- Nasional
- Dilihat: 13957
From Yogya With Cost Reduction
Liputan Bimbingan Teknis Penyusunan RBA bagi Satker BLU 2011
Yogyakarta, perbendaharaan.go.id - &ldquoCost reduction is never an accident, it&rsquos always the result of intelligent efforts,&rdquo demikian pernyataan yang berulang-ulang disampaikan oleh Drs. Mulyadi, MSc, dosen Universitas Gajah Mada dan pengarang buku-buku mengenai Akuntansi Biaya dalam acara Bimbingan Teknis Penyusunan RBA (Rencana Bisnis dan Anggaran) bagi Satker BLU (Badan Layanan Umum) Tahun 2011, yang diselenggarakan pada tanggal 23 sampai dengan 24 Juni 2011 di Yogyakarta.
Mulyadi juga menyatakan bahwa saat ini terjadi perubahan orientasi layanan yang lebih bersifat customer-driven. Dengan paradigma ini, maka pelanggan tidak mau dibebani dengan biaya yang tidak terkait dengan barang/jasa yang dinikmatinya. &ldquoUntuk mencapai skala cost effectiveness, maka perusahaan-perusahaan harus melakukan cost reduction terlebih dahulu, sebelum cost determination. Jadi, semua biaya yang bersifat non-added value harus dikurangi atau dihilangkan, &rdquo paparnya.
Paparan di atas seolah menegaskan kembali esensi satker BLU yang dalam memberikan layanan kepada masyarakat harus mengedepankan prinsip-prinsip efisiensi dan produktivitas. Aktivitas-aktivitas yang terdapat di satker BLU dikelola ala korporasi, yang memungkinkannya untuk tumbuh dan berkembang. Salah satu instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi atau cost effectiveness adalah cost accounting. Pengelolaan biaya inilah yang harus dipahami oleh pejabat pengelola keuangan satker BLU agar mampu bersaing dalam memberikan layanan.
Sasaran dari acara bimbingan teknis kali ini adalah satker-satker BLU yang baru ditetapkan. Acara sengaja dilaksanakan di Yogyakarta setidaknya karena empat alasan. Pertama, sebagai kota perjuangan Yogyakarta diharapkan memberi inspirasi bagi satker BLU untuk terus berjuang mewujudkan cita-citanya. Kedua, sebagai kota pendidikan diharapkan para peserta terus bersemangat untuk mengikuti seluruh acara bimtek. Ketiga, sebagai kota budaya diharapkan para peserta mampu menginisiasi budaya organisasi yang harmonis dengan layanan masing-masing satker BLU. Dan keempat, sebagai kota ekonomi kerakyatan diharapkan Yogyakarta mampu mengingatkan seluruh satker BLU bahwa tujuan utamanya adalah memberikan layanan kepada masyarakat, bukan semata-mata mencari keuntungan.
Acara Bimbingan Teknis Penyusunan RBA bagi Satker BLU Tahun 2011 dibuka oleh Direktur Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU), Drs. Hari Utama Ribowo, MA atas nama Direktur Jenderal Perbedaharaan. Dalam keynote speech-nya, Direktur Jenderal Perbendaharaan berpesan agar satker BLU terus meningkatkan governance internalnya. Lebih jauh beliau mengingatkan dalam era akuntabilitas seperti saat ini, satker BLU harus memberikan contoh yang baik dalam pelaksanaan anggaran berbasis kinerja dan jangan sampai menjadi sumber opini yang kurang baik dari BPK.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan paparan materi mengenai langkah-langkah setelah menjadi satker BLU yang dibawakan Kasubdit Kebijakan dan Standardisasi Teknis, untuk mengingatkan adanya kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi setelah menjadi satker BLU. Menyusul kemudian Kasubdit Duktek Penilaian BLU dan Kasubdit Pembinaan Kinerja BLU menyampaikan materi Tarif dan Remunerasi BLU, serta Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan BLU. Acara pada hari pertama tersebut diakhiri dengan tanya jawab yang disambut dengan antusiasme oleh seluruh peserta.
Di hari kedua, acara diawali dengan paparan narasumber profesional, Drs. Mulyadi, MSc. Paparan mengenai akuntansi biaya terasa mudah untuk diikuti karena disertai dengan filosofi dan contoh aktual. &ldquoCara termudah untuk mengidentifikasi biaya adalah dengan mengidentifikasi aktivitas yang dilakukan,&ldquo katanya. &ldquoSebagai contoh, di Amerika penerapan activity-based cost system telah menyelamatkan institusi tentara dari kebangkrutan. Mereka memangkas level birokrasi yang tidak memberikan nilai tambah dan lebih mengoptimalkan teknologi informasi untuk berkomunikasi. Hasilnya aktivitas yang dilakukan lebih efisien dan mereka mampu menghemat pengeluaran, &ldquo ujarnya lebih lanjut. Pendeknya, cost reduction merupakan kunci utama meraih cost effectiveness.
Pada sesi berikutnya para peserta diperkenalkan dengan teori pembuatan RBA menurut PMK No. 44/PMK.05/2009. Seluruh peserta diajak untuk mempelajari konsep, pendekatan, dan sistematika penyusunan RBA. Di sini para peserta diajak untuk memahami bahwa RBA merupakan dokumen perencanaan sekaligus pelaksanaan anggaran bagi satker BLU.
