- Regional
- Dilihat: 2095
Menapaki Fase, Menggapai Asa
Liputan Forum Group Discussion Koordinasi Satker di KPPN Sampit
Sampit, djpbn.kemenkeu.go.id. Koordinasi adalah jenis kata yang sangat mudah diucapkan namun susah untuk dilaksanakan. Kali ini KPPN Sampit ingin membuktikan bahwa koordinasi itu mudah dilakukan dan perlu. Menyadari pentingnya posisi KPPN dalam pelaksanaan APBN, di mana KPPN Sampit memainkan peran penting bahkan bisa dikatakan startegis dalam melayani satuan kerja (satker) yang tersebar di tiga kabupaten dengan jarak tempuh berjam-jam, KPPN Sampit harus mempunyai solusi cerdas untuk membantu satker dalam menyelesaikan permasalahan perbendaharaan yang berujung pada tingkat penyerapan anggaran.
Ada dua strategi yang diterapkan oleh KPPN Sampit dalam rangka koordinasi tersebut, yaitu: (1) pembinaan ke satker (on the spot), khusus untuk satker yang berada di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur atau di sekitar KPPN Sampit, serta (2) Focus Group Discussion (FGD) bagi satker di wilayah Kab. Katingan dan Kab. Seruyan.
Mengambil momen awal bulan di mana satker melakukan rekonsiliasi, KPPN Sampit mengundang pengelola keuangan (KPA, PPK, dan PP SPM) dari satker yang mempunyai jarak tempuh kurang lebih antara 2-4 jam untuk melakukan FGD. Meskipun hanya diawaki empat orang staff, Seksi Pencairan Dana mampu mengefektifkan waktu antara FGD, dan penyelesaian SP2D. Minimal satu orang dari staf seksi pencairan dana mengawaki diskusi yang dipimpin kepala kantor dengan tim pengelola keuangan dari 5 satker untuk masing-masing sesi. Setiap sesi memakan waktu lebih dari satu jam, satu jam di pagi hari dan satu jam di sore hari. Empat puluh tim pengelola keuangan dari 40 satker berhasil berdiskusi intensif tentang permasalahan-permasalahan terkait pengelolaan keuangan di tingkat satker.
Irwan Wahyu Basuki, Kepala KPPN Sampit, selalu mengawali acara dengan mengatakan bahwa KPPN Sampit sengaja mengundang sedikit-sedikit biar bisa berdiskusi lebih intensif dan juga bisa lebih saling mengenal. Karena dengan keintensifan ini, beberapa problem akan mudah terpecahkan, dan dengan bersedikit akan lebih saling mengenal. Serta yang terpenting akan memudahkan koordinasi, sehingga ke depannya segala problem akan lebih mudah di atasi atau dicegah lebih dini. Ternyata, rasa terpendam selama ini mampu tercurahkan melalui acara diskusi ini. Sambutan antusias para KPA, PPK dan PP SPM merupakan bukti nyata bahwa mereka haus akan bimbingan dari KPPN.
Hampir semua satker tidak sungkan-sungkan lagi mengemukakan problem dan keberhasilan mereka dalam mengelola keuangan yang bersumber dari APBN ini. Sebagaian besar satker menyampaikan permasalahan penyerapan dana mereka, Berbagai penyebab mereka kemukakan, mulai dari masalah keterbatasan personal, kendala belum adanya SK yang menjadi dasar pembayaran, pemblokiran dan juga sebagian kegiatan yang memang belum dijalankan. Problem belanja pegawai yang minus merupakan problem umum yang dimiliki oleh satker di wilayah pembayaran KPPN Sampit tahun ini. Problem lain yang tak kalah menarik adalah prinsip kehati-hatian. Begitu hati-hatinya satker sehingga mereka lebih memilih untuk tidak melakukan penyerapan dana daripada ada sesuatu yang mereka takutkan. Semua problem ini kita diskusikan dengan tuntas dan para satker pun puas, dan berharap ada kelanjutan diskusi yang sama di lain kesempatan.
Kedua belah pihak berharap, sebelum terjadi permasalahan sudah bisa didiskusikan untuk mencari jalan keluar. Forum seperti ini menjadi alternatif bagi mereka.
Oleh: Isti’anah (KPPN Sampit)











Pelatihan diadakan pada hari libur, Sabtu tanggal 29 September 2012 jam 08.30 s.d. jam 14.00 di Aula KPPN Medan I, bekerja sama dengan PT. BNI Kantor Wilayah Medan.
