- Nasional
- Dilihat: 4989
Menteri Keuangan: Keberhasilan Pemerintah Telah Diakui BPK Dan Dunia Internasional
Laporan Liputan Sidang Paripurna DPR tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN TA 2009
Jakarta, perbendaharaan.go.id &ndash Reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan telah berhasil dilaksanakan. Demikian yang diutarakan Menteri Keuangan di dalam rapat paripurna DPR RI hari Senin (26/7). &ldquoPemerintah telah dan akan terus melakukan perbaikan-perbaikan secara optimal dalam pengelolaan keuangan negara, antara lain semakin meningkatnya transparansi dan akuntabilitas keuangan negara melalui Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP),&rdquo ungkap Agus Martowardojo. &ldquoPeningkatan kualitas tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya kualitas LKPP dan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL), menurunnya jumlah temuan audit BPK, bahkan makin memperbaiki peringkat negara Indonesia di mata dunia,&rdquo lanjut Menteri yang menggantikan Sri Mulyani tersebut.
Beberapa lembaga yang memberikan pengakuan itu antara lain International Monetary Fund (IMF), World Bank, dan BPK. IMF dalam laporannya, Report on Observance of Standards and Codes-Fiscal Transparency Module Indonesia (ROSCs) 2006, menyebutkan bahwa Indonesia telah mampu menyajikan laporan keuangan tahunan yang relatif akurat atas pelaksanaan anggaran. BPK juga telah mengakui perbaikan yang telah dilakukan oleh Pemerintah, antara lain dengan semakin membaiknya opini BPK atas LKPP Tahun 2009 yang mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) maupun opini atas berbagai LKKL.
&ldquoPencapaian LKPP Tahun 2009 dengan opini WDP dalam jangka waktu 5 tahun setelah pertama kalinya disusun LKPP Tahun 2004 menunjukkan kerja keras dan prestasi bersama Pemerintah, DPR, BPK, dan stakeholders lainnya,&rdquo jelas Menteri Keuangan. &ldquoUpaya meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan negara diharapkan terus mendapat dukungan secara konstruktif dari semua pihak, sehingga selambat-lambatnya TA 2011, kualitas seluruh LKKL semakin baik dan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP),&rdquo demikian harapan Agus Martowardojo di hadapan ratusan anggota dewan yang hadir.
Reformasi di Kementerian Keuangan telah menjadi komitmen sebagaimana telah dicantumkan dalam Kontrak Kinerja antara semua Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II dengan Presiden agar kualitas transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara mencapai kategori terbaik.
Menanggapi pandangan Fraksi PDIP, Partai Gerindra, dan PPP terkait rendahnya penyerapan belanja negara tahun anggaran 2009, yang menunjukkan tidak optimalnya kinerja Pemerintah untuk melaksanakan program-program dan anggaran, Menteri Keuangan menjelaskan, &ldquoPada dasarnya daya serap belanja negara periode 2005 sampai dengan 2009 cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya, yaitu dari 90,2% pada tahun 2005 menjadi 93,7% pada tahun 2009.&rdquo &ldquoMengenai daya serap anggaran, dapat dijelaskan tentang 2 (dua) hal penting, yaitu: (i) pencairan anggaran yang menumpuk di akhir tahun anggaran, dan (ii) pencairan anggaran yang lebih rendah dari yang telah dialokasikan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah mengupayakan langkah-langkah, antara lain: (i) penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja (ii) efisiensi tahapan dalam proses pengadaan barang dan jasa (iii) percepatan pencairan anggaran dan (iv) penerapan reward and punishment system setelah melalui kajian yang memadai,&rdquo lanjut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini.
Sementara itu menanggapi pernyataan dari Fraksi PKS, PDIP, PPP, dan PAN terkait PNBP yang belum dan/atau terlambat disetor ke kas negara, pungutan yang tidak ada dasar hukumnya dan digunakan langsung di luar mekanisme APBN, inventarisasi jenis dan penggunaan PNBP, serta optimalisasi PNBP, Menteri Keuangan memaparkan bahwa:
Pemerintah sependapat bahwa seluruh PNBP harus masuk ke Kas Negara terlebih dahulu dan selanjutnya penggunaanya dikelola melalui mekanisme APBN dan harus berdasarkan ketentuan yang berlaku. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan UU 20/1997 tentang PNBP, UU 17/2003, dan UU 1/2004. Pemerintah akan terus melakukan langkah-langkah agar pengelolaan PNBP lebih tertib, dan sedang mengkaji sanksi kepada K/L yang tidak mengelola PNBP secara tertib.
Pemerintah senantiasa berusaha mengoptimalkan PNBP dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi di sektor perikanan dan kehutanan. Selain meningkatkan kualitas pengelolaan PNBP dengan tertib administrasi dan tata cara pengelolaannya, upaya intensifikasi di kedua sektor tersebut antara lain dilakukan dengan melakukan review atas besaran tarif PNBP yang berlaku saat ini. Sementara itu, ekstensifikasi dilakukan antara lain dengan melakukan inventarisasi dan review atas jenis PNBP yang berlaku saat ini.
