Liputan Rapat Koordinasi Penutupan Tahun Anggaran 2010
Jakarta, perbendaharaan.go.id - Menteri Keuangan, Agus Martowardojo memberikan apresiasi atas berbagai torehan prestasi dari jajaran Kemenkeu di TA 2010. Hal itu disampaikan Agus dihadapan seluruh jajaran eselon I dan II Kementerian Keuangan dalam Rapat Koordinasi Penutupan Tahun Anggaran 2010, Jumat malam (31/12) di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan.
Malam itu, suasana kekeluargaan terasa begitu hangat dan akrab. Seluruh pejabat dari unit eselon I masing-masing berbaur menjadi satu kesatuan. Terlebih lagi, hampir seluruh pejabat yang ada datang dengan didampingi oleh isteri mereka.
Dalam arahannya, Agus bersyukur bahwa Tahun Anggaran 2010 beberapa saat lagi akan berakhir. Hal itu berarti, dalam waktu yang tidak lama lagi sumbangsih Kementerian Keuangan di tahun ini akan menjadi ukiran rangkaian sejarah bagi generasi penerus bangsa di masa yang akan datang.
Agus juga mengulas kembali kinerja Kemenkeu di TA 2010, indeks pasar saham terus mencatat tren meningkat. IHSG kemarin ditutup pada level 3.703,512, jauh lebih tinggi dibanding dengan periode yang sama di tahun 2009 atau meningkat lebih dari 45%. Sebuah peningkatan yang tertinggi dibanding dengan indeks pasar saham regional. Sementara nilai kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dibanding tahun 2009 dengan peningkatan sebesar lebih dari 60% menjadi lebih dari Rp3.240 triliun.
Kinerja ekonomi dan fiskal kita hingga triwulan IV 2010 menunjukkan indikasi yang prospektif dan kondusif bagi pembangunan nasional. Kinerja APBN kita pun meningkat dari perkiraan semula. Pada sisi pendapatan negara, diperkirakan akan meningkat 1,5% dari target APBN-P 2010 menjadi Rp1.007,1 triliun. Sementara penyerapan anggaran di Tahun Anggaran 2010 diperkirakan mencapai 93,5%, atau tertinggi dalam empat tahun terakhir. Adapun defisit anggaran diperkirakan akan turun signifikan dari target semula sebesar 2,1% atau sebesar Rp133,7 triliun menjadi 1,1% atau sebesar Rp72,4 triliun.
Dunia internasional pun telah mengakui bahwa perekonomian Indonesia selama dan pasca krisis telah menunjukkan kinerja terbaik ketiga di dunia. Investasi asing dan domestik yang meningkat mengindikasikan bahwa perekonomian kita masih prospektif dan menjanjikan merupakan daya tarik tersendiri bagi investor. Kondisi Rupiah pun terus menunjukkan stabilitas yang konsisten di level Rp9.000 per dollar Amerika yang salah satunya disebabkan oleh sentimen positif atas surplus neraca perdagangan yang terus meningkat dan iklim investasi yang terus membaik.
Di penghujung arahannya Agus berterima kasih pada jajaran Kemenkeu, &ldquoAtas nama pribadi dan atas nama pimpinan ingin menyampaikan kepada Bapak-Ibu, terima kasih atas kontribusimu, terima kasih untuk semua kerja baikmu, dedikasimu, kerja kerasmu, kerja cerdasmu, kerja ikhlasmu.&rdquo
Namun demikian, Agus mengingatkan meskipun banyak prestasi yang telah di capai di TA 2010 agar kemenkeu tetap memperbaiki diri di TA 2011. Diantaranya, tetap menjaga prinsip good governance, integritas, profesionlitas dalam bekerja.
Acara Rakor Penutupan Tahun Anggaran 2010 yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 dan berakhir pukul 22.00 WIB tersebut, dimeriahkan oleh kehadiran biduan dan biduanita dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Pajak, Bea Cukai, Anggaran dan Inspektorat Jenderal.
