- Nasional
- Dilihat: 8071
Terus Bekerja, Tidur Jam Sebelas Bangun Jam Tiga
Liputan Pelaksanaan Akhir Tahun Anggaran 2010
Jakarta, perbendaharaan.go.id &ndash Penumpukan penyerapan anggaran yang dilakukan Kementerian/ Lembaga pada bulan Desember terjadi lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Keadaan tersebut mengakibatkan pertumbuhan ekonomi tidak optimal. Bahkan pelaksanaan proyek-proyek terkesan &lsquokejar tayang&rsquo. Berbagai upaya sistematis telah dilakukan oleh Kementerian Keuangan dengan harapan hal tersebut tidak akan terulang di tahun anggaran berikutnya.
Pelaksanaan Akhir Tahun Anggaran di KPPN Jakarta II
Suasana riuh bergemuruh di ruang Front Office (FO) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta II. Ruang tunggu penuh sesak oleh satuan kerja (satker), menunggu antrian pengajuan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS), Senin (20/12). Mereka membawa setumpuk berkas SPM yang memang pada hari itu batas pengajuan terakhirnya.
Direktur Jenderal Perbendaharaan, Herry Purnomo meninjau langsung suasana khas akhir tahun anggaran tersebut. Herry Purnomo ingin memastikan bahwa saat-saat krusial tersebut dapat dilewati dengan lancar, tanpa kendala. Selain itu, kedatangan Dirjen Perbendaharaan tersebut sekaligus memberi spirit bagi segenap jajaran KPPN Jakarta II dalam melaksanakan tugas yang cukup berat itu.
KPPN Jakarta II merupakan KPPN dengan beban kerja yang sangat tinggi. Separuh APBN dicairkan melalui kantor tersebut. Jumlah total pagu mencapai 593 triliun. Sampai dengan batas akhir pengajuan SPM-LS (20/12), realisasi anggaran mencapai 81%.
Memasuki bulan Desember, para satker telah datang sejak dini hari untuk antri. Petugas keamanan setempat menuturkan, sejak pukul 03.00 WIB para satker telah berdatangan untuk antri, meskipun loket antrian FO belum dibuka.
Sebanyak 28.534 Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) diterbitkan KPPN Jakarta II sejak tanggal 1 hingga 20 Desember 2010. Kepala KPPN Jakarta II, yang sementara ini dijabat oleh Kabid Pembinaan Perbendaharaan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. DKI Jakarta, Bambang Nugroho menuturkan bahwa pada masa rawan seperti ini, dia mewanti-wanti agar seluruh jajarannya agar tetap berpedoman pada aturan, meski kelak akan dinilai kaku.
Bambang juga menceritakan bahwa dirinya bersama pegawai lain tidur di kantor semenjak pelaksanaan akhir tahun anggaran. Hal itu dilakukan Bambang demi menjaga moril para pegawai untuk tetap semangat dan bertanggung jawab dalam bekerja.
Sementara itu Kepala Seksi Pencairan Dana I, Sudirman mengatakan, &ldquoTeman-teman (para pegawai, red) terus bekerja sampai tidur di Kantor. Mereka tidur jam 11.00, kemudian bangun jam 03.00 untuk melanjutkan pekerjaan,&rdquo ujarnya.
Kepala Seksi Pencaiaran Dana II, Abu Said Maha pun mengaminkan keadaan itu. &ldquoTeman-teman hanya beranjak dari tempat untuk makan dan shalat. Sebetulnya ada beberapa orang yang kelelahan hingga sedikit terganggu kesehatannya, tapi mereka tetap semangat bekerja, mungkin perlu dipertimbangakan suplemen khusus.&rdquo Ungkapnya.
Pelaksanaan Akhir Tahun Anggaran di KPPN Samarinda
Sementara itu, keadaan KPPN Samarinda pada awal sampai medio Desember 2010 disesaki oleh para stakeholder (mitra kerja red.) yang akan mengajukan permintaan dana pada akhir tahun anggaran 2010. Lonjakan pengunjung mulai terasa pada minggu kedua Desember 2010 dan puncaknya pada hari Senin ini (20/12). Berdasarkan pengamatan terdapat lebih dari seratus orang yang datang pada hari Senin (20/12) dan jumlah itu hampir merata sepanjang bulan Desember 2010 ini.
Jarak yang jauh tidak menjadi halangan para stakeholder untuk mengunjungi KPPN pada hari-hari terakhir pengajuan ini. Seperti yang dialami Ferry MP Tambunan. Ferry adalah bendahara Kantor Pelabuhan Sangatta. Untuk sampai di KPPN, dia harus menempuh perjalanan darat sekitar 160 km dari kantornya di Sangatta Kabupaten Kutai Timur. &ldquoSaya sudah menginap satu malam di Samarinda&rdquo katanya.
Pada tanggal 20 Desember 2010 saja jumlah SP2D yang telah diterbitkan sebanyak 624 dengan jumlah nominal sebesar Rp 58.588.876.862,-. Untuk dana yang berasal dari pinjaman luar negeri telah diterbitkan SP2D sebanyak 24 dengan jumlah nominal sebesar Rp. 59.100.962.862,-. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah sampai dengan tanggal 29 Desember 2010 yang merupakan batas akhir penerbitan SP2D LS.
Sementara itu, dari tanggal 1 sampai dengan 20 Desember 2010 telah terbit SP2D sebanyak 5.619 dengan jumlah nominal sebesar Rp. 409.019.918.945,- termasuk didalamnya SP2D untuk gaji bulan Desember 2010 dengan jumlah nominal kotor sebesar Rp. 42.767.029.430,-. Sampai berita ini diturunkan, telah terealisasi dana APBN sebesar Rp. 2.611.436.659.023,- dari total dana sebesar Rp. 2.954.690.642.500,-. Dengan persentase sebesar 88,38 %.
