- Nasional
- Dilihat: 4956
Upaya Pemahaman Perkembangan Kebijakan Fiskal Dan Ekonomi Terkini Kepada Semua Komponen Di Daerah
Liputan Regional Economist I Tahun 2013 : Seminar Kebijakan Fiskal Tahun 2013 Dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Yogyakarta
Yogyakarta, perbendaharaan.go.id - Kementerian Keuangan melalui sinergi antara BKF, Biro KLI Setjen Kementerian Keuangan dan Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi D.I. Yogyakarta, menyelenggarakan kegiatan Seminar Regional Economist hari Kamis (18/04), bertempat di Hotel Santika Premiere Yogyakarta. Kegiatan Regional Economist di Yogyakarta ini merupakan agenda pertama dari rencana 26 kegiatan serupa di kota provinsi lain di seluruh Indonesia. Hadir pada seminar tersebut sekitar 200 peserta yang sebagian besar adalah civitas akademika perguruan tinggi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Selain itu kegiatan juga dihadiri unsur instansi pusat khususnya Kementerian Keuangan dan Pemerintah Daerah serta beberapa media lokal di Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi D.I. Yogyakarta, Hendro Baskoro menyatakan bahwa kompleksitas tugas kementerian keuangan di daerah semakin mengarah kepada sistem pemikiran dan peranan secara glolal.
&ldquoPejabat di daerah dituntut tidak hanya piawai dalam hal-hal teknis sesuai tupoksi tetapi juga memahami kondisi dan kebijakan ekonomi maupun fiskal secara nasional. Karena itu kegiatan regional economist ini dipandang sangat strategis&rdquo tegas Hendro Baskoro.
Sementara itu dalam keynote speech-nya, Staf Ahli Menkeu Bidang Pengeluaran Negara, Budiarso Teguh Widodo menegaskan bahwa topik seminar ini sangat relevan ditengah dinamika kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian, disamping kondisi domestik yang menghadapi tekanan serta tantangan yang cukup berat.
&ldquoDiantara tantangan perekonomian domestik yang ada, tekanan terberat datang dari sisi fiskal terkait potensi pelebaran defisit APBN 2013 yang melampaui batas yang telah ditentukan dalam UU 17/2003 yaitu 3% dari PDB,&rdquo papar Budiarso Teguh Widodo.
Lebih lanjut beliau menyampaikan 4 langkah untuk mengendalikan pelebaran defisit tersebut yaitu, optimalisasi pendapatan negara baik dari perpajakan maupun bukan pajak, pengendalian beban subsidi energi khususnya BBM dan listrik, peningkatan efisiensi dan penghematan anggaran, pemenuhan sumber pembiayaan bagi pelebaran defisit dengan mempertimbangkan kondisi pasar, risiko dan sustainabilitas APBN.
Seminar kali ini menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, S.E., M.A., Phd.
(peneliti pada BKF), Ragil Kuncoro, Ak.,M.Sc. (Kabid Kebijakan Pajak dan PNBP II BKF) dan Prof. Dr. Abdul Halim, MBA., Akt. (Dosen FEB UGM).
Narasumber I (Kunta Wibawa) dengan topik &ldquoPerkembangan Perekonomian Indonesia Terkini &ldquo menyampaikan overview secara detil terkait perkembangan ekonomi global baik di Eropa, Amerika maupun Asia yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi domestik. Kunta Wibawa juga menyampaikan bagaimana Outlook Ekonomi Indonesia tahun 2013 dimana ada tiga masalah utama yang dihadapi saat ini serta kebijakan fiskal apa yang harus diambil guna memberikan solusi permasalahan sekaligus mengantisipasi tantangan ke depannya.
Materi kedua dengan tema &ldquoKebijakan Fiskal bagi Pengembangan Pengolahan dan Pemurnian Mineral Dalam Negeri&rdquo disampaikan oleh Ragil Kuncoro, yang menyoroti masih rendahnya bidang industri pengolahan dan pemurnian mineral dalam negeri sehingga diperlukan berbagai kebijakan antara lain insentif fiskal berupa tax allowance dan tax holiday serta dis-insentif fiskal seperti pengenaan pajak ekspor.
Materi terakhir disampaikan oleh Abdul Halim dengan topik &ldquoSekelumit Problema Kebijakan (Pengelolaan) Keuangan Daerah&rdquo.
&ldquoDesentralisasi Keuangan Daerah saat ini fokusnya adalah kepada belanja daerah, bukan pada pendapatan daerah apalagi pembiayaan (investasi) daerah&rdquo ujar beliau, dan lebih lanjut menambahkan &ldquoHal inilah yang menyebabkan belum adanya harmonisasi kebijakan fiskal antara pusat dan daerah karena sudut pandang yang berbeda&rdquo.
