- Nasional
- Dilihat: 3374
“Indonesia Bersih Transparan Tanpa Korupsi”,
Liputan pekan anti korupsi tahun 2013
Jakarta, perbendaharaan.go.id, - &ldquoIndonesia Bersih Transparan Tanpa Korupsi&rdquo, sebuah tema yang diangkat Komisi Pemberantasan Korupsi untuk Pekan Anti Korupsi 2013 pada tanggal 9 &ndash 11 Desember 2013 di Istora Senayan, Jakarta. Acara tersebut merupakan puncak peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia tanggal 9 Desember 2013 yang sebelumnya diawali di Istana Merdeka bersama dengan Presiden RI.
Pekan Anti Korupsi 2013 di Istora Senayan dibuka oleh Ketua KPK dan dihadiri antara lain oleh Ketua DPR, Ketua BPK, Menteri Hukum dan HAM, Jaksa Agung, Kepala BPKP, dan Irwasum POLRI. Dalam kesempatan tersebut, Ketua KPK, Abraham Samad menyerahkan penghargaan kepada sejumlah kementerian/lembaga/BUMN-D/swasta, salah satunya Kementerian Keuangan yang diwakili Inspektur Jenderal Kemenkeu terkait pelaporan gratifikasi.
Selanjutnya, dalam Pekan Anti Korupsi 2013, ditampilkan sejumlah stand pameran (kementerian/lembaga/BUMN-D/NGO), performance, display barang gratifikasi (termasuk gitar Metallica kepada Jokowi), dan lelang barang gratifikasi bersama dengan DJKN. Untuk stand pameran, Kementerian Keuangan hadir dengan tema &ldquoTransparansi dan Penegakan Hukum untuk mewujudkan Indonesia Bersih&rdquo dalam bentuk indoor yang menampilkan seluruh poster unit eselon I Kemenkeu dan outdoor yang didukung oleh Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Bea Cukai.
Dalam poster indoor,  ditampilkan komitmen nyata Ditjen Perbendaharaan mewujudkan transparansi dan akuntabilitas berupa penghargaan/capaian yang mencerminkan: 1) Inisiatif anti korupsi dan integritas yang tinggi, 2) Peningkatan profesionalisme dalam memberikan pelayanan prima, serta 3) Sinergi dan kesempurnaan hasil dalam mewujudkan keuangan negara yang transparan dan akuntabel. 
Sedangkan, untuk outdoor,  KPPN Mobile dan Miniatur Standardisasi Sarpras KPPN menjadi icon unggulan Kementerian Keuangan yang ditempatkan di lokasi strategis pada urutan pertama/terdepan dekat pintu masuk utama Istora Senayan. Dalam KPPN Mobile, pengunjung disajikan proses layanan SP2D dan rekonsiliasi yang dapat dilakukan secara on-line kepada KPPN Induk. Pada miniatur Standardisasi sarpras KPPN, dihadirkan suasana front office KPPN yang modern dan informatif dengan dilengkapi sejumlah banner, foto, brosur, dan souvenir SPAN untuk menjelaskan kepada publik bahwa seluruh layanan KPPN sangat transparan dan dapat dimonitor akuntabilitasnya sehingga menarik liputan dan wawancara dari Trans TV. 
Selama di Senayan, stand outdoor Ditjen Perbendaharaan harus menghadapi cuaca yang kurang menentu di musim penghujan ini. Namun demikian, dengan berbekal semangat tinggi, kreativitas dan teamwork yang solid, rekan-rekan dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan DKI Jakarta, KPPN Jakarta 1 s.d 5, Setditjen Perbendaharaan, Dit. SP, dan Dit. TP dapat meraih simpati dan kehadiran dari para pengunjung dari latar belakang yang beragam. Tim Ditjen Perbendaharaan secara proaktif mensosialisasikan bukan hanya di depan stand, namun juga hingga menjelajah ke dalam gedung Istora Senayan untuk berkomunikasi lebih luas kepada publik, bahkan ditambahkan terkait peluang karier di Ditjen Perbendaharaan yang prospektif dan strategis dengan dukungan lingkungan yang berintegritas tinggi. 