Oleh: Bambang Kismanto &ndash Media Center Perbendaharaan








Selanjutnya, dalam pengarahan yang juga dihadiri oleh Sekretaris Ditjen Perbendaharaan K. A. Badaruddin, Direktur Pengelolaan Kas Negara Tata Suntara, Direktur Sistem Perbendaharaan Bambang Isnaeni Gunarto, dan Direktur Sistem Manajemen Investasi Anandy Wati tersebut, Herry Purnomo menambahkan bahwa kebersamaan harus dipadukan dengan kemampuan menjadi seorang fast learner, inovatif, kreatif, dan berfikir out of the box. Beliau mencontohkan, betapa tanpa diinstruksikan banyak KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) yang berinisiatif membuat dan mengenakan seragam. Selain menunjukkan esprit de corp, imbuh beliau, seragam juga menggambarkan bahwa kita adalah satu kesatuan yang memiliki komitmen bersama untuk melayani masyarakat.
Mengangkat beberapa fakta dan data tentang jumlah pegawai yang pensiun pada saat ini dan tiga tahun ke depan, Herry Purnomo menyatakan perlu adanya usaha yang sistematis dalam melakukan suksesi dan regenerasi di tubuh DJPBN. Beliau menegaskan bahwa sudah ada upaya dan inisisasi yang dilakukan oleh organisasi untuk menjawab kebutuhan tersebut. Hanya saja, tambah beliau, hal ini tidak dapat dilakukan apabila tidak di dukung oleh jajaran pimpinan dalam meningkatkan kompetensi diri para pejabat dan bawahannya.
Sedangkan dalam pengembangan diri dalam hal soft skill, Dirjen Perbendaharaan menguraikan pentingnya penajaman keKuatan dan mengatasi kelemahan diri agar dapat membangun kepercayaan diri dalam berjuang mendapatkan posisi jabatan yang lebih tinggi. Lebih lanjut beliau menjelaskan pentingnya para pejabat eselon III untuk mengukuhkan kompetensi inti yang mereka miliki seperti in-depth problem solving and analysis, managing others, planning and organizing dan meeting leadership. Tanpa membatasi cara pandang ke depan, beliau juga memberikan gambaran mengenai kompetensi inti apa saja yang harus dimiliki seorang pejabat eselon III untuk menjabat sebagai pejabat eselon II. &ldquoSeorang pejabat eselon II harus memiliki kemampuan melihat dan membayangkan pengembangan organisasi ke depan (visioning), selalu mengusahakan perubahan organisasi ke arah yang lebih baik (championing change), menganalisa/mengatasi permasalahan dalam pekerjaan (in-depth problem solving and analysis), dan kemampuan manajerial (managing others).
Implementasi PMK 101/PMK.01/2008 berdampak pula terhadap pengukuhan 1.119 pejabat eselon IV lingkup Ditjen Perbendaharaan. Mereka dikukuhkan dalam jabatannya tanpa ada pergerakan/ pergeseran daerah tugas (Tour of Area).
Berkaitan dengan penyesuaian peran dan fungsi sebagai kebutuhan organisasi, instansi verticalDitjen Perbendaharaan  tidak akan kehilangan pekerjaan, melainkan akan mendapat tugas dan wewenang yang baru. Konsep revitalisasi KPPN saat ini sendiri tengah disusun. Begitu juga, penguatan fungsi Kanwil dalam memerankan fungsi pembinaan.  &ldquoJangan sampai teman-teman di KPPN nanti mengatakan, pekerjaan saya diambil lagi. Kita bisa menciptakan tugas-tugas baru.&rdquo Demikian beliau menjamin.
Pengamatan Sekretaris Ditjen PBN dan rombongan dilanjutkan ke Kanwil Ditjen PBN Provinsi NAD. Di sana, Kakanwil Ditjen PBN Provinsi NAD menyampaikan bahwa pihaknya telah berusaha menangani masalah listrik dan kecepatan jaringan internet sehingga pengiriman data dapat berjalan tepat waktu. Namun, Kakanwil Ditjen PBN Provinsi NAD mengakui bahwa Kanwil menghadapi kendala dalam penyiapan gudang arsip serta lay out Kanwil Layanan Unggulan (KLU) dengan konsep front office (FO) dan middle office (MO).
Rombongan Sekretaris Ditjen PBN tiba di Lhokseumawe sekitar pukul 20.00 WIB. Rombongan diterima oleh Kepala KPPN Lhokseumawe, Edy Prayitno dengan menunjukkan bangunan baru yang sedang dibangun untuk ditempati KPPN Lhokseumawe. Dalam suasana yang gelap di sekitar gedung baru tersebut, Sekretaris Ditjen PBN tampak serius berdiskusi dengan Kakanwil dan Kepala KPPN tentang tata ulang lay out KPPN Lhokseumawe agar disesuaikan dengan konsep kantor pelayanan modern yang telah dicanangkan Direktur Jenderal Perbendaharaan.
