- Nasional
- Dilihat: 6325
Liputan Bimtek Penyusunan Rka-K/L 2014 Format Baru Dan Peran Apip Dalam ReVIu Rka-K/L
Kamis, 10 Oktober 2013 &ndash Direktorat Jenderal Anggaran bekerja sama dengan Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan Bimbingan Teknis Penyusunan RKA-K/L 2014 dan Session Sharing Peran APIP dalam reviu RKA-K/KL. Bimbingan Teknis ini dilaksanakan di Hotel Clarion Makassar dan dihadiri kurang lebih 250 satker dan APIP perwakilan dari 34 Kementerian/Lembaga Mitra Kerja Direktorat Jenderal Anggaran di Makassar. Bimtek tersebut diawali dengan pengarahan sekaligus pembukaan Bimtek oleh Dwi Pudji Astuti Handayani Direktur Anggaran II Direktorat Jenderal Anggaran. Dwi Pudji dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan pelaksanaan bimtek ini adalah melaksanakan salah satu tupoksi DJA yaitu memberikan bimbingan teknis dalam penyusunan RKA-KL dan juga sosialisasi terkait peraturan-peraturan terbaru mengenai penyusunan RKA-KL. Dengan terbitnya PMK-194/PMK.02/2013 tentang Pedoman Penyusunan RKA-K/L tahun 2014 maka terdapat beberapa perubahan paradigma antara lain penekanan fungsi penganggaran pada kementerian/lembaga dan peran APIP dalam reviu penyusunan RKA-K/L.
Bimtek dilaksanakan dengan dua sesi yaitu sesi pemaparan materi narasumber dan sesi bimbingan teknis pendalaman materi penyusunan RKA-K/L 2014. Sesi pemaparan materi menghadirkan 3 narasumber yaitu Kepala Kanwil DJPBN Provinsi Sulawesi Selatan yang membawakan materi Spending Reviu, Kasubdit Sistem Penganggaran DJA dengan materi Penyusunan RKA-KL dan Sharing Session Peran APIP Kementerian/ Lembaga dalam Reviu RKA-KL oleh Inspektorat VI Itjen Kementerian Keuangan yang diwakili oleh auditor madya inspektorat Kementerian Keuangan.
Kepala Kanwil DJPBN Provinsi Sulsel, Bilmar Parhusip dalam materinya menyampaikan bahwa Penyerapan anggaran diharapkan mempercepat pencapaian output guna mewujudkan outcome. Penyerapan anggaran dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun faktanya penyerapan anggaran selalu menumpuk diakhir tahun anggaran. Kinerja anggaran bukan hanya diukur dari sekedar penyerapan anggaran saja tetapi akan turut dibobot melalui kwalitas output dan outcome. Hal ini sejalan dengan UU No. 17 tahun 2003. Salah satu prinsipnya adalah akuntabilitas yang berorientasi hasil. Bukan hanya anggarannya habis tapi yang terpenting adalah tercapainya kinerja. Untuk itu Spending Review diperlukan dalam rangka peningkatan efisiensi dan efektifitas perencanaan dan pelaksanaan anggaran sehingga dapat dipastikan antara lain tercapai belanja yang berkualitas. Spending Reviu dilaksanakan oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan bekerja sama dengan satker kementerian/lembaga. Dalam paparannya yang lain disampaikan bahwa Kenaikan pagu APBN hendaknya diikuti dengan kenaikan indikator pembangunan misalnya dari indikator Human Development Index. Selanjutnya digambarkan contoh-contoh kegiatan yang inefisien dan hasil reviu pelaksanaan anggaran 2012.
Narasumber kedua, Kasubdit Sistem Penganggaran, Made Arya Wijaya menyampaikan latar belakang terbitnya PMK tentang penyusunan RKA-K/L yaitu penyempurnaan penerapan anggaran berbasis kinerja, penyempurnaan pemisahan peran antara Menteri Keuangan sebagai Chief Financial Officer (CFO), Kementerian Perencanaan sebagai Chief Planning Officer (CPO) dan Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai Chief Operational Officer (COO) serta menyediakan payung hukum terkait keterlibatan unit Aparat Pengawasan Intern Kementerian/Lembaga (API K/L) dalam meneliti RKA-K/L sebagai quality assurance. Melalui PMK Penyusunan RKA-K/L ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas RKA-K/L dan DIPA dalam rangka meningkatkan kualitas belanja serta menjamin tersedianya data anggaran yang valid melalui penyederhanaan dokumen penelaahan dan minimalisir blokir. Dalam pemaparan selanjutnya dijelaskan format-format yang digunakan dalam penyusunan RKA-K/L, dokumen penelaahan, dan dokumen hasil penelaahan RKA-K/L.
