- Nasional
- Dilihat: 4686
Semangat Baru Dalam Rba Format Baru
Liputan Bimbingan Teknis Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Tahun 2012
Jakarta, perbendaharaan.go.id - Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Direktorat PPK BLU) menyelenggarakan Bimbingan Teknis Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Tahun 2012, Kamis (29/4). Acara yang dibuka oleh Rudy Widodo selaku Plh. Direktur PPK BLU dipenuhi dengan jumlah peserta yang hadir melebihi jumlah undangan, yaitu sebanyak 300 orang.
Walaupun sebelum penyelenggaraan acara ini Direktorat PPK BLU telah beberapa kali menyelenggarakan bimtek serupa, namun berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, dalam bimtek ini disampaikan mengenai penyusunan RBA dalam format baru.
Hal yang diharapkan Direktorat PPK BLU dengan mengusung RBA format baru adalah terwujudnya RBA yang lebih ringkas, tanpa menghilangkan substansi-nya. Sebagaimana diketahui bersama, RBA merupakan dasar pelaksanaan program dan kegiatan satker BLU dalam satu tahun anggaran. Disebut demikian, tidak lain dikarenakan dalam RBA terangkum seluruh kegiatan satker BLU termasuk biaya-biayanya.
Hal yang merupakan suatu keharusan bagi satker BLU tersebut, tidak lepas dari adanya tuntutan terhadap satker BLU untuk lebih akuntabel atas seluruh kegiatannya. Pada awalnya merupakan hal yang wajar jika tidak semua satker BLU dapat dengan mudah dan cepat melaksanakan penyusunan RBA dengan benar. Namun demikian, keharusan ini membuat mereka mau tidak mau harus berubah.
Secara spesifik, &lsquoberubah&rsquo di sini di antaranya adalah berubah untuk memberikan pelayanan yang lebih berkualitas, berubah untuk lebih meminimalkan biaya, dan berubah untuk mengurangi rentang birokrasi-.
Enterprising the government merupakan paradigma yang cukup intens didengung-dengungkan dalam praktik pengelolaan keuangan BLU sebagai salah satu perwujudan reformasi birokrasi di bidang Keuangan Negara. Arti yang terkandung di dalamnya adalah bahwa instansi pemerintah dapat melakukan praktik-praktik korporasi namun tentunya tanpa melupakan wajah ke-pemerintahannya, yaitu untuk melayani masyarakat, baik kalangan the have maupun kalangan have not. Pelayanan ini yang diharapkan tidak hanya tetap dapat diberikan oleh satker BLU, namun juga meningkat secara kuantitas dan kualitas.
Pengelolaan Keuangan BLU merupakan sebuah pola pengelolaan negara yang menafikan aturan yang berlaku umum. Pengecualian yang ada diantaranya adalah dapat mengelola langsung pendapatannya tanpa harus menyetorkan ke Kas Negara (kecuali untuk BLU Bertahap), dapat melakukan investasi, dapat berhutang, dan dapat merekrut tenaga profesional non PNS. Hal-hal tersebutlah yang menjadikan satker BLU dipandang istimewa.
Namun demikian, tentulah suatu keistimewaan akan dibarengi dengan kewajiban sebagai penyeimbangnya. Kemudahan yang diperoleh oleh satker BLU dibarengi dengan kewajiban adanya transparansi dan akuntabilitas. Hal-hal tersebut tentunya merupakan konsekuensi yang tidak mudah, namun demikian bukanlah suatu hal yang mustahil. Dengan RBA format baru inilah diharapkan satker BLU dapat lebih akuntabel terhadap program dan kegiatannya.
Sebagai suatu kesempatan yang tidak hanya bersifat satu arah, bimtek RBA ini tidak kehilangan dinamikanya meskipun mengusung materi yang tidak bisa dibilang ringan. Peserta yang diundang telah dimintakan kapasitas dan kriteria tertentu, sehingga bimtek ini tidak hanya diwarnai oleh penyampaian materi, namun juga pertanyaan, permasalahan, dan tidak kalah menarik adalah sesi kedua yang diselenggarakan dalam format simulasi.
Dalam sesi kedua ini peserta dibagi dalam tiga ruangan sesuai rumpun layanan, sehingga simulasi dan materi yang disampaikan lebih focus pada latar belakang instansi peserta. Upaya penyelenggaraan bimtek ini diiringi harapan agar proses penyusunan RBA lebih mudah dipahami dan dijalani oleh satker BLU, dan dapat berfungsi sebagai acuan kegiatan pelaksanaan pengelolaan keuangan satker BLU demi tata kelola dan layanan yang lebih baik.
Oleh: Kontributor Direktorat PPK BLU











Pada hari kedua, dilaksanakan pemaparan materi sekaligus tanya jawab terkait kebijakan, proses bisnis, dan aplikasi belanja pegawai Polri. Dalam acara ini juga peserta dilatih untuk dapat mengoperasikan aplikasi belanja pegawai Polri, yang pada malam sebelumnya telah diinstal di laptop masing-masing. Selain itu, pada malam harinya para peserta juga diberikan sosialisasi tentang PIN PPSPM. Di akhir acara, diberikan post-test untuk mengevaluasi tingkat pemahaman peserta atas materi sosialisasi dan bimtek.
