Liputan rapat koordinasi implementasi cetak biru transformasi kelembagaan
Jakarta, perbendaharaan.go.id- Sebagai wujud nyata dukungan Ditjen Perbendaharaan dalam upaya menyukseskan implementasi cetak biru program transformasi kelembagaan Kementerian Keuangan, telah dilaksanakan rapat koordinasi implementasi cetak biru transformasi kelembagaan serta Kick-Off Meeting Project Management Office (PMO) Ditjen Perbendaharaan(23/02). &rdquoseluruh elemen organisasi Ditjen Perbendaharaan harus bersungguh-sungguh dalam upaya implementasi cetak biru tersebut, dan harus yakin bahwa cetak biru tersebut akan mampu mentransformasi Ditjen Perbendaharaan ke arah yang tepat di masa mendatang.&rdquo kata Dirjen Perbendaharaan Marwanto Harjowiryono.
Rakor dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan dihadiri oleh seluruh pejabat eselon II di lingkungan Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DKI Jakarta, Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, para pejabat eselon III dan IV Ditjen Perbendaharaan yang terlibat dalam penyusunan cetak biru transformasi kelembagaan Kementerian Keuangan serta perwakilan konsultan McKinsey & Company.
Dalam rakor tersebut dipaparkan kembali seluruh inisiatif cetak biru transformasi kelembagaan yang terkait dengan Ditjen Perbendaharaan, kemudian dibahas hambatan-hambatan dalam implementasinya sekaligus langkah-langkah harmonisasi seluruh inisiatif tersebut.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa sebagai institusi pemerintahan yang terdepan dalam melaksanakan reformasi birokrasi, Kementerian Keuangan selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas tata kelola keuangan dan kekayaan negara dalam rangka menuju Kementerian Keuangan berkelas dunia, yang akan menjadi penggerak utama perkembangan ekonomi Indonesia yang inklusif di abad ke-21.
Salah satu upaya yang ditempuh untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui Program Transformasi Kelembagaan dengan melibatkan konsultan McKinsey & Co. Dengan output kegiatan adalah yaitu Cetak Biru Transformasi Kelembagaan 2014-2025 yang memuat hal-hal yang perlu diimplementasikan oleh masing-masing unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan untuk mencapai perubahan yang signifikan dan mendasar (transformational change).
Transformasi kelembagaan di lingkungan Ditjen Perbendaharaan dilaksanakan dalam 2 (dua) tahapan utama yaitu tahap diagnostic dengan tujuan untuk mengetahui berbagai tantangan dan hambatan yang ada dan tahap penyusunan desain cetak biru transformasi kelembagaan.
Tahap diagnostic dilaksanakan melalui pengumpulan data dan informasi melalui wawancara terhadap para pejabat dan pegawai Ditjen Perbendaharaan yang berkompeten. Sedangkan tahapan penyusunan cetak biru dilaksanakan melalui mekanisme diskusi berkelompok dalam minilabs.
Dalam program transformasi kelembagaan Ditjen Perbendaharaan tergabung dalam fungsi treasury yang berfokus pada empat fungsi utama yaitu 1). Pencairan dan penerimaan anggaran 2). Pengelolaan Likuiditas 3). Akuntansi dan pelaporan keuangan 4). Special Mission
Untuk mengawal implementasi cetak biru tersebut, maka akan dibentuk Project Management Office (PMO) di lingkungan Ditjen Perbendaharaan, dimana tugas dan fungsi utama PMO antara lain melaksanakan koordinasi seluruh unit di lingkungan Ditjen Perbendaharaan dalam implementasi cetak biru dan melaksanakan riset-riset yang terkait pemantauan dan pengukuran efektivitas implementasi milestone.
PMO melaksanakan koordinasi implementasi terhadap empat fungsi utama yaitu 1). Pencairan dan penerimaan anggaran 2). Pengelolaan Likuiditas 3). Akuntansi dan pelaporan keuangan dan Special Mission serta 4). Change Management and Communication (CMC). Saat ini PMO masih dalam tahap persiapan penyusunan peraturan dan penyusunan keanggotaannya, diharapkan pada awal Maret 2014 PMO telah dapat berfungsi secara optimal.
Dalam penyampaian kesimpulan akhir kegiatan tersebut, Direktur Jenderal Perbendaharaan menekankan bahwa jajaran pimpinan Ditjen Perbendaharaanlah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya proses transformasi ini, jangan sampai cetak biru yang sudah ada hanya menjadi sebuah wacana atau karya intelektual semata tanpa implementasi yang nyata.
Oleh : Yanuar Imbiono &ndash Kontributor Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan.









clerical menjadi analitis, hal ini dikarenakan organisasi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan di daerah melalui PMK-169/PMK.01/2012 dipercaya menjadi wakil Kementerian Keuangan di daerah, hal ini ditandai dengan adanya pendelegasian sebagian tugas dari unit eselon I Kementerian Keuangan yakni Ditjen Anggaran terkait dengan Revisi DIPA, Ditjen Perimbangan Keuangan terkait dengan Pembinaan Keuangan Daerah dan BKF terkait dengan penyusunan Kajian Fiskal Regional (KFR), Spending Review maupun Goverment Financial Statistic (GFS). Menurut Marwanto, Terkait dengan tugas-tugas tersebut diharapkan seluruh pegawai KPPN Magelang dapat mempersiapkan diri melalui peningkatan kompetensi dan kapasitas pegawai serta perubahan budaya kerja.