Narasumber ketiga, Heru Sutanto, auditor madya Inspektorat Kementerian Keuangan menyampaikan latar belakang perlunya APIP dalam reviu RKA-K/L. Dijelaskan latar belakang adanya review penyusunan RKAKL sebagai amanah PMK-94/PMK.02/2013 antara lain karena permasalahan dalam anggaran. Tujuan Reviu RKA-K/L adalah untuk memberi keyakinan terbatas mengenai akurasi, keandalan dan keabsahan, bahwa informasi dalam RKA-K/L sesuai dengan RKP, Renja K/L dan Pagu Anggaran serta kesesuaian dengan standar biaya dan dilengkapi dokumen pendukung RKA-K/L.
Heru menjelaskan ruang lingkup reviu yaitu : Konsistensi pencantuman sasaran kinerja dalam RKA-K/L dengan Renja K/L dan RKP, Kesesuaian total pagu dan rincian sumber dana dalam RKA-K/L dengan Pagu Anggaran K/L, Kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah penganggaran serta Kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L antara lain: RKA Satker, TOR/RAB, dan dokumen pendukung terkait lainnya.
Setelah pemaparan materi selesai, dilanjutkan oleh sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator Sudadi, Kasubdit Anggaran II-C Direktorat Jenderal Anggaran. Sebagian besar pertanyaan peserta adalah terkait tugas APIP dalam reviu RKA-K/L karena merupakan hal yang baru dan terdapat saran dari auditor KPU agar dapat kiranya diberikan juga bimtek kepada para satker oleh Ditjen Perbendaharaan terkait dengan Spending Reviu.
Setelah istirahat sesi selanjutnya diisi dengan pendalaman materi penyusunan RKA-K/L terkait teknis aplikasi yang dipandu oleh tim teknis dari Direktorat Jenderal Anggaran. Melalui kegiatan ini diharapkan proses penyusunan RKA-K/L tahun 2014 dapat lebih baik sehingga fungsi RKA-K/L sebagai kunci tercapainya tugas-tugas pembangunan dapat tercapai.











Tim Penilai yang diketuai oleh Charmeida Tjokrosuwarno Kepala Biro Organta Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan terlihat senang melihat perkembangan kantor daerah yang modern seperti KPPN Bangko. Kedatangan ketua tim pagi itu didampingi oleh Dini Kusumawati Tenaga Pengkaji Bidang Perencanaan Strategik Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan M. Arief Setiawan Wakil Sekretaris Pengadilan Pajak.
Loker khusus yang disediakan untuk pengambilan hardcopy SP2D jadi disediakan pada tempat yang mudah terjangkau. Penggunaan Kartu Ultima sebagai sarana reward kepada satker yang mempunyai indeks realisasi dan rekonsiliasi terbaik digadang sebagai inovasi asli KPPN Bangko. Begitu pula pada meja kerja di bagian middle office, hanya terlihat satu komputer per satu meja. Hal ini sengaja dikondisikan agar ketika dilakukan rolling pegawai lebih mudah, karena barang-barang pribadi pegawai hanya boleh ditempatkan pada loker yang sdah disediakan utuk masing-masing pegawai.
Kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari para narasumber. Narasumber pertama, Luky Alfirman, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF, yang memaparkan perkembangan perekonomian terkini.
Sesi pemaparan ini dimoderatori oleh Hamid Paddu, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin. Sama halnya dengan Arfan, Hamid Paddu mengharapkan dengan adanya seminar ini agar lebih memperKuat kebijakan fiskal regional dan meningkatkan perekonomian di Provinsi Sulawesi Selatan. 
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Perbendaharaan Boediarso Teguh Widodo menyampaikan bahwa untuk pengembangan dan peningkatan tranparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan, Pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah telah berkomitmen untuk menerapkan akuntansi berbasis akrual. Ia melanjutkan, ke depan, pemerintah mencanangkan adanya keselarasan antara Sistem Akuntansi Pemerintah berbasis akrual dengan Statistik Keuangan Pemerintah.
Sementara itu, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur, Pardiharto, menyatakan bahwa penilian kantor pelayanan percontohan tersebut merupakan bentuk pembinaan aparatur negara yang diarahkan untuk peningkatan kinerja pelayanan publik.
&ldquoCapaian KPPN Malang saat ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh jajaran KPPN Malang maupun Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur,&rdquo ungkap Pardiharto. &ldquoOleh karena itu, dalam kesempatan ini, atas nama pimpinan Direktorat Jenderal Perbendaharaan saya sampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pimpinan dan pegawai KPPN Malang dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur,&rdquo tambahnya.
Dipaparkan juga berbagai inovasi layanan kepada pemangku kepentingan yang antara lain Drive Thru yaitu layanan untuk pengambilan SP2D, penyerahan dan pengambilan BAR dan LPJ, penyerahan LHP Bank Persepsi serta layanan konfirmasi surat setoran. Suharyanto juga menjelaskan bahwa KPPN Malang telah ditunjuk sebagai Wilayah Bebas Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK/WBBM) dengan hasil penilaian dalam indikator proses mencapai nilai 99,19 dan indikator hasil sebesar 955 dari skala 1000 menjadikan KPPN Malang layak menjadi unit kerja berpredikat WBK dan WBBM. 
