
Usai penyerahan awards, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi sesi kedua. Aprijon, Kepala Bidang Supervisi KPPN dan Kepatuhan Internal selaku narasumber, menyampaikan materi tentang tindakan dan cara mengatasi permasalahan teknis yang dihadapi KPPN dan perbankan, ketentuan khusus diakhir tahun anggaran serta pembahasan tentang potensi pembukaan kantor bank/pos persepsi maupun kantor layanan penerimaan negara baru di lingkup wilayah KPPN yang berada dibawah naungan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Kalbar. Aprijon menghimbau dan memotivasi pihak Perbankan/Pos untuk bisa memanfaatkan kans terhadap potensi tersebut, dengan membuka bank devisa persepsi/bank persepsi/kantor layanan penerimaan yang baru, sebagai ekspansi usaha. Dari respon positif mereka kita berharap, akan tercipta efisiensi biaya dan waktu bagi nasabah yang berdomisili jauh dari kantor bank/pos persepsi dan pada akhirnya secara konkret membantu Negara mengoptimalkan penerimaan Negara dari sektor perpajakan dan non pajak.
“Apa kabar?” teriak pembawa acara, Fitri, membuka acara. “Baik, baik, baik” saut para pegawai dengan semangatnya. Dilanjutkan dengan pembacaan doa dan kata sambutan dari Kepala KPPN Singkawang, Herkwin. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa seluruh pegawai harus ikut aktif dalam mengikuti acara ini dan dapat di implementasikan nantinya dalam pekerjaan sehari-hari. “Diharapkan dalam acara ini kita semua dapat sama-sama belajar lebih mendalam mengenai service excellence sehingga dapat meningkatkan kinerja kita di kantor dan dapat meningkatkan pelayanan kita kepada seluruh stakeholder KPPN Singkawang” tutup Herkwin. Kemudian dilanjutkan kata sambutan dari Pimpinan PT. Bank Mandiri Cabang Singkawang, Gunanto. Beliau mengucapkan terima kasih atas kepercayaan KPPN Singkawang dalam dua tahun terakhir memberikan kepercayaan kepada Bank Mandiri untuk memberikan materi mengenai service excellence. 
Dalam sambutan mengawali kegiatan seminar tersebut, Plt. Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Tengah selaku Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan di Provinsi Sulawesi Tengah, Dedi Sopandi menyampaikan antara lain bahwa seminar tersebut adalah suatu bentuk kerjasama Kementerian Keuangan dengan Ahli Ekonomi Daerah atau Regional Economist, serta kalangan akademisi kampus yang dikenal objektif dalam menyampaikan keilmuannya. Selain itu, disampaikan pula bahwa Pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan yang didukung segenap pihak terkait, akan semakin bekerja keras untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menciptakan akselerasi pertumbuhan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, materi Seminar Kebijakan Fiskal dan Perkembangan Ekonomi Terkini mengetengahkan beberapa paparan yang terkait langsung dengan kebijakan fiskal terkini di tingkat nasional maupun di Provinsi Sulawesi Tengah. Narasumber pertama adalah Bpk. Abdurrahman, Kepala Bidang Analisis Fiskal, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF, yang membawakan tema Perkembangan Perekonomian Terkini dan Respon Kebijakan. Menurut Abdurrahman, meskipun pada saat ini perekonomian Eropa masih belum menunjukkan pemulihan signifikan pasca euro debt crisis, fundamental ekonomi Indonesia masih terhitung sangat sehat. Kemudian, Abdurrahman juga menyampaikan beberapa paket kebijakan pemerintah yang bekerja secara simultan dan saling melengkapi untuk mengatasi tekanan perekonomian yang sedang maupun yang akan dihadapi. Narasumber kedua, Bpk. Wawan Juswanto, Kepala Bidang Evaluasi Kebijakan Pendapatan Negara, Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, BKF, memaparkan Perkembangan dan Arah Kebijakan Pendapatan Negara. Pada pemaparannya, Wawan menjelaskan bahwa perkembangan penerimaan negara dari tahun 2005 meningkat menjadi tiga kali lipat pada tahun 2013 ini. Selain itu, disampaikan pula berbagai paket kebijakan pendapatan negara dan tantangan yang dihadapi pada tahap pelaksanaannya. Narasumber ketiga, Bpk. Abdul Hamid Paddu, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin, yang juga merupakan Regional Economist BKF untuk Provinsi Sulawesi Tengah, pada kesempatan ini mengambil judul paparan Perekonomian dan Kinerja Keuangan Daerah Sulawesi Tengah. Pokok-pokok penting yang disampaikan Abdul Hamid antara lain adalah arah pengelolaan keuangan daerah, serta keadaan perekonomian makro dan kinerja keuangan pemerintah daerah di Sulawesi Tengah pada saat ini. Kemudian disampaikan pula berbagai permasalahan yang masih banyak dihadapapi pemerintah daerah dalam pelaksanaan anggaran.
Selanjutnya, acara dipandu oleh Tim Service Exellence BRI. Pada Sessi I, peserta training diajak untuk melakukan pemanasan dengan senam mulut, menaikan dan menurunkan tumit kaki serta gerakan merentangkan kedua tangan ke samping dengan mengepalkan dan membuka telapak tangan. Menurut Ulwan, Ketua Tim Training Service Exellence :
Di akhir acara, service exellence training ditutup oleh Kepala Bagian Umum, Rizki Tavianto Karipany, dengan yel-yel :
Dalam sambutannya, Alfiah mengharapkan agar rakorwil ini menjadi forum penyelesaian masalah dan menyamakan persepsi dan pemahaman dalam menghadapi akhir tahun anggaran khususnya antar KPPN di lingkup Kanwil DIY. Selepas pembukaan, ia memaparkan isu-isu strategis terkait hasil Rapimnas yang diselenggarakan bulan November 2013 di Jakarta. Poin penting yang disampaikan antara lain bahwa tahun 2014 akan menjadi tahun yang sangat krusial mengingat adanya Implementasi SPAN dan SAKTI, Operasional Kanwil dan KPPN baru, MPN G2, Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual dan Pembentukan Treasury Dealing Room (TDR). Hal ini menuntut kesiapan semua jajaran Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. DIY dalam menghadapi tantangan yang semakin berat.
Untuk penyampaian informasi terbaru seputar SPAN dan SAKTI, panitia menghadirkan Supervisor Kanwil, Gatot Prasetyo untuk memberikan pencerahan kepada peserta terkait materi yang diperoleh saat TOT SPAN dan SAKTI belum lama ini. Sedangkan paparan terakhir disampaikan oleh Kepala KPPN Yogyakarta, Edy Prayitno tentang Langkah-langkah dalam Menghadapi Akhir Tahun Anggaran 2013. 

