Liputan Knowledge Sharing Program (KSP)
Jakarta, perbendaharaan.go.id &ndash Direktorat Jenderal (Ditjen) Perbendaharaan bekerjasama dengan Korea Selatan membahas hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Knowledge Sharing Program (KSP), Rabu (22/1), di Hotel Borobudur, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pemaparan oleh tujuh professor dari Korea Selatan tentang fakta-fakta yang ditemukan, permasalahan dan rekomendasi atas permasalahan, terkait tujuh area penelitian. Pimpinan sidang terdiri Wakil Menteri Keuangan Ani Rahmawati, Direktur Jenderal Perbendaharaan Marwanto Harjowiryono dan perwakilan pemerintah Korea Selatan Oh-Kyu Kwon.
Pembahasan dilakukan terhadap hasil penelitian sepanjang tahun 2013 pada tujuh area, yaitu: Reformasi birokrasi dan penyusunan peraturan tentang komisi pelayanan publik, Pembentukan TDR (Treasury Dealing Room) , Dukungan terhadap program national MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) melalui PPP (Public-Private Partnerships) , Peningkatan koordinasi antara Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Pengelolaan Utang, Pasca Implementasi SPAN, Pengawasan Kebijakan makro dalam rangka menjaga stabilitas keuangan, dan Pengembangan dan implementasi Jaminan Kesehatan. Beberpa poin penting penelitian tersebut berhubungan langsung dengan tugas dan fungsi Ditjen Perbendaharaan.
Terkait Treasury Dealing Room (TDR) di Kementerian Keuangan yang belum terbentuk, Dr. Kang Kyeong-Hoon berpendapat bahwa teori portofolio adalah teori keuangan yang merupakan teori seleksi dengan tingkat optimal expected return dengan tingkat resiko tertentu berdasarkan efficient frontier . TDR dalam menentukan portfolio harus mempertimbangkan dan mengeleborasi efek dari setiap transaksinya terhadap &lsquomoney market&rsquo . TDR harus mempertimbangkan short term dan medium term dari portfolio. Risk management dari TDR, portofolio pemerintah, memiliki beberapa resiko: liquidity risk, foreign exchange risk dan sebagainya. Beberapa rekomendasi yang menurutnya perlu diperhatikan dalam proses pembentukan TDR, koordinasi antara institusi terkait. Koordinasi ini akan disampaikan lebih detail oleh pembicara berikutnya. Rekomendasi berikutnya adalah percepatan komputerisasi, sebagaimana pemerintah Indonesia telah berhasil dalam pelaksanaannya. Untuk jangka pendek dan menengah perlu dipertimbangkan in house TDR, namun pada Long run term, harus dipertimbangkan outsourcing pengelolaan dari TDR.
Dalam hal Peningkatan koordinasi antara Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Pengelolaan Utang, Dr. Bae Young-Soo menyampaikan hasil penelitiannya, bahwa Pemisahan antara Ditjen Perbendaharaan dengan Ditjen Pengelolaan Utang berakibat lemahnya koordinasi antara kedua direktorat dimaksud dalam mengambil suatu kebijakan terhadap kebijakan-kebijakan yang menyangkut pada Asset dan Liability Management . Ia menyampaikan rekomendasi untuk jangka pendek (short term policy ), komite yang menangani pengelolaan Asset dan Utang diharapkan lebih aktif dalam menjalin kerjasama. Untuk jangka menengah (medium term policy ), perlunya restrukturisasi organisasi antara Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Pengelolaan Utang. Untuk jangka panjang, supervisi atas pengelolaan utang harus ada pada tingkat nasional, artinya harus ada supervisi bersama antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Sedangkan, mengenai hasil penelitian SPAN setelah implementasi, Kwak Jin-Gun menyampaikan adanya data yang bocor (data leaking) dalam sistem, apabila sistem dimaksud tidak dilengkapi dengan sistem pengamanan (security ) yang handal dan memadai. Dirinya merekomendasikan sistem pengendalian data secara nasional (National data security system ), dikarenakan firewall yang ada tidak cukup handal dalam mendeteksi virus yang masuk, sehingga dibutuhkan adanya monitoring sistem secara terus menerus. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah menjalin kerjasama dengan pihak luar (outsourcing partner) .
Dalam mensukseskan program dan proyek yang ingin dijalankan saat ini, pemerintah Indonesia perlu menetapkan aturan-aturan baru dalam rangka memberikan detil dan tanggungjawab yang lebih terhadap pelaksana kebijakan dimaksud. Melalui program KSP, Pemerintah Indonesia menerima beberapa masukan untuk menjadi bahan pertimbangan.