Hal yang paling menegangkan saat terjadi dialog antara tim penilai dan salah satu pegawai yang mendampingi para Kepala Seksi. Dengan pertanyaan yang ringan dari Dedi Rudaedi, dijawab dengan sangat ringan pula oleh Ninik Suciati, pelaksana seksi Verifikasi dan Akuntansi. &ldquoSenang kerja disini?&rdquo. Spontan dijawab dengan gaya medoknya &lsquosangat senang Pak&rsquo. Ketika ditanya bagaimana pelayanan kepada satuan kerja, Ninik menjelaskan bahwa ada beberapa satker yang bertanya, berkonsultasi secara pribadi di luar jam kerja baik melalui telepon atau pun sms, dan semua itu dilayani dengan ikhlas. Hal tersebut diiyakan oleh wakil dari Polres Kota Batu, Suroso yang telah menjadi Bendahara Pengeluaran sejak tahun 2008. Puas dengan layanan KPPN Malang, kendala jarak yang lumayan jauh dapat teratasi dengan pelayanan konsultasi melalui telepon atau pun sms ataupun chat dengan Customer Service Officer sehingga waktu mengajukan SPM tidak ditolak karena tidak sesuai dengan peraturan. 
Rahman, Pejabat Penandatangan SPM dari Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu membenarkan hal tersebut. Penguasaan peraturan maupun aplikasi para pegawai KPPN Malang sangat mumpuni. Tidak peduli siapa dan duduk di posisi mana, dengan pertanyaan sama pasti akan mendapat jawaban yang sama pula. Setali tiga uang dengan Rahman, wakil dari Univesitas Brawijaya juga mengatakan hal serupa. Terbantu oleh bimbingan dari Customer Service atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi. 
&ldquoTampilan fisik dari luar sama dengan gedung kami. Ketika masuk, duduk di ruang tunggu Front Office, juga hampir sama layoutnya. Ketika bertemu dengan pegawainya pun juga tidak berbeda dengan pegawai Bank Mandiri,&rdquo kata Wahyu Nurjoko mengawali kesannya. &ldquoSerasa di rumah sendiri,&rdquo lanjutnya. &ldquoBahkan mebelair, budaya kerja dan budaya perusahaan juga sama, layanan senyum dan handling-nya sama, luar biasa kerja sama dengan KPPN (Malang), hampir tidak ada celah, sangat mirip dengan Bank Mandiri,&rdquo sambungnya. 
Setelah dirasa cukup dan jam sudah menunjukkan waktu makan siang, usai sudah acara penilaian di gedung aula KPPN Malang. Ditutup oleh Kakanwil DJPB Propinsi Jawa Timur, Pardiharto. Dalam sambutannya beliau menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kedatangan tim penilai dan semoga akan berlanjut ke tingkat lebih tinggi. Sebelum benar-benar ditutup, tampil tim paduan suara menyanyikan lagu Tanah Air dan Malang Pancen Rame. Dengan sedikit gerak berirama membuat suasana semakin cair. 
Sementara itu, disaat yang sama Dirjen Perbendaharaan meresmikan secara simbolis gedung KPPN Purwakarta. Kendati gedung tersebut telah selesai dibangun beberapa tahun lalu, namun secara simbolis belum diresmikan oleh Dirjen Perbendaharaan secara langsung. Mengingat efektifitas dan efisiensi, peresmian gedung KPPN Purwakarta secara simbolis dilakukan secara bersamaan dengan KPPN Sumedang. 
Perwakilan dari satuan kerja dan mitra kerja juga ditanya mengenai kesan-kesannya selama menjadi pemangku kepentingan KPPN Jakarta I. Sebab, mengutip penjelasan dari Charmeida selaku ketua tim penilai, inilah moment of truth, stakeholders KPPN-lah yang terlibat dan merasakan sendiri layanan dari KPPN Jakarta I selama ini, bukan tim penilai. Menjawab pertanyaan ini, Supriyatno, salah satu kepala subbagian di Istana Kepresidenan mengaku sangat terbantu oleh layanan KPPN Jakarta I.
&ldquoKepemimpinan itu adalah sebuah berkah. Engkau tak bisa membelinya, tak diperdagangkan. Kepemimpinan hanya bisa dimiliki atau tidak sama sekali. Dan kepemimpinan seperti Mahatma Gandhi, yang mengembalikan seluruh yang dimilikinya kepada rakyatnya, adalah yang paling jarang kita temui di muka bumi,&rdquo demikian diungkapkan Wakil Presiden Boediono.
Pada tingkat pemerintah daerah, perkembangan kualitas akuntansi dan pelaporan keuangan, menurut Menkeu, walaupun agak tersendat pada tahun 2006 sampai 2008, saat ini juga telah menunjukkan perbaikan signifikan. &ldquoHal ini terlihat dari hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Pada tahun 2012 lalu, LKPD yang memperoleh opini WTP mencapai 116 LKPD,&rdquo paparnya. Angka tersebut meningkat signifikan jika dibandingkan dengan pada tahun 2009 lalu, dimana hanya sebanyak 21 LKPD yang memperoleh opini WTP dari BPK. 

