- Nasional
- Dilihat: 5803
Lagi, Upaya Penyusunan LKPP Untuk Opini WTP
Liputan Acara Sosialisasi Paket Peraturan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
Jakarta, perbendaharaan.go.id &ndash Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang wajar tanpa pengecualian (WTP) benar-benar menjadi obsesi Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Berbagai rangkaian kegiatan untuk memberikan pemahaman kepada semua pihak yang terkait dalam penyusunan LKPP terus diupayakan.
&ldquoAdalah amanat UU No.17/2003 agar pemerintah melakukan praktek pengelolaan keuangan negara sesuai dengan international best practices. Oleh karenanya menjadi tugas bersama untuk menerapkannya pada berbagai aspek pengelolaan keuangan baik pada sisi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan maupun pertanggungjawaban,&rdquo kata Herry Purnomo saat membuka Lokakarya Kebijakan Akuntansi Akrual Non Financial Assets di Jakarta beberapa hari lalu.
Sebagai langkah lanjutan dari serangkaian upaya mencapai opini WTP tersebut, Ditjen Perbendaharaan kembali mengumpulkan para pejabat teknis yang menangani penyusunan LKPP secara langsung, di Hotel Orchardz, Jakarta, Selasa, 5 Oktober 2010. Direktorat Jenderal Perbendaharaan memandang perlu untuk memberikan pemahaman tentang Paket Peraturan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat dalam acara sosialisasi ini.
&ldquoKegiatan ini sebagai perwujudan komitmen kita bersama untuk menuju laporan keuangan pemerintah agar mencapai opini yang terbaik, baik dalam LKKL maupun LKPP sehingga pada tahun 2011 dapat mencapai opini Wajar Tanpa Pengecualian seperti yang telah direncanakan sebelumnya,&rdquo kata Syaiful, Kepala Seksi Sistem Akuntansi Pusat dalam laporannya di hadapan para peserta.
Sejak pertama kali disusunnya, yaitu tahun 2004 sampai dengan 2008, LKPP selalu mendapat opini Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer) dari BPK. Baru tahun 2009, LKPP berhasil mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) atau satu tingkat di bawah opini tertinggi WTP.
&ldquoPada LKPP tahun 2009, berkat kerja keras kita semua, baik di kantor pusat maupun di kantor daerah bersama-sama dengan Kementerian/Lembaga, kita berhasil meningkatkan kualitas LKPP dan mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian atau WDP,&rdquo ungkap Vicentius Sonny Loho, Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. &ldquoNamun capaian prestasi ini tidak cukup sampai disini saja, kita secara bersama-sama harus terus memperbaiki kualitas LKPP hingga mencapai opini yang terbaik yaitu Wajar Tanpa Pengecualian atau WTP,&rdquo lanjutnya di hadapan para peserta sosialisasi.
&ldquoSebagaimana kita ketahui bersama, basis akuntansi yang kita gunakan dalam menyusun LKPP masih menggunakan basis kas menuju akrual atau cash toward accrual, &rdquo tambahnya lagi.
Acara sosialisasi ini merupakan upaya untuk menjawab temuan BPK terkait penyempurnaan sistem dan berbagai prosedur dalam bidang akuntansi dan pelaporan keuangan. Peraturan yang mengatur proses dan perlakuan dalam bidang akuntansi dan pelaporan keuangan yang akan disosialisasikan antara lain adalah PMK No. 08/PMK.05/2010 tentang Laporan Konsolidasian BUN, PMK No. 28/PMK.05/2010 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penerusan Pinjaman, PMK No. 63/PMK.05/2010 tentang Mekanisme Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban atas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah, PMK No. 102/PMK.05/2009 Tentang Tata Cara Rekonsiliasi Barang Milik Negara dalam Rangka Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, serta Perdirjen Kekayaan Negara Nomor Per-07/KN/2009 tentang Tata Cara Rekonsiliasi Data Barang Milik Negara Dalam Rangka Penyusunan LBMN dan LKPP.
Acara sosialisasi Paket Peraturan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat diikuti oleh 152 orang. Mereka terdiri dari 124 orang pejabat AKLAP dan kasi Vera dalam lingkungan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kal-Bar dan Kalteng, Pejabat/Staf pada Kanwil DJKN dan KPKNL di lingkungan NAD, Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Bandung, Semarang dan Pontianak, berjumlah 16 orang serta 12 orang Pejabat/Staf dari Kementerian/Lembaga.