Simulasi penyusunan RBA merupakan sesi yang paling ditunggu peserta. Dengan membuka laptop masing-masing, peserta menyimak pemaparan Tim Pembimbing Penyusunan RBA. Peserta diajarkan mengenali biaya langsung dan tidak langsung, serta biaya tetap dan variabel dalam soal simulasi. Yang tak kalah pentingnya para peserta diajarkan membuat Ikhtisar RBA yang memetakan seluruh pendapatan dan belanja RBA ke dalam pendapatan dan belanja RKA K/L. Tak ayal banyak pertanyaan terlontar di tengah presentasi karena memang ini sesi aplikatif serta tidak disediakan sesi khusus tanya jawab. Untuk yang kesekian kali waktulah yang membatasi rasa penasaran dan ingin tahu peserta.
Di akhir acara presentasi, panitia mengadakan post-test untuk mengetahui seberapa jauh peserta dapat menyerap materi yang dipaparkan mulai hari hari pertama selama 30 menit. Sebagai wujud perhatian dan apresiasi kepada peserta yang begitu antusias hingga detik terakhir, tak lupa panitia memberikan bingkisan kepada peserta yang paling aktif selama acara bimtek. Berdasarkan penilaian panitia diputuskan sebanyak lima orang yang mendapat predikat peserta paling aktif.
Sebagai penutup, Kasubdit Dabantek mewakili Direktur PPK BLU menutup acara dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf atas segala kekurangan selama penyelenggaraan bimtek. Peserta pun sebagian besar berharap acara semacam ini lebih sering diadakan agar satker BLU semakin paham akan kewajibannya dan tidak salah melangkah.
Oleh: Kontributor Direktorat PPK-BLU








Tata menyampaikan bahwa peran strategis Sekretariat Ditjen Perbendaharaan merupakan penunjang keberhasilan capaian Tupoksi Ditjen Perbendaharaan.  Untuk itu Tata meminta agar Sekretariat berperan aktif dalam menghadapi tantangan perubahan organisasi yang dinamis. &ldquoSeluruh jajaran sekretariat harus bisa menerjemahkan kondisi tersebut (perubahan, red), dalam bentuk kegiatan yang komperhensif dan terintegrasi serta memiliki value added yang cukup besar bagi organisasi,&rdquo  Tata menegaskan.
telah dilakukan penetapan melalui Keputusan Dirjen Perbendaharaan (Kepdirjen), implementasi layanan filial pada KPPN tahap I telah diujicobakan. Lokasi layanan filial dilakukan di lima tempat, yaitu, Sinabang, Namlea, Muara Teweh, Alor, dan Natuna. Sebelum memasuki prosesi launching, implementasi layanan filial memasuki tahapan pemenuhan sarana dan prasarana, juga evaluasi pelaksanaan layanan.
Sementera itu, dalam penyampaian keynote speech Yuniar Yanuar Rasyid menjelaskan bahwa PP Nomor  71 Tahun 2010 tentang SAP adalah PP yang fundamental yang mengusung amanat penerapan basis akrual selambat-lambatnya untuk pelaporan keuangan pemerintah tahun 2015. Sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010, penerapan SAP Berbasis Akrual dapat dilaksanakan secara bertahap. Ketentuan mengenai penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap pada pemerintah pusat diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
BPK menemukan adanya transaksi reversal yang tidak ada transaksi penggantinya. BPK juga menemukan adanya transaksi reversal yang ada transaksi penggantinya namun berbeda jumlah setor, beda NPWP, dan beda tanggal bukunya. 
&ldquoKalau disatker ada yang namanya Aplikasi Forecasting Satker (AFS), di KPPN dengan nama Aplikasi Forecasting KPPN (AFK) maka dikantor pusat mempunyai Cash Planning Information Network yang  melibatkan beberapa ditjen. Jadi selain mengumpulkan data dari KPPN, Ditjen Perbendaharaan dipusat juga mengumpulkan data-data dari selon I yang terlibat dalam pelaksanaan APBN, yang data-datanya akan digabungkan menjadi perencanaan kas nasional yang akan dipakai oleh Kementerian Keuangan - Ditjen Perbendaharaan untuk mengambil sebuah kebijakan&rdquo demikian Tata Suntara menjelaskan.
Materi SPAN disampaikan secara bergiliran oleh Kepala Seksi Transformasi Proses Bisnis External C Dody Dharma Hutabarat, perwakilan Subdit Transformasi Sistem Aplikasi Isnain Fikriansyah, perwakilan Subdit Transformasi Proses Bisnis Internal dan Organisasi. Mereka menyampaikan proses transformasi proses bisnis dan teknologi informasi secara menyeluruh.
ntrak kinerja Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five. Target berikutnya baru mengenai tata kelolanya dan keterkaitannya dengan Kemenkeu-One, Kemenkeu-Two, dan Kemenkeu-Three. Bagaimana mendudukkan ada di mana fungsi kita dan menggambarkan betapa strategisnya substansi pekerjaan kita dalam peta organisasi eselon I dan II. Penyusunan Kemenkeu-Fourdan Kemenkeu-Five menjadi sebuah keharusan agar tercipta sinergi antara fokus kinerja yang ingin dicapai pimpinan organisasi dengan pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit dibawahnya,&rdquoungkapnya.
enyusunan Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five menjadi keharusan, agar tercipta sinergi antara fokus kinerja yang ingin dicapai pimpinan organisasi dengan kinerja yang dilaksanakan oleh unit dibawahnya.

