Bandar Lampung, perbendaharaan.go.id - Kementerian Keuangan melalui sinergi antara Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan menyelenggarakan kegiatan Seminar Kebijakan Fiskal dan Ekonomi Terkini, Kamis (21/8) di Hotel Novotel Lampung. Seminar dihadiri 130 peserta terdiri dari Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Kepala Pusat Bank Daerah Lampung, para pejabat instansi vertikal di Provinsi Lampung, pejabat pemerintah daerah setempat, para ekonom, akademisi, serta pengusaha/wakil asosiasi ekonomi/perdagangan. Seminar dilaksanakan dengan tujuan memberikan gambaran perkembangan ekonomi nasional maupun ekonomi regional Provinsi Lampung kepada publik Lampung serta ajang sharing opinion di antara para pelaku ekonomi Lampung dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas fiskal di Provinsi Lampung.
Seminar diawali dengan sambutan Direktur Jenderal Perbendaharaan yang diwakili oleh Tenaga Pengkaji Bidang Perbendaharaan, Taukhid. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan seminar ini diharapkan dapat menjadi ajang komunikasi dan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan berbagai fungsi pemerintahan dalam suatu sistem pengelolaan fiskal yang sustainable. Selanjutnya beliau mengajak semua pihak untuk senantiasa secara bersama-sama, sesuai domain tugas dan keahlian masing-masing, untuk meningkatkan kualitas belanja dengan mengevaluasi seluruh komponen-komponen utama belanja serta meningkatkan efektivitas belanja yang memberikan output, outcome dan multiplier effect yang nyata terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik dan pembangunan ekonomi dan sosial. Selanjutnya Choiria Pandarita , selaku staf ahli Bidang Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Lampung menyampaikan keynote speech dari Gubernur Provinsi Lampung sekaligus membuka acara seminar secara resmi.
Acara inti seminar kali ini merupakan panel diskusi dengan menghadirkan tiga narasumber yaitu Dr. Ferry Irawan (Kepala Bidang Analisis Moneter dan Lembaga Keuangan, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF), Adhi Wiriana (Kepala BPS Provinsi Lampung), dan Adijanto (Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan).
Sesi pertama dari panel diskusi diisi oleh Ferry Irawan dengan menyajikan makalah bertema Perkembangan Ekonomi dan Fiskal Terkini. Beliau menyampaikan bahwa perekonomian global tahun 2014 diperkirakan akan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya meskipun masih terdapat kemungkinan adanya downside risk. Perkembangan ekonomi domestik pada kuartal kedua tahun 2014, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,12% (yoy). Sumber utama pendorong pertumbuhan PDB domestik ini adalah Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Sebaliknya konsumsi pemerintah dan kegiatan ekspor impor mengalami kontraksi. Sementara untuk kinerja neraca pembayaran pada kuartal kedua tahun 2014 membaik dengan adanya peningkatan surplus menjadi US$4,3 miliar. Lebih lanjut, Ferry juga menyampaikan mengenai arah kebijakan fiskal dalam RAPBN tahun 2015 yang masih akan melanjutkan reformasi pembangunan bagi percepatan pembangunan ekonomi yang berkeadilan.
Narasumber kedua, Adhi Wiriana menyajikan makalah dengan tema Perkembangan Ekonomi Lampung Terkini. Beliau menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi lampung periode 2009-2013 mencapai rata-rata 6,0%. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata per tahun nasional pada periode yang sama sebesar 5,9%. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak disertai dengan pemerataan ke segenap lapisan masyarakat. Hal ini ditandai dengan nilai Gini rasio yang cenderung meningkat selama kurun waktu lima tahun tersebut. Kontribusi sektor penyumbang terbesar terhadap PDRB Lampung tahun 2013 adalah sektor pertanian yaitu sebesar 35,54% da diikuti sektor Perdagangan, Restauran dan Hotel (PRH) sebesar 15,94%. Pada tahun 2013 inflasi Bandar Lampung meningkat menjadi 7,56%. Meski demikian angka inflasi ini lebih rendah dibanding inflasi nasional sebesar 8,38 persen.
Narasumber ketiga, Adijanto membawakan makalah dengan tema Evaluasi Pendanaan dan Keuangan Daerah. Beliau menjelaskan hubungan keuangan pusat dan daerah saat ini serta evaluasi kebijakan dan pengaturan terhadap hubungan keuangan tersebut di masa depan. Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa kebijakan fiskal daerah harus sejalan dan mendukung kebijakan makro nasional. Seluruh kebijakan makro, terutama Kebijakan Fiskal mempengaruhi Kebijakan Transfer ke Daerah. Besaran dana APBN yang diserahkan ke daerah melalui transfer ke Daerah untuk tahun 2014 adalah sebesar 592,5 triliun. Pemerintah Daerah dapat menerbitkan Obligasi Daerah untuk membiayai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan Pelayanan Publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD. 
