Bandeng loro ning wajan kepanggang
Yen kepanggang ojo dienteni
Sugeng rawuh ning kutha Malang
Kutha Malang sing adem lan asri
Liputan Penilian Kantor Pelayanan Percontohan Tingkat Kementerian Keuangan di KPPN Malang
Malang, perbendaharaan.go.id &ndash Sepenggal parikan (pantun dalam bahasa Jawa) menyambut kedatangan tim penilai Kantor Pelayanan Percontohan tingkat Kementerian Keuangan di halaman KPPN Malang, Kamis (19/9). Adalah Weningtyas Trishandayani dan Riduwan yang menyuguhkan parikan dari pembawa acara yaitu membuka acara penyambutan tersebut. Tidak hanya parikan, tamu undangan serta tim penilai disuguhi dengan gerak berirama tarian khas Malangan &lsquoKembang Genjret&rsquo yang dibawakan oleh 3 penari dari pegawai KPPN Malang. Selama kurang lebih 20 menit acara penyambutan usai, para tamu dipersilakan naik ke aula KPPN Malang di lantai 2, sedangkan tim penilai masuk ruangan menuju ruang front offfice.
Direktur Sistem Perbendaharaan, Iskandar, dalam sambutan pembukaan menyatakan perlunya memotivasi kantor instansi vertikal untuk meningkatkan pelayanan kepada stakeholder, salah satunya dengan pelaksanaan Beauty Contest Kantor Pelayanan di lingkup Kementerian Keuangan. Hal itu juga dimaksudkan sebagai alat ukur pelaksanaan reformasi birokrasi serta wujud penghargaan atas kinerja yang telah dilakukan. Sebelum dilakukan penilaian diputar terlebih dahulu video profil KPPN Malang dan lantunan lagu Bagimu Negeri serta Mars KPPN Malang oleh tim paduan suara.
Sementara itu, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur, Pardiharto, menyatakan bahwa penilian kantor pelayanan percontohan tersebut merupakan bentuk pembinaan aparatur negara yang diarahkan untuk peningkatan kinerja pelayanan publik.
&ldquoPenilaian ini adalah bentuk pembinaan agar tercapai pelayanan prima,&rdquo kata Pardihartodalam sambutannya. &ldquoUntuk mencapai pelayanan yang cepat, tepat, aman, berkeadilan dan akuntabel, diperlukan dorongan kinerja sekaligus evaluasi kemajuan peningkatan kinerja pelayanan public,&rdquo lanjut orang nomor satu di Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur tersebut.
Dalam kesempatan menyambut tim penilai dari Kementerian Keuangan yang dipimpin oleh Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana, Charmeida Tjokrosuwarno, Pardiharto juga memperkenalkan prestasi KPPN Malang.
&ldquoKPPN Malang adalah kantor peraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBM) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) dengan nilai 99,18 dari skala 100 yang diberikan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,&rdquo ungkapnya. &ldquoMenurut Permenpan Nomor 60 Tahun 2012, nilai yang dipersyaratkan untuk memperoleh predikat WBK dan WBBM adalah 75,00 dari skala 100,&rdquo lanjutnya.
Salah satu pejabat eselon II di Ditjen Perbendaharaan tersebut juga memberikan apresiasi kepada KPPN Malang yang telah meraih prestasi 3 besar penilaian Kantor Pelayanan Percontohan Tingkat Kementerian Keuangan. 
&ldquoCapaian KPPN Malang saat ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh jajaran KPPN Malang maupun Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur,&rdquo ungkap Pardiharto. &ldquoOleh karena itu, dalam kesempatan ini, atas nama pimpinan Direktorat Jenderal Perbendaharaan saya sampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pimpinan dan pegawai KPPN Malang dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur,&rdquo tambahnya.
&ldquoKPPN Malang mengelola 205 DIPA dari 169 Satuan Kerja. 4 Bank Operasional I, 5 Bank Operasional II dan 3 Bank Operasional III serta 30 Bank Persepsi dan 1 Kantor Pos untuk menerima penerimaan Negara. Dengan komposisi pegawai 70% perempuan dan 30% laki-laki, menjadi tantangan tersendiri bagi KPPN dalam melaksanakan tugas sebagai Bendahara Umum Negara di daerah. Namun kekompakan dan rasa setia kawan menjadikan tugas berat itu menjadi mudah dan ringan&rdquo, demikian disanpaikan Suharyanto dalam presentasinya di hadapan tim penilai dari Kementerian Keuangan.