Oleh: Tim Media Center Ditjen Perbendaharaan








Mengenai SPAN, Marwanto menegaskan kembali komitmen jajarannya. Dengan dimulainya Piloting SPAN pada tanggal 2 Januari 2014 yang lalu, maka menurutnya tidak akan ada kata kembali ke produk legacy, &ldquono point of return,&rdquo ujarnya dihadapan para peserta Rapimtas. Oleh karena itu, ia meminta seluruh komponen Ditjen Perbendaharaan wajib mendukung keberhasilan implementasi SPAN di setiap fase pelaksanaannya. Komunikasi dan edukasi kepada seluruh stakeholder harus sesegera mungkin dilakukan dan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Marwanto melanjutkan, bahwa dalam waktu dekat Ditjen Perbendaharaan akan melakukan Piloting SPAN dan SAKTI. Ia meminta semua pihak untuk memberikan dukungan penuhnya dalam menunjang kesuksesan piloting tersebut. Selain itu, Secara parallel pula accrual accounting akan dimulai pada semester II tahun 2014.
Saat ini tengah dilakukan persiapan Piloting SPAN yang rencananya akan dilakukan secara bertahap mulai dari Kantor Pusat, Kanwil dan KPPN Wilayah Jawa, hingga akhirnya sampai ke Kanwil dan KPPN luar Jawa. Pada semester I tahun 2014 ini juga dilakukan penyempurnaan SAKTI agar siap di deploy ke seluruh Kementerian/Lembaga dan Satuan Kerja pada Semester II tahun 2014. Secara parallel pula accrual accounting akan dimulai pada semester II tahun 2014.
&ldquoKami berharap kegiatan ini akan semakin meningkatkan koordinasi dan konsolidasi serta kesamaan langkah antara Ditjen Perbendaharaan dengan para Regional Economist,&rdquo harap Marwanto.
Dalam sambutannya para pejabat eselon II, Menteri Keuangan Chatib Basri menyampaikan beberapa pesan penting menghadapi tahun 2014. Ia menyampaikan bahwa dalam menghadapi tantangan baru agar dilakukan dengan semangat yang tinggi dan harus senantiasa dipupuk bersama, sehingga apa yang telah direncanakan dan ditargetkan ditahun 2014 dapat tercapai dengan baik.
&ldquoKita perlu melakukan refleksi dan evaluasi terhadap kinerja kita serta menyusun rencana pelaksanaan tugas yang lebih baik lagi dibandingkan yang sudah dilakukan pada tahun 2013,&rdquo imbuhnya. 
Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Ditjen Perbendaharaan Yuniar Yanuar Rasyid dalam sambutannya menyampaikan bahwa kebutuhan akan perlunya konsolidasi fiskal dan statistik keuangan pemerintah secara nasional sudah dinyatakan dalam laporan hasil reviu BPK atas pelaksanaan transparansi fiskal tahun 2010. BPK menyatakan bahwa secara umum pemerintah telah melakukan upaya untuk berkomitmen dalam menyediakan informasi fiskal kepada publik. Namun, pemerintah belum sepenuhnya dapat menyajikan informasi fiskal mengenai, antara lain, integrasi posisi fiskal nasional (gabungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah), sehingga fungsi pemerintah secara keseluruhan belum terlihat.
Kegiatan Workshop Pembinaan Pengelolaan Keuangan Daerah dan Statistik Keuangan Pemerintah di Medan dibagi menjadi dua panel. Panel pertama dengan narasumber Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi Sumatera Utara, Ayub Amali dengan materi opini BPK terhadap LKPD provinsi/kabupaten/kota se-Sumatera Utara dan Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Indra Suparjanto-Meiling dengan materi Perkembangan Akrual dan GFS tingkat Wilayah. Panel kedua diisi oleh Regional Economist Sumatera Utara Prof. Dr. Ade Fatma Lubis dengan materi Desentralisasi Fiskal dan Otonomi Daerah serta dari Bagian Organisasi dan Tata Laksana Direktorat Jenderal Perbendaharaan Moudy Hermawan dengan materi Kajian Fiskal Regional. Bertindak selaku moderator adalah Kabid Pembinaan APK Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara, Ari Nugroho. 
Pada kesempatan ini juga dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman Pertukaran Data antara Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara dengan pemerintah daerah kab/kota se-Provinsi Sumatera Utara. Penandatangan Nota Kesepahaman dilaksanakan secara simbolis yang diwakili oleh Pemda Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Labuhan Batu Selatan disaksikan oleh Sekreatris Daerah Provinsi Sumatera Utara dan Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. 