Oleh : Novri, Reno, Tino &ndash Media Center Ditjen Perbendaharaan










Menteri Keuangan RI Agus Martowardojo dalam laporannya menyampaikan, &ldquoPercepatan penyerahan DIPA ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan dana untuk membiayai  kegiatan pemerintahan sejak hari kerja pertama tahun anggaran 2011.&rdquo
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan &ldquoMeski di DKI Jakarta kontribusi APBN maupun APBD tidak begitu signifikan, namun saya ingin menekankan bahwa semua pihak, termasuk partai-partai politik, yang menjadi bagian dari decision making process harus bekerja keras dalam turut mendorong pencapaian output dan outcome.&rdquo
Adapun anggaran belanja negara dialokasikan sebesar Rp.1.229,6 triliun atau meningkat sebesar 9,2 persen dari tahun anggaran sebelumnya.  Defisit anggaran, diproyeksikan pemerintah sebesar Rp.124,66 triliun atau 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).  Defisit anggaran itu akan dibiayai utamanya dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri, dan sumber luar negeri sebagai pelengkap. Untuk mewujudkan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability), pemerintah mengedepankan pembiayaan APBN yang menerapkan prinsip pengelolaan anggaran negara yang sehat dan penuh kehati-hatian (prudent).
Penerapan penganggaran berbasis kinerja  merupakan langkah penting dan berarti dalam sistem keuangan negara.  Penerapan penganggaran berbasis kinerja ini memberikan konsekuensi bahwa setiap Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran harus mempertanggungjawabkan anggaran yang digunakannya sesuai indikator kinerja yang terukur dan sudah disepakati.
Sebanyak 28.534 Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) diterbitkan KPPN Jakarta II sejak tanggal 1 hingga 20 Desember 2010. Kepala KPPN Jakarta II, yang sementara ini dijabat oleh Kabid Pembinaan Perbendaharaan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. DKI Jakarta, Bambang Nugroho menuturkan bahwa pada masa rawan seperti ini, dia mewanti-wanti agar seluruh jajarannya agar tetap berpedoman pada aturan, meski kelak akan dinilai kaku.
Direktur Pembinaan PK-BLU, Hari Utama dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 merupakan contoh nyata dari pelaksanaan layanan publik yang berorientasi pada kinerja di lingkungan pemerintah. Dengan demikian, satker BLU diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan terutama yang berkaitan dengan corporate governance, dengan melakukan pembenahan internal organisasi termasuk didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten dan profesional serta memiliki pola pikir sebagai entrepreneurs dengan tidak meninggalkan prinsip bahwa satuan kerja BLU tidak mengutamakan pencarian keuntungan (not for profit).
Materi Rapat Koordinasi tentang tata kelola keuangan BLU, pengukuran kinerja keuangan, dan pola pengelolaan rekening disampaikan oleh narasumber dari Dit. Pembinaan PK-BLU (Bpk. Muhson, Bpk. Sudarso, Bpk. Catur Ariyanto Widodo dan Bpk. Hermawan Sukoasih) dan dari Dit. PPKN oleh Bpk. Wibawa Pram Sihombing. Turut sebagai narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi adalah Direktur RS Kariadi, Semarang dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang mengupas tentang tantangan dan peluang satuan kerja BLU ke depan.
Herry Purnomo juga mengatakan bahwa Implementasi basis akrual ini merupakan tantangan besar bagi Pemerintah, dan harus dilakukan secara hati-hati dengan persiapan yang matang dan terstruktur terkait dengan peraturan, sistem, dan Sumber Daya Manusia (SDM).
&rdquoBLU dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,&rdquo kata K. A. Badaruddin, Sekretaris Ditjen Perbendaharaan. &rdquoHarus disadari bahwa pembentukan BLU tidak menitikberatkan pada mencari keuntungan, BLU not for  profit,&rdquo lanjut beliau.
Pada hari kedua, tampil sebagai pemateri adalah Dr. Ancella Hermawan, MBA dari Universitas Indonesia. Pakar akuntansi dari UI ini membahas mengenai Akuntansi Biaya yang merupakan konsep dasar penyusunan RBA. Peserta diajak mendalami konsepsi biaya langsung dan biaya tidak langsung, tetap dan variabel, serta teknik-teknik menentukan komponen biaya yang baik. Untuk lebih memahaminya, acara dilanjutkan dengan Simulasi Penyusunan RBA oleh tim dari Direktorat PPK-BLU. Para peserta diajak untuk menyusun RBA dan mempresentasikannya untuk langsung direviu oleh tim. 