Hasilnya luar biasa. Antusias dan simpati publik terhadap stand Ditjen Perbendaharaan semakin meningkat sehingga total kehadiran mencapai 215 orang pengunjung. Stand Ditjen Perbendaharaan mendapat kehormatan menerima kunjungan dari Sekretaris Jenderal Kemenkeu, K.A. Badaruddin, Inspektur Jenderal Kemenkeu, Sonny Loho, dan sejumlah pejabat dari DJBC dan DJP. Selain itu, pengunjung bukan hanya berasal dari pengelola keuangan K/L, namun juga dari pegawai K/L, aparat TNI/POLRI, KPK, perbankan, NGO (nasional dan internasional), swasta, dan sejumlah mahasiswa perguruan tinggi (termasuk STAN). Di penghujung acara Pekan Anti Korupsi, sinergi antara Ditjen Perbendaharaan, Setjen Kemenkeu, DJBC dan unit eselon I Kementerian Keuangan lainnya menjadikan Kementerian Keuangan sebagai stand Terbaik Ke-1 sebagaimana penilaian komprehensif dari KPK. 
Kontributor: Bagian OTL Sekretariat Ditjen Perbendaharaan
|
|
|
|
|
|
|   |   |












Kenyamanan tersebut dimungkinkan karena cara kerja Sistem MPN G-2 dalam menyediakan layanan pembayaran setoran Penerimaan Negara dari masyarakat sangat modern. Dengan layanan yang berbasis teknologi informasi ini memungkinkan masyarakat dapat mengakses layanan tersebut melalui portal website yang disediakan oleh Kementerian Keuangan di satu sisi, sementara pelaksanaan pembayarannya dapat dilakukan melalui ATM (Anjungan Tunai Mandiri), Internet Banking, mesin EDC, dan bahkan SMS Banking, selain tentunya melalui OTC (Over the Counter) yang tersedia di berbagai Bank/Pos Persepsi. Dalam Simulasi menyeluruh Sistem MPN G-2 yang dilakukan bersama PT BRI (Persero) Tbk tersebut, telah tersedia berbagai feature layanan tersebut. Ini yang akan membuat semuanya menjadi lebih mudah lebih fleksibel.
Kegiatan Simulasi Menyeluruh dalam rangka Implementasi Piloting Sistem MPN G-2 tersebut merupakan wujud nyata dari deklarasi Pemerintah pada tanggal 18 September 2012 lalu di tempat yang sama, untuk segera mengimplementasikan sistem layanan baru di bidang Penerimaan Negara yang akan dapat mengatasi atau paling kurang meminimalisir berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi dalam penyelenggaraan layanan Sistem MPN existing. Sistem MPN G-2 yang berbasis e_Billing, memungkinkan masyarakat Wajib Pajak/Wajib Bayar dapat melakukan transaksi pembayaran setoran penerimaan negara secara mandiri, tanpa terikat oleh waktu dan tempat. E_Billing mewujudkan idealitas sentralisasi administrasi penerimaan setoran penerimaan negara di satu pihak, dan desentralisasi adminis-trasi tagihan di pihak lain. 
Dikatakan desentralisasi administrasi tagihan atas setoran penerimaan negara, karena setiap tagihan dibuat di dan dicatat oleh Sistem Billing yang dikendalikan oleh otoritas tagihan penerimaan masing-masing, yaitu pajak dikelola dan diketahui oleh Ditjen Pajak dan dapat diuji langsung dengan kewajiban yang sesungguhnya harus dibayar, demikian pula dengan bea masuk/keluar atau cukai yang dikelola dan diketahui oleh Ditjen Bea Dan Cukai, dan demikian pula dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) oleh Ditjen Anggaran. Ditjen Perbendaharaan selaku otoritas Settlement pembayaran tidak mengetahui berapa tagihan yang harus dibayar, tetapi berkewajiban memberitahukan kepada otoritas pemilik tagihan penerimaan tadi, &ldquoberapa nilai uang yang harus dibayar berdasarkan Billing yang sudah dibuatnya&rdquo. Dengan demikian, pengawasan atas tagihan akan lebih intens dapat dilakukan oleh tiap otoritas, sementara itu, Bendahara Umum Negara (Treasurer) dapat lebih fokus pada berapa uang yang diterima atau akan diterima, dan harus segera masuk ke rekening Kas Negara. 
Setelah di selingi coffe break, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi yang langsung di pimpin oleh Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Kalimantan Timur, Mirza Effendi. Adapun nara sumber yang dihadirkan yakni Agung Kurniawan dan Iwan Teguh Setiawan.
Acara berakhir tepat pukul 12.45 WITA. Para peserta yang pada awalnya Nampak bingung dengan konsep akrual dan berbagai kekhawatiran lainnya, kini di wajah mereka nampak senyum simpul yang menjadi tanda kepuasan mereka terhadap kegiatan sosialisasi tersebut. 
Tiba di KPPN Bantaeng tepat pukul 19.00 WITA rombongan langsung disambut oleh kepala KPPN Bantaeng, Ni Luh Kompiang Siti Suardani.