Delegasi Korsel yang ditugaskan untuk melakukan sharing mengenai Performance Based Budgeting, Mr Nowook Park, Ph.D. dari Korea Institute of Public Finance, didampingi oleh Kang Sukwon, Ph.D Deputi Direktur Sekretariat Bersama Indonesia-Korea mengawali kunjungannya dengan menyambangi Direktorat Jenderal Anggaran di pagi hari tanggal 11 April 2012. Menjelang siang, kedua delegasi tersebut mendatangi Ditjen Perbendaharaan dan disambut oleh beberapa pejabat Direktorat Pelaksanaan Anggaran sebagai delegasi Indonesia.
Di akhir pertemuan (11/4), delegasi Korsel menyatakan keseriusannya untuk membantu Indonesia meningkatkan kualitas sistem pelaksanaan anggaran dalam rangka Performance Based Budgeting. &ldquoKami akan membuat rekomendasi-rekomendasi yang akan kami tuangkan dalam sebuah paper&rdquo, ujar Mr Nowook Park, Ph.D penuh semangat. Menanggapi hal itu, delegasi Indonesia menyampaikan,&ldquoKami akan menunggu paper Anda.&rdquo
Uji coba layanan Mobile KPPN di Bali dipimpin oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Ni Luh Putu Kumalawati. Selain itu, uji coba tersebut dihadiri juga oleh seluruh Kepala KPPN dan Kepala Bagian Umum Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bali. Ni Luh Putu Kumalawati berharap layanan Mobile KPPN mampu menjadi solusi atas kendala langkanya transportasi umum di Bali. &ldquoSeperti kita ketahui di Bali jarang angkutan kota, sehingga layanan Mobile KPPN mudah-mudahan menjadi solusi bagi satuan kerja atas kendala waktu dan jarak tempuh.&rdquo Ujarnya.
Sebelumnya, Bus operasional layanan Mobile KPPN diterima oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bali pada hari Sabtu (7/4). Sejak diberangkatkan oleh Dirjen Perbendaharaan, Bus operasional layanan Mobile KPPN menempuh waktu 48 jam untuk sampai di Denpasar.
&ldquoKPPN dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan harus memegang peran utama dalam membentuk sumberdaya manusia yang amanah dan mempunyai kapabelitas tinggi&rdquo kata Ni Luh dalam sambutan pembukaan rakor tersebut. SDM yang berkualitas adalah sebuah kunci keberhasilan proses tranformasi yang sekarang terus bergulir. &ldquoyang lebih penting adalah proses transformasi di Ditjen Perbendaharaan harus sustainable&rdquo tambahnya.
Sementara itu, Dirjen Agus Suprijanto menyampaikan, Urgensi terhadap upaya-upaya optimalisasi dan perbaikan kualitas penyerapan anggaran sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi. Salah satu terobosan yang dilakukan Ditjen Perbendaharaan untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah melalui penerapan konsep layanan mobile KPPN. &ldquoLayanan mobile KPPN diharapkan mampu meminimalisasi keterbatasan dalam memberikan pelayanan kepada para stakeholder karena kendala berbagai hal, diantaranya adanya hambatan letak dan kondisi geografis wilayah kerja stakeholder, dan keterbatasan fasilitas dan kondisi infrastruktur transportasi,&rdquo ujarnya.
Dalam acara pembukaan, hadir pula Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat Seto Utarko, General Manager PT Telkom Unit Enterprise Regional III Jawa Barat dan Banten Muhammad Subhan Iswahyudi, Direktur Telkom Professional Development Center (Telkom PDC) Raden Mohammad Kusno, dan beberapa pejabat lainnya dari Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan dan PT Telkom Tbk.
Kepala Subdit Bimbingan Akuntansi instansi Agung Kurniawan Purbohadi selaku ketua panitia penyelenggara dalam laporannya menyampaikan bahwa penyuluhan kali ini membahas materi-materi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Bagan Akun Standar (BAS), Akuntansi Hibah Langsung, Penatausahaan Piutang dan Akuntansi Penyisihan Piutang, serta materi mengenai sistem akuntansi baik dari sudut pandang teoritis maupun aplikasi sistem akuntansi.
Dalam Sambutannya, Direktur APK Yanuar Rasyid berharap para pejabat dan pegawai Kanwil Ditjen Perbendaharaan terus meningkatakan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama terkait dengan system Akuntansi Pemerintahan, baik Sistem akuntasi Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Lahirnya Peraturan Dirjen Perbendaharaan No.10/PB/2011 tentang Bimbingan Pelaksanaan Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan merupakan dasar hukum bagi Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk lebih aktif membantu satker-satker di kementerian negara/lembaga dalam membenahi laporan keuangan agar bisa menjadi baik semua. Selain itu, adanya Peraturan Dirjen Perbendaharaan No.6/PB/2011 tentang Penyuluh Perbendaharaan dan Peraturan Dirjen Perbendaharaan No.29/PB/2011 tentang Pedoman Penyuluhan Perbendaharaan Lingkup Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan kepada Satuan Kerja kementerian negara/ lembaga menjadi penyedia sumber daya manusia penyuluhan yang handal dari Ditjen Perbendaharaan kepada satker-satker yang membutuhkan. 