Sesi terakhir dari panel diskusi diisi dengan tanya jawab dengan moderator Marselina Djayasinga selaku Regional Economist Kementerian Keuangan di Provinsi Lampung. Sesi diskusi ini berlangsung cukup hangat dan segar dengan besarnya antusias pertanyaan dari peserta seminar. Beberapa pertanyaan bahkan tidak mendapat jawaban yang memadai karena keterbatasan jadwal waktu seminar. Sebelum seminar dituitup, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Lampung, Sahat M.T. Panggabean juga menyampaikan pentingnya sinergi antara Kementerian Keuangan dengan Pemerintah Daerah dalam peningkatan kualitas fiskal yang mandiri. Acara seminar ditutup secara resmi pada pukul 13.30 dan dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Oleh : Kontributor Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Lampung








Sebagai langkah awal pelaksanaan KSP 2014, pada tanggal 18-21 Agustus 2014 bertempat di Jakarta telah dilaksanakan demand identification, dimana dalam kegiatan tersebut beberapa Korea Expert yang merupakan Profesor dari beberapa Universitas ternama di Korea maupun ahli di masing-masing bidang berkunjung ke Indonesia untuk melaksanakan diskusi dengan beberapa pejabat/ahli dari pihak Indonesia dan pengumpulan data dan informasi sesuai masing-masing topik joint research.
Dalam sambutannya Direktur Jenderal Perbendaharaan menegaskan bahwa kegiatan rapat regional Kanwil Ditjen Perbendaharaan se-Sumatera sangat diperlukan bagi jajaran Ditjen Perbendaharaan terutama menuju visi misi baru Ditjen Perbendaharaan &ldquoto be a world-class state treasury manager&rdquo. Dalam kesempatan ini pula Dirjen Perbendaharaan merasa bangga karena Ditjen Perbendaharaan menjadi bagian organisasi yang konsisten dan memiliki komitmen yang tinggi melaksanakan reformasi birokrasi diantaranya seluruh KPPN telah menerapkan standar KPPN Percontohan, penyaluran dana APBN dapat dilayani dengan cepat, tepat, bersih, professional dan akuntabel, sehingga berbagai penghargaan telah diterima diantaranya dari Presiden, MenPAN-RB, KPK, akademisi UI dan IPB serta hasil survei Pengelolaan Kinerja dan Implementasi Strategi Focused Organization (SFO) tahun 2013 Ditjen Perbendaharan mencapai nilai tertinggi. Namun demikian terdapat beberapa program strategis yang menuntut perhatian dan kerja keras seperti pelaksanaan piloting dan roll out SPAN dan SAKTI, MPN G2 dan persiapan akuntansi berbasis akrual. Disamping itu Dirjen Perbendaharan juga menyinggung kedisiplinan dan kode etik dari setiap pejabat/ pegawai.
Acara Rakor selanjutnya diisi dengan sharing session Kebijakan Perbendaharaan oleh narasumber Direktur Pelaksanaan Anggaran yang memaparkan tentang langkah-langkah strategis dalam rangka peningkatan kualitas pelaksanaan anggaran, Direktur Sistem Perbendaharaan memaparkan tentang pengalihan pengelolaan administrasi TNI/POLRI, Jaminan dari Perusahaan Asuransi (Surety Bond) dalam rangka pembayaran atas beban APBN, dan Layanan Data Perbendaharaan, serta Direktur Tranformasi Perbendaharaan memaparkan perkembangan SPAN, dan Kepala Bagian Keuangan menyinggung soal sarpras dan pengembangan SDM. 
Pada pleno Sesi ke II, pemaparan dilakukan oleh Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Direktur Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri dengan moderator Direktur Pelaksanaan Anggaran. Pada pleno tersebut dipaparkan pentingnya penerapan akuntansi berbasis akrual pada tahun 2015 dalam rangka menciptakan keseragaman penyusunan konsolidasi fiskal dan statistiK keuangan pemerintah, dan perlunya komitmen pejabat termasuk didalamnya dukungan politik dari Kepala Daerah dan DPRD dalam upaya peningkatan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan Value Gathering, dimulai dengan penampilan performance dari Kanwil Aceh maupun KPPN Banda Aceh, hingga materi Ceramah Umum Kegiatan Value Gathering yang disampaikan oleh Dirjen Perbendaharaan. Dalam ceramah umum tersebut, Dirjen Perbendaharaan berpesan kepada peserta agar menginternalisasikan Nilai &ndash Nilai Kementerian Keuangan ke dalam diri setiap pegawai, &ldquoAgar Nilai &ndash Nilai tersebut dapat terus terjaga secara kontinyu ke dalam diri setiap pegawai, maka kita perlu meng-internalisasikan nilai &ndash nilai yang menjadi identitas kita, misalnya melalui slogan yang mudah diingat dan dikerjakan, STOP-START-CONTINUE yaitu Pertama, menghentikan perilaku yang tidak sesuai dengan Nilai &ndash Nilai Kementerian Keuangan (STOP) , misalnya STOP (berhenti) merokok di ruangan kerja. Kedua, Memulai perilaku yang mencerminkan Nilai &ndash Nilai Kementerian Keuangan dan memulai sinergi (START), misalnya START (mulai) datang tepat waktu pada saat rapat. Ketiga, Melanjutkan prestasi serta perilaku-perilaku baik yang selama ini sudah mencerminkan Nilai Kementerian Keuangan, misalnya CONTINUE (lanjutkan) melayani stakeholders dengan hati dan ikhlas.&rdquo Ungkap marwanto memberi ilustrasi kepada peserta.