Jalinan komunikasi dengan mitra kerja baik secara verbal maupun non verbal harus hangat dan ramah. Senyum tulus ikhlas akan memberi kesan sentuhan yang mendalam. Kontak mata dan pengungkapan maaf serta penawaran bantuan harus selalu disuguhkan. Standar berkomunikasi melalui telepon, cara memulai dan bagaimana menjawabnya.
Kepala KPPN Ende, Suhardjono, dalam sambutan pertama, menyampaikan bahwa Ditjen Perbendaharaan memiliki peran penting dalam pelaksanaan APBN, khususnya menyangkut tiga aspek utama, yaitu: pertama, penatausahaan pendapatan negara, kedua, pengelolaan kas dan penyaluran dana belanja negara, dan ketiga, penyusunan laporan keuangan sebagai wujud pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN.
“Dengan tekad dan kerja keras baik jajaran Kementerian Keuangan maupun Kementerian Negara/lembaga, kami yakin bahwa upaya perbaikan yang telah dilakukan sebelumnya dan yang hari ini kita luncurkan akan berhasil sebagaimana yang kita harapkan,” tegas Adi Nugroho.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Ende, Don Bosco M. Wanggai, menyampaikan ucapan selamat kepada 5 KPPN yakni KPPN Ende, KPPN Waingapu, KPPN Larantuka, KPPN Atambua, dan KPPN Ruteng yang telah ditetapkan sebagai KPPN Percontohan. “Dengan mengucapkan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dengan ini saya resmikan Soft Launching Implementasi KPPN Percontohan Tahap VI lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ucap Bupati Ende meresmikan KPPN Ende menjadi KPPN Percontohan yang diikuti dengan pemukulan gong dan tepukan tangan dari tamu undangan sebagai tanda dimulainya era baru implementasi KPPN Percontohan lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Narasumber pembekalan service excellence , Haryanto, dari Learning Center Group Bank Mandiri Pusat menyampaikan materi dalam suasana santai penuh joke segar. Peserta terlihat begitu asyik menuntaskan keingintahuan tentang bagaimana memberikan layanan yang tidak sekedar senyum saja. Menurutnya, Pembangunan service adalah proses jangka panjang, yang membutuhkan waktu tahunan. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan service ini perlu ditunjuk role model atau change agent. Haryanto menambahkan, setiap role model harus mampu menyebarkan virus service excellence kepada teman-teman disekitarnya, karena dengan sekedar teori layanan saja tidak akan menyegerakan perubahan service yang diharapkan oleh organisasi.
tika menerima tamu,etika bertelepon dan bagaimana berpenampilan yang baik mulai dari cara duduk, berjalan, tersenyum, jabat tangan, kontak mata dan sebagainya. Penyajian materi tersebut tak henti mengundang gelak tawa peserta karena kekakuan yang ditimbulkan oleh para
Acara yang dihadiri oleh seluruh Kepala Satuan Kerja dalam wilayah pembayaran KPPN Wates serta jajaran Pimpinan Bank Mitra kerja KPPN Wates berlangsung dalam suasana yang meriah dan penuh kekeluargaan. Tepat pukul 10.00 WIB rangkaian acara dimulai dan diawali dengan tampilan video dan slide show tentang Nilai-nilai Kementerian Keuangan, sejarah singkat KPPN Wates, capaian kinerja, dan profil kantor. Hal ini dimaksudkan agar para undangan mengetahui secara jelas tentang perjalanan sejarah KPPN Wates dan perubahan-perubahan mendasar yang telah dilakukan hingga akhirnya di-launching menjadi KPPN Percontohan.
Selanjutnya Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi D.I. Yogyakarta, Hendro Baskoro dalam sambutannya menjelaskan secara filosofis pembentukan KPPN Percontohan Tahap I s.d Tahap V yang sudah dirintis sejak tahun 2007. Launching KPPN Percontohan Tahap VI ini merupakan bagian dari proses reformasi birokrasi di Ditjen Perbendaharaan yang never ending dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Menurutnya, kualitas layanan publik didasarkan atas 4 (empat) hal yaitu perubahan paradigma layanan, pemanfaatan kemajuan teknologi informasi, pemenuhan tuntutan publik untuk pelayanan yang lebih baik, dan dalam rangka mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang profesional. Dalam kesempatanitu pula, Hendro Baskoro kembali menyinggung tentang prinsip-prinsip layanan KPPN Percontohan, yaitu Pelayanan satu tempat (one stop service), adanya kepastian waktu penyelesaian (certainty), bisnis proses yang sederhana, pemanfaatan teknologi informasi, memberikan informasi secara real time, transparan dan akuntabel, serta meminimalisir kontak dengan stakeholders (minimizing contact person). 