Dipaparkan juga berbagai inovasi layanan kepada pemangku kepentingan yang antara lain Drive Thru yaitu layanan untuk pengambilan SP2D, penyerahan dan pengambilan BAR dan LPJ, penyerahan LHP Bank Persepsi serta layanan konfirmasi surat setoran. Suharyanto juga menjelaskan bahwa KPPN Malang telah ditunjuk sebagai Wilayah Bebas Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK/WBBM) dengan hasil penilaian dalam indikator proses mencapai nilai 99,19 dan indikator hasil sebesar 955 dari skala 1000 menjadikan KPPN Malang layak menjadi unit kerja berpredikat WBK dan WBBM. 
Setelah sesi presentasi, tim penilai yang diawali oleh Dini Kusumawati meminta penjelasan kepada kepala KPPN tentang visi, misi, motto, norma waktu serta beberapa layanan unggulan. Visi dan misi KPPN mengadaptasi visi dan misi kantor pusat DJPBN. Simpel dan akuntabel sebagai motto KPPN berarti dalam pelayanan sederhana, tidak berbelit-belit tetapi dapat dipertanggungjawabkan, terdapat unsur prudent, kehati-hatian dengan tetap berpedoman pada Standart Operating Prosedure serta norma waktu layanan yang telah diumumkan kepada publik.
Hal yang paling menegangkan saat terjadi dialog antara tim penilai dan salah satu pegawai yang mendampingi para Kepala Seksi. Dengan pertanyaan yang ringan dari Dedi Rudaedi, dijawab dengan sangat ringan pula oleh Ninik Suciati, pelaksana seksi Verifikasi dan Akuntansi. &ldquoSenang kerja disini?&rdquo. Spontan dijawab dengan gaya medoknya &lsquosangat senang Pak&rsquo. Ketika ditanya bagaimana pelayanan kepada satuan kerja, Ninik menjelaskan bahwa ada beberapa satker yang bertanya, berkonsultasi secara pribadi di luar jam kerja baik melalui telepon atau pun sms, dan semua itu dilayani dengan ikhlas. Hal tersebut diiyakan oleh wakil dari Polres Kota Batu, Suroso yang telah menjadi Bendahara Pengeluaran sejak tahun 2008. Puas dengan layanan KPPN Malang, kendala jarak yang lumayan jauh dapat teratasi dengan pelayanan konsultasi melalui telepon atau pun sms ataupun chat dengan Customer Service Officer sehingga waktu mengajukan SPM tidak ditolak karena tidak sesuai dengan peraturan. 
Komposisi pegawai yang lebih banyak perempuan juga menjadi pertanyaan bagi Charmeida Tjokrosuwarno. &ldquoBagaimana meningkatkan kompetensi pegawai yang rata-rata ibu-ibu yang notabene punya kesibukan dan kurang fleksibel dibanding pegawai laki-laki?&rdquo.  
Kepala KPPN Malang, Suharyanto, menjawab bahwa sejak dideklarasikan menjadi KPPN Percontohan pada 2 Oktober 2012, telah terjadi perubahan yang sangat berarti. Perubahan yang semakin baik sejak dicanangkannya Reformasi Birokrasi yang &lsquomemaksa&rsquo pegawai merubah mindset dari pihak yang &lsquoberkuasa&rsquo menjadi &lsquo pelayan&rsquo yang berorientasi pada kepuasan pengguna layanan. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka para pegawai harus meningkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam penguasaan bidang pekerjaan di KPPN. Gugus Kendali Mutu sebagai sarana berbagi ilmu diantara pegawai, sesi Morning Call setiap Senin dan Kamis sebagai ajang sharing permasalahan atau &lsquotwo minutes for information&rsquo menyamakan pemahaman, persepsi, tafsir atas suatu peraturan ataupun trouble shooting atas permasalahan yang terjadi sehingga satu kata dalam melayani satker, 
Rahman, Pejabat Penandatangan SPM dari Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu membenarkan hal tersebut. Penguasaan peraturan maupun aplikasi para pegawai KPPN Malang sangat mumpuni. Tidak peduli siapa dan duduk di posisi mana, dengan pertanyaan sama pasti akan mendapat jawaban yang sama pula. Setali tiga uang dengan Rahman, wakil dari Univesitas Brawijaya juga mengatakan hal serupa. Terbantu oleh bimbingan dari Customer Service atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi. 
