- Nasional
- Dilihat: 5601
Dirjen Perbendaharaan : Tantangan Terus Berkembang, Ritme Reformasi Birokrasi Harus Dijaga
Liputan Pembekalan Pejabat Eselon III Baru Tahu 2010
Jakarta, perbendaharaan.go.id &ndash Sejak bergulirnya Reformasi birokrasi di Ditjen Perbendaharaan, banyak sekali perkembangan tantangan yang harus dihadapi. Direktur Jenderal Perbendaharaan, Herry Purnomo mengungkapkan, &ldquosekarang ini banyak sekali tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh Ditjen Perbendaharaan, dimana tantangan dan permasalahan yang dihadapi terus berkembang dan memerlukan kecepatan penanganan.&rdquo  Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan kegiatan Pembekalan Pejabat Eselon III Baru Tahu 2010, Senin (20/9), di Jakarta.
&ldquoSejak reformasi birokrasi digulirkan, pada dasarnya ritme reformasi birokrasi ini harus kita jaga dan harus kita tingkatkan.&rdquo  Demikian beliau menambahkan dihadapan peserta Pembekalan Pejabat Eselon III Baru Tahun 2010.
Para pejabat eselon III baru yang ada pada Organisasi Ditjen Perbendaharaan saat ini merupakan orang yang terpilih melelui metode assessment. Pejabat eselon III memiliki peran yang sangat strategis, khusunya dalam kaitan dengan alih generasi dan persiapan terhadap perubahan kepemimpinan di masa yang akan datang. Penajaman tugas dan fungsi perbendaharaan, menuntut untuk selalu meningkatakan kemampuan dari para pejabat eselon III.
Seiring gerak organisasi yang cukup dinamis, pejabat eselon III diarahkan untuk mampu membagi waktu antara pelaksanaan tupoksi dengan perumusan pengembangan konsepsi organisasi yang sangat dinamis. &ldquoKita tidak boleh beku hanya melihat tupoksi, tapi kita juga harus kreatif bahwa nanti akan ada kebijakan dari pusat yang harus dilaksanakan, yang bisa saja belum terwadahi dalam tupoksi.&rdquo Ujar Herry Purnomo.
Lebih lanjut beliau berpesan, bahwa pejabat eselon III di kanwil Ditjen Perbendaharaan diharapkan lebih banyak melakukan desain kebijakan yang dirumuskan di kantor pusat untuk dilaksanakan, disamping kanwil Ditjen Perbendaharaan juga melakukan fungsi pelayanan.
Kemudian, Kepala KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) selaku ujung tombak pelayanan, diharuskan mampu menjamin kualitas pencairan dana dan menjaga kualitas akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Peran tersebut menjadi indikasi betapa vital keberadaan Kepala KPPN.
Selain itu, Herry Purnomo mewanti-wanti agar SOP (Standard operating procedure) dijalankan dengan baik dan benar oeh seluruh jajaran Ditjen Perbendaharaan. Pejabat eselon III dapat bertanggung jawab sekaligus mengawasi pelaksanaan SOP pada setiap unit instansinya. Penyimpangan yang terjadi dapat terdeteksi melalui indikasi pelaksanaan SOP. Dalam pengamatan beliau, dibeberapa tempat SOP masih belum dilaksanakan dengan baik dan benar.
Dalam hal kelalaian sehingga terjadinya penyimpangan SOP yang kemudian berdampak terhadap kerugian Negara, Ditjen Perbendaharaan telah melakukan tindakan tegas sampai proses pemecatan. Untuk itu, para pejabat eselon III perlu mengawasi pelaksanaan SOP secara detail.
Terkait masalah pemberitaan media masa yang memojokan Ditjen Perbendaharaan, Herry Purnomo mengatakan, &ldquoJangan harap kita dapat pujian dari media massa, buktikan saja bahwa kita sudah berubah, bahwa kita sudah jauh lebih baik.&rdquo Beliau mengaharapkan para pejabat eselon III dapat turut serta membangun citra positif Ditjen Perbendaharaan.
Diakui pula bahwa Ditjen Perbendaharaan mengalami kekosongan alih generasi kepemimpinan. Masih terdapat banyak kekosongan posisi pejabat di lingkungan Ditjn Perbendaharaan. Posisi tersebut belum bisa dipenuhi seluruhnya oleh sumber daya manusia yang ada. Assesment yang dilakukan terhadap beberapa pegawai yang secara kepangkatan telah dianggap layak, hasilnya belum memenuhi kuota.
Terlebih lagi saat ini Ditjen Perbendaharaan kesulitan untuk mencari calon pejabat eselon II. Padahal, Dirjen Perbendaharaan mengungkapkan kebutuhannya terhadap tim pengkaji yang akan mendampingi beliau yang setara dengan pejabat eselon II. Mereka akan diposisikan sebagai perumus kebijakan.
