Liputan Rapat Koordinasi Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur
Samarinda, perbendaharaan.go.id - Menindaklanjuti kontrak kinerja antara Direktur Jenderal Perbendaharaan dengan pimpinan unit eselon II, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur menyelenggarakan rapat koordinasi pada tanggal 25 s.d. 27 Juni 2010 yang dilangsungkan di Hotel Grand Sawit Samarinda.
Rapat Koordinasi kali ini disamping untuk mensosialisasikan 7 target IKU Kanwil juga dalam rangka merumuskan dan menetapkan strategi dalam pencapaian IKU. Untuk itu, tema yang diangkat pada rakor kali ini adalah Peningkatan Pemahaman Stakeholders Terhadap Tugas Bidang Perbendaharaan yang merupakan salah satu target IKU Kanwil. Harapannya, dengan semakin tingginya pemahaman seluruh jajaran Kanwil Ditjen Perbendaharaan tentang pengelolaan kinerja melalui IKU, termasuk teknis pengelolaannya, dan pemahaman stakeholders akan tugas bidang perbendaharaan maka akan tercipta gerakan bersama yang akan memuluskan upaya organisasi dalam mencapai tujuannya.
Disamping tema utama tersebut diatas, pokok bahasan rakor juga mengangkat beberapa isu penting lain yaitu isu yang menyangkut penerapan SOP KPPN Percontohan pada KPPN Non Percontohan, pencapaian target IKU Kanwil tahun 2010, dan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas sehari-hari.
Rapat Koordinasi dengan peserta seluruh pejabat eselon III dan IV pada Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur, Kepala KPPN dan satu Kepala Seksi di setiap KPPN lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur, dibuka oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kaltim, Abdullah Nanung. Dalam sambutan pada pembukaan rakor beliau menekankan akan pentingnya komitmen para pegawai dalam mensukseskan pencapaian tujuh IKU Kanwil. “Keberhasilan pencapaian IKU memerlukan dukungan, kerjasama, dan komitmen bersama yang kuat dari para pegawai dalam memenuhi target yang ditetapkan dalam IKU Kanwil”, ujar Abdullah Nanung.
Selepas pembukaan, rakor dilanjutkan dengan paparan dari masing-masing Bidang Kanwil dan KPPN. Paparan pertama disampaikan oleh Kepala Bidang Pelaksanaan Anggaran (PA) I yang mengemukakan mengenai permasalahan yang terjadi selama ini terkait dengan revisi, penelaahan DIPA, dan perencanaan kas. Tingkat penyerapan dana yang rendah dan deviasi antara rencana penarikan dan realisasinya yang terlalu besar menjadi bahasan utama Bidang PA. Selanjutnya berturut-turut, bidang PP mengulas permasalahan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara dan pembinaan KPPN, Bidang Aklap mengenai hambatan dan tantangan dalam penyusunan laporan keuangan tingkat wilayah serta usaha dalam peningkatan kualitas LKPP. Masih pada hari yang sama, paparan dilanjutkan oleh Kepala Bagian Umum. Pembahasan permasalahan seputar SDM, sarana dan prasarana pendukung menjadi bagian yang ditanggapi sangat antusias dan beragam dari para peserta rakor.
Pada hari kedua, rakor dilanjutkan dengan paparan dari para Kepala KPPN. Pada kesempatan ini dibahas mengenai permasalahan pelaksanaan tugas sehari-hari di KPPN baik dalam hal penyaluran dana, aplikasi, perencanaan kas, penyusunan laporan, dan TSA maupun permasalahan pelayanan dan tingkat kepuasan mitra kerja. Pembahasan/diskusi berjalan hangat dan dinamis serta menghasilkan beberapa solusi/rekomendasi. Namun demikian, tidak semua pembahasan menghasilkan jalan keluar, ada beberapa yang memerlukan solusi/tindaklanjut dari kantor pusat. Memanfaatkan kegiatan rakor ini, tak lupa dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tupoksi Kanwil dan KPPN serta pencapaian kinerja selama tahun 2009 dan 2010. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi masalah dan kendala yang dihadapi, serta untuk mencari solusi dan langkah-langkah antasipasi yang tepat dikemudian hari.
Isu sentral yang menjadi tema utama rakor kali ini adalah salah satu IKU Kanwil yaitu Tingkat Pemahaman Stakeholders Terhadap Tugas Bidang Perbendaharaan. Hal ini diangkat dikarenakan tingkat pemahaman merupakan sesuatu yang bersifat kualitatif sehingga diperlukan indikator-indikator untuk menilai tingkat pemahaman secara kuantitatif. Setelah melalui perdebatan yang panjang dan alot, akhirnya dihasilkan suatu rumusan dan alat yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman stakeholders. Disepakati, metode yang digunakan untuk melakukan pemetaan yaitu survey/penyebaran kuisioner kepada stakeholders. Kuisioner berisi pernyataan seputar pengetahuan tentang peraturan perbendaharaan, tatacara revisi dan penelaahan DIPA, dispensasi UP/TUP, pencairan dana, penguasaan TI (terkait aplikasi-aplikasi), penyusunan dan rekonsiliasi laporan keuangan, dan lain-lain.