Sehari setelah mengunjungi KPPN Bantaeng (Jumat, 1/11) selanjutnya Tata Suntara yang didampingi oleh Bilmar Parhusip beserta rombongan dari kantor pusat melanjutkan perjalanan menuju KPPN Mamuju serta melihat kesiapan gedung Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Prov. Sulawesi Barat yang akan di-launching pada awal tahun 2014. Perjalanan dari Makassar menuju KPPN Mamuju ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan pesawat, saat itu rombongan berangkat dari Makassar pada pukul 13.00 WITA. 
Selanjutnya seperti pada kunjungan ke KPPN-KPPN sebelumnya sharing seassion diselenggarakan, pada kesempatan ini Kepala KPPN Mamuju, Nur Hidayat, menyampaikan rasa syukur bisa dikunjungi oleh Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, dikesempatan yang sama, Nur Hidayat menjelaskan bahwa KPPN Mamuju baru menempati GKN di lantai 2 pada tanggal 6 Mei 2013 lalu, sementara itu dijelaskan pula bahwa satker yang dilayani oleh KPPN Mamuju sebanyak 188 satker yang berada di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Mamuju Utara, sementara itu total DIPA sebesar Rp1,9 triliun. 
&ldquoBanyaklah belajar mumpung masih banyak kesempatan mulai dari tugas-tugas kita sendiri (Ditjen Perbendaharaan-red) diantaranya manajemen investasi, kemudian mengenai badan layanan umum, cash management, manajemen resiko, pengendalian internal, balance scorecard, pengendalian internal, manajemen resiko serta yang lainnya.&rdquo Pesan Tata Suntara.
Tata Suntara yang hobi bermain tenis meja mengajak para pegawai yang paling &lsquojago&rsquo untuk bermain dengannya, namun apa boleh dikata rekor tak terkalahkan sejak tahun 2011, dimana Tata Suntara selalu menang jika bermain dengan para kepala bagian di Setditjen Perbendaharaan, di KPPN Mamuju takluk 3 set langsung, sebagaimana kesepakatan yang telah disampaikan bahwa yang kalah push-up, dengan sportif Tata Suntara melakukannya.
Boediarso melanjutkan, dalam aspek pelaksanaan anggaran, Ditjen Perbendaharaan harus melakukan analisis dan proyeksi realisasi belanja negara, khususnya belanja kementerian/Lembaga. KPPN-KPPMN harus bersiap untuk menghadapi kembali penumpukan SPM pada akhir tahun anggaran, karena sekitar 30% sisa DIPA Tahun 2013 atau Rp 242,2 triliun akan diajukan SPM-nya pada akhir tahun anggaran 2013.
Hari berikutnya, dilakukan bedah buku &ldquoDua tangis dan Ribua Tawa&rdquo, sebuah kumpulan CEO notes Dahlan Iskan sewaktu menjabat sebagai Dirut PLN. Pada sesi ini, dikupas figur Menneg BUMN ini tanpa muatan politis, melainkan menampilkan cara beliau mengkomunikasikan setiap kebijakan, fakta di lapangan berdasarkan kunjungan kerja. Dahlan juga mengajak pegawai setiap lini untuk mencari solusi bersama dari permasalahan-permasalahan dalam sebuah tulisan dengan gaya bertutur yang khas, tanpa terkesan memerintah, apalagi khotbah. Di sesi ini pula air mata Tata Suntara mengalir sewaktu memberikan sambutan, beliau teringat memori indah saat bertugas di salah satu daerah dengan selaksa kenangan bersama keluarganya.
Menurut Ketua Penyelenggara , Kasubdit Pengembangan Profesi dan Program Pensiun, Arif Wibawa, workshop ini dimaksudkan sebagai sarana untuk menyusun petunjuk teknis Sertifikasi yang dibutuhkan sebagai perangkat pelaksanaan sertifikasi bendahara. Perangkat petunjuk teknis tersebut meliputi Standar Kompetensi, Modul dan Kurikulum Diklat serta Soal Ujian sertifikasi. Kegiatan Workshop ini meliputi paparan dari berbagai narasumber yang berkompeten dari internal Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan yaitu Arif Wibawa dari Direktorat Sistem Perbendaharaan-Ditjen Perbendaharaan untuk materi Standar Kompetensi, Yuni Wibawa dari Direktorat Pengelolaan Kas Negara-Ditjen Perbendaharaan untuk materi Modul Bendahara dan Agung Yuniarto dari Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan-BPPK untuk materi Kurikulum Diklat Bendahara. 