Menyikapi gap generasi kepemimpinan yang terjadi, Herry Purnomo menghimbau kepada pejabat eselon III untuk mulai melakukan talent scouting terhadap para pegawai. Melalui talent scouting pejabat eselon III diminta untuk melakukan pembinaan, sehingga nantinya akan terjadi peningkatan kualitas kapabilitas, serta tidak lupa integritas dari para pegawai. Hal tersebut merupakan langkah pembentukan  kader-kader Ditjen Perbendaharaan di segala lini.
Herry Purnomo juga mengambarkan arah perubahan kebijakan yang akan terjadi pada masing-masing direktorat di Kantor Pusat. Dinamisasi organisasi tersebut merupakan sebuah keniscayaan dari tuntutan perubahan zaman. Sebelum menutup arahannya, beliau kembali menegaskan bahwa organisasi Ditjen Perbendaharaan adalah organisasi yang dinamis, sehingga memerlukan tipe kepemimpinan yang selalu siap mengantisipasi perubahan sebagai tantangan.
Oleh : Novri H.S. Tanjung dan Sugeng Wistriono &ndash Media Center Ditjen Perbendaharaan
 








Selain itu, Direktorat PKN telah berupaya untuk melakukan peremajaan data referensi yang selanjutnya digunakan oleh sistem MPN. Salah satu sumber penting data referensi adalah data Kode Bank, Kode Cabang Bank, Nomor Rekening Kas Negara pada Bank/Pos Persepsi, kode Akun terkait penerimaan negara, dan data lainnya. Selanjutnya diperlukan pula update data yang kini berada pada KPPN-KPPN.
Selain itu, pada saat ini terdapat 101 satker dari berbagai kementerian/lembaga yang telah ditetapkan sebagai satker yang menerapkan PK BLU, dan adanya kemungkinan di masa mendatang akan semakin banyak lagi satker menerapkan PK BLU. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa kantor pusat khususnya Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU tidak dapat secara sendiri menangani keseluruhan tupoksinya karena cakupan layanan yang semakin luas. Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas, Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan KPPN perlu diberi peran yang lebih luas dalam rangka pembinaan mitra kerja satker BLU di wilayah masing-masing. Pembinaan yang akan dilaksanakan oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan KPPN mencakup peningkatan kinerja keuangan, penyusunan akuntansi dan pelaporan, serta pendampingan bagi satker yang sedang mempersiapkan untuk menjadi satker BLU.
Selain dihadiri oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan, acara buka bersama ini dihadiri para direktur, pejabat eselon 3, eselon 4 dan para pelaksana kantor pusat DJPBN. Sementara hadir sebagai penceramah adalah Ustadz H. Faisal Muhammad Ali Nurdin, Lc, MA, dosen Universitas Tazkiyah Bogor.
mensosialisasikan PP 53 (pengganti PP 30) mengenai Disiplin PNS kepada seluruh pegawai dan mensosialisasikan pembinaan KPPN kepada seluruh KPPN dilingkup wilayah kerjanya.
&rdquoKegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan media informasi menggunakan internet,&rdquo kata Muslih, Kasubbag Pengelolaan Basis Data dan Sarana Pengembangan, Bagian Pengembangan Pegawai, Sekretariat Ditjen Perbendaharaan saat melaporkan kegiatan lomba website, Senin, 23/8 lalu di Jakarta. &rdquoDi samping itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menstandarisasikan website Kanwil dan KPPN,&rdquo lanjutnya lagi.
Kanwil &ndash red) di daerah bisa lebih meningkat lagi kualitas pengelolaan maupun kuantitas beritanya,&rdquo kata Sahat M.T. Panggabean, Kepala Bagian Pengembangan Pegawai saat memberikan sambutan dalam pembukaan bimtek. &rdquoJangan sampai meng-update beritanya itu satu tahun sekali,&rdquo lanjutnya.  
Dalam ulasannya terhadap website KPPN Blitar yang memenangkan kompetisi ini, Romi mengatakan bahwa website KPPN Blitar memiliki desain yang interaktif. &ldquoDari segi konten, website KPPN Blitar kaya akan berita, dinamis dan penempatannya disajikan dengan prioritas yang sangat baik,&rdquo kata Romi Satria Wahono. &ldquoKonten yang ditawarkan pada halaman pertama sangat kaya namun tidak menghilangkan aspek user friendly pada navigasi,&rdquo sambungnya.
Pemilihan &lsquoguru&rsquo dari Korea Selatan ini disebabkan adanya kemiripan antara sistem yang diterapkan di Indonesia dengan sistem di negeri ginseng tersebut. Sebagaimana diketahui, Kementerian Keuangan tengah mengembangkan sistem pengelolaan keuangan terpadu yang disebut dengan SPAN.
Acara workshop tersebut diikuti oleh Sekjen Kementerian Keuangan, Dirjen Anggaran, Staf Ahli Kemenkeu Bidang Penerimaan Negara, Staf Khusus Menkeu Bidang TI, Pejabat eselon II dan III DJPBN, Ketua PSSU-GFMRAP, Konsultan GFMRAP, Task Team Word Bank serta Tim SPAN Consultant. Hadir sebagai nara sumber acara workshop adalah delegasi dari Kementerian Strategi dan Keuangan Republik Korea yang dipimpin oleh Kwangho Kwon. 

