"Apapun cita-citaku, aku harus menjadi orang yang baik."
Senin (30/1), empat orang pegawai KPPN Banda Aceh melakukan kunjungan ke MIN Mesjid Raya Banda Aceh. Kunjungan tersebut bertajuk Perbendaharaan Menyapa, dimana keempat orang perwakilan dari KPPN Banda Aceh memberikan pembelajaran sekaligus mendidik adik-adik siswa dan siswi kelas VI mengenai tugas dan peran KPPN dalam pengelolaan APBN.

Josua Herry Martua Saragi, Fanni Novianing Putri, Kiki Rasyid, dan Indra Mawan Saputra, mengemban misi khusus sesuai instruksi Direktur Jenderal Perbendaharaan. Perbendaharaan Menyapa merupakan salah satu program yang dicanangkan oleh Dirjen Perbendaharaan dalam rangka Hari Bakti Perbendaharaan Tahun 2017. Program ini dilaksanakan serentak oleh KPPN di seluruh penjuru negeri.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan menyanyikan bersama lagu Bagimu Negeri yang dinyanyikan dengan khidmat oleh siswa/i kelas VI. Untuk mencairkan suasana (ice breaking), tim membagi siswa/i menjadi tujuh kelompok dengan masing-masing beranggotakan sepuluh orang, dan memainkan berbagai macam permainan menyenangkan namun membutuhkan konsentrasi, diantaranya ‘Semut dan Gajah’, dimana jika tim mengucapkan ‘Semut’, maka siswa/i harus mengatakan ‘Kecil’ sambil membuat gesture lingkaran tangan besar, dan sebaliknya, jika tim mengatakan ‘Gajah’, maka siswa/i harus menjawab ‘Besar’ sambil membuat gesture jari jempol menempel ke kelingking (kecil). Selain itu ada juga permainan ‘Lompat Kebalikan’, artinya jika tim menginstruksikan lompat ke depan, maka siswa/i harus melompat ke belakang, dan sebaliknya.

Namun inti dari rangkaian kegiatan adalah menjelaskan kepada siswa/i mengenai tugas dan fungsi KPPN sebagai instansi vertikal Ditjen Perbendaharaan di daerah dalam rangka pengelolaan APBN. Memberikan edukasi mengenai APBN kepada siswa/i usia sekolah dasar tentu berbeda dengan memberikan penjelasan kepada orang dewasa, namun tim mengemasnya dengan sangat cerdas dan menggunakan ilustrasi yang mudah dipahami. Salah satunya dengan bertanya kepada para siswa/i tentang cita-cita mereka ketika beranjak dewasa, jawabannya pun beragam : Siswa bernama Alwi ingin menjadi tentara dengan alasan ingin membela negara dan bangsa; Siswi bernama Sima bercita-cita menjadi dokter karena ingin menyembuhkan orang yang sakit. Sedangkan salah seorang siswi ingin menjadi tentara wanita karena ingin meneruskan pekerjaan orang tuanya yang juga anggota TNI. Sebagian lagi bercita-cita sebagai arsitek, guru, ulama, dan sebagainya. Untuk mengilustrasikan tugas dan fungsi KPPN, tim melibatkan siswa/i sesuai cita-cita mereka. Alwi yang berperan sebagai seorang anggota TNI, harus mencairkan dana ke KPPN untuk pembelian alutsista; ada juga siswi yang berperan sebagai guru yang hendak mengajukan permintaan gaji dan tunjangan melalui KPPN. Tak lupa, para siswa/i harus melaporkan penggunaan ‘uang tabungan’ mereka ke KPPN.

Saat tim bertanya, apakah tugas pokok Kementerian Keuangan, Isbun –salah seorang siswa- menjawab dengan tepat, “Mengatur APBN.” Namun, tak ada satupun siswa/i ingin menjadi pegawai Kementerian Keuangan. Melalui program inilah kesempatan Kemenkeu, khususnya Ditjen Perbendaharaan, memberikan pemahaman mengenai seluk-beluk pentingnya peran Ditjen Perbendaharaan dalam mengelola APBN sebagai instrumen fiskal yang terpercaya dan kredibel agar berdampak positif kepada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kenapa KPPN Banda Aceh memilih siswa/i usia SD? Karena kesadaran akan pengelolaan APBN harus diajarkan sejak dini, sehingga terbentuk pola pikir kritis dan sekaligus menumbuhkan minat dan kesadaran anak-anak mengenai pengelolaan dan pengawasan APBN yang transparan dan kredibel, di masa mendatang. Pendidikan mengenai pentingnya integritas dan buruknya korupsi juga harus diberikan sedari kecil untuk membentuk karakter manusia yang unggul dan bermartabat. Program semacam ini juga efektif dalam meningkatkan branding/image Ditjen Perbendaharaan di mata publik.

Di akhir sesi, para siswa/i kelas VI MIN Mesjid Raya menuliskan cita-cita mereka di selembar kertas dan menempelkannya pada 'Pohon Cita-Cita'. Setelahnya mereka mengucapkan janji sebagai wujud komitmen dan tanggung jawab yang harus diingat dan dilaksanakan :
"Apapun cita-citaku, aku harus menjadi orang yang baik."

Pendapat mereka tentang Program Perbendaharaan Menyapa :
"Program seperti ini menjadi pembelajaran agar anak-anak semakin semangat mengejar cita-citanya." (Samsul Bahri, S.Pd.I - Wakil Kepala MIN Mesjid Raya);
"Program Perbendaharaan Menyapa bertujuan untuk memperkenalkan Kementerian Keuangan, khususnya Ditjen Perbendaharaan kepada masyarakat umum. Dalam kesempatan kali ini, KPPN Banda Aceh melaksanakan kegiatan Perbendaharaan Menyapa di MIN Mesjid Raya. Siswa MIN Mesjid Raya sangat antusias dalam mengikuti kegiatan Perbendaharaan Menyapa. Para siswa MIN Mesjid Raya menjadi lebih bersemangat dalam mencapai cita-cita mereka, dan terinspirasi oleh kehadiran para pegawai (Ditjen) Perbendaharaan yang menceritakan serta mengilustrasikan sedikit tentang Ditjen Perbendaharaan sebagai pengelola APBN. Harapannya, semoga Ditjen Perbendaharaan semakin maju dan semakin dikenal oleh masyarakat luas sebagai pengatur dan pengelola APBN yang berintegritas tanpa korupsi." (Fanni Novianing Putri - Pelaksana Seksi Pencairan Dana KPPN Banda Aceh, tim Perbendaharaan Menyapa);
“Melalui program ini, saya ingin memperkenalkan KPPN secara umum kepada siswa/i, selain itu juga mengajarkan bahwa profesi sebagai Aparatur Sipil Negara yang bekerja di Ditjen Perbendaharaan merupakan profesi yang memiliki peran vital dalam tugasnya mengelola APBN. Program semacam ini perlu dilanjutkan di masa mendatang sebagai bentuk upaya dalam mendidik masyarakat menjadi melek APBN.” (Josua Herry Martua Saragi - Pelaksana Seksi Pencairan Dana, tim Perbendaharaan Menyapa).
Kegiatan Terkait :
Peringatan Hari Bakti Ditjen Perbendaharaan KPPN Banda Aceh Tahun 2016.