Hal lain yang juga menjadi arahan Dirjen Perbendaharaan adalah tanggungjawab Ditjen Perbendaharaan terhadap suksesnya implementasi SPAN, dimana mulai bulan Januari 2014 sudah dilakukan pilloting tahap I maupun II dan pada bulan maret mendatang akan dilaksanakan roll out. SPAN menjadi pertaruhan karena sukses atau tidaknya SPAN menjadi tanggungjawab seluruh pegawai Ditjen Perbendaharaan. Pada kesempatan tersebut disampaikan usulan terkait keamanan dalam bekerja karena pada masa transisi perubahan dari sistem yang eksisting menuju SPAN memerlukan kehati-hatian dan kewaspadaan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan akan merugikan pegawai bersangkutan.
Melalui distribusi beban kerja dari lima KPPN yang sudah ada, KPPN Jakarta VI mengelola pagu anggaran sebesar 18.4 triliun dengan sebanyak 218 satuan kerja. KPPN Jakarta VI dibantu oleh 49 Bank/Pos Persepsi sebagai mitra kerja. Sedangkan KPPN Jakarta VII mengelola pagu anggaran sebesar 56.6 triliun dengan sebanyak 253 satuan kerja. KPPN Jakarta VII dibantu oleh 4 Bank Operasional (BO) I dan 49 Bank/Pos Persepsi mitra kerja.
Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan pasca ditetapkannya PMK nomor 169/pmk.01/2012 telah menjadi pintu gerbang Kementerian Keuangan di daerah. Kanwil Ditjen perbendaharaan diharapkan menjadi rujukan daerah dibidang pengelolaan keuangan negara. &ldquoSetelah ada SPAN , kalau di hitung-hitung pekerjaan akan lebih banyak. Tetapi kalau kita bisa melaksanakan itu dengan baik, unit vertikal Ditjen Perbendaharaan akan naik kelas sehingga menjadi bagian dari kementerian keuangan yang paling komprehensif mengetahui kebijakan-kebijakan dibidang penganggaran&rdquo kata Dirjen Perbendaharaan Marwanto Harjowiryono.
Penyajian materi didominasi oleh penelitian kuantitatif dengan lebih melibatkan partisipasi aktif perserta (hands-on) melalui diskusi dan praktik pengolahan/analisis data. Selain itu, pada workshop tersebut juga diberikan materi mengenai penelitian kualitatif sebagai varian yang dapat dijadikan alternatif dan dapat dikombinasikan dengan penelitian kuantitatif.
Workshop ini digelar guna mendukung cetak biru pengelolaan SDM Ditjen Perbendaharaan jangka menengah yang telah dituangkan dalam sebuah Grand Design tahun 2013-2017. Terjadi pergeseran paradigma pengelola SDM yang semula berperan sebagai unit supporting dan melaksanakan tugas yang bersifat administratif, menjadi mitra strategis dalam pencapaian visi/misi dan menghadapi tantangan tugas Ditjen Perbendaharaan ke depan. Salah satu peta strategi grand design yang ditetapkan adalah pengembangan budaya kerja pegawai yang analitis, responsif dan berorientasi pada teknologi informasi. Oleh karena itu, pengelolaan SDM dituntut memiliki komitmen dan program yang sejalan dengan strategi tersebut.
Dalam sambutannya. Anny menekankan urgensi pengaturan terkait Bendahara yang diatur dalam PMK No. 162/PMK.05/2013 dan peran setiap Setjen dalam pelaksanaan peraturan tersebut. Anny juga menekankan hubungan pengelolaan uang oleh Bendahara dengan kebijakan fiskal Indonesia. Sementara pemaparan isi PMK disampaikan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan, Marwanto Harjowiryono dengan moderator Direktur Pengelolaan Kas Negara, Rudy Widodo.
Rapat Koordinasi kali ini terasa istimewa, karena Direktur Jenderal Perbendaharaan, Plt. Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, Kabag Administrasi Kepegawaian, Kabag Organisasi dan Tata Laksana, dan Kabag Umum Setditjen Perbendaharaan, serta Kasubdit Dabantek Direktorat Pelaksanaan Anggaran, Kepala Seksi Transformasi Perangkat Keras Subdit Transformasi TI Direktorat Transformasi Perbendaharaan dan Kepala KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah bersedia hadir untuk menjadi narasumber.
Dalam kedua panel ini, terjadi interaksi yang menarik antara para narasumber dan peserta rakor. Para peserta mendapat banyak kesempatan untuk menceritakan kendala-kendala yang dihadapi di wilayah dan mendapatkan solusi permasalahan mereka. 
Sedangkan untuk Nilai Kinerja Organisasi (NKO) Ditjen Perbendaharaan mencapai 105,22 %, nilai tersebut masuk kedalam kategori tinggi. 
&rdquoDi bidang pelayanan, kita meraih indeks kepuasan pengguna layanan di tahun 2014 sebesar 4,09 yang terus meningkat sejak tahun 2011 dan selalu berada di atas rata-rata Kementerian Keuangan,&rdquo imbuhnya. 