Oleh : Bambang Kismanto dan Tino Adi Prabowo &ndash Media Center Perbendaharaan










&ldquoKick Off Change Management And Communication ini menjadi tepat karena manusia adalah aset yang sangat berharga dari suatu organisasi,&rdquo kata Herry Purnomo. &ldquoSebaik apapun system dan IT-nya tidak akan member arti apa-apa jika organisasi dan SDM-nya tidak siap merubah mindset, perilaku dan etos kerja,&rdquo tambah Direktur Jenderal Perbendaharaan ini saat membuka acara mewakili Menteri Keuangan.  
Acara Kick Off CMC tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, Country Director Worldbank, Delegasi Federal Treasury of Russia, perwakilan Negara donor, tim Reformasi Penganggaran dan Perbendaharaan Negara (RPPN) serta beberapa pejabat eselon II dan III Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan.
&ldquoChange management and communication yang saat ini dilakukan kick off-nya sangat perlu dilakukan untuk mempersiapkan organisasi dan sumber daya manusia agar sanggu dan mampu menjalankan seluruh inisiatif perubahan ini, yang bermuara pada peningkatan kinerja pengelolaan keuangan Negara,&rdquo jelas Dirjen Perbendaharaan.
Rangkaian lokakarya merupakan langkah  yang terstruktur dan sistematis, sebagai bentuk persiapan yang matang dalam rangka migrasi dari SAP berbasis Kas Menuju Akrual (Cash Towards Accrual) yang saat ini berlaku ke SAP yang berbasis Akrual (Full Accrual).
Implementasi akuntansi aset non keuangan perlu disesuaikan dengan karakteristik negara Indonesia. Maka, menjadi salah satu pokok pembahasan yang penting paparan konsep dan praktek-praktek implementasi akuntansi aset non keuangan yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia. Begitu pula, kendala yang akan dihadapi dalam penerapan akuntansi Non Financial Assets dalam penerapan akuntansi berbasis akrual di Indonesia menjadi salah satu pokok pembahasan.
&ldquoDulu kita (Direktorat Jenderal Perbendaharaan, red) melakukan kunjungan ke Rusia untuk belajar tentang perbendaharaan. Kini giliran mereka yang belajar kepada kita mengenai reformasi yang sudah kita lakukan,&rdquo kata Herry Purnomo, Direktur Jenderal Perbendaharaan di Jakarta, pada saat sambutan pembukaan Pembekalan Pejabat Eselon III Baru Angkatan II Tahun 2010 kemarin, setelah acara penyambutan delegasi Rusia. &ldquoKita perlu membuka hubungan dengan negara lain, agar kita tidak seperti katak dalam tempurung. Merasa puas dengan pencapaian kita sendiri,&rdquo lanjut beliau.
Seiring gerak organisasi yang cukup dinamis, pejabat eselon III diarahkan untuk mampu membagi waktu antara pelaksanaan tupoksi dengan perumusan pengembangan konsepsi organisasi yang sangat dinamis. &ldquoKita tidak boleh beku hanya melihat tupoksi, tapi kita juga harus kreatif bahwa nanti akan ada kebijakan dari pusat yang harus dilaksanakan, yang bisa saja belum terwadahi dalam tupoksi.&rdquo Ujar Herry Purnomo.
Selain itu, Direktorat PKN telah berupaya untuk melakukan peremajaan data referensi yang selanjutnya digunakan oleh sistem MPN. Salah satu sumber penting data referensi adalah data Kode Bank, Kode Cabang Bank, Nomor Rekening Kas Negara pada Bank/Pos Persepsi, kode Akun terkait penerimaan negara, dan data lainnya. Selanjutnya diperlukan pula update data yang kini berada pada KPPN-KPPN.
Selain itu, pada saat ini terdapat 101 satker dari berbagai kementerian/lembaga yang telah ditetapkan sebagai satker yang menerapkan PK BLU, dan adanya kemungkinan di masa mendatang akan semakin banyak lagi satker menerapkan PK BLU. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa kantor pusat khususnya Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU tidak dapat secara sendiri menangani keseluruhan tupoksinya karena cakupan layanan yang semakin luas. Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas, Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan KPPN perlu diberi peran yang lebih luas dalam rangka pembinaan mitra kerja satker BLU di wilayah masing-masing. Pembinaan yang akan dilaksanakan oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan KPPN mencakup peningkatan kinerja keuangan, penyusunan akuntansi dan pelaporan, serta pendampingan bagi satker yang sedang mempersiapkan untuk menjadi satker BLU.
Selain dihadiri oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan, acara buka bersama ini dihadiri para direktur, pejabat eselon 3, eselon 4 dan para pelaksana kantor pusat DJPBN. Sementara hadir sebagai penceramah adalah Ustadz H. Faisal Muhammad Ali Nurdin, Lc, MA, dosen Universitas Tazkiyah Bogor. 