Charmeida juga sempat bertanya kepada salah satu pegawai yaitu Hang Dian Puspowardani tentang janji layanan yang tidak mencantumkan senyum, salam dan sapa. Apakah memang dalam melayani itu pokoknya cepat, tepat, transparan dan tanpa biaya? Meski dengan wajah ditekuk?
Sebagai pegawai termuda, dengan jawaban yang santai, Dian malah mengajukan pertanyaan balik kepada tim penilai. &ldquoBapak kalau dilayani dengan cemberut senang tidak?&rdquo sontak mengundang applaus dan tawa seantero aula. Menurutnya, tanpa harus dituliskan, sudah menjadi kewajiban kami untuk melayani dengan senyum, mengajaknya berbincang ringan ketika berkonsultasi maupun mengajukan SPM atau keperluan di loket Front Office lainnya. 
Sementara itu, dari pihak perbankan tidak ketinggalan turut andil memberikan penilaian KPPN Malang. Wahyu Nurjoko dari Bank Mandiri Wachid Hasyim mempunyai kesan mendalam ketika berkunjung ke KPPN Malang beberapa waktu lalu.
&ldquoTampilan fisik dari luar sama dengan gedung kami. Ketika masuk, duduk di ruang tunggu Front Office, juga hampir sama layoutnya. Ketika bertemu dengan pegawainya pun juga tidak berbeda dengan pegawai Bank Mandiri,&rdquo kata Wahyu Nurjoko mengawali kesannya. &ldquoSerasa di rumah sendiri,&rdquo lanjutnya. &ldquoBahkan mebelair, budaya kerja dan budaya perusahaan juga sama, layanan senyum dan handling-nya sama, luar biasa kerja sama dengan KPPN (Malang), hampir tidak ada celah, sangat mirip dengan Bank Mandiri,&rdquo sambungnya. 
&rdquo&lsquoApa, jangan-jangan karena kita dipimpin oleh orang yang sama ya?&rdquo tambahnya lagi yang seketika itu juga tepuk tangan dan senyum mengembang memenuhi aula ukuran 8mx20m itu. 
Bank BRI tidak mau ketinggalan. Diwakili oleh Rully, juga memberikan apresiasi yang tinggi atas layanan KPPN. Dia menyebutkan nilai 100 dari skala 100 untuk pelayanan yang diberikan KPPN Malang.
Setelah dirasa cukup dan jam sudah menunjukkan waktu makan siang, usai sudah acara penilaian di gedung aula KPPN Malang. Ditutup oleh Kakanwil DJPB Propinsi Jawa Timur, Pardiharto. Dalam sambutannya beliau menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kedatangan tim penilai dan semoga akan berlanjut ke tingkat lebih tinggi. Sebelum benar-benar ditutup, tampil tim paduan suara menyanyikan lagu Tanah Air dan Malang Pancen Rame. Dengan sedikit gerak berirama membuat suasana semakin cair. 
Selanjutnya Tim Penilai melakukan peninjauan lapangan atas sarana dan prasarana serta layanan unggulan KPPN, serta melihat kesibukan di Front Office Pencairan Dana. Beberapa pertanyaan juga diajukan kepada pegawai yang bertugas di FO. Tentang misi, misi, motto dan janji layanan. Mengenai senyum pun juga dilontarkan kembali, dan mereka mendapatkan jawaban yang sama. Dilanjutkan peninjauan ke ruang Middle Office dan dilanjutkan pengecekan di ruang arsip.
Oleh: Leli Triana (KPPN Malang), Bambang Kismanto dan Sugeng Wistriyono (Media Center Perbendaharaan









Sementara itu, disaat yang sama Dirjen Perbendaharaan meresmikan secara simbolis gedung KPPN Purwakarta. Kendati gedung tersebut telah selesai dibangun beberapa tahun lalu, namun secara simbolis belum diresmikan oleh Dirjen Perbendaharaan secara langsung. Mengingat efektifitas dan efisiensi, peresmian gedung KPPN Purwakarta secara simbolis dilakukan secara bersamaan dengan KPPN Sumedang. 
