Liputan workshop Cascading Balanced Scorecard Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five
Jakarta, perbendaharaan.go.id. &ldquoSeiring dengan Program Reformasi Birokrasi, salah satu kebijakan yang dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kinerja adalah penggunaan sistem manajemen kinerja berbasis balanced scorecard atau BSc.BSc sebagai alat manajemen kinerja, pada praktiknya akan menerjemahkan visi dan misi organisasi pada suatu yang terukur secara objektif dan realistis untuk dicapai. Sehingga, penerapan BSc pada dasarnya akan mempermudah suatu organisasi dalam mencapai tujuan strategisnya. Dengan diterapkannya manajemen kinerja berbasis BSc, Ditjen Perbendaharaan diharapkan semakin fokus dalam mencapai tujuan strategis yang telah ditetapkannya.&rdquo Demikian disampaikan oleh Kepala Bagian Administrasi Kepegawaian Ludiro ketika memberikan pengarahannya mewakili Sekretaris Ditjen Perbendaharaan dalam acara pembukaan Workshop Cascading Balanced Scorecard Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five di Jakarta (23/5/2011).
Pada kesempatan terpisah Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana Didyk Choiroel menegaskan adanya urgensi untuk segera mengimplementasikan BSc sampai dengan level Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five. &ldquoTarget awalnya memang baru sebatas mengetahui dan menyusun metodologinya, serta menetapkannya dalam ko
ntrak kinerja Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five. Target berikutnya baru mengenai tata kelolanya dan keterkaitannya dengan Kemenkeu-One, Kemenkeu-Two, dan Kemenkeu-Three. Bagaimana mendudukkan ada di mana fungsi kita dan menggambarkan betapa strategisnya substansi pekerjaan kita dalam peta organisasi eselon I dan II. Penyusunan Kemenkeu-Fourdan Kemenkeu-Five menjadi sebuah keharusan agar tercipta sinergi antara fokus kinerja yang ingin dicapai pimpinan organisasi dengan pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit dibawahnya,&rdquoungkapnya.
&ldquoHal yang krusial dalam penyusunan IKU (Indikator Kinerja Utama- red.) adalah mendiagnosis kembali apakah pekerjaan yang kita lakukan penting buat organisasi atau hanya penting untuk kita. Pencapaian visi dan misi Kemenkeu harus tercermin melalui pencapaian IKU. Bila pekerjaan tidak ada hubungannya dengan IKU berarti pekerjaan itu penting bagi kita tetapi tidak penting bagi Kemenkeu,&rdquo terangnya.
Workshop diadakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang memadai kepada pegawai Ditjen Perbendaharaan tentang konsep BSc. Untuk itu, perlu dilakukan internalisasi  konsep BSc pada seluruh pegawai dan pejabat Ditjen Perbendaharaan, khususnya para pejabat eselon IV yang akan dibebankan tanggung jawab untuk menyusun Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five.P
enyusunan Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five menjadi keharusan, agar tercipta sinergi antara fokus kinerja yang ingin dicapai pimpinan organisasi dengan kinerja yang dilaksanakan oleh unit dibawahnya.
Workshop diselenggarakan bekerjasama dengan Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan (Pushaka), dalam hal penyediaan materi dan narasumber. Adapun pesertanya terdiri dari pertama,peserta dari Kantor Pusat, yaitu manajer kinerja, administrator pengelola IKU, pejabat eselon IV yang ditunjuk kedua,peserta dari kantor wilayah, yakni manajer kinerja (kabag umum), administrator  pengelola  IKU,  petugas operator yang ditunjuk ketiga, peserta dari KPPN, antara lain: kasubbag umum dan pelaksana yang ditunjuk sebagai operator.
Sebelumnya Kasubbag Evaluasi Hasil Pemeriksaan dan Kinerja Arif Kurniadi dalam laporannya menjelaskan bahwa workshop tersebut diselenggarakan sebagai salah satu upaya untuk mempercepat penyusunan Kemenkeu-Four dan Kemenkeu-Five pada tahun 2011. &ldquoAcara workshop ini dilaksanakan di tujuh lokasi, yaitu Medan, Balikpapan,Makassar, Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Denpasar. Untuk di Jakarta dilaksanakan dalam dua tahap: tahap pertama pada tanggal 23 sampai dengan 25 mei dan tahap kedua berlangsung pada tanggal 26 sampai dengan 27 Mei,&rdquo imbuhnya.