Dari hasil pemetaan akan diperoleh tingkat pemahaman satuan kerja serta tindak lanjutnya berupa sosialisasi atau bimbingan teknis. Sedangkan strategi yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman stakeholders adalah antara lain dengan melakukan pre test dan post test pada setiap sosialisasi yang diadakan, dan mengadakan bimbingan teknis terkait dengan aplikasi-aplikasi pendukung dan peraturan-peraturan perbendaharaan negara. Dalam meningkatkan pemahaman di bidang perbendaharaan ini tidak hanya dilakukan kepada pihak luar saja (satker) namun demikian “kedalam” pun akan terus ditingkatkan, yaitu melalui kegiatan GKM dan sharing session secara teratur dan berkesinambungan.
Setelah melalui pembahasan dan diskusi yang panjang, menjelang tengah malam, rekomendasi dan usulan hasil rakor berhasil disusun dan disepakati bersama. Diharapkan kesepakatan dan rekomendasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kanwil dan KPPN dimasa-masa yang akan datang.
Keesokan harinya, di minggu pagi yang cerah bertempat di lapangan tenis kanwil, dilangsungkan acara ramah tamah dan hiburan dengan maksud untuk lebih meningkatkan rasa kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi antar pegawai. Acara diawali dengan olah raga senam pagi bersama yang dilanjutkan dengan pertandingan bola volley antara Tim Kanwil dan Tim KPPN, serta sarapan pagi bersama. Suasana yang sederhana dan penuh rasa kekeluargaan ini mampu mencairkan suasana sebelumnya yang penuh perdebatan sengit dan alot.
Pesan Kepala Kanwil kepada para peserta rakor untuk tetap semangat dan selalu menjalin kerjasama dalam upaya memberikan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat. Tiba saatnya rakor kanwil ini ditutup, dan saatnya pula para peserta kembali ke tempat tugasnya masing-masing dengan membawa tugas yang cukup berat sebagai abdi negara untuk memberikan pemahaman kepada stakeholders terhadap bidang tugas perbendaharaan. Besar harapan, kiranya rakor ini dapat memberikan kontribusi positif bagi tercipta gerakan bersama, khususnya di lingkup Kanwil Ditjen. Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur, yang akan memuluskan proses pencapaian tujuan organisasi kita tercinta, Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
Dilaporkan oleh : Meda Febriana A.








harus cepat kita wujudkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia secara terus menerus. Untuk itu, seluruh pegawai harus diberikan bekal tentang pengetahuan dan teknis pelayanan yang baik, misalnya bagaimana tata krama ketika menjawab telepon, menyambut tamu dan lain-lain. Sehingga melalui kegiatan training service excellence ini, layanan unggulan yang baru kita launching dapat memberikan kepuasan bagi para stakeholders.
Karena hanya dengan ketulusan, seseorang akan mampu tersenyum. Oh ya, tentunya senyum dengan rumus 2-2-7-7, dua senti ke kanan dan kiri, tunjukkan tujuh gigi anda dan tahan selama tujuh detik.
Papua dan Maluku Azhar Rasyidi serta dari Kanwil Ditjen Kekayaan Negara Propinsi Papua dan Maluku diwakili oleh Kasiamen Purba selaku Kepada Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara yang mewakili Kepala Kantor Wilayah Ditjen Kekayaan Negara Propinsi Papua yang saat itu berhalangan hadir.
Selanjutnya Kepala Kantor Wilayah Ditjen Bea Cukai Propinsi Papua Azhar Rasyidi melakukan presentasi mengenai target Penerimaan Negara dari Bea dan Cukai untuk wilayah Propinsi Papua dan Papua Barat termasuk mengenai sejumlah kendala dan tantangan yang dihadapi
Rapat kerja berjalan dengan intens dan dinamis, karena menariknya topik-topik bahasan sampai tidak terasa waktu di Aula Gedung Kantor Wilayah Kanwil Pajak sudah menunjukkan pukul 16.00 WIT yang berarti melampaui waktu menurut jadwal acara yang diberikan oleh Protokoler DPR-RI. Penutupan rapat Kerja yang dilakukan oleh Ketua Komisi XI DPR-RI Ir.H.I Emir Moeis M.Sc dan selanjutnya dilakukan pertukaran Cinderamata antara Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Propinsi Papua Bjardianto Pudjiono dengan Ketua Komisi XI DPR-RI Emir Moeis kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara rombongan Komisi XI DPR-RI dengan jajaran pimpinan Kantor Vertikal Kementerian Keuangan di Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat.
Gedung baru yang berdesain modern tersebut merupakan salah satu wujud komitmen pelayanan maksimal kepada stakeholders. “ Selama ini image yang ada di masyarakat bahwa gedung maupun kantor pemerintahan terkesan angker, tidak transparan, membuat orang enggan untuk memasukinya, “ kata Bayu Andy Prasetya, Kepala KPPN Pacitan saat memberikan sambutannya. “ Dengan adanya pembangunan gedung baru tersebut yang didesain untuk semua pihak dapat melakukan pengawasan akan menghilangkan anggapan tersebut,” lanjut beliau.