Di depan seluruh pegawai Kanwil Ditjen PBN Provinsi Sumatera Utara,  Sekretaris Ditjen PBN menyampaikan pesan Dirjen Perbendaharaan bahwa Dirjen Perbendaharaan berterima kasih sehubungan dengan (1) kita berhasil tutup tahun anggaran dengan tepat waktu, (2) likuiditas kita mengalami surplus sehingga tidak masalah mengalami tahun anggaran baru, (3) dalam rangka tahun anggaran baru, kita berhasil terbitkan DIPA dan melaksanakan penyerahan DIPA oleh Presiden, sedangkan penyerahan DIPA oleh Kakanwil kepada Gubernur/Walikota/Bupati secara tepat waktu.
2. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Barat
5. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Maluku
7. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTB
KPPN Cilacap dapat dicapai dalam waktu 1.5 jam dengan angkutan darat dari kota Purwokerto. Kantor yang terkesan darurat karena bertempat di gedung yang sedianya diperuntukkan untuk rumah dinas kepala kantor, terlihat tetap berusaha mengedepankan pelayanan prima untuk para stakeholder-nya. KPPN yang diresmikan pada tanggal 28 Mei 2004 tersebut telah merubah tampilan lay-out ruang pelayanannya tiga tahun belakangan layaknya KPPN Percontohan. Sebuah usaha yang patut dihargai mengingat keterbatasan ruangan yang dimiliki kantor ini.
Pada kesempatan ini, Dirjen Perbendaharaan juga menghimbau semua pegawai untuk tidak kembali ke masa lalu dengan mengulang praktek mempersulit satker. &ldquoWalaupun (unit-unit layanan DJPBN, red) Jawa Tengah telah terbukti menjaga komitmen reformasi birokrasi sehingga diindikasikan aman tanpa adanya keluhan dari satker yang dilayani sampai saat ini, tidak berarti menjadi alasan untuk tidak memeliharanya,&rdquo seru beliau.
Dari sekian banyak KPPN di seluruh Indonesia, mungkin KPPN Purworejo yang paling yang memberikan kesan mendalam kepada Herry Purnomo. Di kantor ini, hampir dua puluh tahun yang lalu, kali pertama beliau mendapatkan promosi pejabat eselon IV. Kesan tersendiri juga dirasakan oleh beberapa pegawai yang sempat merasakan satu kantor dengan beliau di saat itu. Beberapa foto kegiatan Herry Purnomo dikala menjadi Kepala Seksi Umum di Kantor Kas Negara Purworejo sempat ditampilkan di akhir acara pengarahan.
Dalam pengarahannya di kantor yang diperKuat oleh 48 orang pegawai ini, Herry Purnomo mengapresiasi semangat KPPN Purworejo dalam memberikan pelayanan prima kepada 69 satker yang ada. &ldquoTerakhir saya ke sini beberapa waktu yang lalu, bentuk kantor masih seperti yang dulu. Sekarang, lay-out front office sudah terlihat dengan tata ruang yang cukup luas dan nyaman untuk melayani petugas satker,&rdquo ujar beliau senang.
KPPN Wates yang selesai dibangun pada bulan September 2009 dan mulai ditempati pada bulan Januari 2010 ini terlihat megah di tengah lahan yang luas. Hery Purnomo, pada saat meninjau ruang layanan (front office) dan middle office sempat mengatakan bahwa secara umum, tampilan yang ada sudah patut diapresiasi, hanya saja masih perlu adanya beberapa perbaikan, diantaranya penyediaan toilet untuk petugas satker di ruang layanan dan pemasangan sketsel untuk menghindari aliran udara langsung dari pintu masuk dan pintu keluar di belakang kantor.
Setelah mengapresiasi gedung kantor baru yang dimiliki KPPN Wates, beliau meminta para pegawai untuk tetap semangat dalam memberikan pelayanan kepada para stakeholder-nya. &ldquoSaya sangat mendukung pengembangan SMS getaway yang sudah ada,&rdquo ujar beliau menyemangati. &ldquoSaya bahkan berharap tugas pelayanan yang klerikal ke depan dapat dikurangi dengan penggunaan e-service,&rdquo tambah beliau memberikan inspirasi.
Agar komitmen pihak Perbankan dapat diwujudkan hingga level ujug tombak pelayanan, Ditjen Perbendaharaan memberikan sosialisasi kontrak jasa pelayanan perbankan tersebut kepada Direktur Kepatuhan BO I dan Bank/Pos Persepsi serta Direksi Perbankan mitra kerja Ditjen Perbendaharaan, sehingga dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangannya. Hal tersebut dilakukan mengingat vitalitas perbankan dalam menunjang pengelolaan keuangan Negara. Bahkan, Belanja Negara menurut APBN-P 2010 yang akan disalurkan oleh Bank Operasional mencapai 1.126 Triliun. Seperti kita ketahui sejak tahun 1990-an, proses pencairan dana APBN tidak dilakukan lagi secara tunai oleh kantor-kantor vertikal Ditjen Perbendaharaan, melainkan telah dilimpahkan pada perbankan. 

