Liputan Pelantikan Pejabat Eselon II Kementerian Keuangan
Jakarta, perbendaharaan.go.id - Menteri Keuangan, Agus Martowardojo meminta kesiapan para pejabat eselon II dengan penugasan yang baru untuk terus melaksanakan tugas sebaik-baiknya di lingkungan Menteri Keuangan. Hal tersebut disampaikan saat melantik pejabat Eselon II lingkup Kementerian Keuangan, melalui Keputusan Menteri Keuangan nomor : 421/KMK.01/UP.11/2010, Selasa (12/10), di Gedung Kemenkeu Jakarta.
Dalam pengarahannya, Agus Martowardojo mengucapkan selamat menjalankan tugas baru kepada para pejabat yang dilantik. Beliau menegaskan dihadapan para hadirin agar dapat menjaga niat dalam melaksanakan tugas sebaik-baiknya untuk kepentingan memajukan Negara, memajukan bangsa, menjadikan rakyat Indonesia sejahtera, yang makmur dan sentosa.  Beliau juga berpesan agar kita semua dapat membangun budaya organisasi berdasarkan kinerja.
&ldquoKita bekerja tidak hanya pandai dengan keilmuan kita, tetapi juga harus disertai dengan etika, karakter, dan juga kepribadian yang baik. Hal ini pun masih harus didukung dengan semangat untuk menjalankan dengan rasa patriotisme yang tinggi. Karena hal ini yang menjadi kebanggan kita, bekerja di lingkungan Kementerian Keuangan sebagai pegawai negeri sipil, yaitu betu-betul bekerja yang terbaik, mengabdi untuk Negara, bagi masyarakat Indonesia secara luas. &rdquo Pesan Agus Martowardojo.
Pelantikan dillakukan terhadap pejabat Eselon II lingkup Sekretariat Jenderal,  Ditjen Perbendaharaan, Ditjen Bea dan Cukai, Badan Kebijakan Fiskal (BKF), dan Ditjen Anggaran. Mutasi pejabat eselon II tersebut berdampak juga pada pergeseran pejabat lingkup Ditjen Perbendaharaan.
Sepuluh pejabat eselon II lingkup Ditjen Perbendaharaan mendapatkan penugasan baru. Abdul Rahman Ritonga menempati tempat barunya sebagai Direktur Sistem Perbendaharaan, Harry Basar Hutapea sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Riau, R. Moch. Atlap Noor Syamsoe sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumsel, Bambang Suroso sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Banten, Seto Utarko sebagai  Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jabar, Sugianto sebagai  Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jatim, Teddy Rukmantara sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalbar, Agah Sugana sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTB, Alfiah sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sultra, sedangkan Hendro Baskoro menduduki jabatan baru sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Maluku.
Direktur Sistem Perbendaharaan yang baru, Abdul Rahman Ritonga mengaku kaget dengan terpilihnya beliau dengan jabatan baru tersebut. &ldquoSebenarnya saya tahu persis (menjadi Dirketur Sistem Perbendaharaan, red) setelah tanda tangan absen. Jadi cukup kaget. Saya termasuk ikhlas menerima pekerjaan. Apa yang diberikan pimpinan saya terima dengan niat ikhlas.&rdquo Ujar Abdul Rahman Ritonga
Sementara itu, Bambang Isnaeni Gunarto yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Sistem Perbendaharaan, diberi amanah baru menjadi Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Beliau menyatakan, &ldquoBagi saya jabatan adalah amanah, jadi harus siap ditempatkan dimana saja. Dengan berat hati saya tinggalkan perbendaharaan (Ditjen Perbendaharaan, red), tapi di Biro Umum ini tentu sama pentingnya, karena Kementerian Keuangan saat ini sedang meningkatkan kinerja, terutama dalam kaitannya dengan pelayanan.&rdquo Ujarnya.
Bambang juga berpesan kepada pejabat yang menggantikannya agar proses pekerjaan yang belum selesai harap diselesaikan, terutama dalam kaitannya dengan pembangunan sistem SPAN.
&ldquoJadi, untuk teman-teman yang saya tinggalkan tentunya yang saat ini dalam proses harus diselesaikan, terutama dalam menghadapi akhir Tahun Anggaran 2011 ini telah kita persiapkan semuanya. Kemudian, untuk mengantarkan SPAN sudah kita siapkan sampai 2012. Perencanaan kita sudah tertata rapih.&rdquo Pesan Bambang.
Oleh: Novri H.S. Tanjung dan Tino A. Prabowo &ndash Media Center Ditjen Perbendaharaan











&ldquoKegiatan ini sebagai perwujudan komitmen kita bersama untuk menuju laporan keuangan pemerintah agar mencapai opini yang terbaik, baik dalam LKKL maupun LKPP sehingga pada tahun 2011 dapat mencapai opini Wajar Tanpa Pengecualian seperti yang telah direncanakan sebelumnya,&rdquo kata Syaiful, Kepala Seksi Sistem Akuntansi Pusat dalam laporannya di hadapan para peserta.