Perwakilan dari satuan kerja dan mitra kerja juga ditanya mengenai kesan-kesannya selama menjadi pemangku kepentingan KPPN Jakarta I. Sebab, mengutip penjelasan dari Charmeida selaku ketua tim penilai, inilah moment of truth, stakeholders KPPN-lah yang terlibat dan merasakan sendiri layanan dari KPPN Jakarta I selama ini, bukan tim penilai. Menjawab pertanyaan ini, Supriyatno, salah satu kepala subbagian di Istana Kepresidenan mengaku sangat terbantu oleh layanan KPPN Jakarta I.
&ldquoKepemimpinan itu adalah sebuah berkah. Engkau tak bisa membelinya, tak diperdagangkan. Kepemimpinan hanya bisa dimiliki atau tidak sama sekali. Dan kepemimpinan seperti Mahatma Gandhi, yang mengembalikan seluruh yang dimilikinya kepada rakyatnya, adalah yang paling jarang kita temui di muka bumi,&rdquo demikian diungkapkan Wakil Presiden Boediono.
Pada tingkat pemerintah daerah, perkembangan kualitas akuntansi dan pelaporan keuangan, menurut Menkeu, walaupun agak tersendat pada tahun 2006 sampai 2008, saat ini juga telah menunjukkan perbaikan signifikan. &ldquoHal ini terlihat dari hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Pada tahun 2012 lalu, LKPD yang memperoleh opini WTP mencapai 116 LKPD,&rdquo paparnya. Angka tersebut meningkat signifikan jika dibandingkan dengan pada tahun 2009 lalu, dimana hanya sebanyak 21 LKPD yang memperoleh opini WTP dari BPK. 


Beberapa faktor lambatnya penyelesaian piutang negara yang dimaksud Dirjen Perbendaharaan sulitnya BUMN disebabkan antara lain adanya kesulitan BUMN dalam menyusun Rencana Perbaikan Kinerja Perusahaan (RPKP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), serta keterbatasan informasi yang dimiliki BUMN untuk melengkapi data yang dibutuhkan dalam proses penyelesaian piutang negara menjadi alasan selanjutnya. Namun yang paling menjadi sorotan dalam Nota Kesepahaman tersebut adalah belum optimalnya komitmen manajemen BUMN dalam menyelesaikan kewajiban kepada Pemerintah.
Hal ini diamini oleh Deputi Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis BUMN, Wahyu Hidayat. Dalam paparannya, pejabat eselon I Kementerian BUMN yang memegang kendali restrukturisasi seluruh BUMN tersebut menyatakan bahwa selama ini penyelesaian piutang negara seperti jalan di tempat. Kendala yang ditemuinya sejak masih bekerja di Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman, Ditjen Lembaga Keuangan, Kementerian Keuangan antara lain masih terbatasnya skema penyelesaian piutang negara, hingga rendahnya komitmen BUMN dalam menyelesaikan piutang negara tersebut.
Menurut Agus Suprijanto, berbagai perubahan dalam organisasi Ditjen Perbendaharaan dalam rangka penajaman fungsi dan revitalisasi fungsi Ditjen Perbendaharaan tentunya memerlukan perubahan budaya (cultural change) di seluruh lini organisasi. Perubahan budaya ini memerlukan peran pimpinan, khususnya Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan di seluruh Indonesia, dalam mengawal perubahan mindset yang akan dihadapi oleh para pegawai.
digerakkan oleh organisasi (institutional-driven capacity building) menjadi organisasi yang mampu melakukan berbagai inovasi yang digerakkan dari diri sendiri (self-driven capacity building).
Demand identification dilaksanakan selama 4 (empat) hari sejak tanggal 19-22 Agustus 2013 bertempat di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh 14 orang ahli dari Korea yang sebagaian besar merupakan peneliti dan pengajar senior (professor) dari beberapa universitas ternama di Korea Selatan dan dipimpin oleh DR. Okyu Kwon (former prime minister of Korea), sedangkan para pejabat Indonesia yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari beberapa instansi pemerintah antara lain, Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Badan Kebijakan Fiskal), Bank Indonesia, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Pemerintah dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB), Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Kementerian Kesehatan, serta Otoritas Jasa Keuangan. 