Sebagai solusi, menurut Abdul Halim dalam perumusan Kebijakan Keuangan Daerah seyogyanya melalui suatu kajian yang mendalam dengan memperhatikan seluruh aspek (makro-mikro) secara komprehensif.
Seminar yang dipandu Dr. Rimawan Pradiptyo (Regional Economist untuk wilayah D.I. Yogyakarta) sebagai moderator berlangsung cukup hangat dan segar mengingat mayoritas peserta adalah mahasiswa di Yogyakarta yang nota-benenya datang dari seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua.
Oleh : Arief R - Kontributor Kanwil DIY








Dikesempatan yang sama, dalam sambutannya Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengingatkan bahwa negara berkembang, termasuk Indonesia tidak terlepas dari risiko defisit neraca perdagangan karena masih lemahnya permintaan dari pasar global, dan resiko defisit keseimbangan primer karena belanja tidak dapat ditutup dari penerimaan. Hal itu sesuai dengan hasil kajian ekonomi makro dunia tahun 2013 oleh World Bank, IMF dan The Economist. The Economist mengindikasikan pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi global berkisar antara 3,4%, dan masih diwarnai oleh risiko.
Dalam arahannya, Direktur Sistem Perbendaharaan, Iskandar, menyatakan bahwa pemanfaatan TIK saat ini merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, terlebih bagi organisasi yang besar seperti Ditjen Perbendaharaan. Penyelesaian tugas Ditjen Perbendaharaan, seperti proses pembayaran dalam pelaksanaan APBN, penatausahaan penerimaan dan pengeluaran negara, penyusunan LKPP, Laporan Realisasi APBN, dan lainnya menjadi contoh pentingnya menjaga keberadaan TIK Ditjen Perbendaharaan agar dapat berfungsi dengan baik. Terlebih dalam waktu dekat SPAN akan segera diimplementasikan yang membutuhkan partisipasi dan dukungan kita semua untuk menyukseskannya. Untuk mendukung kelancaran tugas di kantor masing-masing, maka peralatan TIK harus dapat berfungsi dengan baik. Kepada para peserta bimtek diminta untuk mengikuti bimtek dengan sungguh-sungguh namun tetap menjaga kondisi kesehatan agar dapat mengikuti bimtek dari awal hingga akhir dan kembali ke kantor masing-masing tetap dalam keadaan sehat.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perbendaharaan Agus Suprijanto menyampaikan harapannya, agar temuan-temuan dari BPK telah selesai ditindaklanjuti dengan baik dan tidak menjadi temuan audit lagi pada laporan keuangan tahun 2012 dan tahun-tahun berikutnya. Agus juga mengharapkan agar seluruh kementerian/lembaga dapat meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan dengan melakukan perencanaan dan penganggaran, pelaksaanaan, dan pertanggungjawaban anggaran dengan baik. Terkait dengan pelaksanaan anggaran, diharapkan agar kementerian/lembaga mempercepat realisasi anggaran agar tidak menumpuk di akhir tahun anggaran dengan tetap memperhatikan efisiensi dan efektivitas dalam pencapaian tujuan dan pelayanan kepada masyarakat.
Yuniar Yanuar Rasyid, Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, dalam sambutannya mengajak para peserta agar bersama-sama bersinergi dengan Kementerian Keuangan, khususnya Direktorat APK di bidang pengelolaan keuangan negara terutama di bidang akuntansi pemerintahan demi pencapaian akuntabilitas pengelolaan keuangan pemerintah yang lebih baik di masa depan. Disamping itu, Yuniar juga mengharapkan agar Penyuluhan SAI tahun 2013 ini dapat memberi kontribusi yang berharga bagi perbaikan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara dengan terwujudnya pelaporan keuangan yang baik.
Selanjutnya, Menteri Keuangan memasuki satu per satu ruang middle office hingga back office. Disana Agus D.W. Martowardojo memberikan apresiasi atas kerapihan kantor tersebut. &ldquoTerima kasih, kantornya sudah rapi,&rdquo pujinya kepada para pegawai KPPN Surabaya.
Sebelumnya, pelatihan diawali dengan acara Kick Off di Gedung Prijadi Praptosuhardjo II kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan UAT SPAN Training di gedung TLC. Rangkaian aktivitas training meliputi kegiatan Overview dan Proses Bisnis Pelatihan Berbasis Modul, Pelaksanaan dan Pendampingan Skenario Pelatihan Berbasis Modul, Overview Proses Bisnis dan Skenario Cross Module, Pelaksanaan dan Pendampingan Skenario Cross Module. Setiap ruang kelas para peserta didampingi oleh fasilitator (PIC Modul SPAN, red), Team Leader serta Dokumenter setiap modul. 