Acara sosialisasi ini merupakan upaya untuk menjawab temuan BPK terkait penyempurnaan sistem dan berbagai prosedur dalam bidang akuntansi dan pelaporan keuangan. Peraturan yang mengatur proses dan perlakuan dalam bidang akuntansi dan pelaporan keuangan yang akan disosialisasikan antara lain adalah PMK No. 08/PMK.05/2010 tentang Laporan Konsolidasian BUN, PMK No. 28/PMK.05/2010 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Penerusan Pinjaman, PMK No. 63/PMK.05/2010 tentang Mekanisme Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban atas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah, PMK No. 102/PMK.05/2009 Tentang Tata Cara Rekonsiliasi Barang Milik Negara dalam Rangka Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, serta Perdirjen Kekayaan Negara Nomor Per-07/KN/2009 tentang Tata Cara Rekonsiliasi Data Barang Milik Negara Dalam Rangka Penyusunan LBMN dan LKPP.
&ldquoKick Off Change Management And Communication ini menjadi tepat karena manusia adalah aset yang sangat berharga dari suatu organisasi,&rdquo kata Herry Purnomo. &ldquoSebaik apapun system dan IT-nya tidak akan member arti apa-apa jika organisasi dan SDM-nya tidak siap merubah mindset, perilaku dan etos kerja,&rdquo tambah Direktur Jenderal Perbendaharaan ini saat membuka acara mewakili Menteri Keuangan.  
Acara Kick Off CMC tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, Country Director Worldbank, Delegasi Federal Treasury of Russia, perwakilan Negara donor, tim Reformasi Penganggaran dan Perbendaharaan Negara (RPPN) serta beberapa pejabat eselon II dan III Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan.
&ldquoChange management and communication yang saat ini dilakukan kick off-nya sangat perlu dilakukan untuk mempersiapkan organisasi dan sumber daya manusia agar sanggu dan mampu menjalankan seluruh inisiatif perubahan ini, yang bermuara pada peningkatan kinerja pengelolaan keuangan Negara,&rdquo jelas Dirjen Perbendaharaan.
Rangkaian lokakarya merupakan langkah  yang terstruktur dan sistematis, sebagai bentuk persiapan yang matang dalam rangka migrasi dari SAP berbasis Kas Menuju Akrual (Cash Towards Accrual) yang saat ini berlaku ke SAP yang berbasis Akrual (Full Accrual).
Implementasi akuntansi aset non keuangan perlu disesuaikan dengan karakteristik negara Indonesia. Maka, menjadi salah satu pokok pembahasan yang penting paparan konsep dan praktek-praktek implementasi akuntansi aset non keuangan yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia. Begitu pula, kendala yang akan dihadapi dalam penerapan akuntansi Non Financial Assets dalam penerapan akuntansi berbasis akrual di Indonesia menjadi salah satu pokok pembahasan.
&ldquoDulu kita (Direktorat Jenderal Perbendaharaan, red) melakukan kunjungan ke Rusia untuk belajar tentang perbendaharaan. Kini giliran mereka yang belajar kepada kita mengenai reformasi yang sudah kita lakukan,&rdquo kata Herry Purnomo, Direktur Jenderal Perbendaharaan di Jakarta, pada saat sambutan pembukaan Pembekalan Pejabat Eselon III Baru Angkatan II Tahun 2010 kemarin, setelah acara penyambutan delegasi Rusia. &ldquoKita perlu membuka hubungan dengan negara lain, agar kita tidak seperti katak dalam tempurung. Merasa puas dengan pencapaian kita sendiri,&rdquo lanjut beliau.
Seiring gerak organisasi yang cukup dinamis, pejabat eselon III diarahkan untuk mampu membagi waktu antara pelaksanaan tupoksi dengan perumusan pengembangan konsepsi organisasi yang sangat dinamis. &ldquoKita tidak boleh beku hanya melihat tupoksi, tapi kita juga harus kreatif bahwa nanti akan ada kebijakan dari pusat yang harus dilaksanakan, yang bisa saja belum terwadahi dalam tupoksi.&rdquo Ujar Herry Purnomo.
Selain itu, Direktorat PKN telah berupaya untuk melakukan peremajaan data referensi yang selanjutnya digunakan oleh sistem MPN. Salah satu sumber penting data referensi adalah data Kode Bank, Kode Cabang Bank, Nomor Rekening Kas Negara pada Bank/Pos Persepsi, kode Akun terkait penerimaan negara, dan data lainnya. Selanjutnya diperlukan pula update data yang kini berada pada KPPN-KPPN.
Selain itu, pada saat ini terdapat 101 satker dari berbagai kementerian/lembaga yang telah ditetapkan sebagai satker yang menerapkan PK BLU, dan adanya kemungkinan di masa mendatang akan semakin banyak lagi satker menerapkan PK BLU. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa kantor pusat khususnya Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU tidak dapat secara sendiri menangani keseluruhan tupoksinya karena cakupan layanan yang semakin luas. Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas, Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan KPPN perlu diberi peran yang lebih luas dalam rangka pembinaan mitra kerja satker BLU di wilayah masing-masing. Pembinaan yang akan dilaksanakan oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan KPPN mencakup peningkatan kinerja keuangan, penyusunan akuntansi dan pelaporan, serta pendampingan bagi satker yang sedang mempersiapkan untuk menjadi satker BLU.

