- Opini
- Dilihat: 1254
Ketika Rumah Hanya Titipan: Cerita Keluarga Prasejahtera dan Harapan yang Tersisa
Oleh: Rina Karlina, Analis Kebijakan Fiskal pada Ditjen Strategi Ekonomi dan Fiskal dan Amalia, pelaksana pada Direktorat Sistem Informasi dan Teknologi Perbendaharaan
Pada hari Jumat, tanggal 30 Mei 2025, kami berdua pergi ke daerah Parung Panjang. Tujuan kami adalah untuk melakukan survei lapangan kegiatan komunitas Women Islamic Studies Hub (WISH) Kementerian Keuangan yang dilakukan pada akhir Juni 2025. Kegiatannya meliputi community development berupa keluarga binaan prasejahtera yang berkolaborasi dengan Britania Sari, salah seorang tokoh inspiratif ketahanan pangan di Indonesia. Kami menggunakan moda transportasi KRL Rangkasbitung, kemudian dilanjutkan dengan moda transportasi daring. Perjalanan dari Stasiun Pondok Ranji lebih kurang sekitar 1 jam 15 menit sehingga kami tiba di rumah tujuan sekitar pukul 09.15.
Kami disambut dengan hangat di rumah Mbak Britania yang bernuansa homey. Ditambah lagi dengan rak-rak buku yang berjejer di ruang tamunya, membuat kami merasa semakin nyaman. Kondisi lingkungan di sekitar rumah pun asri karena masih banyak tanaman hijau. Karena Mbak Britania ada jadwal mengajar pukul 11, kami langsung membuka obrolan dengan menanyakan dan mendiskusikan pengalaman personal, kehidupan warga sekitar, hingga proyek-proyek kebaikan yang dilakukan beliau.











