- Nasional
- Dilihat: 18346
Herry Purnomo: “Saya Juga Mulai Dari Pelosok”
Liputan Pengarahan Calon Pegawai Baru Lulusan STAN
Jakarta, perbendaharaan.go.id&ndash Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tidak salah jika peribahasa tersebut jika dibandingkan dengan nasihat dari Direktur Jenderal Perbendaharaan kepada para calon pegawai baru lulusan STAN tahun 2010 yang disampaikan kemarin, 6 Januari 2011, di Jakarta.
&ldquoSebenarnya saya menginginkan putra-putra daerah bisa memimpin organisasi (Ditjen Perbendaharaan-red) di daerah,&rdquo kata Herry Purnomo, Direktur Jenderal Perbendaharaan kemarin di Jakarta. &ldquoTetapi karena sistem penyaringan (masuk STAN-red) terbuka, maka orang-orang daerah, utamanya Indonesia Timur, masih kalah bersaing. Inilah tantangannya. Jadi kalian harus siap untuk ditempatkan di seluruh Indonesia,&rdquo lanjut beliau di hadapan 196 orang lulusan STAN tahun 2010.
&ldquoSaya dulu juga mulai dari pelosok,&rdquo kata orang nomor satu di Ditjen Perbendaharaan itu. &ldquoPertama kali saya ditempatkan di pelosok. Sarana transportasi belum seperti sekarang. Pesawat  yang ada hanya pesawat tipe &lsquodiisi nine&rsquo, bukan DC-9, jumlah penumpangnya hanya 9,&rdquo sambung beliau disambut gelak tawa para pegawai.
Dalam arahannya, Direktur Jenderal Perbendaharaan tersebut menekankan pentingnya integritas dalam diri para pegawai. Hal tersebut sangat penting untuk menjaga dan melanjutkan reformasi birokrasi yang telah berhasil dibangun di lingkungan organisasinya.
&ldquoWajah-wajah anda adalah wajah-wajah meyakinkan. Semoga saya tidak menemukan wajah Gayus di sini. Yang saya maksud adalah kelakuan Gayus. Wajah boleh mirip tetapi kelakuan jangan,&rdquo tambah Herry Purnomo lagi.
Penempatan pertama di pelosok menurut beliau sangat bermanfaat untuk menempa mental para pegawai. Mereka akan menjadi pegawai-pegawai dengan mental tangguh. Dirjen Perbendaharaan yakin bahwa para pegawai lulusan STAN akan menjadi motor bagi kantor-kantor di pelosok-pelosok Indonesia.
&ldquoSaya minta ke Pak Sekretaris untuk jangan ada yang ditempatkan di Jakarta. Kita fokus di pelosok-pelosok. Ada 177 KPPN, dikurangi 33 KPPN di ibu kota propinsi dan KPPN di pulau Jawa, saya kira satu KPPN bisa-lah mendapatkan satu orang (lulusan STAN-red),&rdquo tambahnya.
&ldquoSaudara harus bisa menjadi motor. Saudara wajib menyerahkan tenaga dan pikiran Saudara,&rdquo kata Herry Purnomo.  &ldquoAnda harus mempercepat interaksi dengan lingkungan kantor yang baru. Banyak orang menilai bahwa kultur di Ditjen Perbendaharaan itu sangat bagus. Kebersamaannya sangat tinggi,&rdquo tambah beliau lagi.
Di samping menjelaskan tentang masalah penempatan, Herry Purnomo juga menyampaikan tentang masa depan para pegawai di Ditjen Perbendaharaan. Dikatakan oleh Dirjen Perbendaharaan bahwa semua pegawai mempunyai hak yang sama untuk mengembangkan diri. Ditjen Perbendaharaan memfasilitasi dengan adanya program beasiswa bagi para pegawainya. &ldquoKita juga mempunyai time frame karir yang jelas,&rdquo kata Herry Purnomo lagi.
Sementara dalam laporannya, K. A. Badaruddin, Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, menyampaikan bahwa pegawai baru lulusan STAN tahun 2010 berjumlah 196 orang. Mereka telah diterima pada tanggal 1 Nopember 2010 dan telah diberikan pembekalan.
&ldquoKeseluruhan lulusan STAN 2010 ini berjumlah 196 orang,&rdquo kata K. A. Badaruddin. &ldquoKepada mereka telah diberikan pembekalan. Tanggal 8 &ndash 10 Nopember 2010 diberikan motivasi dan tanggal 13 &ndash 14 Nopember 2010 berbentuk outbond,&rdquo lanjut beliau. &ldquoSaat ini mereka sedang mengikuti program pemagangan pada instansi vertikal di Kantor Pusat (Ditjen Perbendaharaan-red)  dan kantor daerah di Jakarta,&rdquo tambah beliau lagi.
