- Nasional
- Dilihat: 3393
Bangunkan Angka, Gugah Fakta
Liputan Workshop Metodologi Riset Terapan-Bidang Pengelolaan SDM
Bogor, perbendaharaan.go.id - Bagian Administrasi Kepegawaian menyelenggarakan Workshop Metodologi Riset Terapan (Bidang Pengelola SDM) pada tanggal 10 s.d. 15 Februari 2014, di Bogor. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Ditjen Perbendaharaan dengan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB dan menjadi bagian dari program employee engagement tahun 2014.
Peserta workshop tersebut merupakan pejabat/pegawai pengelola SDM atau pejabat/pegawai lain yang ditunjuk Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan, dengan kriteria memiliki kemampuan berfikir kritis dan analitis serta dipandang mampu menyelesaikan kajian/penelitian pengelolaan SDM yang akan disusun pasca workshop. Jajaran narasumber yang digawangi oleh Prof. Noer Azam Achsani memberikan materi secara komprehensif sesuai kaidah metodologi penelitian, dimulai dari perumusan masalah, desain sampling, desain instrumen/kuisioner, pengolahan dan analisis data survei yang lebih tajam dan dapat diterapkan, seperti analisis deksriptif, Importance Performance Analysis (IPA), korelasi, regresi, biplot dan korespondensi.
Penyajian materi didominasi oleh penelitian kuantitatif dengan lebih melibatkan partisipasi aktif perserta (hands-on) melalui diskusi dan praktik pengolahan/analisis data. Selain itu, pada workshop tersebut juga diberikan materi mengenai penelitian kualitatif sebagai varian yang dapat dijadikan alternatif dan dapat dikombinasikan dengan penelitian kuantitatif.
Sebagai bentuk menjalin keintiman antara pengelola SDM instansi pusat dan vertikal, disela workshop disisipkan perbincangan mengenai problematika dan tantangan pengelolaan SDM Ditjen Perbendaharaan ke depan yang disajikan dalam format talkshow dengan menghadirkan Yanti Munthe (Konsultan SDM dari PT. ARA Indonesia), Sumedi dan Tanti (Peneliti FEM-IPB) serta Muhammad Arif yang mewakili Kepala Bagian Administrasi Kepegawaian. Pada talkshow tersebut dikupas hasil survei employee engagement dan rencana aksi (rumusan kebijakan) sebagai bentuk tindak lanjut rekomendasi hasil survei (infographic dan rilis hasil survei terlampir). Perhatian khusus patut diberikan kepada pegawai crash and burners (kinerja sedang-tinggi, namun kepuasan rendah) yang setipe atau berada di kuadran 7 dan 9 (kompetensi-kinerja tinggi). Pegawai di level almost engaged diibaratkan sebagai swing voters yang rentan berubah tingkat engagement dan loyalitasnya, jika tidak terdapat perbaikan kebijakan konkrit yang mereka rasakan.
Workshop ini digelar guna mendukung cetak biru pengelolaan SDM Ditjen Perbendaharaan jangka menengah yang telah dituangkan dalam sebuah Grand Design tahun 2013-2017. Terjadi pergeseran paradigma pengelola SDM yang semula berperan sebagai unit supporting dan melaksanakan tugas yang bersifat administratif, menjadi mitra strategis dalam pencapaian visi/misi dan menghadapi tantangan tugas Ditjen Perbendaharaan ke depan. Salah satu peta strategi grand design yang ditetapkan adalah pengembangan budaya kerja pegawai yang analitis, responsif dan berorientasi pada teknologi informasi. Oleh karena itu, pengelolaan SDM dituntut memiliki komitmen dan program yang sejalan dengan strategi tersebut.
Sebagaimana kita ketahui pada tahun 2013 telah dilakukan survei employee engagement oleh Bagian Administrasi Kepegawaian Ditjen Perbendaharaan yang bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Survei ini bertujuan untuk menilai kinerja pengelolaan SDM secara cover both side (kepuasan pegawai dan kontribusi pegawai terhadap organisasi) yang kemudian dipetakan dalam level engagement pegawai. Lebih jauh level engagement dianalisis dengan profil kompetensi dan kinerja pegawai yang dipetakan dalam 9 box/kuadran untuk mengetahui kedudukan/hubungan dan kemiripan karakteristik diantara keduanya.
Pada tataran praktik, terdapat beberapa permasalahan pengelolaan SDM yang tertangkap dalam survei employee engagement dan perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan konkrit. Sebagai bahan pendukung perumusan kebijakan rekomendasi survei, diperlukan sebuah kajian/penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kajian/penelitian tersebut jika diperkaya dengan analisis data sekunder yang tersedia saat ini, seperti Sistem Informasi Kepegawaian (SIK), Analisis Beban Kerja (ABK) dan Kajian Fiskal Regional (KFR), akan lebih mempertajam kualitas kajian dan memiliki daya dorong Kuat untuk perbaikan kebijakan ke depan.
Oleh: Ahmad Nurholis - Bagian Administrasi Kepegawaian











Dalam sambutannya. Anny menekankan urgensi pengaturan terkait Bendahara yang diatur dalam PMK No. 162/PMK.05/2013 dan peran setiap Setjen dalam pelaksanaan peraturan tersebut. Anny juga menekankan hubungan pengelolaan uang oleh Bendahara dengan kebijakan fiskal Indonesia. Sementara pemaparan isi PMK disampaikan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan, Marwanto Harjowiryono dengan moderator Direktur Pengelolaan Kas Negara, Rudy Widodo.