Dalam akhir ceramahnya, Marwanto kembali berpesan kepada peserta agar benar-benar mengejawantahkan Nilai &ndash Nilai Kementerian Keuangan dalam kehidupan sehari-hari, &ldquoSemoga dengan diadakannya acara ini akan mampu mengejawantahkan nilai &ndash nilai Kementerian Keuangan ke dalam kehidupan sehari &ndash hari sehingga mampu mewujudkan KINERJA BERNILAI, PRESTASI KELAS DUNIA guna mendukung visi baru Ditjen Perbendaharaan yaitu sebagai pengelola perbendaharaan yang unggul di tingkat dunia.&rdquo Imbuh marwanto, yang langsung disambut antusias oleh peserta Value gathering yang hadir.
Dalam sambutannya, Menteri Keuangan mengajak seluruh jajaran di lingkungan Kementerian Keuangan untuk tetap fokus menyelesaikan program kerja yang telah direncanakan sebelumnya, meskipun masa kerja Kabinet Indonesia Bersatu II tinggal beberapa bulan lagi. Selanjutnya, Chatib Basri menghimbau seluruh jajarannya untuk mendukung sepenuhnya program kerja yang akan disusun oleh pemerintahan selanjutnya. 
Di Makassar, sebagai langkah awal pelaksanaan sertifikasi ISO 9001:2008 semua pegawai KPPN Makassar II menandatangani piagam Komitmen Bersama dengan disaksikan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Sulawesi Selatan Alfiker Siringoringo, Kabbag OTL Setditjen Perbendaharaan Syafriadi dan beberapa konsultan dari Lembaga Surveyor Indonesia.
Training dimoderatori oleh Kepala Bidang Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan (Pushaka) Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, Supendi. Selanjutnya, Direktur Jenderal Perbendaharaan, Marwanto Harjowiryono, membuka training tersebut sekaligus memberikan sambutan dan arahan. Dalam sambutannya, Marwanto menyampaikan bahwa acara ini penting sebagai sarana menggali dan meng-improve konteks reformasi birokrasi yang sudah dilakukan Kementerian Keuangan sejak tahun 2006. Marwanto menegaskan bahwa Kementerian Keuangan perlu melihat kembali apakah diperlukan perubahan-perubahan dari milestone yang telah dicapai dalam 8 tahun perjalanan reformasi birokrasi, termasuk efektivitas penerapan balanced scorecard, karena dari hari ke hari kita pasti akan menghadapi perubahan yang tidak akan pernah berhenti dan selalu dinamis sesuai perubahan value yang ada di masyarakat.
Marwanto melanjutkan, bahwa dalam konteks reformasi birokrasi, dari evaluasi penilaian kinerja, survei kepuasan pelanggan, survei Strategy Focused Organization dan penilaian lainnya, Ditjen Perbendaharaan selalu berada di ranking atas. &ldquoNamun jangan pernah puas, karena yang lain juga bergerak lebih baik lagi. Dan jika kita bergerak lebih lambat, maka kita akan tersalip,&rdquo demikian Marwanto berpesan. Marwanto menutup sambutannya dengan memberi arahan agar para peserta training dapat mengimplementasikan materi yang diperoleh saat training melalui upaya-upaya yang bisa dilakukan di kantor masing-masing.
Mario menjelaskan langkah-langkah pembuatan strategi bagi organisasi pemerintahan, yang didalamnya mencakup penyusunan scenario planning dan identifikasi risiko strategis sebagai langkah awal untuk membuat strategi. Dalam materi rapat pembahasan strategi, Mario menegaskan bahwa rapat untuk memantau kinerja dan strategi harus berfokus pada &lsquobig picture&rsquo, 90% berfokus pada skenario ke depan, menggunakan analisis data dan grafik, dan merupakan forum pengambilan keputusan final oleh pimpinan, bukan hanya membahas &lsquokulit luar&rsquo-nya saja. 