Kepala KPPN Samarinda, Widoyoko Sapto Putro memberikan perhatian lebih terhadap proses akhir tahun ini. Selain mengadakan sosialisasi tentang langkah-langkah akhir tahun, juga telah dibentuk satuan tugas (satgas). Satgas ini bertugas untuk memonitor pelaksanaan akhir tahun dari mulai hal-hal terkecil seperti pengadaan supplies komputer sampai pengaturan petugas front office. Satgas ini dinilai efektif dalam menunjang kelancaran akhir tahun. Semoga Niat KPPN Samarinda untuk mengakhiri tahun anggaran 2010 dengan sukses dapat tercapai dan proses pelayanan berjalan lancar dan memuaskan semua pihak.
Oleh : Novri H.S Tanjung &ndash Media Center Ditjen Perbendaharaan
Vina Eriyandi &ndash Kontributor Samarinda









Direktur Pembinaan PK-BLU, Hari Utama dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 merupakan contoh nyata dari pelaksanaan layanan publik yang berorientasi pada kinerja di lingkungan pemerintah. Dengan demikian, satker BLU diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan terutama yang berkaitan dengan corporate governance, dengan melakukan pembenahan internal organisasi termasuk didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten dan profesional serta memiliki pola pikir sebagai entrepreneurs dengan tidak meninggalkan prinsip bahwa satuan kerja BLU tidak mengutamakan pencarian keuntungan (not for profit).
Materi Rapat Koordinasi tentang tata kelola keuangan BLU, pengukuran kinerja keuangan, dan pola pengelolaan rekening disampaikan oleh narasumber dari Dit. Pembinaan PK-BLU (Bpk. Muhson, Bpk. Sudarso, Bpk. Catur Ariyanto Widodo dan Bpk. Hermawan Sukoasih) dan dari Dit. PPKN oleh Bpk. Wibawa Pram Sihombing. Turut sebagai narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi adalah Direktur RS Kariadi, Semarang dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang mengupas tentang tantangan dan peluang satuan kerja BLU ke depan.
Herry Purnomo juga mengatakan bahwa Implementasi basis akrual ini merupakan tantangan besar bagi Pemerintah, dan harus dilakukan secara hati-hati dengan persiapan yang matang dan terstruktur terkait dengan peraturan, sistem, dan Sumber Daya Manusia (SDM).
&rdquoBLU dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,&rdquo kata K. A. Badaruddin, Sekretaris Ditjen Perbendaharaan. &rdquoHarus disadari bahwa pembentukan BLU tidak menitikberatkan pada mencari keuntungan, BLU not for  profit,&rdquo lanjut beliau.
Pada hari kedua, tampil sebagai pemateri adalah Dr. Ancella Hermawan, MBA dari Universitas Indonesia. Pakar akuntansi dari UI ini membahas mengenai Akuntansi Biaya yang merupakan konsep dasar penyusunan RBA. Peserta diajak mendalami konsepsi biaya langsung dan biaya tidak langsung, tetap dan variabel, serta teknik-teknik menentukan komponen biaya yang baik. Untuk lebih memahaminya, acara dilanjutkan dengan Simulasi Penyusunan RBA oleh tim dari Direktorat PPK-BLU. Para peserta diajak untuk menyusun RBA dan mempresentasikannya untuk langsung direviu oleh tim.
Lokakarya dihadiri oleh sekitar 150 orang yang terbagi dalam dua angkatan. Mereka berasal dari beberapa unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yaitu DJPBN, DJKN, Inspektorat Jenderal dan Sekretariat Jenderal.
&rdquoLokakarya ini diselenggarakan dengan tujuan agar kita dapat memperoleh pengalaman dari Pemerintah Western Australia dalam melakukan manajemen keuangan dan pelaporan keuangannya,&rdquo tambahnya mengakhiri laporannya.
anajemen kas dalam rangka mencapai pengelolaan kas yang lebih optimal. Termasuk perbaikan pada sisi proses pengelolaan utang dan pengelolaan Barang Milik Negara yang dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing unit eselon I yang terkait di Kementerian Keuangan.
&ldquoMasalah pemahaman dan komitmen di tingkat pimpinan Kementerian Negara/Lembaga untuk penerapan akuntansi berbasis akrual, serta kemampuan SDM di bidang akuntansi yang belum memadai dan tidak merata di seluruh Kementerian Negara/Lembaga menjadikan system ini belum bisa diterapkan,&rdquo kata Herry Purnomo. &ldquoPenting untuk kita lakukan kajian atas tahapan-tahapan yang perlu dibuat secara sistematis dalam mengimplementasikan SAP berbasis akrual,&rdquo sambung beliau. &ldquoDi samping itu kita masih perlu mengembangkan peraturan dan sistem akuntansi,&rdquo tambahnya lagi.
Kementerian/Lembaga dapat diukur dari semakin meningkatnya kualitas LKKL,&rdquo tambah beliau.
&rdquoSudah saatnya kita lebih giat lagi untuk membenahi akuntansi dan pelaporan keuangan, baik dari sisi peningkatan kualitas sistem akuntansi maupun dari sisi peningkatan kualitas SDM kita. Langkah-langkah perbaikan hendaknya haruslah dirumuskan dengan cermat dan dijalankan dengan sepenuh hati agar kualitas LKPP dan LKKL tahun 2010 dapat meningkat,&rdquo Ujar Sonny Loho dihadapan para peserta workshop, yang terdiri dari Kepala Biro Keuangan, Perlengkapan,Umum Kementerian Negara/Lembaga, para Inspektur Kementerian Negara/Lembaga, juga para pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan.