Acara pengarahan yang berjalan sangat santai tersebut sekaligus menjadi ajang perkenalan para pejabat eselon II kantor pusat dan beberapa pejabat eselon tiga Sekretariat, mereka adalah K. A. Badaruddin, Tri Buwono Tunggal, Abdul Rahman Ritonga, Hasudungan Siregar, Tata Suntara, Sony Loho, Hari Utama Ribowo dan Anandiwati. Sementara pejabat eselon III tampak hadir adalah Sahat M. T. Panggabean, Didyk Choiroel, Ahmad Syaifuddin, Ludiro, Hery Sunyoto dan Rinaldi.
Oleh : Bambang Kismanto dan Reno Samudera &ndash Media Center Perbendaharaan
 











Kinerja ekonomi dan fiskal kita hingga triwulan IV 2010 menunjukkan indikasi yang prospektif dan kondusif bagi pembangunan nasional. Kinerja APBN kita pun meningkat dari perkiraan semula. Pada sisi pendapatan negara, diperkirakan akan meningkat 1,5% dari target APBN-P 2010 menjadi Rp1.007,1 triliun. Sementara penyerapan anggaran di Tahun Anggaran 2010 diperkirakan mencapai 93,5%, atau tertinggi dalam empat tahun terakhir. Adapun defisit anggaran diperkirakan akan turun signifikan dari target semula sebesar 2,1% atau sebesar Rp133,7 triliun menjadi 1,1% atau sebesar Rp72,4 triliun.
Menteri Keuangan RI Agus Martowardojo dalam laporannya menyampaikan, &ldquoPercepatan penyerahan DIPA ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan dana untuk membiayai  kegiatan pemerintahan sejak hari kerja pertama tahun anggaran 2011.&rdquo
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan &ldquoMeski di DKI Jakarta kontribusi APBN maupun APBD tidak begitu signifikan, namun saya ingin menekankan bahwa semua pihak, termasuk partai-partai politik, yang menjadi bagian dari decision making process harus bekerja keras dalam turut mendorong pencapaian output dan outcome.&rdquo
Adapun anggaran belanja negara dialokasikan sebesar Rp.1.229,6 triliun atau meningkat sebesar 9,2 persen dari tahun anggaran sebelumnya.  Defisit anggaran, diproyeksikan pemerintah sebesar Rp.124,66 triliun atau 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).  Defisit anggaran itu akan dibiayai utamanya dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri, dan sumber luar negeri sebagai pelengkap. Untuk mewujudkan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability), pemerintah mengedepankan pembiayaan APBN yang menerapkan prinsip pengelolaan anggaran negara yang sehat dan penuh kehati-hatian (prudent).
Penerapan penganggaran berbasis kinerja  merupakan langkah penting dan berarti dalam sistem keuangan negara.  Penerapan penganggaran berbasis kinerja ini memberikan konsekuensi bahwa setiap Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran harus mempertanggungjawabkan anggaran yang digunakannya sesuai indikator kinerja yang terukur dan sudah disepakati.
Sebanyak 28.534 Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) diterbitkan KPPN Jakarta II sejak tanggal 1 hingga 20 Desember 2010. Kepala KPPN Jakarta II, yang sementara ini dijabat oleh Kabid Pembinaan Perbendaharaan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. DKI Jakarta, Bambang Nugroho menuturkan bahwa pada masa rawan seperti ini, dia mewanti-wanti agar seluruh jajarannya agar tetap berpedoman pada aturan, meski kelak akan dinilai kaku.
Direktur Pembinaan PK-BLU, Hari Utama dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 merupakan contoh nyata dari pelaksanaan layanan publik yang berorientasi pada kinerja di lingkungan pemerintah. Dengan demikian, satker BLU diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan terutama yang berkaitan dengan corporate governance, dengan melakukan pembenahan internal organisasi termasuk didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten dan profesional serta memiliki pola pikir sebagai entrepreneurs dengan tidak meninggalkan prinsip bahwa satuan kerja BLU tidak mengutamakan pencarian keuntungan (not for profit).
Materi Rapat Koordinasi tentang tata kelola keuangan BLU, pengukuran kinerja keuangan, dan pola pengelolaan rekening disampaikan oleh narasumber dari Dit. Pembinaan PK-BLU (Bpk. Muhson, Bpk. Sudarso, Bpk. Catur Ariyanto Widodo dan Bpk. Hermawan Sukoasih) dan dari Dit. PPKN oleh Bpk. Wibawa Pram Sihombing. Turut sebagai narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi adalah Direktur RS Kariadi, Semarang dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang mengupas tentang tantangan dan peluang satuan kerja BLU ke depan.
Herry Purnomo juga mengatakan bahwa Implementasi basis akrual ini merupakan tantangan besar bagi Pemerintah, dan harus dilakukan secara hati-hati dengan persiapan yang matang dan terstruktur terkait dengan peraturan, sistem, dan Sumber Daya Manusia (SDM). 

