- Nasional
- Dilihat: 6787
Pedoman Pembinaan KPPN Bukan Mencari-Cari Kesalahan
Liputan Rapimtas Ditjen Perbendaharaan
Jakarta, perbendaharaan.go.id - Menjamin terlaksananya kondisi pelayanan prima kepada masyarakat, Direktur Jenderal Perbendaharaan menerbitkan Keputusan Dirjen Perbendaharaan nomor 171/PB/2010 tentang pedoman pembinaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Sosialisasi dilakukan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan, Herry Purnomo kepada para Kepala Kanwil dan para Direktur lingkup Ditjen Perbendaharaan dalam acara Rapimtas, (29/7) di Gedung Prijadi P II Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan.
Keputusan Dirjen tersebut, memuat dua lampiran modul, yaitu modul pembinaan KPPN dan Check list pedoman pembinaan, serta KMK nomor 275/KMK.01/2010, tentang tata cara penilaian Kantor Pelayanan Percontohan di lingkungan Kementerian Keuangan. .
Kanwil Ditjen Perbendaharaan akan menggunakan modul tersebut sebagai pedoman dalam meakukan pembinaan terhadap KPPN. Modul pertama diguanakan untuk menilai pelaksanaan tugas dan fungsi KPPN sesuai Standard Operating Procedure (SOP). Sedang kan modul kedua digunakan untuk menilai kualitas pelayanan KPPN sesuai standar kantor pelayanan percontohan di lingkup Kementerian Keuangan. .
Melalui modul pembinaan yang ada saat ini, Kanwil membentuk tim pembinaan KPPN. Pembinaan Kanwil ke KPPN dilakukan tiap Triwulan, minimal 2 kali setahun. .
Kanwil Ditjen Perbendaharaan diharapkan dapat mengetahui nilai dan peringkat kinerja KPPN secara obyektif bedasarkan pelaksanaan SOP dan kualitas pelayanan. Kanwil juga dapat mengetahui tingkat kopetensi dan kinerja Kepala KPPN dalam melakukan tugasnya sesuai visi dan misi oranisasi. Sebagaimana reposisi fungsi Kanwil sebagai guru, Kanwil dapat melakukan pembinaan secara terpadu, sistematis, berkelanjutan dan dapat digunakan untuk pengambilan kebijakan. .
Pedoman pokok yang akan dilaksanakan Kanwil meliputi beberapa aspek. Diantaranya, menguji dan membandingkan pelaksanaan pekerjaan dengan peraturan perundangan, aplikasi serta SOP berkenaan. Kemudian, memberikan konsultasi, asistensi dan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di KPPN. Dalam hal ini, Herry Purnomo mengingatkan kepada para Kanwil untuk tidak sekedar mencari kesalahan, &ldquoPedoman pembinaan tentunya memberikan konsultasi, asistensi dan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di KPPN. Jadi, bukan mencari-cari kesalahan.&rdquo ujarnya. .
Metode Penilaian Kantor Pelayaan percontohan terdiri dari inisiatif KPPN dalam mencegah korupsi, pungli dan gratifikasi. Menilai standar pelayanan KPPN apakah memenuhi prinsip transparan, profesional, dan akuntabel. Menilai kualitas pelayanan KPPN apakah dapat memberikan kepuasan kepada pengguna layanan. Menilai kecukupan dan optimalisasi pemanfaatan sarana prasarana layanan yang mendukung kecepatan dan kualitas layanan. Menilai inovasi dan kreativitas yang dilakukan KPPN untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan tugas dan pelayanan. Pada poin inisiatif KPPN, Herry Purnomo memberikan apresiasi, &ldquoSaya gembira sebagian besar KPPN telah mengeluarkan banyak kreatifitas, yang tujuannya meninggkatkan pelayanan terhadap masyarakat.&rdquo Begitu pujinya. .
Oleh : Novri H.S Tanjung dan Tino A. Prabowo &ndash Media Center Ditjen Perbendaharaan











Guna proses percepatan penyerapan anggaran, Direktorat Pelaksanaan Anggaran meluncurkan aplikasi monev (monitoring dan evaluasi) penyerapan APBN. Aplikasi dalam bentuk web intranet tersebut, memfasilitasi Kanwil Ditjen Perbendaharaan dalam melakukan monitoring dan evaluasi penyerapan anggaran pada satuan kerja wilayah masing-masing. Satuan Kerja yang realisasinya rendah yaitu Satuan Kerja yang realisasi Belanja Barang dan Belanja Modalnya dibawah realisasi rata-rata secara nasional. Berdasarkan kriteria, terdapat 10.309 Satker dengan angka realisasi rendah, yang merupkan objek monev, atau 55.95 % dari total jumlah satker seluruh Indonesia.