Berdirinya bangunan KPPN Pacitan yang baru dimaksudkan untuk mewujudkan peningkatan fasilitas layanan oleh KPPN Pacitan kepada masyarakat Kab. Pacitan. Pembangunan dilakukan sebagai wujud atas tuntutan reformasi birokrasi yang sedang bergulir. “Renovasi yang dilakukan bukan semata-mata untuk bermegah-megahan atau bermewah-mewahan di tengah-tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya stabil ini” ujar Bayu Andy Prasetya dalam pidatonya. “ Sebuah layanan prima (service excellence) ternyata tidak cukup hanya dengan semangat serta aspek mental aparat semata. Aspek tangible atau fisik tempat pelayanan itu dilaksanakan, ternyata telah menjadi sebuah keniscayaan yang harus selaras dengan kebutuhan atas layanan prima tersebut “ lanjut beliau.
Acara rapat gabungan ini sengaja dilakukan guna mengulas kembali tentang pelaksanaan TSA Penerimaan Negara kepada Bank-Bank Persepsi dan menyamakan persepsi terhadap Perjanjian Jasa Pelayanan Perbankan sebagai Bank Persepsi, untuk menghindari adanya kesalahan dan keterlambatan pelimpahan serta keterlambatan dalam penyampaian laporan harian sebagaimana pula telah dilakukan oleh Pimpinan di tingkat Pusat maupun di Provinsi seluruh Indonesia. Acara ini dihadiri oleh 5 Bank Persepsi dan 1 Kantor Pos Persepsi.
Kunjungan kerja Kepala Kanwil bertujuan untuk mensosialisasikan Penerapan System Operating Procedure (SOP) KPPN percontohan pada KPPN Serui terkait rencana KPPN Serui yang akan diikutkan lomba Penilaian KPPN Non Percontohan Tingkat Nasional. Dalam kesempatan tersebut Kepala Kanwil menyampaikan arahan berupa perlunya penyempurnaan Lay Out di Front Office untuk mengoptimalkan pelayanan kepada satker. Kemudian Beliau juga menegasakan larangan bagi pegawai KPPN untuk tidak menerima pemberian dalam bentuk apapun dari satker atas pelayanan yang diberikan (larangan gratifikasi).
Di penghujung acara, Kepala Kanwil memberikan santunan untuk meringankan beban fisik maupun psikologis para pegawai KPPN Serui. Beliau juga memberi nasehat agar para pegawai KPPN Serui tetap bekerja dengan baik pasca gempa yang sempat membuat trauma sebagian pegawai KPPN Serui.
Disamping itu, diingatkan juga kepada masing-masing pimpinan bank persepsi dan kantor pos diminta agar para petugasnya yang berada di loket penerimaan negara untuk selalu meningkatkan ketelitian, ketertiban dan kebenaran pengisian atas surat-surat setoran ( SSP,SSBP,SSBP maupun SSPCP) dan menyampaikan speciment tanda tangan para petugasnya kepada KPPN di wilayah kerjanya termasuk apabila terjadi pergantian petugas loket penerimaan.
Acara dilanjutkan dengan pengarahan dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Manado, Iskandar, yang baru bulan Juni ini mulai bertugas di Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Manado, menggantikan Hasudungan Siregar. Dalam sambutannya disampaikan bahwa forum koordinasi ini sangat penting dimana penerimaan Negara dilakukan oleh sektor perbankan yang memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengkoleksi penerimaan Negara. Bapak Iskandar menambahkan bahwa jika penerimaan Negara berjalan dengan baik maka penyelenggaraan Negara akan berjalan dengan baik pula. Beliau berpesan agar koordinasi antara KPPN dengan bank/pos persepsi semakin diperkuat.
Terkait dengan MPN dan TSA Penerimaan pada sesi 2 dipaparkan oleh Kartono dan M. Ricky, yang menyampaikan bahwa sahnya penerimaan negara saat ini adalah ditandai dengan validasi penerimaan Negara dengan adanya Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dan Nomor Transaksi Bank/Pos (NTB/NTP). Saat ini masih terdapat Bank BPD yang merekam penerimaan dari Pemda secara kolektif, sehinga NTPN dan NTB tidak tergambar dalam SSP. Hal ini merugikan Bank dan Wajib Pajak. Bank rugi karena tidak mendapatkan imbalan jasa sesuai dengan jumlah SSP yang diterima, sedangkan WP kesulitan membuktikan pajak yang disetor ke KPP yang meminta NTB dan NTPN. KPPN sendiri telah melakukan pendekatan secara persuasif kepada pimpinan bank yang bersangkutan untuk meningkatkan pelayanan penerimaan negara ini dengan cara merekam penerimaan per lembar setoran, namun pihak bank masih memiliki beberapa kendala.