Rapat Koordinasi kali ini terasa istimewa, karena Direktur Jenderal Perbendaharaan, Plt. Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, Kabag Administrasi Kepegawaian, Kabag Organisasi dan Tata Laksana, dan Kabag Umum Setditjen Perbendaharaan, serta Kasubdit Dabantek Direktorat Pelaksanaan Anggaran, Kepala Seksi Transformasi Perangkat Keras Subdit Transformasi TI Direktorat Transformasi Perbendaharaan dan Kepala KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah bersedia hadir untuk menjadi narasumber.
Dalam kedua panel ini, terjadi interaksi yang menarik antara para narasumber dan peserta rakor. Para peserta mendapat banyak kesempatan untuk menceritakan kendala-kendala yang dihadapi di wilayah dan mendapatkan solusi permasalahan mereka. 
Sedangkan untuk Nilai Kinerja Organisasi (NKO) Ditjen Perbendaharaan mencapai 105,22 %, nilai tersebut masuk kedalam kategori tinggi. 
&rdquoDi bidang pelayanan, kita meraih indeks kepuasan pengguna layanan di tahun 2014 sebesar 4,09 yang terus meningkat sejak tahun 2011 dan selalu berada di atas rata-rata Kementerian Keuangan,&rdquo imbuhnya.
Terkait Treasury Dealing Room (TDR) di Kementerian Keuangan yang belum terbentuk, Dr. Kang Kyeong-Hoon berpendapat bahwa teori portofolio adalah teori keuangan yang merupakan teori seleksi dengan tingkat optimal expected return dengan tingkat resiko tertentu berdasarkan efficient frontier . TDR dalam menentukan portfolio harus mempertimbangkan dan mengeleborasi efek dari setiap transaksinya terhadap &lsquomoney market&rsquo . TDR harus mempertimbangkan short term dan medium term dari portfolio. Risk management dari TDR, portofolio pemerintah, memiliki beberapa resiko: liquidity risk, foreign exchange risk dan sebagainya. Beberapa rekomendasi yang menurutnya perlu diperhatikan dalam proses pembentukan TDR, koordinasi antara institusi terkait. Koordinasi ini akan disampaikan lebih detail oleh pembicara berikutnya. Rekomendasi berikutnya adalah percepatan komputerisasi, sebagaimana pemerintah Indonesia telah berhasil dalam pelaksanaannya. Untuk jangka pendek dan menengah perlu dipertimbangkan in house TDR, namun pada Long run term, harus dipertimbangkan outsourcing pengelolaan dari TDR.
Dalam hal Peningkatan koordinasi antara Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Pengelolaan Utang, Dr. Bae Young-Soo menyampaikan hasil penelitiannya, bahwa Pemisahan antara Ditjen Perbendaharaan dengan Ditjen Pengelolaan Utang berakibat lemahnya koordinasi antara kedua direktorat dimaksud dalam mengambil suatu kebijakan terhadap kebijakan-kebijakan yang menyangkut pada Asset dan Liability Management . Ia menyampaikan rekomendasi untuk jangka pendek (short term policy ), komite yang menangani pengelolaan Asset dan Utang diharapkan lebih aktif dalam menjalin kerjasama. Untuk jangka menengah (medium term policy ), perlunya restrukturisasi organisasi antara Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Pengelolaan Utang. Untuk jangka panjang, supervisi atas pengelolaan utang harus ada pada tingkat nasional, artinya harus ada supervisi bersama antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Mengenai SPAN, Marwanto menegaskan kembali komitmen jajarannya. Dengan dimulainya Piloting SPAN pada tanggal 2 Januari 2014 yang lalu, maka menurutnya tidak akan ada kata kembali ke produk legacy, &ldquono point of return,&rdquo ujarnya dihadapan para peserta Rapimtas. Oleh karena itu, ia meminta seluruh komponen Ditjen Perbendaharaan wajib mendukung keberhasilan implementasi SPAN di setiap fase pelaksanaannya. Komunikasi dan edukasi kepada seluruh stakeholder harus sesegera mungkin dilakukan dan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Marwanto melanjutkan, bahwa dalam waktu dekat Ditjen Perbendaharaan akan melakukan Piloting SPAN dan SAKTI. Ia meminta semua pihak untuk memberikan dukungan penuhnya dalam menunjang kesuksesan piloting tersebut. Selain itu, Secara parallel pula accrual accounting akan dimulai pada semester II tahun 2014.
Saat ini tengah dilakukan persiapan Piloting SPAN yang rencananya akan dilakukan secara bertahap mulai dari Kantor Pusat, Kanwil dan KPPN Wilayah Jawa, hingga akhirnya sampai ke Kanwil dan KPPN luar Jawa. Pada semester I tahun 2014 ini juga dilakukan penyempurnaan SAKTI agar siap di deploy ke seluruh Kementerian/Lembaga dan Satuan Kerja pada Semester II tahun 2014. Secara parallel pula accrual accounting akan dimulai pada semester II tahun 2014. 