Oleh : Hendy S. Yudhiyanto dan Bambang Kismanto (Media Center Ditjen Perbendaharaan)









Dalam kesempatan tersebut, Agus Suprijanto mengapresiasi perubahan positif yang telah dimotori oleh para pejabat dalam unit Eselon I yang dipimpinnya. &ldquoKPPN atau Kanwil sudah menerapkan kantor modern dengan Front Office dan Middle Office serta Back Office. &ldquoYang lebih penting dari semua itu adalah mindset kita sudah mengalami perubahan yang luar biasa&rdquo tutur Agus merujuk pada perubahan yang ditemui saat kunjungan ke beberapa unit kerja vertikal DJPBN.
Motivational Achievement KPPN Percontohan kali ini dibuka oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa barat, Seto Utarko, mewakili Sekretaris Ditjen Perbendaharaan. Dalam sambutannya, Seto mengapresiasi kegitan tersebut sebagai ajang penyegaran dan pengembangan diri bagi para pegawai di sela rutinitasnya.
Sementara itu, S. Bambang  Suroso membahas peran KPPN Percontohan dalam keberlangsungan dan kelanjutan reformasi birokrasi. Bambang juga mengulas keberlangsungan acara ini sebagai pembentukan tim yang Kuat. &ldquoDengan kegiatan ini (simulasi permainan, red.) terbukti kita enggak  mampu bekerja sendiri. Untuk itu perlu teamwork yang Kuat,&rdquo ujarya.
Beberapa narasumber yang diundang untuk mengisi acara ini antara lain dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengulas tentang hal-hal yang mengakibatkan tuntutan ganti rugi kepada bendahara pengeluaran, pencegahannya, serta  proses penyelesaian kerugian atas keuangan negara. Pada sesi berikutnya narasumber dari Direktorat Jenderal Pajak memaparkan pokok bahasan mengenai cara tepat dalam penanganan pajak, masalah-masalah terkait Bendahara Pengeluaran sebagai Wajib Pungut/ Wajib Setor, serta sanksi administratif yang ditanggung secara pribadi oleh bendahara pengeluaran.
&ldquoIni kami lakukan agar tidak ada SPM palsu yang masuk ke KPPN kami,&rdquo ujar Adil Aziz, Kepala KPPN Jakarta V saat ditanya mengenai hal ini oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan.
Direktur Jenderal Perbendaharaan sangat bersyukur dapat datang ke KPPN Jakarta V, salah satu KPPN dengan volume kerja terbesar di seluruh nusantara tersebut.
Menindaklanjuti implikasi penganggaran berbasis kinerja (PBK) yang luas, tidak hanya dalam lingkup Kementerian Keuangan akan tetapi juga termasuk di dalamnya Kementerian/Lembaga, Dirjen Perbendaharaan meminta agar hal ini diberikan perhatian yang lebih besar. Menurutnya, walaupun telah banyak proses bisnis yang telah dibuat untuk mengantisipasi PBK akan tetapi masih diperlukan aplikasi-aplikasi yang efisien dan sekaligus dapat digunakan untuk memantau output maupun outcome yang dihasilkan dari pembelanjaan anggaran kita.
Dalam kunjungan kerja di Banjarmasin, Agus Suprijanto menginisiasi pertemuan regional se-Kalimantan dengan seluruh pucuk pimpinan Kanwil yang ada. Tidak kurang dari Kepala Kanwil Prov. Kalimantan Tengah, Joko Wihantoro Kepala Kanwil Prov. Kalimantan Timur, Nanung Kepala Kanwil Prov. Kalimantan Barat, Teddy Rukmana hingga tuan rumah, Kepala Kanwil Prov. Kalimantan Selatan, Elin Sumarlina hadir dalam acara yang dilaksanakan pada Sabtu (16/4).