LKPP merupakan kesatuan dari laporan keuangan kementerian/lembaga. &ldquoKualitas laporan keuangan kementerian/lembaga sangat mempengaruhi kualitas LKP,&rdquo kata Menteri Keuangan, Agus Martowardojo dalam sambutannya di Hotel Borobudur kemarin. Oleh karenanya diperlukan komitmen bersama kementerian/lembaga untuk mewujudkan cita-cita bersama. &ldquoTujuan Rakernas Akuntansi dan Pelaporan adalah terbangunnya forum interaksi kementerian/lembaga,&rdquo lanjutnya. &ldquoDisamping itu juga untuk membangun komitmen, serta transparansi dalam mengelola keuangan Negara,&rdquo jelas beliau. &ldquoRakernas ini juga untuk menyampaikan informasi arah pengembangan dan strategi akuntansi,&rdquo tambah menteri yang menggantikan Sri Mulyani Indrawati ini.
an keuangan makin baik. "Kalau dulu 2007 ada sebelas masalah, 2008 tinggal enam masalah, dan tahun ini tinggal tiga," ujarnya.
Menanggapi pandangan Fraksi PDIP, Partai Gerindra, dan PPP terkait rendahnya penyerapan belanja negara tahun anggaran 2009, yang menunjukkan tidak optimalnya kinerja Pemerintah untuk melaksanakan program-program dan anggaran, Menteri Keuangan menjelaskan, &ldquoPada dasarnya daya serap belanja negara periode 2005 sampai dengan 2009 cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya, yaitu dari 90,2% pada tahun 2005 menjadi 93,7% pada tahun 2009.&rdquo &ldquoMengenai daya serap anggaran, dapat dijelaskan tentang 2 (dua) hal penting, yaitu: (i) pencairan anggaran yang menumpuk di akhir tahun anggaran, dan (ii) pencairan anggaran yang lebih rendah dari yang telah dialokasikan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah mengupayakan langkah-langkah, antara lain: (i) penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja (ii) efisiensi tahapan dalam proses pengadaan barang dan jasa (iii) percepatan pencairan anggaran dan (iv) penerapan reward and punishment system setelah melalui kajian yang memadai,&rdquo lanjut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini.
Selanjutnya, dalam pengarahan yang juga dihadiri oleh Sekretaris Ditjen Perbendaharaan K. A. Badaruddin, Direktur Pengelolaan Kas Negara Tata Suntara, Direktur Sistem Perbendaharaan Bambang Isnaeni Gunarto, dan Direktur Sistem Manajemen Investasi Anandy Wati tersebut, Herry Purnomo menambahkan bahwa kebersamaan harus dipadukan dengan kemampuan menjadi seorang fast learner, inovatif, kreatif, dan berfikir out of the box. Beliau mencontohkan, betapa tanpa diinstruksikan banyak KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) yang berinisiatif membuat dan mengenakan seragam. Selain menunjukkan esprit de corp, imbuh beliau, seragam juga menggambarkan bahwa kita adalah satu kesatuan yang memiliki komitmen bersama untuk melayani masyarakat.
Mengangkat beberapa fakta dan data tentang jumlah pegawai yang pensiun pada saat ini dan tiga tahun ke depan, Herry Purnomo menyatakan perlu adanya usaha yang sistematis dalam melakukan suksesi dan regenerasi di tubuh DJPBN. Beliau menegaskan bahwa sudah ada upaya dan inisisasi yang dilakukan oleh organisasi untuk menjawab kebutuhan tersebut. Hanya saja, tambah beliau, hal ini tidak dapat dilakukan apabila tidak di dukung oleh jajaran pimpinan dalam meningkatkan kompetensi diri para pejabat dan bawahannya.
Sedangkan dalam pengembangan diri dalam hal soft skill, Dirjen Perbendaharaan menguraikan pentingnya penajaman keKuatan dan mengatasi kelemahan diri agar dapat membangun kepercayaan diri dalam berjuang mendapatkan posisi jabatan yang lebih tinggi. Lebih lanjut beliau menjelaskan pentingnya para pejabat eselon III untuk mengukuhkan kompetensi inti yang mereka miliki seperti in-depth problem solving and analysis, managing others, planning and organizing dan meeting leadership. Tanpa membatasi cara pandang ke depan, beliau juga memberikan gambaran mengenai kompetensi inti apa saja yang harus dimiliki seorang pejabat eselon III untuk menjabat sebagai pejabat eselon II. &ldquoSeorang pejabat eselon II harus memiliki kemampuan melihat dan membayangkan pengembangan organisasi ke depan (visioning), selalu mengusahakan perubahan organisasi ke arah yang lebih baik (championing change), menganalisa/mengatasi permasalahan dalam pekerjaan (in-depth problem solving and analysis), dan kemampuan manajerial (managing others).

